เข้าสู่ระบบKanaya Salsabila, gadis berusia dua puluh tahun terpaksa harus merelakan kesuciannya pada seorang laki-laki yang tak ia kenal karena ternyata ia dijual oleh ibu tirinya. Beberapa bulan. Naya kembali dijual oleh ibu tirinya namun, kali ini bukan dijual kepada seorang laki-laki melainkan pada seorang wanita paruh baya. Wanita itu membeli Naya untuk dinikahkan dengan anaknya yang mengalami kelumpuhan dan ditinggalkan oleh calon istrinya beberapa hari menjelang acara pernikahan. Siapa sangka pernikahan yang tidak dilandasi dengan cinta itu membawanya kembali bertemu dengan laki-laki yang sudah merenggut kesuciannya. Ternyata Naya menikah dengan Alpian yang beberapa bulan lalu sudah membeli dirinya dari ibu tirinya. Bagaimanakah kehidupan Naya setelah menikah? Akankah dia mendapatkan kebahagiaan dari suaminya?
ดูเพิ่มเติมAaron Blackwood learned one rule early in life: when his grandfather summoned him, he came—no questions asked. The old man never repeated himself.
Standing beside the sweeping glass windows of the Blackwood estate study, Aaron watched the city shimmer far below. The air smelled faintly of aged leather and premium cigars—Edward Blackwood's unmistakable domain. "Sit," his grandfather commanded. Aaron obeyed. Edward leaned back, the weight of decades of influence resting comfortably on his shoulders. "You're thirty-two," the old man said calmly. "It's time you married." Aaron hesitated. Marriage had never been on his radar. His life was already planned—taking over the empire, growing the business globally, safeguarding the family legacy. A wife didn't fit into that blueprint. "I'm busy running your company," he replied evenly. "Our company," Edward corrected. Silence stretched between them. Then Edward slid a photograph across the desk. Aaron looked down. The woman in the picture stood beside a small bookstore sign, dressed simply, her dark hair softly framing her face. She had a fuller figure than the social media models he was used to, but there was a gentle kindness in her expression. She looked… approachable. Her smile was quiet. "Her name is Elara Hart," Edward said. Aaron furrowed his brows. "And why am I looking at her?" "Because you're going to marry her." Aaron leaned back, unimpressed. His grandfather's decisions rarely left room for debate. This was absurd. "I don't marry strangers." "She isn't a stranger to me," Edward said softly. "I've known her since she was a child." That piqued Aaron's interest. "Her mother helped run an orphanage I funded years ago. Elara grew up attending those events with her father." He studied the photo again. Elara Hart—seemingly out of place in the ruthless Blackwood world. "She's a good woman," Edward continued. "Kind, loyal—the kind of person our family needs." Aaron placed the photo back on the desk. "This is a lot to ask." "I'm telling you what will happen," his grandfather said firmly. His gaze hardened. Aaron understood the unspoken truth immediately. Edward Blackwood had built the empire Aaron now controlled. Every opportunity came from him. Refusing wasn't really an option. "You will meet her at the wedding," Edward finished calmly. Aaron's jaw tightened. An arranged marriage. No love, no expectation—just duty. If that was the choice, he could live with it. He made a silent vow: I will marry her, but I will never give her my heart. Aaron had mastered control long ago—emotion was unnecessary, and he intended to keep it that way. — Across the city, Elara Hart sat at her small kitchen table—her entire world narrowed to this familiar space. The house felt emptier than ever since her mother's passing years ago, silence settling like a shadow. Her father sat across from her, hands trembling slightly. He looked nervous, and that made Elara uneasy. "Dad… what's wrong?" Thomas Hart hesitated, then spoke. "There's something I need to ask you." A knot of worry tightened in her chest. Her father had always been her anchor. "Of course," she whispered. "There's a man… an old acquaintance. He wants you to marry his grandson." Elara blinked, stunned. "What?" "The Blackwoods." The name carried weight—billionaires, industry giants—people in a different world. "You must be joking," she whispered. "I'm not." Her father looked almost apologetic. "He asked personally. Said he's known you since you were little." Elara imagined that world—luxury, attention, judgment—making her stomach twist. She had spent her life avoiding that spotlight. School had already been harsh enough—whispers, jokes, casual cruelty. Too big, too awkward, too much. "I don't think that's a good idea," she said softly. Her father looked down. "Elara… this could change your life." She hated the worry in his eyes, knowing he sacrificed so much for her. If he believed this was right… She swallowed her doubts. "Do I have a choice?" Her father hesitated—no real choice there. She exhaled slowly. "Okay." Thomas looked relieved, but guilt shadowed his face. "I promise he's a good man." Elara nodded faintly. Maybe. But good men didn't usually marry women like her. Still, if this was what her father needed… She would do it. Elara folded her hands quietly. I'll be a good wife, she thought. I'll try not to cause problems. I'll be as accommodating as I can. At least, she could make the marriage easier. — The wedding day arrived faster than either expected. The cathedral was packed mostly with spectators rather than true love. The Blackwood heir was marrying a woman nobody knew. As Elara stepped out of the car, whispers erupted. "Oh…" "That's the bride?" "She's… bigger than I expected." Someone snorted with a laugh. Elara ignored it, but the camera flashes only made it worse. Photos spread fast online. Comments poured in. That's Aaron Blackwood's wife? He could've married anyone. She trapped him for money. The billionaire and the plus-sized bride. Elara kept her head down entering the cathedral, where Aaron Blackwood waited at the altar—tall, sharp, impossibly composed. The moment his eyes met hers, the room seemed to freeze—not with romance, but curiosity. He studied her carefully—she looked nervous, yet she carried herself with quiet dignity amid the murmurs. Interesting. He expected awkwardness, but she wasn't crumbling. The ceremony began, words familiar enough. When it was time for vows, Aaron looked at her up close—her eyes surprisingly beautiful, soft, honest. "Do you take Elara Hart to be your lawful wife?" Without hesitation, he replied, "I do." Elara's voice trembled, but she spoke clearly. "I do." Exchanging rings, applause, flashing cameras. Thousands judged the marriage they knew little about. But at the altar, both Aaron and Elara thought very different things. Aaron kept his promise—this was merely a contract. Elara kept hers—she would do everything to make it work. Neither of them knew yet how much those promises would eventually cost.Di tempat tetapi. Alpian mulai berlatih menggerakkan kakinya tentunya dengan bimbingan dokter yang selama ini menangani masalahnya dalam berjalan sementara itu Kanaya hanya berdiri sambil terus memperhatikan Alpian dan dokter itu. "Semoga kamu cepat sembuh agar aku bisa cepat pergi dari rumah dan kehidupan kamu. Meski kamu adalah laki-laki yang telah merenggut kesucianku tapi sedikitpun aku tidak berharap kamulah laki-laki yang akan menjadi cinta sejatiku, aku tahu siapa aku dan siapa dirimu kita tidak mungkin bisa bersama," batin Naya dengan tatapan terus tertuju pada Alpian.Setelah lama dia dia berdiri akhirnya Alpian mulai berpindah tempat ia pun mengikuti kemana arah dokter itu membawa Alpian! "Duduklah," ucap dokter itu pada Kanaya. Kanaya pun duduk di samping Alpian! "Asisten baru ya? Saya baru melihatnya," ucap Dokter itu. Biasanya Alpian akan diantar oleh Safina atau kedua orang tuanya saat datang ke tempat itu, namun sekarang dia datang bersama Kanaya yang baru dinika
Beberapa menit kemudian Alpian baru tersadar dari tatapannya yang terus tertuju pada Naya. Dia mulai berusaha menyingkir dari atas tubuh Naya!"Tuan, Tuan tidak apa-apa?" tanya Naya sembari bangkit dari sana. Alpian masih duduk di atas tanah itu karena ia memang tidak dapat berdiri tanpa bantuan orang lain atau tongkat miliknya. "Sebenarnya kamu niat gak jagain saya?" ucap Alpian dingin. "M_maaf, saya yang salah," ucap Naya. "Ya memang kamulah, masa saya," ucap Alpian lagi. Kanaya hanya diam dan tak berani melakukan apapun lagi pada Alpian. "Cepat bantu saya ke kursi roda," ucap Alpian dengan suaranya yang sedikit dinaikkan. Naya berjalan menghampiri kursi roda itu lalu membawanya ke hadapan Alpian! Naya mulai membantu Al untuk berpindah tempat! Sebenarnya ia merasakan sakit di tangannya karena tertimpa tubuh Alpian tapi ia mencoba menahannya karena tak ingin Alpian tahu, ia takut Al akan semakin marah kalau tahu dirinya kesakitan dan tidak bisa merawat Al dengan maksimal."Pe
"Pagi Pak," ucap Shelly pada Hanan. Hanan hanya menanggapi sapaan Shelly dengan anggukan dan senyuman tipis di bibirnya. Meski begitu Shelly sudah cukup bahagia karena mendapat respon dari Bosnya itu. Shelly masih berdiri di tempat semula sambil terus menata Hanan yang sudah menjauh darinya. "Pak Hanan ini memang bikin gemes, aku harus bisa menaklukkan dia. Tidak masalah kalau dia hanya CEO sementara di sini yang pasti selama CEO baru masih sakit Pak Hanan akan tetap pada jabatannya sekarang, syukur-syukur anaknya Pak Jay sakit selamanya," batin Shelly. Di ruangan Hanan. Hanan sedang memeriksa berkas yang harus ia pelajari untuk pertemuannya dengan rekan bisnisnya di luar kota. Tak lama terdengar suara seseorang mengetuk pintu ruangannya. "Masuk!" seru Hanan. Shelly membuka pintu itu dan perlahan berjalan ke menghampiri Hanan! "Ada apa Shelly?" tanya Hanan. "Pak saya hanya ingin menanyakan besok jam berapa kita berangkat ke luar kota?" ucap Shelly. "Pagi sekitar jam tujuh,
Setelah selesai sarapan semua orang di meja makan itu langsung pergi untuk memulai aktivitasnya masing-masing terkecuali Alpian.Sejak dirinya mengalami kelumpuhan, Alpian tidak memiliki kepercayaan dirinya lagi, dirinya yang baru akan dinobatkan sebagai CEO di perusahaan milik Papanya pun memilih menolak karena merasa malu dengan kondisinya yang tak bisa berjalan lagi. Saat ini masih Hanan yang menempati posisi yang seharusnya ditempati olehnya. "Papa dan Mama pergi dulu ya. Kamu hati-hati di rumah," ucap Yuristha pada Alpian. "Kanaya, urus anak saya dengan baik jangan sampai kamu menjatuhkan dia lagi," ucap Jay. "Iya Pa, Tuan akan baik-baik saja hari ini," ucap Kanaya. "Naya, Alpian itu suami kamu jadi tidak perlu memanggil dia dengan sebutan tuan," ucap Yuristha. Kanaya menatap Yuristha lalu tersenyum canggung. "Maaf," ucapnya. "Gak usah minta maaf lagipula kamu tidak salah, mungkin kamu masih meras canggung saja," ucap Yuristha lagi. "Oh ya, hari ini jadwalnya Alpian menj
Setibanya di rumahnya, Rani langsung mencari-cari keberadaan Naya. "Naya! Naya! Kanaya!" seru Rani sembari berjalan memasuki rumahnya. "Ada apa, Bu? Datang-datang udah teriak-teriak aja," ucap Shelly. "Naya udah pulang belum?" tanya Rani. "Udah, sekarang dia lagi keluar untuk membeli makanan. A
Di tempat kerja Shelly. "Ya kali nikah sama orang kaya tapi lumpuh. Mending aku nikah sama orang biasa tapi normal kayak orang pada umumnya."Perkataan salah satu teman Shelly membuatnya, penasaran dan ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. "Ada apa ini? Lagi pada membicarakan apa?" tanya S
Tiga bulan kemudian. Dikediaman keluarga Alpian. "Alpian, aku mau membatalkan pernikahan kita," ucap Jesica ~ kekasih Alpian. Tiba-tiba Jesica datang dan langsung berbicara apa yang ingin dia katakan pada Alpian. Gadis itu tanpa ragu meminta membatalkan pernikahannya yang akan dilaksanakan satu
Saat itu sekitar pukul tiga dinihari, Naya terbangun dari tidurnya. Dia membuka matanya, dalam penerangan yang sangat minim, ia menatap sekeliling ruangan itu. "Dimana aku?" batinnya sembari merasakan sakit dikepalanya. Ia merasakan sesuatu menindih perutnya, ia pun menyibakkan selimut yang menu


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.