เข้าสู่ระบบ"Shiftmu sudah berakhir, kau bisa pulang sekarang." Suara berat seorang pria terdengar, bersamaan dengan kemunculan karyawan shift pagi. Iris yang melamun di balik meja kasir langsung tersadar. Matanya melirik ke luar melalui kaca jendela. Fajar telah menyingsing. Menggantikan pekatnya malam yang sepi saat dia menjaga supermarket sendirian. "Ah, iya, Pak." Iris menganggukkan kepalanya kaku. Menatap manager supermarket yang baru datang dan berdiri di depan kasirnya. Ada perasaan lega yang terbayar ketika akhirnya dia berhasil melewati shift pertamanya tanpa hambatan. Meski semalam, dia sempat dibuntuti. Beruntung setelahnya, pekerjaannya berjalan lancar. "Kau baik-baik saja? Semua lancar kan?" Pertanyaan basa-basi itu dijawab Iris dengan senyum kecil dan anggukan kepala. "Iya, semuanya lancar. Tidak ada masalah. Saya sudah mengisi stock kosong dan yang Anda minta semalam." Manager mengangguk dan tersenyum bangga saat mendengar jawaban Iris. "Bagus, kau melakukan tugas yang
Keesokan malamnya. Iris akhirnya nekat untuk tetap pergi bekerja. Dia berdiri di depan cermin ketika melihat penampilannya. Jam di dinding tampak menunjukkan pukul delapan tiga puluh malam. Pintu ruangan terbuka dan Lona masuk dengan langkah santai. Menatap Iris yang baru selesai merapikan diri. "Iris, kau benar-benar serius mau kerja sekarang? Kau yakin?"Iris mendekat sambil tersenyum kecil. Tangannya menepuk pundak Lona. "Kau bicara seperti kau lupa, kita ini pernah shift malam bersama. Ini hal biasa bagi kita, jangan terlalu serius."Meski Iris menjawab demikian, jauh di lubuk hatinya, dia merasakan ketakutan. Kekhawatiran jika ada sesuatu yang tidak dia duga. "Aku tahu, tapi kondisinya beda sekarang. Gimana kalau kau tidak usah bekerja di sana? Aku coba bicara dengan manajer kafe lagi. Siapa tahu—""Tidak. Tidak, Lona." Iris menggeleng cepat. Memotong ucapan Lona. "Aku ingin sesuatu yang baru dan kurasa, aku menemukannya di pekerjaan ini."Dia menolak untuk bicara jujur, jika
"Iris, kau tidak apa-apa?"Lona mendekat. Dia merangkul bahu Iris dan mencoba menyandarkannya di sofa. "Hei, tenanglah. Bernapaslah perlahan. Tidak ada apa-apa. Tarik napas dan buang."Lona sedikit menggeser tubuhnya. Memberi ruang bagi Iris yang tampak memegangi dadanya kesakitan. Wajah pucat dan menahan sakit tampak jelas terlihat. Namun dia tidak berhenti menenangkannya. Sampai perlahan, napas Iris mulai beraturan. Raut wajahnya yang menahan sakit, mulai rileks. Lona bisa melihat pegangan tangan Iris tidak lagi mencengkeram dadanya. Spontan, dia menggenggam tangan itu dan meremas pelan. "Kau baik-baik saja. It's okay, Iris," ucap Lona dengan nada lembut. Tangannya mengusap kening Iris yang tampak berkeringat. Mata itu terpejam beberapa saat, sebelum kembali terbuka. Iris tidak langsung bicara. Hanya menatap lekat Lona. Menyadari keadaan membaik, Lona melepaskan genggaman tangannya. "Tunggulah, aku akan membuatmu minum."Lona berdiri dan hendak beranjak ke dapur, tapi belum semp
"Aku akan membayar biaya pengobatan putramu."Silas menatap pria paruh baya yang duduk berhadapan dengannya. Meja kaca panjang menjadi pembatas. Pandangan Silas lurus. Memindai penampilan rapi pria tersebut nyaris tanpa kedip. Sesuatu yang melekat di tubuhnya sempurna, kecuali ekspresi wajah yang tidak bisa dibohongi. Raut wajah pria di depannya kusut. Lingkaran hitam di bawah mata seperti orang kurang tidur. Wajahnya penuh kerutan dan ekspresi tidak senang muncul di sana. Jelas dia tersinggung setelah mendengar perkataan Silas yang terlampau santai, saat seharusnya pria itu meminta maaf. "Saya masih sanggup membiayai pengobatan putra saya, Tuan Montclair," tolak pria itu. Bibirnya menipis dengan senyum yang tampak ditekan. "Saran saya, alangkah baiknya Anda menggunakan uang Anda untuk sesuatu yang lebih... berguna."Suara terkesiap terdengar. Bukan dari Silas, melainkan seorang pria yang duduk di sebelahnya. Tidak lain adalah menteri dalam negeri. Menteri itu berdehem agak keras
Di pelabuhan. Sehari setelah kepergian Iris dari pelabuhan, pagi itu suasana di sana tampak lebih sibuk dari biasanya. Silas belum kembali sejak pergi bertemu dengan menteri. Sementara Dominic yang telah izin dari kemarin, akhirnya baru bisa kembali pagi ini. Kata sebentar baginya bukan pergi satu atau dua jam, tapi bisa sampai belasan jam. Ekspresi kusut terlihat di wajah tuanya saat dia berjalan menuju rumahnya. Ada lingkaran hitam di bawah mata. Menunjukkan jika Dominic mengalami gangguan tidur. Hingga telinganya nyaris tidak mendengar atau merespons panggilan anak buahnya sendiri. Langkahnya gontai sambil sesekali dia mengecek sesuatu di ponselnya. Tidak ada penampilan eksekutif yang rapi. Penampilan dan rambutnya tampak berantakan. Sampai sebuah pesan masuk dari Silas sempat menghentikan langkahnya. 'Jangan tinggalkan pelabuhan. Tetaplah tenang.'Perintah singkat tanpa penjelasan seperti biasa. Dominic dengan wajah lelah dan setengah kesal, hanya mendengkus."Anak ini. Bagai
Pagi itu, Iris telah bangun lebih dulu dibanding Lona. Dia telah selesai menyiapkan sarapan dengan beberapa bahan yang ditemukannya di kulkas. Membersihkan apartemen, termasuk mengecek jendela dan area balkon. Dia terlalu sibuk. Hingga tidak menyadari Lona telah keluar kamar dan berdiri beberapa langkah di belakangnya. "Apa yang sedang kau lakukan di sana?"Iris yang sedang fokus memeriksa jendela, seketika terkejut. Dia menoleh cepat menatap Lona. "Ah, kau. Aku hanya memeriksa apakah jendela ini kokoh atau tidak. Apakah kuncinya ini masih berfungsi atau tidak?"Perkataan Iris terdengar aneh di telinga Lona. Kerutan samar terlihat menghiasi dahinya. Dia mendekat dengan senyum kecil. "Tentu saja kokoh. Pertanyaanmu aneh sekali."Iris menghembuskan napas kasar. "Aku hanya takut ada orang asing yang memanjat masuk.""Orang asing? Iris, aku sudah tiga tahun di apartemen ini. Meski tempat ini murah, tapi hampir tidak ada kejadian seperti itu."Lona tertawa kecil sembari menggeleng, seol
Langkah Iris terhenti. Dia mematung di tempat dan berkedip beberapa kali. Menatap ke depan sekali lagi untuk memperjelas penglihatannya yang buram akibat hujan. Mobil yang tak asing dan siluet seorang pria. Saat Iris mencoba memicingkan mata, dia semakin yakin itu adalah Silas. Pria itu berdiri be
"Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan b
"Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di
"Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r







