Share

Bab 3

Author: Viraadee
last update publish date: 2023-09-11 20:31:58

"Dimana Wanita itu?"

Benar saja, sumber penyebab suara keributan di rumah Zafar adalah Izora yang datang dengan puncak kemarahannya ingin bertemu dengan Tia.

"Hei, siapa yang kau maksud ha? Kau memasuki rumah orang lain seperti seorang penjahat. Siapa yang kau cari?" tanya Jahama dengan emosi juga.

Izora masuk ke rumah Zafar dengan membawa beberapa orang laki-laki yang akan membantunya. Orang-orang itu memeriksa setiap inci rumah Zafar karena tidak menemukan Tia.

"Katakan dimana kau menyembunyikan wanita itu?" tanya Izora pada Jahama.

"Wanita siapa?" tanya Jahama masih tidak mengerti, lalu ia pun berpikir sejenak. "Ah iyaaa, dia ada di kamarnya," ucap Jahama akhirnya menyadari siapa yang Izora maksud.

"Bicaralah yang benar, aku bukan Tuhan yang maha tahu segalanya." Jahama benar-benar kesal dengan tingkah perempuan itu.

Izora tidak peduli lalu mencari Tia dan berjanji akan mendapatkan wanita itu dengan kemarahannya.

"Tiaa, keluar kau penjahat," teriak Izora dengan seluruh kemarahannya dan menyebut Tia penjahat.

Izora lalu menemukan Tia di kamar yang Jahama tunjukkan. Perempuan itu lalu menarik tangan Tia dan menyeretnya keluar.

"Lepaskan aku Izora, apa yang kau lakukan?" tanya Tia dengan kaget.

Setelah berada di teras rumah, Izora lalu mendorong Tia hingga terjatuh. Kemarin ibu tirinya yang telah melakukan itu, sekarang Izora juga melakukan kekerasan yang sama. Izora dan Waisha ibu tirinya tidak jauh beda.

Tia masih tidak mengerti kenapa Izora melakukan ini padanya, dia tidak tahu kesalahan apa lagi yang dituduhkan padanya hingga membuat saudara tirinya mengamuk seperti itu.

Tidak terima atas perlakuan Izora, Tia pun lalu berdiri dan menampar Izora dengan keras.

"Ada apa denganmu Izora? Apa salahku? Kenapa kau berlaku seperti ini padaku? Sekarang kau pikir aku akan takut?" tanya Tia setelah menampar Izora.

Tamparan Tia membuat Izora semakin murka. "Untuk apa kau bertanya seperti itu Tia? Harusnya aku yang bertanya padamu apa yang sudah kau lakukan?" tanya Izora dengan nada tinggi.

"Memangnya apa yang aku lakukan padamu? Bukankah aku sudah memberikan semuanya padamu? Aku sudah meninggalkan ayahku, rumahku dan calon suamiku untukmu. Apalagi yang kau inginkan?"

Tia juga masih mampu berteriak pada Izora sebagai bentuk perlawanan yang masih bisa ia lakukan. Tia pikir dia harus berani dan tidak boleh takut pada Izora meskipun wanita itu membawa beberapa orang.

Izora yang melihat Tia berani padanya pun menampar Tia dengan marah. "Apa kau bilang? Apa kau pernah memiki semua itu Tia? Apa ayahmu hanyalah milikmu sehingga kau pikir sudah memberikannya padaku? Apa rumah yang kau maksud itu sepenuhnya adalah rumahmu? Dan apa calon suami yang kau maksud telah benar-benar menjadi calon suamimu Tia?" tanya Izora sambil maju mendekati Tia lalu mendorongnya hingga jatuh.

"Katakan Tia! Apakah apa yang telah kau sebutkan tadi memang benar milikmu? Jika benar begitu, maka sekarang apa yang pernah kau rasa adalah milikmu sekarang sudah tidak akan lagi. Tidak ayahmu, calon suamimu ataupun rumah yang kau maksud."

"Apa kau lupa jika Varun menolak menikah denganmu itu karena kesalahanmu sendiri?"

Jahama hanya menganga menyaksikan semua ini, dia benar-benar tidak paham dengan apa yang terjadi pada menantunya dan Izora. Jahama memang tidak mengetahi apa masalahnya karena baik Zafar maupun Kamal tidak memberitahunya.

"Sekarang kenapa kau melaporkan ibuku kepada polisi Tia? Apa kau dendam dengannya? KATAKAN PADAKU!"

Izora membentaknya dan menjambak rambut Tia tanpa ampun, dia sudah seperti orang yang kerasukan dan tidak bisa mengendalikan amarahnya.

Tia kewalahan untuk melawannya karena beberapa luka di tubuhnya yang masih belum sembuh.

"Lepaskan aku Izora, aku tidak tahu," jawab Tia benar-benar tidak tahu siapa orang yang telah melaporkan Waisha.

"Jangan pura-pura tidak tahu Tia, aku tahu kau membenciku dan ibuku, tapi kenapa kau tega melakukan semua ini?"

"Lepaskan aku Izora, aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi."

"Sekarang juga kau cabut tuntutanmu itu Tia, ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU?"

"Aaaa," teriak Tia saat Izora semakin kuat menggenggam rambut Tia yang terurai.

Jahama sangat terkejut dan ingin melerai mereka. Dia benar-benar sangat bingung sekarang. Tidak ada orang lain di rumahnya saat ini.

Izora meminta Tia berdiri lalu menarik tangannya untuk keluar dari rumah ini, namun Tia memberontak dan melepaskan tangannya.

"Aku tidak akan ikut denganmu, karena aku tidak melakukan apapun terhadap ibumu," ucap Tia dengan tegas.

"Berani kau Tia."

Izora meraih tangan Tia dengan cepat dan ingin mendorongnya lagi dengan kasar hingga membuat Tia kewalahan dan hendak terjatuh lagi. Namun kali ini seseorang menolongnya.

Zafar sudah kembali dan melihat sebuah kejahatan yang dilakukan di rumahnya dan itupun terhadap istrinya. Laki-laki itu tentu tidak akan tinggal diam.

Izora terkejut dengan kedatangan Zafar dan menatapnya dengan kemarahan di matanya. Zafar berdiri di depan Tia tidak akan membiarkan Izora menyentuh Tia lagi sedikitpun.

"Apa kau ingin menyusul ibumu ke dalam penjara?" tanya Zafar dengan jelas dan tegas pada Izora.

"Penjara? Apa maksudmu? Aku tidak memiliki urusan dengan seorang pelayan sepertimu."

"Tapi kau harus berurusan denganku."

"Diam kau! Aku ingin bicara pada perempuan yang telah berani melaporkan ibuku kedalam polisi."

Tia hanya menggeleng pelan menolak tuduhan Izora.

"Jika kau ingin marah dan balas dendam pada orang yang telah membuat ibumu masuk penjara, maka orang itu adalah aku," jujur Zafar yang mengejutkan banyak orang.

Semua orang yang mendengarnya pun tentu terkejut, termasuk Tia. Dia tidak percaya pada apa yang dikatakan Zafar.

"Iya, akulah orang yang telah membuat ibumu masuk penjara karena dia telah melakuan kekerasan pada Tia dan sekarang dia pantas untuk mendapatkan hukumannya," jelas Zafar.

Laki-laki itu ingin memberikan pelajaran pada Izora dan ibunya. "Jika kau ingin menyusul ibumu maka akupun bisa melakukannya Izora. Karena kau juga telah melakukan hal yang sama pada Tia saat ini."

"DIAM KAU ZAFAR!"

"Kau yang harus diam Izora. Jika kau ingin marah silahkan marah padaku dan jangan pernah menyentuh Tia lagi," tegas Zafar tidak main-main.

Izoraa benar-benar telah hilang kesabaran menghadapi Zafar. Dia meminta beberapa orang yang ia bawa untuk memberikan pelajaran pada Zafar.

"Hei apa yang kau lakukan? Zafar tidak bersalah, hentikan semua ini," pinta Jahama kaget karena orang-orang itu menghajar Zafar juga.

Tia juga tidak tahu dia akan terkejut dengan alasan yang mana. Pertama ternyata Zafar sudah melaporkan ibu tirinya dengan tuduhan penganiayaan dan kekerasan terhadap dirinya dan sekarang laki-laki itu harus dihajar dan menghadapi beberapa orang yang Izora bawa ke rumahnya.

Tia benar-benar seperti tidak sanggup lagi menghadapi semua permasalahan yang terus mengikutinya. Namun hati kecilnya masih menguatkannya setidaknya sampai dia bisa membalas perlakuan Izora terhadapnya.

"Habisi saja dia, aku tidak peduli," kata Izora pada orang-orang itu.

Zafar sudah terluka dan kewalahan menghadapi orang-orang itu sedangkan Tia tidak kuat berdiri lagi dengan kedua kakinya hingga ia jatuh terduduk melihat semua yang terjadi tanpa daya apapun.

"Aku mohon jangan siksa Zafar seperti ini, dia tidak bersalah huhuuu." Jahama menangis melihat ini.

Dengan sisa-sisa tenaga yang masih Zafar miliki dia pun bangkit melawan orang-orang itu. Semakin dia mengingat betapa kejamnya Waisha kepada Tia selama ini maka dia semakin memiliki kekuatan untuk melawan orang-orang itu.

Izora terkejut karena Zafar justru semakin kuat untuk melawan orang-orang suruhannya.

Sampai akhirnya orang suruhan Izora pun kalah dan Zafar berhasil membuat mereka tidak berdaya. Meskipun dirinya juga sudah banyak terluka tapi dia mengabaikan luka itu.

"Sekarang apa yang akan kau lakukan? Mau aku hajar juga?" tanya Zafar pada Izora.

Bersambung.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 52

    Hari ini Tia dan Zafar menghadiri pernikahan saudara tirinya. Perempuan itu menggunakan gaun berwarna pink berpadukan warna biru muda yang sangat cantik.Tia tau bahwa ayahnya tidak akan mau bicara padanya atau sekedar menatapnya. Di tengah tengah pesta, Tia masih merasa tidak rela jika Fazwan menikah dengan perempuan lain. Tapi Tia tetap berusaha untuk mengikhlaskan semuanya. Saat ia sedang memperhatikan prosesi pernikahan saudara tirinya dengan mantan kekasihnya itu tiba tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang.Tia lalu menoleh dan melihat perempuan cantik setengah tua sedang menatap wajahnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. "Maaf, bibi kau–"Tia tidak meneruskan kata katanya. Perempuan di depannya ini menatapnya haru, Tia tidak mengerti ada apa dengannya?"Tia," ujar perempuan itu sekarang matanya sudah berlinang cairan bening, yah penuh dengan air mata yang membuat Tia semakin tidak mengerti. Perempuan itu lalu memeluk Tia dan menangis. Sedangkan Tia terdiam membeku di

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 51

    “DIAM.”Fazwan yang lebih percaya pada Izora pun ingin menampar Tia. Laki-laki itu sudah mengangkat tangannya dan Tia sangat terkejut.“Kau ingin menamparku Fazwan?” tanya Tia.Laki-laki itu mengurungkan niatnya dan tidak jadi menampar Tia. Dia berusaha untuk mengendalikan emosinya.“Tampar saja aku Fazwan, kau juga memiliki kesempatan untuk menjadi seperti Izora dan ibunya, sekarang kau lebih mempercayainya kan? Kalau begitu lakukanlah hal yang sama seperti mereka agar kau puas. TAMPAR AKU DAN SAKITI AKU!” suruh Tia.Perempuan itu tidak ingin mennagis di depan Izora dan Fazwan, dia buru-buru menghapus air matanya dengan kasar saat air mata itu hendak jatuh.“Sakit sekali Fazwan, dia menamparku dengan sangat kencang. Aku tidak tahu kenapa dia setega itu padaku.” Lagi lagi Izora mencari perhatian lebih pada Fazwan dan ingin memanas manasi Tia.“Kau baik-baik saja Izora? Harusnya kau tidak pergi ke sini. Ayo kita pergi ke tempat lain saja, aku akan mengobatimu.”Mendengar itu hati Tia b

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 50

    “Jangan khawatir Tia, aku bahkan sudah menemukannya.”Zafar tidak pernah merasa sakit hati atas apa yang Tia katakan padanya. Walaupun Tia mengatakan dirinya tidak mencintainya dan menyuruhnya untuk berhenti mencintai wanita itu, Zafar tidak peduli.“Tidak ada yang kau dapatkan dari mencintaiku Zafar, kau mencintai orang yang sama sekali tidak memiliki cinta untukmu. Orang yang kau cintai hanya memiliki rasa sakit, kalau kau meneruskannya maka kau juga akan mendapatkan rasa sakit itu,” jelas Tia sambil menatap Zafar meyakinkan laki-laki di hadapannya ini.Zafar hanya tersenyum pada Tia.“Kenapa tidak Tia? Kalau aku bisa mengambil semua rasa sakitmu, aku akan sangat bahagia karena itu.”“Aku tidak memiliki cinta atau apapun itu Zafar, aku sudah membuang jauh-jauh rasa cinta yang aku miliki dan saat ini, aku hanya memiliki satu tujuan hidup yaitu bertemu dengan ibuku.”Setelah Tia menegaskan itu pada Zafar dia pun pergi meninggalkan kamarnya dan bersiap-siap untuk menyiapkan sarapan.Me

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 49

    “Aaaaaaa.” Tia berteriak dan membalikkan badannya dari Zafar.“Ada apa Tia? Apa yang kau lihat? Apa ada kecoa di kamar ini?” tanya Zafar tidak mengerti dan khawatir dengan teriakan Tia.Sedangkan wanita itu baru menyadari bahwa dirinya berteriak dan takut jika ayah mertuanya sampai mendengarnya. Tia berharap Kamal tidak mendengar teriakannya.“Ada apa Tia?” “Emm Zafar, kau ... kenapa kau tidak membenarkan kancing bajumu? Maksudku kenapa kau tidak merapikan bajumu di kamar mandi saja?” tanya Tia dan tentu saja itu membuat Zafar terheran.Jadi hanya karena hal itu, Tia hingga berteriak terkejut melihatnya yang baru akan membenarkan kancing bajunya. Zafar baru selesai mandi dan mengenakan bajunya di kamar, dia tidak tahu jika Tia akan masuk.Laki-laki itu hanya diam dan membenarkan kancing bajunya yang belum selesai ia benarkan.“Sudah Tia, jangan berteriak lagi.”“Aku tidak akan berteriak jika kau memakai bajumu dengan benar,” omel perempuan itu dengan kesal.Tia masih belum membalikka

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 48

    “Ibu cepatlah pulang, kenapa kau lama sekali di rumah bibi? Aku tidak bisa mengurus rumah sendiri tanpamu,” ujar Zanira saat pagi hari menghubungi ibunya yang belum pulang. Tia yang hendak ke dapur untuk membuat teh pun mendengarnya.“Iya iya, aku sudah melakukannya, ayah baik-baik saja jangan khawatir bu.”Setelah menghubungi Jahama, Zanira pun bergegas untuk membuat teh dan menyiapkan sarapan.Tia yang melihat adik iparnya hendak melakukan itu pun mencegahnya dan ingin supaya dirinya saja yang membuatnya.“Biar aku saja, kau harus pergi ke kampus kan?” tanya perempuan itu.“Hmm mm.” Zanira masih terlihat dingin dengan Tia setelah kejadian itu.“Emmm, tidak apa-apa biar aku saja yang membuatnya Zanira.”“Satu sendok gula untuk ayah mertua dan setengah sendok teh untuk Zafar?” tanya Tia lagi saat Zanira hendak pergi meninggalkannya.“Iya.”“Dan ... untukmu?” tanya Tia dengan sedikit ragu ingin membuat teh juga untuk Zanira.“Kau tidak perlu melayaniku, aku tidak minum teh di pagi har

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 47

    Tia membulatkan matanya, jantungnya berdetak kencang karena ketakutan yang wanita itu rasakan saat ini."Tia, apa yang kau lakukan di sini?" Suara yang terdengar tidak asing bagi Tia, dia pun menoleh pada suara dan Zafar lah yang berada di depannya."Zafar, laki-laki itu ... dia mengejarku, aku ... Aku tidak tahu darimana dia datang, tapi memaksaku untuk ikut dengannya, aku ... Aku mencoba melarikan diri darinya dan bersembunyi di sini."Tua menjelaskan semuanya pada Zafar masih dalam keadaan ketakutan. Dia takut orang jahat itu masih berada di sekitar sini dan akan menemukan dirinya. Zafar tidak mengerti apa yang Tia katakan, tapi dia merasa khawatir saat melihat Tia ketakutan seperti ini.Zafar mengajak Tia duduk di sebuah kursi dibawah pohon. "Ada apa Tia? Siapa laki-laki yang kau maksud? Apa dia melukaimu?" tanyanya."Aku tidak tahu Zafar, tapi dia menarik tanganku dan memaksaku untuk ikut dengannya.""Tenang Tua, kau bersamaku, dia tidak akan melukaimu."Zafar mencoba untuk m

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 10

    "Jahama, sudah hentikan. Kau memang benar-benar tidak tahu malu dengan mengatakan semua itu," tutur Kamal memarahi istrinya.Kamal sudah lelah mengingatkan Jahama, namun wanita itu selalu saja mengulanginya. "Zanira, kau hubungi dokter untuk datang kemari," suruh Kamal pada Zanira. Perempuan itu seg

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 9

    "Siapa yang menyuruhmu untuk menyentuhku? Atau siapa yang memberimu izin untuk melakukan itu Zafar?" "Hanya karena aku memberimu kesempatan untuk mengobatiku waktu itu, bukan berarti sekarang kau bebas untuk menyentuh diriku," tegas Tia lagi.Dia merasa Zafar sudah melewati batasannya dan merendahkan

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 8

    Tia menunggu Zafar pulang hingga larut malam. Dia tidak habis pikir kemana Zafar pergi dan tidak kembali bahkan ini sudah sangat malam.Meskipun Tia sudah merasa lelah menunggunya, dia tetap akan menunggu hingga laki-laki itu kembali.Sampai akhirnya, Zafar kembali dan membuka pintu kamarnya dengan ha

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 11

    “Ayah?” tanya Tia pada Kamal.Kamal pun tersenyum tulus pada gadis itu. "Tentu saja nak, aku memang tidak memiliki segalanya, tapi setelah Zafar menikah denganmu aku jadi memiliki seorang putri yang cantik sepertimu,” ucap Kamal dengan tulus.Mendengar kata-kata itu membuat hati Tia sedikit melunak, m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status