LOGINMelihat kenyataan itu membuat Melvin membuka matanya lebar-lebar, orang yang selama ini dianggapnya baik tidak lebih dari perusak hubungan orang.Dan ia menyesali fikiran itu.“Besok aku akan memecatnya, kamu tenang saja.”Sambil menumpukan kepalanya pada kepala mini istrinya.“Jangan.”Kanza yang berseru itu membuat suaminya terkejut, hingga ia membuat jarak dengan istrinya.“Kenapa?”“Aku punya rencana sendiri, dan bukan sekarang kamu bisa memecatnya.”Melvin masih tidak mengerti, ia mengerutkan dahi menatap Kanza dengan penuh tanya.Menyadari itu, Kanza kembali bersandar di dada bidang suaminya.“Ada tikus yang sedang bermain di Perusahaan, dan rasanya wanita itu ada sangkut pautnya.”“Dan kalau kamu memecat dia sekarang, bagaimana nanti jika dia membocorkan semua rahasia Perusahaan.”Melvin sama sekali tidak terkejut, laki-laki itu begitu tena
Melvin yang baru saja keluar dari ruangan mendadak merasa sangat kesal, di depannya terlihat Endi tengah begitu dekat dengan Kanza seolah tengah menciumnya.Ia pun berjalan cepat menghampiri keduanya.“Kalian lagi ngapain?”tanyanya saat melihat gestur aneh Endi yang sedang berbisik pada Kanza.“Tidak ada.”singkat Kanza, mendorong tubuh Endi menjauhNamun tatapan wanita itu langsung tertuju pada jas yang ada ditangan suaminya.Ia tersenyum miring dengan tatapan elang tak lepas dari jas suaminya.“Permainan yang sengit, sampai bekas lipstikpun tidak bisa di hidari.” Sindir Kanza yang berlalu pergi meninggalkan kedua laki-laki yang sedang saling tatap dalam kebingungan.Kanza melangkah menuju lift, meninggalkan begitu saja suaminya dengan rasa kesal hingga ke ubun-ubunnya.Melihat itu, Melvin yang masih belum sadar segera mengejar istrinya bersama Endi.Di dalam lift, kedua laki-laki itu mencari sumber kemarahan Kanza. Jas yang ada ditangan Melvin berkali-kali di bolak balik, melihat ha
Pagi yang sangat cerah untuk Kanza memulai harinya di negara yang telah lama ia tinggalkan.Penampilannya begitu formal namun sangat elegan, tampak sangat mahal.“Udah siap melawan dunia, hehe.”tawanya di akhir di depan cermin besar.Kanza keluar, ia berdiri di meja makan. Mengecek kembali semau bawaan yang akan di bawa bersamanya.Dan hal terakhir yang di perhatikannya adalah kotak bekal.“Hari pertama, lebih baik menyendiri.”Mengambil kotak bekal dan keluar dari apartemennya.Melvin dan Endi bersiap di ruang meeting, ada Hendra juga Raka yang ikut serta disana.“Pah, siapa yang mau papa masukkan ke dalam Perusahaan sampai semua harus di kumpulkan?”tanya Raka berbisik.“Nanti kamu pasti tahu.”balas Hendra berbisik, menarik perhatian Melvin yang sedang tadi menatap keduanya.Semua orang sudah berkumpul, termasuk jajaran direksi juga para pemegang saham.Hendra membuka mettin
Mendengar gertakan suaminya membuat hati Kanza sakit, niat hati pulang untuk bisa bersama suaminya tapi malah ini yang di dapatnya.Kanza masih diam mematung di tempatnya, berat ia ingin melangkah keluar namun apa yang di yakininya membuat semua terasa runyam.“Memang benar ternyata.”diam, memberi jeda.Melvin begitu tegang mendengar suara istrinya, begitu juga dengan Endi yang ikut tegang.“Pernikahan tanpa landasan cinta hanya akan saling menyiksa.” Setelah mengatakan itu, Kanza menarik kopernya pergi keluar dari dalam rumah. Dengan kasar menghapus air matanya, ia mantap meninggalkan rumah yang di rindukannya itu.“Lo gila ya!”bentak Endi.Melvin hanya diam, ia sama sekali tidak bereaksi melihat istrinya keluar dari rumah.Endi keluar dengan tergesa-gesa, mencari sekeliling berusaha menemukan Kanza yang mungkin belum jauh perginya.En yang panik lebih memilih menghubungi om dan tantenya, menceritakan semua yang terjadi hari ini hingga kepergian Kanza secara tiba-tiba.“Akh! Yang ni
Kanza sibuk menyiapkan segala keperluan yang akan dibawanya pulang, setiap hal kecil benar-benar menjadi perhatiannya.Arumi tersenyum, ia sesekali menghapus jejak air mata yang jatuh tanpa permisi itu.“Udah, jangan sampai dia lihat kamu yang sedih ini.”ujar Hendra mengusap hangat bahu istrinya.“Masuk, bantu dia. Lihatlah betapa kerepotannya anak itu,”tawanya di akhir kalimat.Arumi masuk, tangannya dengan cekatan melipat semua pakaian dan menatanya ke dalam koper.Sesekali Kanza memeluknya, mengecup sekilas pipi wanita yang beberapa tahun ini terus menemaninya.“Kira-kira Ghea masih ingat aku nggak ya , Ma?”“Tentu saja ingat, dan jangan lupa sebentar lagi dia bakal jadi kakak.”“Dan aku tidak lupa dengan itu,”mengangkat tinggi bungkusan bergambar wajah bayi dengan warna biru laut.Arumi tersenyum, merebut dan memasukkannya ke dalam koper.“Makan, mandi. Kita harus
Kanza sibuk menyiapkan segala keperluan yang akan dibawanya pulang, setiap hal kecil benar-benar menjadi perhatiannya.Arumi tersenyum, ia sesekali menghapus jejak air mata yang jatuh tanpa permisi itu.“Udah, jangan sampai dia lihat kamu yang sedih ini.”ujar Hendra mengusap hangat bahu istrinya.“Masuk, bantu dia. Lihatlah betapa kerepotannya anak itu,”tawanya di akhir kalimat.Arumi masuk, tangannya dengan cekatan melipat semua pakaian dan menatanya ke dalam koper.Sesekali Kanza memeluknya, mengecup sekilas pipi wanita yang beberapa tahun ini terus menemaninya.“Kira-kira Ghea masih ingat aku nggak ya , Ma?”“Tentu saja ingat, dan jangan lupa sebentar lagi dia bakal jadi kakak.”“Dan aku tidak lupa dengan itu,”mengangkat tinggi bungkusan bergambar wajah bayi dengan warna biru laut.Arumi tersenyum, merebut dan memasukkannya ke dalam koper.“Makan, mandi. Kita harus bersiap penerbangan malam.”Dan tidak butuh waktu lama, kini ketiganya duduk di dalam pesawat yang siap lepas landas m
Ting.Bunyi pesan masuk, namun bukan dari ponsel milik Kanza melainkan dari ponsel lain yang juga berada di keranjang tadi.Hm?Tangannya mengambil ponsel dengan warna maroon itu, warna favoritnya.Kanza pun menyalakan ponsel tersebut, kemudian membuka aplikasi pesanny
Melvin masih memejamkan mata, mengabaikan Kanza yang menunggu jawaban atas apa yang telah di ucapkannya barusan.“Tuan, tolong jawab. Tuan tahu darimana masalah saya itu?”“Pilihanmu hanya dua. Menikah denganku sebagai pertanggung jawabanmu, atau menikah denganku dan kamu bisa kembali kuliah sepert
Melvin Surendra, terpaksa membatalkan rapat pentingnya karena sebuah masalah yang terjadi di kampus milik keluarganya.Sosok pria jangkung berjalan mantap di koridor kampus. Kehadirannya menarik banyak perhatian orang-orang di sana. Aura karismatik memancar kuat dari tubuh tegapnya yang dibalut set
Jemarinya bertaut, saling meremas demi mendapat sebuah ketenangan. Namun rasanya tidak lah mungkin, dinginnya pendingin tak sedingin tubuh Kanza saat ini.Kanza duduk begitu gugup di ruang rektor kampusnya, keringat mulai membasahi wajah serta tangannya.“Kanza Athalia Rozenka, apa benar yang sudah







