MasukKanaya Salsabila, gadis berusia dua puluh tahun terpaksa harus merelakan kesuciannya pada seorang laki-laki yang tak ia kenal karena ternyata ia dijual oleh ibu tirinya. Beberapa bulan. Naya kembali dijual oleh ibu tirinya namun, kali ini bukan dijual kepada seorang laki-laki melainkan pada seorang wanita paruh baya. Wanita itu membeli Naya untuk dinikahkan dengan anaknya yang mengalami kelumpuhan dan ditinggalkan oleh calon istrinya beberapa hari menjelang acara pernikahan. Siapa sangka pernikahan yang tidak dilandasi dengan cinta itu membawanya kembali bertemu dengan laki-laki yang sudah merenggut kesuciannya. Ternyata Naya menikah dengan Alpian yang beberapa bulan lalu sudah membeli dirinya dari ibu tirinya. Bagaimanakah kehidupan Naya setelah menikah? Akankah dia mendapatkan kebahagiaan dari suaminya?
Lihat lebih banyakone.
Natasha's POV
"Matt? I'm ready," I drawled in a singsong voice, waltzing out of the closet with a robe on. My husband hadn't been around for a while now—two weeks— and I had missed him.
I was married to Matt Langston, a high-ranking executive at the Blackwood Pack Corporation. Last year when he proposed, it felt like a dream come true. Neither of us had found our true mates but we got along pretty well. With his uncle as the Alpha of the pack, I thought I had everything I could ever want.
What more could I have asked for? Nothing. My life was perfect.
I checked myself in the mirror on the wall and smiled at my choice of robe—skimpy, sheer, and revealing just enough.
"Matt?" I called again, bouncing over to the bed to wait for him.
"Coming, Babe." He responded from the shower.
"Take your time, darling," I teased, loosening the robe so my breasts were partly visible. If all went well, Matt and I would finally make love again—
His phone buzzed on the bedside table.
I glanced at it, noticing the screen was unlocked. He had been chatting with someone. I ignored it and instead shifted my pose, making myself look as irresistible as possible. Not that I ever had to try so hard. With my jet-black hair and the striking grey eyes—“popping”, as my friend Emily always said—I knew I could turn heads.
Still, I hoped she was right tonight. Matt hadn't touched me in over two months and I was close to losing my mind.
The phone buzzed again.
And again.
Curiosity got the better of me and I leaned forward, peeking at the screen.
My heart stopped.
Pictures.
A woman sending pictures of herself… in lingerie.
In my lingerie!
We had bought that lingerie on vacation, but when I couldn't find it, Matt said we must have lost it during the rush to catch our flight.
I checked the contact name. Just the letter M. No face in the photos, only a body. But as I scrolled through the older messages, my stomach twisted.
Matt was cheating.
That bastard!
My wolf snarled and I could feel the anger burning through my veins.
And then I saw it—a tiny mole above her breast.
No. It couldn’t be.
But it was.
Emily. My best friend.
The shower turned off. Panic surged through me. He couldn’t know I’d seen this—not yet. He’d deny it. I needed proof.
The shower turned off. Panic surged through me. He couldn’t know I’d seen this—not yet. He’d just deny it. I needed proof.
I quickly dropped the phone back and stood as Matt came out, towel-drying his hair. Blond, handsome, blue-eyed—everything I once thought was perfect.
And I had trusted him.
“Where are you going?” He grinned, sliding an arm around my waist. “I’m here now.”
He kissed my neck, but instead of desire, all I felt was disgust. I made an excuse about feeling unwell and slipped away.
The next day, I sat in Sofia’s Café, nerves buzzing.
“Would you relax?” Sofia, my friend and the café owner, whispered. “Everything’s set. Just play along.”
“I know,” I muttered, blinking back tears. “I just… I can’t believe they’d both betray me. Why, Emily? Why would she do this?”
“Because she’s a bitch,” Sofia muttered darkly.
The café bell chimed. Emily walked in, smiling as she spotted me.
“And here comes the bitch now,” Sofia hissed, disappearing behind the counter.
“Hi, Natasha,” Emily greeted cheerfully. My chest burned. She was supposed to be my sister in everything that mattered. But she’d been sleeping with my husband.
“Hey.” I forced a weak smile, sipping my coffee so I wouldn’t scream.
“So, what’s up?” She asked, sitting across from me.
“I thought we could catch up. Matt should be here soon,” I said softly.
Her eyes widened. “Matt’s coming? Finally! You always hog that husband of yours.” She laughed lightly, but my stomach churned as she touched up her makeup and unbuttoned her shirt a little more.
I had been blind. So, so blind.
“Hello, ladies,” Matt greeted, sliding in beside me and kissing my cheek. I saw it—the quick, stolen look he gave Emily.
“And who is this lovely lady?” He asked.
You know her, I thought bitterly.
They played at being strangers. My blood boiled.
“To hell with this!” I snapped, throwing my coffee all over them.
“Natasha, what the hell?!” Emily screeched.
“My suit!” Matt groaned, fussing over the stain.
I slammed the divorce papers on the table.
“Shut up. Both of you. I know you’re screwing each other. You disgust me.”
Emily paled. Matt’s eyes widened before narrowing into a glare. “Are you crazy? Why would I—”
“Don’t play dumb, Matt. You’re cheating. It’s over. Sign the papers.”
He chuckled darkly. “Do you even realize the consequences? One of us leaves the pack. And we both know it won’t be me. My uncle won’t choose you over me. You’ll lose everything.”
“He’ll believe me when he sees this.”
The café lights dimmed as the TV flickered on. A censored video from our home’s CCTV began to play—for everyone to see.
Matt and Emily.
Gasps filled the café. Their faces weren’t visible for the world to see, but the truth was unmistakable.
“Turn that off!” Matt roared. He inched closer to me but I pointed to the crowd. He quickly got the message and shifted back.
“Sign,” I said coldly, pointing to the paperwork that was still on the table. I shifted the paper to his side and gave him a pen.
Grinding his teeth, he snatched the pen and scrawled his name on the divorce papers. When he was done, he threw the pen at me.
“You won’t get away with this,” he spat. “With my uncle as Alpha, you’re going to lose everything, Natasha. Everything.”
Di tempat tetapi. Alpian mulai berlatih menggerakkan kakinya tentunya dengan bimbingan dokter yang selama ini menangani masalahnya dalam berjalan sementara itu Kanaya hanya berdiri sambil terus memperhatikan Alpian dan dokter itu. "Semoga kamu cepat sembuh agar aku bisa cepat pergi dari rumah dan kehidupan kamu. Meski kamu adalah laki-laki yang telah merenggut kesucianku tapi sedikitpun aku tidak berharap kamulah laki-laki yang akan menjadi cinta sejatiku, aku tahu siapa aku dan siapa dirimu kita tidak mungkin bisa bersama," batin Naya dengan tatapan terus tertuju pada Alpian.Setelah lama dia dia berdiri akhirnya Alpian mulai berpindah tempat ia pun mengikuti kemana arah dokter itu membawa Alpian! "Duduklah," ucap dokter itu pada Kanaya. Kanaya pun duduk di samping Alpian! "Asisten baru ya? Saya baru melihatnya," ucap Dokter itu. Biasanya Alpian akan diantar oleh Safina atau kedua orang tuanya saat datang ke tempat itu, namun sekarang dia datang bersama Kanaya yang baru dinika
Beberapa menit kemudian Alpian baru tersadar dari tatapannya yang terus tertuju pada Naya. Dia mulai berusaha menyingkir dari atas tubuh Naya!"Tuan, Tuan tidak apa-apa?" tanya Naya sembari bangkit dari sana. Alpian masih duduk di atas tanah itu karena ia memang tidak dapat berdiri tanpa bantuan orang lain atau tongkat miliknya. "Sebenarnya kamu niat gak jagain saya?" ucap Alpian dingin. "M_maaf, saya yang salah," ucap Naya. "Ya memang kamulah, masa saya," ucap Alpian lagi. Kanaya hanya diam dan tak berani melakukan apapun lagi pada Alpian. "Cepat bantu saya ke kursi roda," ucap Alpian dengan suaranya yang sedikit dinaikkan. Naya berjalan menghampiri kursi roda itu lalu membawanya ke hadapan Alpian! Naya mulai membantu Al untuk berpindah tempat! Sebenarnya ia merasakan sakit di tangannya karena tertimpa tubuh Alpian tapi ia mencoba menahannya karena tak ingin Alpian tahu, ia takut Al akan semakin marah kalau tahu dirinya kesakitan dan tidak bisa merawat Al dengan maksimal."Pe
"Pagi Pak," ucap Shelly pada Hanan. Hanan hanya menanggapi sapaan Shelly dengan anggukan dan senyuman tipis di bibirnya. Meski begitu Shelly sudah cukup bahagia karena mendapat respon dari Bosnya itu. Shelly masih berdiri di tempat semula sambil terus menata Hanan yang sudah menjauh darinya. "Pak Hanan ini memang bikin gemes, aku harus bisa menaklukkan dia. Tidak masalah kalau dia hanya CEO sementara di sini yang pasti selama CEO baru masih sakit Pak Hanan akan tetap pada jabatannya sekarang, syukur-syukur anaknya Pak Jay sakit selamanya," batin Shelly. Di ruangan Hanan. Hanan sedang memeriksa berkas yang harus ia pelajari untuk pertemuannya dengan rekan bisnisnya di luar kota. Tak lama terdengar suara seseorang mengetuk pintu ruangannya. "Masuk!" seru Hanan. Shelly membuka pintu itu dan perlahan berjalan ke menghampiri Hanan! "Ada apa Shelly?" tanya Hanan. "Pak saya hanya ingin menanyakan besok jam berapa kita berangkat ke luar kota?" ucap Shelly. "Pagi sekitar jam tujuh,
Setelah selesai sarapan semua orang di meja makan itu langsung pergi untuk memulai aktivitasnya masing-masing terkecuali Alpian.Sejak dirinya mengalami kelumpuhan, Alpian tidak memiliki kepercayaan dirinya lagi, dirinya yang baru akan dinobatkan sebagai CEO di perusahaan milik Papanya pun memilih menolak karena merasa malu dengan kondisinya yang tak bisa berjalan lagi. Saat ini masih Hanan yang menempati posisi yang seharusnya ditempati olehnya. "Papa dan Mama pergi dulu ya. Kamu hati-hati di rumah," ucap Yuristha pada Alpian. "Kanaya, urus anak saya dengan baik jangan sampai kamu menjatuhkan dia lagi," ucap Jay. "Iya Pa, Tuan akan baik-baik saja hari ini," ucap Kanaya. "Naya, Alpian itu suami kamu jadi tidak perlu memanggil dia dengan sebutan tuan," ucap Yuristha. Kanaya menatap Yuristha lalu tersenyum canggung. "Maaf," ucapnya. "Gak usah minta maaf lagipula kamu tidak salah, mungkin kamu masih meras canggung saja," ucap Yuristha lagi. "Oh ya, hari ini jadwalnya Alpian menj
Setibanya di rumahnya, Rani langsung mencari-cari keberadaan Naya. "Naya! Naya! Kanaya!" seru Rani sembari berjalan memasuki rumahnya. "Ada apa, Bu? Datang-datang udah teriak-teriak aja," ucap Shelly. "Naya udah pulang belum?" tanya Rani. "Udah, sekarang dia lagi keluar untuk membeli makanan. A
Di tempat kerja Shelly. "Ya kali nikah sama orang kaya tapi lumpuh. Mending aku nikah sama orang biasa tapi normal kayak orang pada umumnya."Perkataan salah satu teman Shelly membuatnya, penasaran dan ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. "Ada apa ini? Lagi pada membicarakan apa?" tanya S
Tiga bulan kemudian. Dikediaman keluarga Alpian. "Alpian, aku mau membatalkan pernikahan kita," ucap Jesica ~ kekasih Alpian. Tiba-tiba Jesica datang dan langsung berbicara apa yang ingin dia katakan pada Alpian. Gadis itu tanpa ragu meminta membatalkan pernikahannya yang akan dilaksanakan satu
Saat itu sekitar pukul tiga dinihari, Naya terbangun dari tidurnya. Dia membuka matanya, dalam penerangan yang sangat minim, ia menatap sekeliling ruangan itu. "Dimana aku?" batinnya sembari merasakan sakit dikepalanya. Ia merasakan sesuatu menindih perutnya, ia pun menyibakkan selimut yang menu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.