LOGINWajah Iris berubah kaku. Dia melirik meja gelisah, lalu kembali menatap Silas. "Semua teh sama saja. Tidak ada yang berbeda. Hidungmu mungkin yang bermasalah."Iris menjawab dengan nada sedikit ketus. Dia meraih gelasnya sendiri dan menyesap teh miliknya, seolah menunjukkan kalau Silas terlalu berlebihan. Namun mata biru itu masih menatapnya. Membuat Iris sedikit gelisah. Hingga tanpa diduga, sebuah tangan meraih gelas yang baru diletakkan olehnya. Iris terkesiap saat melihat Silas mengendus gelas tersebut dan meletakkannya beberapa saat kemudian. "Ini berbeda. Tidak sama."Pupil matanya melebar. Wajahnya berubah lebih pucat. Iris menelan ludah saat matanya bertatapan dengan Silas. "Tidak sama apanya?! Itu sama! Itu teh baru yang bahkan baru dibuka." Iris mengalihkan pandangannya dari Silas ke arah para pelayan di belakangnya. Ketiganya yang menyadari tatapan Iris, seketika mengangkat kepala mereka. Begitu pun dengan Berta yang akhirnya angkat suara. "Maaf jika saya lancang, tap
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Para pelayan sedang menyiapkan makan malam seperti biasa, termasuk Berta yang ikut serta memasak di dapur. Ada sekitar tiga orang di sana. Semuanya sibuk dengan bagian masing-masing. Sampai ketika Iris melangkah masuk, tidak ada yang menyadarinya sama sekali. "Apa masakan sudah beres?" tanya Iris yang mendekat. Membuat ketiga pelayan termasuk Berta, seketika menoleh serempak. "Belum, Nona. Apa Anda sudah lapar?" Iris menggeleng pelan. "Tidak, Berta. Aku... hanya ingin membantu. Apa Silas sudah pulang?" Ketiga pelayan itu saling melirik, sebelum akhirnya Berta menggeleng. "Tuan sepertinya masih di perjalanan. Kami belum mendengar mobilnya." "Baguslah." Iris mengangguk paham. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Menarik perhatian tiga pelayan itu. "Bagus? Maksud Anda?" Seolah tersadar, senyum Iris lenyap. Ekspresi wajahnya berubah kembali menjadi santai. Dia mendekati ketiganya. "Bagus karena aku bisa membantu kalian. Apa ya
Alih-alih pergi ke kamar atau beristirahat, Iris memilih berjalan keluar manor. Tepat menuju halaman belakang. Dia tidak ke sana untuk melampiaskan kekesalannya dengan berlatih pedang, melainkan hanya duduk di sebuah bangku taman sambil terisak pelan. Jawaban dingin Silas membayanginya kembali. Membuat rasa kesal di dadanya berubah menjadi sesak yang sulit dihilangkan. Kekhawatiran tentang orang tua Lona yang dalam masalah pun, tidak bisa lenyap begitu saja. Meski sialnya dia tidak punya daya atau upaya untuk membela mereka. Ironisnya, di saat-saat terakhir Lona, temannya sempat menyelamatkannya. Namun kini, dia justru tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong orang tuanya. Kepalanya perlahan tertunduk. Isak tangisnya terdengar semakin jelas. Ada penyesalan dan perasaan kesal karena ketidakberdayaannya. "Lona... maafkan aku," gumamnya lirih. Suara Iris terdengar bergetar. Dia benci dirinya yang tidak mampu melakukan sesuatu. Dia benci memikirkan Silas begitu egois. Di saat pria
Dua hari berselang. Iris sudah kembali berjalan. Namun kali ini dia diawasi agar tidak melakukan aktivitas berat dan hanya diizinkan jalan-jalan. Manor jelas adalah tempat membosankan. Tidak seperti di pelabuhan, di mana dia bisa banyak berinteraksi, sedangkan di sana kebanyakan hutan. Pengalaman masa lalu membuatnya tidak bodoh untuk keluar dari tempat itu. Pergi ke kota secara sembarangan juga berbahaya. Dia tidak akan melakukannya. Tidak setelah kejadian terakhir kali. Alhasil, meski sebenarnya Iris sudah sangat bosan, dia akhirnya memilih untuk menghabiskan waktunya ke ruang perpustakaan. Dia ingin mencari suasana baru dan jika beruntung, dia mungkin bisa menemukan informasi mengenai keluarga Valenfort. Walau kasus telah dianggap usai dan Valenfort tidak dihukum karena kurangnya bukti, tapi Iris tetap tidak bisa diam saja. Apalagi Lona, teman dekatnya sampai menjadi korban. Tangan Iris mengepal tanpa sadar dan bibirnya mengetat. Dia ingin keadilan untuk Lona. Kakinya melan
"Anda perlu makan lebih banyak, Nona, dan ikuti saran dokter. Jangan beraktivitas terlalu banyak."Berta mengaduk makanan Iris dan hendak menyuapinya. Namun apa yang dilakukannya malah dibalas ekspresi cemberut Iris. Sampai tanpa aba-aba, piring di tangan Berta berpindah cepat ke pangkuannya. "Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil. Aku tahu dan aku mendengar." Iris mengambil garpu di tangan Berta. Dia menyantap makanan itu dengan lahap. Energinya sudah habis duluan oleh kegiatannya berlatih pedang tadi. Berta yang melihatnya, hanya menghela napas kasar. Dia tersenyum lelah. "Anda itu sangat keras kepala, Nona, tapi saya senang Anda tidak apa-apa. Anda tidak tahu betapa khawatirnya saya tadi."Iris mendengarkan perkataan Berta, tapi dia tidak berhenti menyantap makan malamnya. Meski kata 'khawatir' terdengar cukup mengganggunya. "Kau berlebihan. Kau harusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri.""Berlebihan? Anda jatuh berkali-kali seperti itu, bagaimana mungkin saya tidak khawati
"Lepas! Turunkan aku!"Iris tidak bisa diam dalam gendongan Silas. Dia terus meronta sambil memukuli dadanya. Meski semua percuma karena Silas dengan santai terus melangkah menuju kamarnya. "Kalau kau tidak bisa diam, kau akan jatuh."Silas meliriknya, yang segera dibalas dengan pelototan olehnya. Iris tidak berhenti melawan. "Aku tidak peduli!" Iris mencengkeram bahu Silas dengan erat. Tak peduli jika kukunya yang panjang menggores kulit pria itu. Namun yang dilihatnya hanyalah sorot mata biru yang tampak acuh tak acuh. Membuatnya seketika merasa gemas. Hingga Iris bergerak mendekat dan tanpa aba-aba menggigit telinga Silas dengan kuat. Seketika itu juga, Iris merasakan tubuh Silas menegang seolah tersentak. Pria itu pun mematung di tempat. Tidak terasa lagi pergerakan. "Apa yang kau lakukan?" tanya Silas dengan suara sedikit serak dan seperti kaget. Gigitan Iris seketika terlepas. Dia refleks melirik Silas yang menatapnya dengan pandangan tak bisa dijelaskan, dan telinga pria
Suasana mendadak hening. Ketukan sepatu Silas berhenti. Elliot juga tak bersuara. Hanya detak jam tangan yang terdengar dan jelas, ini bukan keheningan yang Iris inginkan. Iris menunduk semakin rendah. Tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Silas atau Elliot, tapi matanya melihat seb
"A-aku, aku tidak akan m-mengatakan apa pun. Aku akan tutup mulut. Tolong, Tuan."Suara Iris terdengar memelas dan gagal, percampuran antara rasa putus asa dan takut. Dia bersimpuh di bawah kaki Silas dengan tubuh gemetar hebat. Menjadi saksi pembunuhan seorang pria asing, bukanlah sesuatu yang dia
Langkah Iris terhenti. Dia mematung di tempat dan berkedip beberapa kali. Menatap ke depan sekali lagi untuk memperjelas penglihatannya yang buram akibat hujan. Mobil yang tak asing dan siluet seorang pria. Saat Iris mencoba memicingkan mata, dia semakin yakin itu adalah Silas. Pria itu berdiri be
"Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan b







