ログインDi lantai paling atas gedung mewah itu, suasana terasa jauh lebih dingin dibanding udara malam. Alya berdiri di dekat jendela besar dengan kedua tangan terlipat di dada. Sejak sore tadi, Arsen belum keluar dati ruang rapat. Para direktur perusahaan datang dan pergi dengan wajah tegang, seolah sesuatu yang buruk sedang terjadi.Alya menghela napas pelan, sudah hampir dua minggu ia tinggal di Mahardika Mansion, tetapi satu hal yang belum ia pahami adalah dunia Arsen.Terlalu banyak rahasia, terlalu banyak tatapan takut, dan pria itu selalu terlihat seperti sedang berperang dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.Pintu ruang kerja terbuka tibah-tiba, Alya menoleh. Dan Arsen keluar bersama dengan beberapa pria berjam hitam. Wajah mereka tegang, salah satu pria tua berkacamata bahkan terlihat berkeringat dingin."Rapat sudah selesai, saya harap kalian mengerti konsekuensinya," ucap Arsen datar."Pak Arsen, kami akan menyelidiki kembali data keuangan yang...""Sudah terlambat,"
Hujan turun perlahan, membasahi halaman luas Mahardika Mansion malam itu. Kilatan petir sesekali menerangi pagar besi hitam, yang menjulang seperti penjara mewah bagi Alya.Ia berdiri di balkon kamar, memeluk tubuhnya sediri sambil menatap taman gelap di bawah sana.Sudah hampir dua minggu ia tinggal di mansion itu, tetapi perasaannya belum berubah sedikit pun.Dingin.Sunyi.Dan penuh pengawasan.Alya menghembuskan napas panjang, ketika suara pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan.Arsen masuk dengan langkah tenang, mengenakan setelan hitam yang masih rapi, meski waktu sudah hampir tengah malam.Aroma parfum maskulin itu langsung memenuhi ruangan."Kenapa kamu belum tidur?"Alya memalingkan wajah, "Aku tidak terbiasa hidup di tempat seperti ini."Arsen berjalan mendekat, "Tempat seperti apa?""Tempat yang penjaganya selalu membawa senjata."Pria itu berhenti tepat di belakangnya, pantulan tubuh mereka terlihat samar di kaca balkon yang basah oleh hujan."Semua itu hanya untuk keamanan.
Hujan turun sejak sore, membasahi kaca besar Mahardika Mansion dengan suara yang seakan menyesakkan. Alya berdiri di balkon kamarnya sambil memeluk kedua lengannya sendiri, tatapannya kosong mengarah ke taman belalang yang gelap. Lampu-lampu taman menyala redup, menciptakan bayangan panjang yang membuat tempat itu terasa seperti penjara mewah. Sudah hampir dua minggu ia tinggal di rumah itu, dua minggu hidup bersama pria bernama Arsen Alvero Mahardika. Dan semakin lama, semakin sulit baginya memahami pria itu. Kadang Arsen begitu dingin, hingga membuat udara di sekitarnya terasa membeku. Namun dulu saat lain, tatapan pria itu berubah begitu intens sampai membuat Alya kehilangan keberanian untuk menatapnya balik. Tok. Pintu kamarnya diketuk pelan, Alya langsung menoleh. "Masuk." Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan salah satu pelayan mansion. "Nyonya, Tuan Arsen meminta anda turun untuk makan malam." Alya menghela napas pelan, "Aku sama sekali tidak lapar." Pelayan itu t
Lampu kristal bergantung megah di langit-langit ballroom, memantulkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata. Musik klasik mengalun lembut, namun tidak mampu menyamarkan ketegangan yang terasa di udara.Alya berdiri kaku di samping Arsen, gaun hitam panjang yang ia kenakan terasa terlalu berat, bukan karena bahannya, tapi karena tatapan orang-orang di sekelilingnya.Tatapan penuh rasa ingin tahu, penuh bisik-bisik yang tak terdengar tapi begitu terasa. Ia tahu, mereka semua sedang membicarakannya."Istri baru Arsen Mahardika."Suara itu seolah bergema di kepalanya sendiri. Alya menarik napas perlahan, mencoba menenangkan dirinya. Namun sebelum ia mencoba sempat berpikir lebih jauh, suara dingin Arsen terdengar di sampingnya."Jangan terlihat lemah."Arsen tersenyum tipis, bukan senyum hangat, melainkan senyum yang penuh penilaian."Buktikan pada mereka, bahwa kamu istri seorang Arsen yang tangguh dan tidak lemah," lanjutnya pelan.Kata itu terasa seperti sebuah tantangan, belum sempa
Langit Jakarta malam itu tampak lebih gelap. Dari jendela besar ruang kerjanya, Arsen Alvero Mahardika berdiam diri, menatap kosong ke arah lampu kota yang berkedip seperti ilusi ketenangan.Di tangannya terdapat segelas whiskey, yang hampir tak tersentuh. Raganya masih terdiam, tapi pikirannya kembali pada kejadian lima belas tahun yang lalu.***Suara pecahan kaca, jeritan seorang wanita. Dan bau asap yang membakar paru-paru."Arsen, lari!"Suara itu masih sama, jelas, menghantui. Ibunya.Arsen kecil berdiri membeku di ujung lorong rumah mereka yang megah, api mulai menjalar dari ruang kerja ayahnya, merambat cepat seperti binatang buas yang lapar.Para pelayan berlarian, beberapa mencoba memadamkan api, dan yang lain justru melarikan diri tanpa arah tujuan."Arsen, cepat!"Ibunya berlari ke arahnya, wajahnya pucat, namun matanya tetap tegas. Tangannya mengenggam bahu Arsen kecil dengan kuat."Apa yang terjadi, Bu?" suara Arsen gemetar.Ibunya tidak menjawab, hanya tatapan penuh ke
Langkah kaki Alya menggema pelan di lorong panjang, Mahardika Mansion. Lantai marmer yang dingin, terasa lebih sunyi untuk rumah sebesar ini. Tidak ada suara tawa, tidak ada percakapan ringan. Hanya keheningan dan perasaan seperti sedang diawasi. Ia baru saja kembali dati taman belakang, mencoba mencari sedikit udara segar, setelah beberapa jam terkurung di dalam rumah, yang terasa lebih seperti penjara mewah. Namun bahkan di luar, penjaga bersenjata berdiri di setiap sudut. Tidak ada tempat yang benar-benar bebas, Alya menghela napas panjang, berusaha menenangkan pikirannya. Ia menoleh ke arah jendela besar, yang berada di ujung lorong, dan di sanalah ia melihatnya. Bayangan seorang pria, tegak, diam, dan mengawasi. Alya langsung menoleh. Arsen. Pria itu berdiri beberapa meter di belakangnya, mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung gingga siku. Tatapannya tajam, dalam, dan terlalu fokus padanya. Seperti seorang predator yang sedang mengamati mangsanya. "Apa kamu selalu







