Share

Bab 52

Penulis: Liazta
last update Tanggal publikasi: 2026-05-30 22:26:45

Liora duduk menyandar santai di sofa kulit besar ruang kerja Dion. Di atas meja kaca di hadapannya, masih tersisa beberapa stoples camilan premium yang tadi disediakan oleh kakaknya. Namun saat ini, fokus dan pikirannya sama sekali tidak tertuju pada makanan manis itu.

Tatapannya kosong, lurus menembus dinding kaca yang menyajikan bentangan langit kota. Liora sedang berpikir keras. Sangat keras.

"Satu koma lima triliun..." gumamnya lirih.

Ia mengangkat tangan kanan, mencoba menghitung deretan a
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 192

    Martin benar-benar lelah. Kepalanya serasa mau pecah, dihantam rasa malu, amarah, dan kenyataan pahit yang mengepung hidupnya. Setelah melemparkan kebenaran yang menampar itu, Martin berbalik dan melangkah pergi tanpa memedulikan Leli yang masih terpaku bagai patung. Pria paruh baya itu sadar, penjelasan selogis apa pun tak akan pernah mampu menembus benak istrinya yang sudah tertutup oleh ego dan kebodohan.Namun malam ini, Martin tak melangkahkan kakinya menuju kamar tamu yang biasa ia tempati, ataupun menyendiri di ruang kerjanya yang dingin. Dengan tatapan kosong, ia menyambar kunci mobil, berjalan ke garasi, dan menyalakan mesin."Martin! Kau mau ke mana?!" jerit Leli yang mendadak tersadar dari syoknya. Wanita itu berlari kencang memutari kap mesin, berdiri di depan mobil untuk menghadang jalannya.Martin menurunkan kaca jendela, menatap Leli dengan pendar mata yang sudah mati rasa. "Aku sangat lelah, Leli. Aku butuh tempat untuk menenangkan diri.""Bohong! Kau bukan lelah, Mart

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 191

    ​Di sepanjang perjalanan menuju kediaman mereka, kabin mobil mewah itu bagaikan neraka yang riuh. Leli tidak henti-hentinya meraung, mengomel, dan memuntahkan makian kasar. Namun Martin tetap bungkam, menatap lurus jalanan malam dengan rahang mengeras rapat—berusaha keras menahan gunung berapi di dadanya agar tidak meledak di atas kemudi.​Begitu mobil berhenti di pelataran rumah, Martin langsung membanting pintu. Pria itu melangkah masuk lebih dulu ke dalam rumah megah mereka dengan wajah merah padam, disusul Leli dan Cynthia yang melangkah cepat di belakangnya.​"Berikan aku penjelasan sekarang, Martin!" tuntut Leli histeris, menatap suaminya dengan mata melotot.​Bagaimana mungkin ia tidak gila dan kalap? Wanita yang dibawa suaminya malam ini jelas-jelas jauh lebih cantik, lebih anggun, dan jauh lebih muda dari dirinya. Rasa terancam dan dengki menggerogoti akal sehatnya sampai habis.​Martin membalikkan badan perlahan, menatap Leli dengan pendar mata yang teramat dingin dan tajam.

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 190

    "Nyonya Devi, maaf... Makan malamnya jadi seperti ini," ujar Martin dengan suara serak seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Wajahnya terasa panas membara, terbakar oleh rasa malu dan kehancuran harga diri yang teramat sangat di hadapan kolega serta calon menantunya."Tidak apa-apa, Tuan Martin. Saya sungguh memaklumi," jawab Devi dengan amat tenang. Wanita itu masih bisa mempertahankan senyum tipisnya yang anggun—sebuah ketenangan elegan yang justru membuat Martin merasa makin kerdil dan tak berharga.Tak sanggup lagi menanggung sengatan tatapan di ruangan itu, Martin mencengkeram pergelangan tangan Leli dengan kasar dan mencengkeramnya erat, lalu menyeret wanita itu keluar dari ruangan VVIP.Suasana restoran bernuansa mewah yang tadinya begitu tenang dan eksklusif kini seketika berubah sunyi menyengat. Setiap pasang mata tamu dari meja-meja VIP tertuju lurus pada mereka. Setiap langkah kaki Martin terasa bagai lorong hukuman mati; ia bisa merasakan tatapan mencemooh, bisikan-bis

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   BAB 189

    Suasana penuh gelak tawa dan kehangatan yang baru saja tercipta seketika lenyap ketika pintu ruangan VVIP didobrak hingga membentur dinding.BRAAK!Semua kepala serentak menoleh.Sesosok wanita berdiri di ambang pintu seperti badai yang baru saja menerjang masuk. Mata Leli memerah, rambutnya berantakan, sementara wajahnya bergetar menahan amarah yang nyaris meledak.Di belakangnya, Cynthia menyusul dengan wajah yang dibuat seolah-olah cemas. Namun, di balik sorot matanya, terselip kepuasan licik yang sulit disembunyikan.“L-Leli?!” Martin sampai terlonjak dari kursinya.Namun, Leli tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan.Ia langsung menyerbu meja.PRAAANG!Dengan satu kibasan tangan yang kalap, seluruh piring porselen, gelas kristal, hingga kue ulang tahun megah di atas meja disapu jatuh ke lantai.Pecahan kaca berhamburan. Makanan berserakan di atas karpet mewah.“KURANG AJAR!” Leli menjerit. “Jadi, di sini kamu bersenang-senang, Martin?!”Tanpa peduli pada tatapan orang-orang

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 188

    Acara dilanjutkan dengan momen puncak yang paling ditunggu. Pelayan restoran melangkah masuk membawa kue ulang tahun bertingkat dengan lilin angka yang bernyala hangat di atasnya.Martin terdiam memandangi kue ulang tahun mewah nan megah itu. Begitu pula dengan Leon dan Dion yang mengernyit heran."Mengapa pesan kue lagi? Kan kue yang tadi sudah ada di atas meja," kata Dion seraya menunjuk kue berukuran sedang yang dibelinya bersama Leon."Aku lihat kue kalian terlalu kecil, persis seperti kue ulang tahun anak-anak. Karena itu aku memesankan yang lebih besar," sahut Xavier santai tanpa beban."Terimakasih kasih calon menantu, kamu sangat perduli." Martin tersenyum dengan mata yang sudah basah. Di hari tuanya ini, ia justru merasakan kasih sayang yang tulus dari anak-anaknya.Liora menoleh pada calon suaminya, menyunggingkan senyum manis. "Kamu kelihatan cuek dan dingin, tapi ternyata sangat perhatian..."Raut wajah Xavier yang biasanya kaku seketika luluh. Senyum bahagia terukir jelas

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 187

    Leon menatap Devi dengan penuh perhatian."Seberapa besar beasiswanya?"Devi tersenyum tipis."Untuk Liora, perusahaan memberikan paket beasiswa penuh."Ia menghitung dengan jemarinya."Biaya pendidikan, biaya hidup, perlengkapan kuliah, buku, uang kost, dan membelikan laptop serta kendaraan untuk menunjang aktivitas kuliahnya."Dion sampai terdiam."Serius?""Serius."Devi mengangguk."Penerima beasiswa akan mendapatkan dana sebesar tiga puluh juta rupiah per semester. Satu tahun 60 juta."Liora perlahan mengangkat wajah."Tiga puluh juta?"Devi tersenyum."Ya. Ini beasiswa terbesar untuk dalam negeri. "Gadis itu langsung menatap Martin. Wajah Liora tampak sangat kesal dan juga marah. Martin tidak sanggup membalas tatapan tersebut. Ia hanya diam sambil menundukkan kepalanya."Tapi..." Leon masih belum selesai. "Kalau semuanya sudah disiapkan, kenapa Liora tidak pernah tahu?"Devi menarik napas."Karena dia gagal mengambil kuliah saat itu. Dengan sendirinya, status calon penerima be

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 20

    Liora melangkah masuk ke dalam rumah dengan tenang.Suasana mansion itu sangat sunyi.Terlalu sunyi.Ia membuka pintu perlahan sambil melepas heels yang sejak tadi membuat kakinya tidak nyaman.Namun—Brak!Sebuah asbak rokok melayang cepat ke arahnya.Liora bahkan belum sempat bereaksi.Seseorang

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 14

    Xavier memandang Liora beberapa saat tanpa berbicara.Sorot matanya tenang. Namun tajam. Seolah sedang mencoba membaca isi kepala gadis di depannya.“Jadi,” ucapnya pelan, “apa kau benar-benar siap menjadi istriku?”Xavier bertanya sekali lagi, hanya untuk memastikan.“Iya.”Jawaban Liora singkat.

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 35

    Seketika itu juga, hawa di dalam mobil mendadak turun drastis menjadi sedingin es.Xavier melirik spion tengah dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk. "Jika kau tertawa sekali lagi, bonus tahunanmu akan aku potong habis!"Satu kalimat ancaman itu meluncur dengan nada sangat datar, namun efeknya

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 23

    Pagi-pagi sekali Liora sudah bangun.Langit bahkan masih sedikit gelap ketika gadis itu membuka mata.Kebiasaan itu sudah melekat sejak lama. Sejak tinggal di desa bersama Bibi Nina. Dan semakin tertanam ketika ia berada di dalam tahanan.Di sana— terlambat bangun satu menit saja bisa menjadi masal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status