LOGINArea 21++ mohon bijak dalam memilih bacaan. sequel cerita Terjebak Gairah Sang Bodyguard. Bertemu setelah berpisah selama tiga tahun membuat Sky dan Freya bermadu kasih layaknya pasangan suami istri. Mereka lupa bahwa keduanya belum menikah dan hanya berpacaran. Sky membuat Freya hamil, tetapi pemuda itu tidak ingin bertanggung jawab karena mencurigai Sean yang juga dekat dengan kekasihnya selama dirinya berada di luar negeri. Apalagi dia dan sang kakak tidak akur. Ada benci diantara Sean dan Sky serta persaingan yang tidak sehat. Freya menjadi tumbal permusuhan keduanya. Freya benar-benar hancur ketika Sky tidak ingin menikahi dirinya dan menuduh ada hubungan dengan Sean. Wanita itu terpuruk dengan luka yang dalam karena kesetiaanya selama ini tidak dihargai oleh sang kekasih. Keperawanan yang telah diserahkan begitu saja menjadi sia-sia. Penantian panjanng berakhir sakit hati dan kehancuran masa depannya. Sean benar-benar hadir memberikan kekuatan untuk Freya yang sedang terpuruk dan bingung akan kehamilannya. Wanita itu tidak bisa menentukan pilihan. Mempertahankan kandungan atau menggugurkannya bersama cinta kepada Sky. Adakah cinta untuk Freya dari Sean atau hanya rencana untuk melukai sang adik? Akankah Sky menyesal dan meminta kembali pada kekasih tercinta yang selalu setia?
View More"Dear fucking God!" Jenny screamed, her voice a raw, guttural mix of ecstasy and agony as her stepdaddy's thick cock plunged in and out of her tight asshole.
She was splayed out before her daddy, Tim on her back, her slender legs hooked over his strong forearms, her body arching off the bed with every brutal thrust. Tim's marital bed creaked under their weight, the same bed he fucked Jenny's mother in just last night. Tim knew that made what he and Jenny were doing even more wrong, but his fatherly concern wouldn't let him relent. His little girl needed him. He couldn't help but succumb to consoling her in hard times. He wondered if Lila, his wife and Jenny's mom, would see it that way if she knew of their… situation. Probably not. Sweat glistened on Jenny's pale skin, her full breasts bouncing wildly as Tim sawed into her despite the guilt gnawing at him. His hips slammed against Jenny's ass cheeks with a rhythmic slap that filled the room while he thought of his wife. The two women's faces overlapped in his mind. They looked so damn alike. This was Lila's fault. She never let him fuck her ass. "Oh, fuck, Daddy... yes, just like that," Jenny moaned and gasped, her blue eyes locked onto her daddy's, half-lidded with lust. Her hands clutched at the sheets, knuckles white, as waves of pleasure rippled through her. She could feel every inch of his big dick stretching her ass, claiming her in the most forbidden way. It was wrong. They betrayed her mother over and over, but God, it felt so right. Her mother didn't deserve Tim. Getting fucked by daddy had been her secret fantasy since Jenny met Tim when she was fifteen. At twenty-five, she got him to rail her ass every chance he gave her. It wasn't often enough for Jenny, because Tim would get suspicious about the story she had been feeding him for the last six years. They started with fucking once a year. That turned into every six months and now it was every two to three months. She was wearing him down slowly, getting him used to fucking her behind her mother's back. Tim groaned deeply, his breath coming in hot pants as he gripped her thighs tighter, pulling her closer with each stroke, desperate to sink deeper into her asshole. It wasn't manipulation. It was love. Tim was having fun too. "Fuck, baby girl, your ass is so goddamn tight," he muttered, his mind a whirlwind of guilt and bliss. He'd known Jenny for ten years, stepping in as her daddy when he married her mother Lila. He loved Jenny like his own hell, more than that now. He'd never take advantage of her by fucking her outside of their deal. It was a source of comfort, nothing more. Raw-dogging her ass after she had a break up was their dirty little tradition. A drunken night in her dorm room when I was nineteen started it all. Ever since, she would tell him when she needed him. He would step in and do his duty as her daddy. "There you go, angel. Does that feel better?" Tim rasped, now fucking Jenny at a steady pace. "Yes, God yes. This is why I can't keep a man, daddy," Jenny choked, her words half outcries and half moans of satisfaction. She bit her lip, a sultry smile playing on i my mouth, even as tears of overwhelming sensation pricked her eyes. Her pussy ached with neglect, dripping wet from the anal pounding her daddy was giving her. She loved how daddy filled her ass out completely, but her pussy needed a fuck too. Today, she was going to make it happen. Tim chuckled from between his daughter's legs, his voice husky and strained as he panted, lost in heavenly bliss. "What do you mean, sweetheart? Why would daddy comforting his baby girl stop her from keeping a man?" he asked, though his mind flashed to fucking Lila last night. His sweet, pure wife who would never dream of taking dick up the ass. Jenny's ass clenched around his dick like a vice, milking the shit out of his cock. He groaned and thrusted deeper into her, savoring the heat coming off her ass. Enjoying the fucking was wrong, but fuck, it was a win-win. Lila got the vanilla sex she appreciated and he got this filthy release with his stepdaughter. No one got hurt. He convinced himself long ago that it wasn't a betrayal, since Lila didn't like anal anyway. He was very strict about never fucking Jenny's pussy. That was just for his wife. Jenny giggled breathlessly, the sound turning into a sharp gasp as he fucked away at her ass, tearing it apart with his relentless rhythmic pounding. "Ohhh, daddy. Nothing's wrong with them. They're great guys," she admitted, her body rocking back and forth on the bed, her toes curling in pleasure, legs flailing about in the air. "They just, no one stretches my ass like this. No one makes me feel like a filthy whore quite like daddy does." Flattered and spurred on by her words, Tim's eyes darkened with possessive hunger. "Daddy missed this ass so much, baby," he growled, fucking her even harder, his balls slapping against her asscheeks. Guilt whacked him in the chest again, as he started longing for Jenny's break ups so he could have a reason to fuck her again. "Sorry about the break up, baby," he added hastily. The bedframe rattled, and Jenny squealed, her moans escalating into desperate pleas. "His fucking loss. Daddy's gain. Rip my ass apart, Daddy! Fuck the shit out of me! Rail my cunt silly. God, yes!" Tim's heart skipped a beat, hoping he'd misheard that last part. Fucking her pussy was too personal. They were never going there. He groaned loudly, his voice rumbling like thunder. "So fucking tight, Jenny. No matter how many times I fuck your ass, it's always like the first time." He slowed just enough to tease her, watching her squirm, then slammed back into her and started pounding her ass again. "Are you being good for daddy? Keeping other dicks out of this perfect ass?" He knew he shouldn't have made this stipulation to their agreement, but Tim Peters was a possessive man. It was the only way he could 'let' Jenny date. Her boyfriends could have her slutty pussy… but her ass was his alone. "Yes, Daddy. Only yours," she moaned, her hips bucking up to meet his. Sensing that her daddy was at the height of ecstacy, Jenny decided that now was the perfect time to get what she wanted. With a wicked glint in her eye, she purred, "But wouldn't you rather try railing my slutty pussy? Just this once? It's so wet for you, daddy."Berada di sebuah restoran yang tidak jauh dari Trevis Fountain, Freya, Gatra dan juga balita yang Zeta perkirakan usianya empat tahun itu duduk mengelilingi meja. Menyantap hidangan yang sudah mereka pesan. Tidak hanya itu, Freya tampak kelelahan dengan perutnya yang membuncit.“Hai. Gatra apa kabar, Sayang?” Zeta mengulurkan tangannya dengan senyum yang merekah indah.“Siapa?” tanya bocah itu dengan nada sinis. Dia kembali sibuk mengunyah salad di mulutnya.“Dia tante Zeta. Apa kamu lupa? Dia yang mengurusmu saat kecil, Nak. Kamu lupa?” jelas Sean.“Cukup, Sean. Biarkan Gatra menghabiskan makanannya dulu. Duduklah, kamu boleh bergabung,” papar Freya dengan suara yang paling tidak disukai oleh Zeta.“Ah— terima kasih. Tapi kurasa aku buru-buru. Suamiku sudah menunggu. Selamat menikmati hidangan dan indahnya Roma.” Zeta berbalik badan, tetapi sebelum itu ia kembali menoleh untuk memberikan senyum pada gadis imut yang terus menatapnya dengan rasa penasaran.“Hei, aku punya sesuatu untukm
Trevi Fountain, di sanalah Zeta berada sekarang. Dalam genggamannya sudah ada dua koin yang hendak ia lempar ke kolam di hadapannya. Menyatukan kedua tangan, ia melangitkan harapan sebelum melempar satu koin itu.“Tersisa satu koin lagi,” ucap seseorang yang sudah menemani sepanjang perjalanannya.“Aku tahu diamlah,” sergah Zeta yang disambut tawa kecil dari rekan spesialnya.“Aku akan lakukan dengan caraku. Katanya dengan cara seperti ini akan lebih mudah untuk dikabulkan, kan?” tambah Zeta.“Hm—? Seperti apa itu?”Zeta berbalik badan membelakangi fountain dan memejamkan mata sama seperti yang dilakukannya pertama kali tadi. Latas melemparkan koin melintasi bahu dengan cukup tinggi dan mendengarkan suara benda berat itu meluncur ke dalam air.Senyum ayunya masih mengembang, saat membuka mata. Akan tetapi, tiba-tiba tubuhnya membeku.Bagaimana bisa? Batinnya. Dia bahkan baru saja melayangkan doanya, dia baru saja meminta pada kepercayaan orang-orang Roma ini. Lalu kemudian sudah berdi
Bukan hal baru bagi Zeta tidak diharapkan atas hidupnya. Jauh sebelum ini, dia juga pernah disia-siakan. Pernah dibuang, dicaci-maki. Sean menawar sekaligus luka baginya setelah bertahun-tahun lalu. "Pergilah, Zie. Sudah tidak ada yang perlu kamu jelaskan, kan?" Zia menggeleng cepat. "Aku tidak akan pergi sendirian, Zeta. Kamu harus ikut denganku. Kamu harus rebut Bang Sean lagi." "Kamu ingin aku menjadi duri untuk wanita lain? Sedang aku sendiri adalah wanita. Aku menentang pengkhianatan seorang wanita, tapi aku tersakiti oleh wanita." "Zeta—" Zeta menatap Zia intens. Setelah sekian hari dia kehilangan isak tangis. Sekarang air mata itu kembali menguar setetes demi setetes. "Ayahku pecandu alkohol dan suka bermain wanita, sekaligus suka memukul ibuku. Kami berjuang sendiri untuk lari darinya. Tapi selalu gagal. Ayahku berkhianat tidak hanya sekali. Tapi, ibuku adalah orang bodoh yang pernah ada di bumi ini. Dia tetap berdiri di sisinya sampai akhir hayat. Setelah dia meninggal,
Dalam gelap, suhu ruangan yang terasa membekukan setiap tulang dalam tubuh perempuan berambut sepinggang itu. Netra sepekat malam hanya mampu menatap kosong ke depan. Tanpa arah dan tanpa makna. Jemarinya meremas dan mengusap tidak tentu arah gawai putih miliknya. "Mbak Zeta! Buka, ya pintunya. Mbak harus makan," teriakan Runi yang selalu terdengar puluhan kali dalam sehari. Namun, tidak mampu membuat Zeta beranjak dari kursi Belezza yang ia duduki. Air matanya telah mengering, tersisa rasa sesak yang tidak juga mampu ia tepis. Luka yang membekas begitu dalam. Fisiknya telah rusak, pun demikian dengan jiwanya, kian rapuh. Pikiran yang semakin ringkih. "Masih nggak mau buka, Mas. Sebetulnya Pak Sean ke mana, to? Tega banget buat Mbak Zeta begitu. Kurang apa, sih Mbak Zeta? Ini sudah hampir satu Minggu, masih juga nggak ada kejelasan dari Pak Sean," gerutu Runi pada Bagas. Pria itu sesekali datang hanya untuk menjenguk menanyakan kabar Zeta. Namun, tidak ada kemajuan yang berarti
"Sean, Sky membaik. Pagi ini, dia minta makan enak katanya. Dia sembuh, Sean." Kabar itu meluncur membawa kehangatan untuk Sean. Dia merasa lega akhirnya sang adik mendapatkan harapan itu. Setelah panggilan itu terputus, Sean beralih pada Gatra dan juga Zeta. Mereka juga sudah jauh lebih baik dari
Sorot mata Sean menatap penuh kasih pada Gatra yang terlelap di ranjang bersama dengan Zeta. Mereka baru saja pulang dari klinik. Meneguk obat masing-masing dan kini terpengaruh obat-obat tersebut. Tatapan Sean secara bergantian memerhatikan wajah kekasihnya dan juga anak dari adiknya. Ada sesuatu y
Tubuh Zeta gemetar bukan main. Selain ia belum tidur sejak kemarin, ia pun tidak memasukkan makanan ke dalam perutnya kecuali air putih. Sekarang, ia menggendong Gatra yang mulai menurut padanya, tetapi suhu tubuh bocah itu meningkat sejak bangun tidur pagi tadi. "Mau Papa, Tante," rengeknya pelan.
Sepanjang malam, Sean tidak berhasil memejamkan matanya. Ia terus melirik ponsel dengan perasaan yang tidak menentu. Pikirannya terus berputar-putar. Memikirkan ucapan adiknya, demikian juga Zeta. Dia tidak akan bisa menjelaskan keinginan Sky pada Zeta.Pucuk dicinta ulam pun tiba. Gawai di tangannya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore