Share

3. Rumor Tentang Elena

Author: Rich Ghali
last update Last Updated: 2025-11-01 14:07:21

Pemakaman berjalan dengan sangat lancar. Tidak ada hambatan sama sekali. Duka terlihat dengan jelas menyelimuti mata Alaric. Lelaki itu berlutut di dekat gundukan tanah kuburan sang istri. Ia tatap pusara wanita itu, mengelusnya dengan lembut, dan memberikan satu kecupan untuk waktu yang lama. Ia terlihat berat untuk meninggalkan area pemakaman.

Meski kini tidak lagi ada tetes air mata yang jatuh atas kepergian istrinya, Alaric masih merasakan sakit yang sama dengan detik di saat ia tahu bahwa sang istri telah tiada.

“Aku ikut berduka atas kematian Kak Vanessa.” Shesyl mengusap lembut bahu abang iparnya itu. Ia ingin menunjukkan kepeduliannya pada Alaric.

Namun, Alaric tidak suka disentuh olehnya. Dengan kasar ia singkirkan tangan Shesyl dari bahunya. Membuat wanita itu berdecak kesal karena lagi-lagi mendapatkan penolakan.

Sengang. Satu per satu para pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Tersisa beberapa orang yang masih setia menunggu tuannya.

“Kita harus pulang, Tuan. Saya tahu ini berat untuk Anda, tapi ini sudah mulai gelap.” Felix berucap dengan lembut, tapi terkesan sangat tegas. Ia tidak ingin tuannya menjadi lemah setelah kehilangan sang istri.

Alaric menarik napas dengan berat. Kembali ia berikan satu kecupan pada papan nama istrinya. Lalu bangkit berdiri, memenuhi ajakan Felix untuk segera pulang.

Baru saja tiba di rumah, Alaric sudah dikejutkan dengan keributan yang disebabkan oleh adik iparnya. Wanita itu marah-marah dan memaki Elena karena tidak diizinkan untuk memasuki kamar utama. Ia ingin mengambil barang-barang mendiang kakaknya, sebagai kenang-kenangan agar ia bisa mengingat kakaknya di sepanjang sisa usianya.

Terlebih semua barang milik Vanessa tidak ada yang murah. Rata-rata barang branded limited edition yang dibelikan oleh Alaric dari hasil uang haramnya.

“Mas, kau harus memecatnya. Dia sangat kasar!” Shesyl menunjuk tidak suka pada Elena. Matanya melotot menatap wanita itu, menunjukkan betapa kesalnya ia pada Elena. Dari semua pelayan, hanya wanita bermata hazel itu yang berani menahan langkahnya untuk memasuki kamar utama.

Elena menunduk takut saat Alaric menatap padanya. “Maaf, Tuan. Saya hanya menjaga amanah Nyonya Vanessa agar tidak ada yang boleh masuk ke kamarnya tanpa izin darinya.” Elena menjawab dengan mantap meski rasa takut menghinggapi dada.

Alaric menghela napas dengan berat. Selama ini ia tidak pernah memerhatikan para pekerja wanita. Jadi, ia tidak hapal dengan wajah-wajahnya. Namun, ia bisa mengingat wajah Elena dengan sangat baik setelah kejadian di rumah sakit pagi tadi. Elena terlalu cantik untuk jadi seorang pelayan. Kulitnya putih bersih, hidungnya bak perosotan, rambut sedikit pirang, juga bola mata yang indah. Ia tampaknya seorang blasteran.

“Kau Elena?” Alaric bertanya memastikan. Ia tidak pernah berbicara dengan pelayan wanita hingga ia berbicara dengan Elena.

Elena mengangguk dengan cepat.

Hanya itu saja, ia tidak memberikan teguran atau pujian atas kinerja Elena yang telah melarang Shesyl dengan keras untuk tidak memasuki kamarnya. Lelaki itu berlalu begitu saja, masuk kamar dan menutup pintu dengan sedikit keras. Ia sedang ingin meratapi nasibnya sekarang.

“Kau jangan main-main denganku atau kau akan menyesal!” Shesyl memberikan ancaman, lalu beranjak pergi dengan kesal.

Elena tidak merasa terancam sama sekali dengan ucapan wanita barusan. Baginya itu bukanlah sebuah ancaman, ia hanya menjalankan tugas, jadi tidak ada yang harus ia takuti selama ia merasa benar.

Felix yang sudah memerhatikan Elena sejak di rumah sakit, mengikuti langkah wanita cantik itu. Ia memanggil dengan lembut, membuat Elena menghentikan langkahnya.

“Apa kau pelayan baru? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya.” Felix bertanya dengan tatapan yang beda. Ia merasa kagum atas kecantikan wanita itu. Belum pernah ia bertemu dengan pelayan seanggun itu.

“Saya direkrut oleh Nyonya Vanessa bulan lalu.” Elena mendongak menatap.

Akhirnya Felix bisa menikmati betapa indahnya sepasang mata cantik yang ada di hadapannya.

“Kau pelayan baru, mengapa Nyonya Vanessa begitu percaya terhadapmu?” Felix bertanya tidak mengerti.

Elena terdiam, sesungguhnya ia juga tidak tahu.

“Di mana Nyonya Vanessa menemukanmu?” Felix sangat ingin tahu. Ia begitu terpesona dengan kecantikan wanita itu.

Elena tidak ingin menjawab. Ia berbalik dan meneruskan langkah menuju ruang di mana Tuan Muda berada. Hal itu membuat Felix mati penasaran. Ia ingin tahu banyak hal tentang Elena. Ia sudah sebulan menjadi pelayan, tapi baru hari ini mereka bertatap muka.

Felix berlari menuruni anak-anak tangga. Ia berjalan mencari kepala pelayan untuk menanyakan perihal Elena. Tampaknya ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama, tanpa tahu jika tuannya diminta untuk menikahi wanita itu.

“Saya kurang tahu, karena Nyonya Vanessa sendiri yang merekrutnya.” Jawaban kepala pelayan tidak bisa membuat Alaric puas.

“Tapi dari rumor yang beredar, dia salah satu tawanan Tuan Alaric karena telah menjadi saksi pembunuhan suaminya yang seorang polisi.” Wanita paruh baya itu berucap dengan tidak yakin. Ia sendiri tidak sepenuhnya percaya, sebab tidak akan ada seorang wanita yang ingin bekerja dengan sangat baik untuk orang yang sudah membunuh suaminya.

“Apa lagi yang kau ketahui?” Felix ingin menggali lebih dalam lagi.

“Ada juga rumor yang beredar jika salah satu pelayan pernah melihatnya tengah memompa ASI. Sepertinya dia baru melahirkan.” Kepala pelayan semakin tidak yakin dengan apa yang ia katakan.

“Kurasa itu hanya rumor. Elena memang sedikit tertutup, tapi sejauh ini dia sangat baik. Tidak ada hal yang mencurigakan tentangnya.” Wanita itu kembali menambahkan.

Felix mengangguk mengerti.

“Beritahu aku jika kau sudah mendapatkan informasi tambahan tentangnya.” Felix meninggalkan pesan seraya beranjak keluar dari dapur.

Lelaki yang memiliki paras layaknya Cagatay Ulusoy itu berpikir keras mengenai beberapa polisi yang sudah ia eksekusi dengan tangan sendiri atas perintah Alaric, sebab mereka yang tidak ingin diajak untuk bekerja sama. Orang-orang jujur akan langsung dibabat habis oleh mereka. Sebab, itu akan menghambat pekerjaan.

Pikiran Felix dipenuhi oleh banyak tanda tanya. Ia ingin lebih dekat dengan Elena, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Terlalu sibuk mengurusi bisnis gelap milik Alaric, ia bahkan sampai tidak punya waktu untuk mengenal cinta.

Felix melangkah dengan pasti menuju lantai tiga, ia ingin mengecek keadaan Tuan Muda. Sejak tadi, tidak terdengar suaranya sama sekali. Saat ia membuka pintu kamar, ia dikejutkan dengan Elena yang tengah memberikan ASI pada bayi mungil itu.

Melihat kedatangan Felix, Elena memucat di tempat. Ia takut akan dipenggal karena memberi ASI tanpa izin dari Alaric. Ia diminta untuk memberikan susu formula, bukan memberikan ASI-nya.

Cepat, Elena melepas kuluman bayi mungil itu dari buah dadanya. Ia bangkit berdiri, meletakkan Tuan Muda di ranjangnya, kemudian berlalu keluar kamar seraya merapikan pakaian. Dadanya berdebar dengan sangat kencang. Ia sangat takut sekarang. Sebab, bayangan ketika Alaric mengayunkan pedang ke kelapa suaminya masih terputar dengan jelas di otaknya. Alaric mungkin sudah lupa, apalagi Felix yang saat itu tidak ikut serta. Namun, Elena tidak akan pernah lupa hingga akhir hayatnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Menikah Dengan Tuan Mafia   92. Ending

    Menjelang siang Felix datang dengan menenteng ransel hitam. Ada dua koper dan beberapa dus berisi barang yang tergeletak di ruang depan. Elena dan Alaric telah siap untuk berangkat. Resni akan ikut bersama mereka. Sementara Dion akan tinggal untuk mengurus bisnis yang ada di Jakarta.Semuanya tengah makan siang saat Felix masuk begitu saja, ia ikut bergabung di meja makan. Melahap hidangan yang sudah tersedia. Pesawat akan berangkat sore nanti, jadi mereka masih ada waktu untuk berleha-leha meski hanya sebentar saja.“Kita akan ke mana?” Elena bertanya di sela ia melahap makanan. Ia menatap sang suami dengan sorot tanya. Mereka akan berangkat, dan ia belum tahu ke mana mereka akan pergi.Alaric terdiam sejenak, menghabiskan makanan yang ada di mulutnya.“Ke tempat di mana orang tidak akan ada yang mengenal kita.” Lelaki itu menjawab beberapa saat kemudian.“Luar kota?” Elena menebak, alis kanannya terangkat saat menyorot Alaric.“Luar negeri.” Alaric langsung menjawab rasa penasaran E

  • Terpaksa Menikah Dengan Tuan Mafia   91. Pulang

    Elena tengah bermain bersama Daryl di halaman. Kaki Daryl terlihat semakin kuat dalam berjalan. Anak kecil itu sudah mulai bisa berlari meski sesekali ia terjatuh dan bangkit lagi tanpa ada tangis. Elena merasa sangat senang, sebab ia bisa membesarkan anak dengan sangat baik.Seorang lelaki berjalan memasuki area rumah. Ia mengenakan jaket hitam dengan topi yang melekat di kepala, juga masker yang menutupi sebagian area wajah.Elena berhenti bermain, ia membawa Daryl ke dalam gendongan, lalu menatap sosok lelaki itu dengan sangat dalam.“Ada yang bisa saya bantu?” Elena bertanya dengan bingung saat lelaki itu berhenti tepat di hadapannya.Sejenak tidak ada percakapan. Elena menatap dengan sangat serius, sementara lelaki itu hanya diam. Mereka saling tatap dalam sejenak.Lelaki itu membuka topi beberapa saat kemudian, juga membuka masker yang menutupi wajahnya. Sejenak Elena terdiam menatap wajah yang bisa ia lihat dengan sangat jelas. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Dadanya b

  • Terpaksa Menikah Dengan Tuan Mafia   90. Penyesalan

    Elena terdiam saat di hadapannya berdiri sosok sang mantan adik ipar. Gadis itu menatap dengan sorot penuh rasa bersalah. Ia datang bersama Felix.Elena hanya diam menatap. Tidak bertanya apa pun. Ia biarkan gadis itu dengan sendirinya mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke sana. Di manik mata gadis itu tersorot rasa penyesalan yang teramat besar. Rasa penyesalan yang membuatnya kehilangan sosok kakak yang begitu ia sayang. Terlebih ia tahu hari ini Alaric telah dieksekusi mati setelah dikurung dua bulan lebih.Tergolong cepat mendapatkan keadilan dibanding tahanan yang lain. Biasanya para pidana hukuman mati akan dikurung selama tahunan, berdebar ketakutan menunggu hari kematian. Namun, berbeda dengan Alaric yang hanya hitungan bulan.“Maaf.” Viona berucap dengan lemah. Ia menyesal telah melaporkan Alaric ke kantor polisi setelah ia mendengar penjelasan dari Felix.Elena menghela napas dengan berat.“Maaf untuk apa?” Elena bertanya dengan sorot penuh tanya.“Karena aku telah sal

  • Terpaksa Menikah Dengan Tuan Mafia   89. Bertemu dengan Alaric

    Elena tengah bermain bersama Daryl dengan televisi menyala. Ia tidak fokus pada layar kaca, televisi dinyalakan hanya untuk membuat keramaian agar tidak terlalu sunyi saja. Sebab, Dion tengah pergi ke kantor polisi. Sementara Resni tengah berbelanja ke pasar.Elena tersenyum pada putranya yang sudah mulai banyak kebisaan. Namun, dalam hati tetap saja ia merasa ada yang kurang, sebab suaminya hingga kini belum ada kabar. Ia sangat rindu, juga khawatir yang bercampur menjadi satu.Fokus Elena teralihkan saat televisi menayangkan suaminya secara langsung dalam konferensi pers. Sidang untuk Alaric dilakukan secara tertutup, jadi tidak ada wartawan yang bisa meliput. Namun, hari ini hasil sidang dipublikasi.Jantung Elena seolah berhenti berdetak saat ia mendengar keputusan hakim yang mengatakan bahwa Alaric akan dihukum mati dengan cara ditembak. Hukumannya akan dilakukan di depan umum, jadi terbuka untuk siapa saja yang ingin melihat eksekusi Alaric.Wajah Elena memucat, dadanya terasa b

  • Terpaksa Menikah Dengan Tuan Mafia   88. Lebih Dari Aman

    Felix menancap gas dengan kecepatan tinggi menuju kantor polisi setelah ia mendengar penjelasan dari Elena. Jantungnya tengah berdebar dengan sangat cepat. Keringat dingin mulai membasahi punggung dan jidat. Tangannya gemetar dalam mengendalikan setir.Pikiran Felix kini dikuasai oleh hal-hal negatif. Ia takut jika ia benar-benar kehilangan Alaric. Mereka sudah selayaknya saudara. Ia tidak ingin pertemuan terakhir mereka adalah sebuah konflik. Ia tidak pernah mengatakan bahwa ia menyayangi Alaric. Ia ingin agar lelaki itu tahu apa isi hatinya terhadap lelaki itu.Sebagai seorang lelaki, mereka sama-sama gengsi mengungkapkan isi hati. Kasih sayang mereka terhadap sesama sesungguhnya sama besar adanya. Ia belum siap menerima kemungkinan buruk yang akan menimpa Alaric. Meskipun di satu sisi ia bisa kembali mendekati Elena karena wanita itu kembali menjanda. Ia lebih memilih menjauh dari kehidupan mereka daripada ia harus kehilangan Alaric karena kematian yang akan ia dapat sebagai hukuma

  • Terpaksa Menikah Dengan Tuan Mafia   87. Mengapa Aku Tidak Diberitahu?

    Setelah keluar dari rumah sakit, Elena menjalani hidup seperti biasanya. Melakukan banyak hal layaknya ibu rumah tangga. Ia benar-benar telah pulih total. Bisa melakukan apa pun yang orang lakukan.Hingga kini belum ada kabar sama sekali mengenai Alaric. Dion sudah berulangkali ke kantor polisi untuk membesuk. Namun, Alaric ditempatkan di ruang isolasi. Ia dikurung di ruangan tersendiri. Tidak ada yang boleh menemuinya hingga konferensi pers yang akan dilakukan lusa.Sebagai seorang istri, tentu saja Elena khawatir luar biasa. Ia takut kehilangan suaminya untuk yang kedua kali. Takut ia kembali menjadi janda yang ditinggal mati. Apalagi kini ia telah putus hubungan dengan Viona dan keluarganya. Benar-benar definisi putus hubungan yang sebenarnya. Kontak Elena diblokir oleh mantan mertuanya. Pesan yang ia kirim pada Viona hanya dibaca, tidak pernah mendapat balasan darinya.Elena menghela napas dengan berat. Daryl sudah mulai bisa berdiri sendiri. Perkembangan anak itu mulai terlihat p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status