Share

Dibuntuti

last update publish date: 2026-08-22 23:45:05

Keesokan malamnya.

Iris akhirnya nekat untuk tetap pergi bekerja. Dia berdiri di depan cermin ketika melihat penampilannya. Jam di dinding tampak menunjukkan pukul delapan tiga puluh malam.

Pintu ruangan terbuka dan Lona masuk dengan langkah santai. Menatap Iris yang baru selesai merapikan diri.

"Iris, kau benar-benar serius mau kerja sekarang? Kau yakin?"

Iris mendekat sambil tersenyum kecil. Tangannya menepuk pundak Lona. "Kau bicara seperti kau lupa, kita ini pernah shift malam bersama. I
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tertawan oleh Don Mafia   Dibuntuti

    Keesokan malamnya. Iris akhirnya nekat untuk tetap pergi bekerja. Dia berdiri di depan cermin ketika melihat penampilannya. Jam di dinding tampak menunjukkan pukul delapan tiga puluh malam. Pintu ruangan terbuka dan Lona masuk dengan langkah santai. Menatap Iris yang baru selesai merapikan diri. "Iris, kau benar-benar serius mau kerja sekarang? Kau yakin?"Iris mendekat sambil tersenyum kecil. Tangannya menepuk pundak Lona. "Kau bicara seperti kau lupa, kita ini pernah shift malam bersama. Ini hal biasa bagi kita, jangan terlalu serius."Meski Iris menjawab demikian, jauh di lubuk hatinya, dia merasakan ketakutan. Kekhawatiran jika ada sesuatu yang tidak dia duga. "Aku tahu, tapi kondisinya beda sekarang. Gimana kalau kau tidak usah bekerja di sana? Aku coba bicara dengan manajer kafe lagi. Siapa tahu—""Tidak. Tidak, Lona." Iris menggeleng cepat. Memotong ucapan Lona. "Aku ingin sesuatu yang baru dan kurasa, aku menemukannya di pekerjaan ini."Dia menolak untuk bicara jujur, jika

  • Tertawan oleh Don Mafia   Tawa yang Kembali

    "Iris, kau tidak apa-apa?"Lona mendekat. Dia merangkul bahu Iris dan mencoba menyandarkannya di sofa. "Hei, tenanglah. Bernapaslah perlahan. Tidak ada apa-apa. Tarik napas dan buang."Lona sedikit menggeser tubuhnya. Memberi ruang bagi Iris yang tampak memegangi dadanya kesakitan. Wajah pucat dan menahan sakit tampak jelas terlihat. Namun dia tidak berhenti menenangkannya. Sampai perlahan, napas Iris mulai beraturan. Raut wajahnya yang menahan sakit, mulai rileks. Lona bisa melihat pegangan tangan Iris tidak lagi mencengkeram dadanya. Spontan, dia menggenggam tangan itu dan meremas pelan. "Kau baik-baik saja. It's okay, Iris," ucap Lona dengan nada lembut. Tangannya mengusap kening Iris yang tampak berkeringat. Mata itu terpejam beberapa saat, sebelum kembali terbuka. Iris tidak langsung bicara. Hanya menatap lekat Lona. Menyadari keadaan membaik, Lona melepaskan genggaman tangannya. "Tunggulah, aku akan membuatmu minum."Lona berdiri dan hendak beranjak ke dapur, tapi belum semp

  • Tertawan oleh Don Mafia   Serangan Panik

    "Aku akan membayar biaya pengobatan putramu."Silas menatap pria paruh baya yang duduk berhadapan dengannya. Meja kaca panjang menjadi pembatas. Pandangan Silas lurus. Memindai penampilan rapi pria tersebut nyaris tanpa kedip. Sesuatu yang melekat di tubuhnya sempurna, kecuali ekspresi wajah yang tidak bisa dibohongi. Raut wajah pria di depannya kusut. Lingkaran hitam di bawah mata seperti orang kurang tidur. Wajahnya penuh kerutan dan ekspresi tidak senang muncul di sana. Jelas dia tersinggung setelah mendengar perkataan Silas yang terlampau santai, saat seharusnya pria itu meminta maaf. "Saya masih sanggup membiayai pengobatan putra saya, Tuan Montclair," tolak pria itu. Bibirnya menipis dengan senyum yang tampak ditekan. "Saran saya, alangkah baiknya Anda menggunakan uang Anda untuk sesuatu yang lebih... berguna."Suara terkesiap terdengar. Bukan dari Silas, melainkan seorang pria yang duduk di sebelahnya. Tidak lain adalah menteri dalam negeri. Menteri itu berdehem agak keras

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kekacauan atau Masalah Baru?

    Di pelabuhan. Sehari setelah kepergian Iris dari pelabuhan, pagi itu suasana di sana tampak lebih sibuk dari biasanya. Silas belum kembali sejak pergi bertemu dengan menteri. Sementara Dominic yang telah izin dari kemarin, akhirnya baru bisa kembali pagi ini. Kata sebentar baginya bukan pergi satu atau dua jam, tapi bisa sampai belasan jam. Ekspresi kusut terlihat di wajah tuanya saat dia berjalan menuju rumahnya. Ada lingkaran hitam di bawah mata. Menunjukkan jika Dominic mengalami gangguan tidur. Hingga telinganya nyaris tidak mendengar atau merespons panggilan anak buahnya sendiri. Langkahnya gontai sambil sesekali dia mengecek sesuatu di ponselnya. Tidak ada penampilan eksekutif yang rapi. Penampilan dan rambutnya tampak berantakan. Sampai sebuah pesan masuk dari Silas sempat menghentikan langkahnya. 'Jangan tinggalkan pelabuhan. Tetaplah tenang.'Perintah singkat tanpa penjelasan seperti biasa. Dominic dengan wajah lelah dan setengah kesal, hanya mendengkus."Anak ini. Bagai

  • Tertawan oleh Don Mafia   Terus Waspada

    Pagi itu, Iris telah bangun lebih dulu dibanding Lona. Dia telah selesai menyiapkan sarapan dengan beberapa bahan yang ditemukannya di kulkas. Membersihkan apartemen, termasuk mengecek jendela dan area balkon. Dia terlalu sibuk. Hingga tidak menyadari Lona telah keluar kamar dan berdiri beberapa langkah di belakangnya. "Apa yang sedang kau lakukan di sana?"Iris yang sedang fokus memeriksa jendela, seketika terkejut. Dia menoleh cepat menatap Lona. "Ah, kau. Aku hanya memeriksa apakah jendela ini kokoh atau tidak. Apakah kuncinya ini masih berfungsi atau tidak?"Perkataan Iris terdengar aneh di telinga Lona. Kerutan samar terlihat menghiasi dahinya. Dia mendekat dengan senyum kecil. "Tentu saja kokoh. Pertanyaanmu aneh sekali."Iris menghembuskan napas kasar. "Aku hanya takut ada orang asing yang memanjat masuk.""Orang asing? Iris, aku sudah tiga tahun di apartemen ini. Meski tempat ini murah, tapi hampir tidak ada kejadian seperti itu."Lona tertawa kecil sembari menggeleng, seol

  • Tertawan oleh Don Mafia   Tidak Sama Lagi

    Beberapa saat setelah luapan kekesalan Iris dan pelukan menenangkan Lona, mereka kini duduk satu meja sambil makan malam bersama. Lona tidak lagi membahas soal kejadian sebelumnya atau mengomeli Iris lagi. Sedangkan Iris, dia kini menyantap makanannya dengan lahap. Menikmati makanan itu seperti orang yang belum makan tiga hari. Sampai Lona menatapnya sedikit aneh. "Pelan-pelan, kau seperti belum makan seminggu."Iris tidak berhenti mengunyah. "Masakanmu enak, Lona. Aku merindukannya.""Ckck, apa itu pujian atau kau memang lapar?"Iris tidak menjawab. Dia hanya nyengir. Tak dipungkiri, dia memang kelaparan setelah melarikan diri dari pelabuhan. Iris naik kendaraan umum dari sisa perhiasan yang menempel di tubuhnya, dan uang yang tertinggal di saku bajunya. Sisanya, Iris harus jalan kaki saat berpindah-pindah untuk mengirit ongkos perjalanan yang memang jauh. Beruntung, dia bisa sampai tanpa harus berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer. "Ngomong-ngomong, kau sudah kembali, kau akan

  • Tertawan oleh Don Mafia   Sisa Harga Diri

    "Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kehadiran yang Tak Diharapkan

    "Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bukan Kesepakatan

    Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,”

  • Tertawan oleh Don Mafia   Diselamatkan untuk Dihina?

    "Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status