LOGINPagi yang sangat cerah, secerah wajah Kanza yang siap dengan tas kerjanya namun tidak dengan Melvin yang begitu kusut wajah nya.
“Ayolah, sayang. Kenapa tidak boleh?”“Aku sudah mengatakannya berkali-kali. Tidak ya tidak suamiku.”“Tapi aku tidak bisa jika harus berjauhan dengan istriku.” Menampakkan wajah memelas yang sangat imut.Kanza memutar bola mata, “Tiga tahun bukti nya bisa.”“Kamu salah paham,”tegasSemua orang duduk begitu tegang di ruang meeting, menatap kertas-kertas putih yang tergeletak di atas meja.Nadia memperhatikan Melvin, ia sama sekali tidak melihat kedatangan atasannya itu sedangkan dia sama sekali tidak beranjak dari kursi kerjanya.Kanza duduk dengan menahan kekesalannya.Bagaimana tidak, saat ini kaki suaminya tengah menggoda di atas kakinya. Memberikan efek geli dan gelenyar aneh di pusat kepalanya.Wajahnya sudah merah padam, antara kesal atau sudah tidak bisa menahan godaan suaminya.“Laki-laki brengsek,”batin Kanza.“Nona Rose, apa anda sedang tidak sehat?”tanya Nadia tiba-tibaNadia memperhatikan gelagat aneh dari Kanza, dan ekspresi Kanza menambah semua kecurigaannya.“Tidak, hanya lelah saja.”“Lelah? Anda habis melakukan apa memangnya?”“Jangan lancang dengan pertanyaan pribadi mu itu.”tegur Endi yang kesal dengan kekepoan sekretaris sepupunya itu.Meeting itupun di mulai, tidak ada suara lain selain karyawan yang tengah mempresentasikan hasil kerjanya.Be
Pagi yang sangat cerah, secerah wajah Kanza yang siap dengan tas kerjanya namun tidak dengan Melvin yang begitu kusut wajah nya.“Ayolah, sayang. Kenapa tidak boleh?”“Aku sudah mengatakannya berkali-kali. Tidak ya tidak suamiku.”“Tapi aku tidak bisa jika harus berjauhan dengan istriku.” Menampakkan wajah memelas yang sangat imut.Kanza memutar bola mata, “Tiga tahun bukti nya bisa.”“Kamu salah paham,”tegasnya.Tak ingin memperpanjangnya, Kanza mengambil selembar roti dan berjalan keluar.“Istri nakal.”Jalan masih cukup lenggang ketika mobil Kanza melesat menuju Perusahaan, hingga kurang dari tiga puluh menit wanita itu sudah sampai di tempatnya bekerja.Seorang satpam menyapa, mengambil kunci mobil untuk memarkirkannya.“Terima kasih, Pak.”ucap Kanza dengan ramah.Kanza yang ramah membuat karyawan banyak yang menyukai dirinya, dan hal i
Melihat kenyataan itu membuat Melvin membuka matanya lebar-lebar, orang yang selama ini dianggapnya baik tidak lebih dari perusak hubungan orang.Dan ia menyesali fikiran itu.“Besok aku akan memecatnya, kamu tenang saja.”Sambil menumpukan kepalanya pada kepala mini istrinya.“Jangan.”Kanza yang berseru itu membuat suaminya terkejut, hingga ia membuat jarak dengan istrinya.“Kenapa?”“Aku punya rencana sendiri, dan bukan sekarang kamu bisa memecatnya.”Melvin masih tidak mengerti, ia mengerutkan dahi menatap Kanza dengan penuh tanya.Menyadari itu, Kanza kembali bersandar di dada bidang suaminya.“Ada tikus yang sedang bermain di Perusahaan, dan rasanya wanita itu ada sangkut pautnya.”“Dan kalau kamu memecat dia sekarang, bagaimana nanti jika dia membocorkan semua rahasia Perusahaan.”Melvin sama sekali tidak terkejut, laki-laki itu begitu tena
Melvin yang baru saja keluar dari ruangan mendadak merasa sangat kesal, di depannya terlihat Endi tengah begitu dekat dengan Kanza seolah tengah menciumnya.Ia pun berjalan cepat menghampiri keduanya.“Kalian lagi ngapain?”tanyanya saat melihat gestur aneh Endi yang sedang berbisik pada Kanza.“Tidak ada.”singkat Kanza, mendorong tubuh Endi menjauhNamun tatapan wanita itu langsung tertuju pada jas yang ada ditangan suaminya.Ia tersenyum miring dengan tatapan elang tak lepas dari jas suaminya.“Permainan yang sengit, sampai bekas lipstikpun tidak bisa di hidari.” Sindir Kanza yang berlalu pergi meninggalkan kedua laki-laki yang sedang saling tatap dalam kebingungan.Kanza melangkah menuju lift, meninggalkan begitu saja suaminya dengan rasa kesal hingga ke ubun-ubunnya.Melihat itu, Melvin yang masih belum sadar segera mengejar istrinya bersama Endi.Di dalam lift, kedua laki-laki itu mencari sumber kemarahan Kanza. Jas yang ada ditangan Melvin berkali-kali di bolak balik, melihat ha
Pagi yang sangat cerah untuk Kanza memulai harinya di negara yang telah lama ia tinggalkan.Penampilannya begitu formal namun sangat elegan, tampak sangat mahal.“Udah siap melawan dunia, hehe.”tawanya di akhir di depan cermin besar.Kanza keluar, ia berdiri di meja makan. Mengecek kembali semau bawaan yang akan di bawa bersamanya.Dan hal terakhir yang di perhatikannya adalah kotak bekal.“Hari pertama, lebih baik menyendiri.”Mengambil kotak bekal dan keluar dari apartemennya.Melvin dan Endi bersiap di ruang meeting, ada Hendra juga Raka yang ikut serta disana.“Pah, siapa yang mau papa masukkan ke dalam Perusahaan sampai semua harus di kumpulkan?”tanya Raka berbisik.“Nanti kamu pasti tahu.”balas Hendra berbisik, menarik perhatian Melvin yang sedang tadi menatap keduanya.Semua orang sudah berkumpul, termasuk jajaran direksi juga para pemegang saham.Hendra membuka mettin
Mendengar gertakan suaminya membuat hati Kanza sakit, niat hati pulang untuk bisa bersama suaminya tapi malah ini yang di dapatnya.Kanza masih diam mematung di tempatnya, berat ia ingin melangkah keluar namun apa yang di yakininya membuat semua terasa runyam.“Memang benar ternyata.”diam, memberi jeda.Melvin begitu tegang mendengar suara istrinya, begitu juga dengan Endi yang ikut tegang.“Pernikahan tanpa landasan cinta hanya akan saling menyiksa.” Setelah mengatakan itu, Kanza menarik kopernya pergi keluar dari dalam rumah. Dengan kasar menghapus air matanya, ia mantap meninggalkan rumah yang di rindukannya itu.“Lo gila ya!”bentak Endi.Melvin hanya diam, ia sama sekali tidak bereaksi melihat istrinya keluar dari rumah.Endi keluar dengan tergesa-gesa, mencari sekeliling berusaha menemukan Kanza yang mungkin belum jauh perginya.En yang panik lebih memilih menghubungi om dan tantenya, menceritakan semua yang terjadi hari ini hingga kepergian Kanza secara tiba-tiba.“Akh! Yang ni
Ting.Bunyi pesan masuk, namun bukan dari ponsel milik Kanza melainkan dari ponsel lain yang juga berada di keranjang tadi.Hm?Tangannya mengambil ponsel dengan warna maroon itu, warna favoritnya.Kanza pun menyalakan ponsel tersebut, kemudian membuka aplikasi pesanny
Melvin masih memejamkan mata, mengabaikan Kanza yang menunggu jawaban atas apa yang telah di ucapkannya barusan.“Tuan, tolong jawab. Tuan tahu darimana masalah saya itu?”“Pilihanmu hanya dua. Menikah denganku sebagai pertanggung jawabanmu, atau menikah denganku dan kamu bisa kembali kuliah sepert
“Menikah denganku.”Sepanjang malam Kanza benar-benar tak bisa memejamkan matanya, permintaan Melvin seakan terus berdengung di pikiran juga telinganya.Hingga pagi menjelang, Kanza masih tak bisa memejamkan mata.“Jadinya nggak tidur kan,” gumamanya s
Melvin perlahan membuka matanya, ia mulai membiasakan matanya dengan cahaya.Tenggorokannya benar-benar kering, ia begitu kehausan.Berkali-kali ia meminta minum, namun Kanza yang takut malah berdiri jauh dari tempat Melvin berada.“Air, haus sekali,” gumamnya terbata-bata.Dengan perasaan was-was,







