Home / Zaman Kuno / The Alchemist's Touch / 5 – When The Prince Came Drunk

Share

5 – When The Prince Came Drunk

Author: Ivy Morfeus
last update publish date: 2026-02-27 15:12:26

“Denyut nadinya melemah lagi.”

Josselyn menempelkan dua jarinya ke pergelangan tangan Ratu. Kulitnya dingin. Terlalu dingin di ruangan yang hangat.

“Sudah berapa kali darah keluar?” tanyanya.

“Dua kali sampai malam ini,” jawab pelayan istana. “Tidak banyak, tapi—”

“Setiap tetes berarti,” potong Josselyn.

Yorick berdiri di sisi ranjang, wajahnya tak lagi santai. “Sejak minum ramuan herbal darimu, Ratu sudah membaik. Tapi dua hari belakangan, kembali memburuk.”

“Jadi, apa kita perlu naikkan dosisnya?” Josselyn menoleh, meminta konfirmasi. Ia tak bisa begitu saja menaikkan dosis tanpa persetujuan dari Kepala Tabib, alias Yorick.

Yorick memejamkan mata.

“Masih banyak mata dari kerajaan lain yang terus menatap Ratu di istana ini. Jika mereka mengetahui kelemahan ini, kerajaan Valenroth akan dalam masalah besar. Setidaknya, sampai musim dingin berakhir,” sahut Yorick datar.

Josselyn menunduk, ia ingat tentang Howarth dan Sebastian, dua bangsawan dari kerajaan lain yang masih tinggal di istana ini. Bahkan mungkin ada kerajaan yang ia tak ketahui.

Ia akhirnya membuka tabung ramuan. Cairan kehijauan itu berkilau lembut di bawah cahaya lilin.

“Kalau tubuhnya menolak—”

“—fokuskan pikiranmu untuk kesembuhan Ratu,” perintah Yorick. “Jangan pikirkan yang lain.”

Josselyn menelan ludah. Ia menyodorkan sendok ke bibir Ratu.

“Minumlah, Yang Mulia.”

Ratu membuka mata perlahan, sepasang matanya yang layu menatap Josselyn.

“Kau di sini lagi.”

Josselyn tersenyum lembut.

“Saya akan selalu di sini, Yang Mulia.”

Josselyn tak tahu apa dia boleh berbicara seperti itu. Karena ia tahu betul, saat ini yang dipikirkannya hanya cara untuk menyelamatkan kepalanya sendiri.

***~***

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Langkah kaki berat terdengar sebelum suara itu muncul.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Josselyn tetap menaikkan selimut Sang Ratu. Menepuk pelan untuk memastikan Ratu sudah nyaman dalam tidurnya.

“Bisakah Anda menurunkan nada bicara Anda, Yang Mulia? Yang Mulia Ratu baru saja tertidur,” ucap Josselyn setengah berbisik tanpa menoleh.

“Ck.” decak Killian, nadanya semakin tinggi. “Aku bertanya, apa yang kau lakukan di sini, Josselyn?”

“Yang Mulia…” Suara Yorick muncul di ambang pintu kamar. “Mari bicara di luar dengan saya. Sebaiknya Ratu beristirahat dengan nyenyak malam ini. Agar efek ramuannya bekerja dengan maksimal.”

Killian bergeming, ia tak peduli dengan Yorick. Matanya masih menatap Josselyn yang sedang membereskan alat-alatnya.

“Aku mendengar kau berani menaikkan dosis ramuan buat Ibu.” Killian melirik tabung ramuan di atas nampan Josselyn.

“Apa sebenarnya yang kau masukkan ke dalam ramuan itu? Kau sengaja melakukannya?”

Josselyn menaikkan pandangannya. Nampan di tangan Josselyn bergetar.

“Anda mencurigai saya meracuni Yang Mulia Ratu?” tanya Josselyn dengan suara tertahan.

“Lalu, jelaskan kenapa penyakit Ibu justru bertambah parah?”

“Kami sedang mencari tahu. Tapi menurut detak jantungnya yang tak biasa, ia sedang mengalami stress.”

Killian tertawa mengejek. “Kau pikir aku akan percaya?”

Ia melangkah mendekat. Bahkan ketika perutnya sudah menempel pada nampan yang dibawa Josselyn. Gadis itu terpaksa melangkah mundur hingga punggungnya terjebak di dinding kamar.

“Aku sudah memperingatimu, Anak Pengkhianat. Jangan macam-macam dengan Ibu.” ucapnya, menekan kalimat terakhir.

Rahang Josselyn langsung mengeras. Entah dari keberanian mana, ia mendorong nampan yang menempel perut Si Putra Mahkota dengan sekuat tenaga, menjauhkan tubuh pria bermata biru keabuan itu dari dirinya.

Tubuh Killian mundur sedikit. Tapi tak ingin memberikan celah kemudahan untuk Josselyn. Ia menahan nampannya. Lalu menundukkan kepalanya, berbisik di telinga Josselyn.

“Kau sengaja memberi racun untuk membunuhnya perlahan? Aku bisa melakukan hal yang sama padamu. Camkan itu.”

Josselyn sudah tak tahan dengan perlakuan kelewatan Killian. Ia langsung menginjak ujung jari kakinya dengan keras.

Putra Mahkota refleks membungkuk, ia hampir berteriak kesakitan, sebelum Josselyn dengan santainya menutup mulut Killian dengan tangannya.

“Yang Mulia Ratu sedang istirahat. Jangan sampai Anda membangunkannya.” bisik Josselyn tajam. “Anda mengerti?”

Kali ini sorot matanya ikut mengancam.

Ekspresi Killian yang tadinya menyeramkan, kini jelas terkejut melihat sikap Josselyn padanya.

Gadis itu akhirnya menurunkan tangannya. Lalu menunduk sedikit lebih dalam selama beberapa detik. Setelah itu, berbalik dan melangkah pergi.

***~***

“Aargghh! Sial… apa yang sudah kulakukan?”

Josselyn meremas rambutnya. frustrasinya semakin bertambah.

“Kenapa saya bisa bersikap seperti itu padanya, Tuan Yorick~” tanya Josselyn menatap Yorick dengan tatapan penuh keputusasaan.

Yorick melirik sebentar, lalu menarik napas panjang. Sejak kejadian “kurang ajar” di kamar Ratu, Josselyn terus menerus mencercau.

“Tanyakan saja pada seseorang yang membuat gaduh istana.” ucapnya sarkas.

Josselyn bertambah meraung, menyesal dengan kebodohan yang telah ia lakukan.

“Bagaimana kalau dia memenggal kepala saya, Tuan?” tanya Josselyn dengan ekspresi ketakutan. “T-tapi, dia yang lebih dulu menyebutku ‘Anak Pengkhianat’.”

“Tapi dia Putra Mahkota, Josselyn. Hukum berpihak padanya.” Yorick mendengus kasar, rasa frustrasi asistennya itu menular padanya. “Ini sudah dua hari, dan kau masih bernapas. Berharap saja Putra Mahkota melupakan kesalahanmu.”

Nasehat yang menenangkan. Tapi terasa sangat tidak mungkin terjadi.

Saat Josselyn masih menyesali tingkahnya yang lalu, teriakan kemenangan menggema di halaman luar.

“Dia kembali!” seru seorang penjaga istana.

“Kepala Ksatria!”

“Darius Blackmoor!”

Josselyn mendekat ke balkon kecil Sayap Ratu, mengintip dari balik tirai bersama pelayan lainnya.

Pasukan masuk membawa peti-peti besar. Emas. Senjata. Bendera musuh.

“Rampasan perang,” kata pelayan di sampingnya kagum. “Katanya setara dengan kerugian perdagangan selama enam bulan.”

Josselyn dan Yorick saling menatap.

‘Tak ada alasan lagi untuk Killian minta maaf.’

***~***

Malam itu, lorong Sayap Ratu sunyi.

Josselyn baru saja keluar dari kamar Ratu. Di tangannya penuh nampan berisi tabung ramuan dan mangkuk kecil. Ia berjalan santai sambil menikmati pemandangan malam taman istana, sampai ia melihat siluet asing seseorang. Tubuhnya menegang.

“Siapa di sana?” Ia memberanikan diri untuk bertanya.

Sosok itu berhenti.

Seorang pria tinggi berdiri di bawah obor. Tubuhnya besar, bahunya lebar, sebuah bekas luka panjang melintang di salah satu matanya.

“Aku bisa bertanya hal yang sama,” katanya.

Tangan Josselyn bergetar. Ia tak pernah melihat sosok ini di istana.

“Saya asisten tabib.” jawabnya berusaha tegas.

“Tabib?” alis pria itu terangkat. “Tuan Yorick tidak bilang apa-apa.”

Kelegaan perlahan menyebar di hati Josselyn ketika nama itu disebut.

“Tuan Yorick sibuk.” jawab Josselyn, kali ini lebih tenang.

Pria itu tersenyum tipis. “Aku Darius.”

Mata Josselyn melebar sesaat. “Kepala Ksatria.”

Sudut bibir Darius terangkat lebih tinggi. Seolah mengkonfirmasi pernyataan Josselyn.

“Dan kau?”

“Josselyn Swift.”

Darius mengernyit sebentar. “Nama yang… tidak biasa.”

“Ada banyak hal tak biasa di istana,” jawab Josselyn hati-hati, ia mengerti maksud Darius. Karena semua penghuni istana juga berekspresi sama sepertinya saat pertama kali bertemu.

Darius terkekeh. “Benar.”

Ia melirik tabung di tangan Josselyn. “Untuk Ratu?”

“Iya.”

“Dia memburuk?”

“Dia bertahan dengan sangat baik”

Darius mengangguk pelan. “Bagus. Emosi Putra Mahkota terlihat tak stabil jika dibanding sebelum kepergianku.”

‘Bukankah dia selalu tak stabil? Aku pikir itu hanya karena wataknya.’ timpalnya dalam hati. Josselyn menelan ludah.

“Anda dekat dengannya?”

“Aku bersumpah setia padanya,” jawab Darius. “Itu berbeda.”

***~***

Josselyn baru saja terlelap, saat ia mendengar suara gaduh. Pintu kamarnya diketuk dengan kasar berkali-kali. Disusul suara gebrakan keras, seolah ingin mendobrak pintunya.

Refleks Josselyn duduk dan mencengkeram selimutnya.

“S-siapa?” Ia berusaha berteriak, tapi yang keluar hanya nada getaran.

“Buka pintunya! Aku bilang buka!”

Josselyn memicingkan mata. “Putra Mahkota?”

Ia segera membuka pintu kamar. Aroma anggur menusuk hidungnya.

“Yang Mulia—” Josselyn menutup hidungnya. Ia menengok ke lorong di depan kamar. Tak ada satu orangpun di sana.

“Ke mana para penjaga? Mereka tak tahu Killian di sini?” gumam Josselyn sedikit frustrasi.

Langkah Killian tidak stabil. Matanya merah. Jubahnya kusut. Ia memaksa masuk ke dalam kamar Josselyn.

“Yang Mulia,” Josselyn menghadang. “Ini sudah larut malam. Kembalilah ke kamar Anda.”

“Dan kau menghalangi jalanku?” Killian mendekat terlalu dekat.

“Kau mabuk,” katanya dingin.

“Aku sadar,” sahut Killian. “Sangat sadar.”

Josselyn tersenyum sinis. Tangannya bersedekap di depan dada.

“Pergilah.”

“Atau apa?”

“Atau aku akan memanggil Kepala Ksatria.”

Killian tertawa rendah. “Darius? Dia tidak akan—”

Josselyn menarik tangan Killian, hendak membawanya keluar kamar. Tapi tenaga Killian jauh lebih besar, walaupun dalam keadaan setengah sadar, ia membalas menarik tangan Josselyn. Hingga tubuh Josselyn menubruk dada Killian.

Matanya menyapu wajah Josselyn.

“Menarik,” gumamnya. “Kau berani mengusirku.”

Josselyn menegang. “Jangan berani—”

Killian tiba-tiba menarik leher belakang Josselyn.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Alchemist's Touch    108 – The Same Sky, A Different Ending

    Aula itu belum sepenuhnya tenang.Bisik-bisik masih berdesir, lebih tajam dari sebelumnya. Kali ini bukan lagi sekadar kegelisahan—melainkan kecurigaan. Mata para bangsawan berpindah, dari satu wajah ke wajah lain, sebelum akhirnya berhenti pada satu titik yang sama.Raja.Dan Clarissa.Ratu masih berada dalam pelukan Killian. Napasnya lemah, tapi stabil. Setiap tarikan napasnya seperti bukti hidup yang membungkam tuduhan yang selama ini dilontarkan.Josselyn berdiri tegak, botol kosong di tangannya masih terasa dingin.“Ini bukan percobaan pembunuhan biasa,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang, tapi cukup keras untuk menjangkau seluruh aula.Semua mata beralih padanya.“Racun ini tidak bekerja seperti racun biasa. Ia tidak membunuh dengan cepat.” Ia berhenti sejenak. “Ia menunggu.”Sunyi.“Menunggu kebahagiaan.”Beberapa bangsawan saling pandang.Yorick melangkah maju satu langkah, wajahnya serius.“Ramuan seperti ini,” katanya pelan, “tidak mungkin dibuat tanpa pengetahuan khusus. Dan

  • The Alchemist's Touch    107 – The Wedding & The Truth

    Josselyn menarik napas panjang, tatapannya belum berpindah dari langit hari itu.Warna birunya yang bersih dan cerah, tidak terasa seperti akhir dari segalanya.Istana Valenroth berdiri megah, dihiasi kain-kain putih dan emas yang menjuntai dari pilar ke pilar. Bunga-bunga segar memenuhi setiap sudut aula utama, aromanya manis—terlalu manis, hampir memualkan.Hari pernikahan Putra Mahkota.Hari yang seharusnya menjadi perayaan.Namun bagi Josselyn, ini terasa seperti panggung eksekusi yang disamarkan dengan kemewahan.Ia berdiri di antara para pelayan, mengenakan gaun sederhana berwarna pucat. Rambutnya ditata rapi, wajahnya tenang. Sangat kontras dengan detakan jantungnya yang menggila ini.Matanya mengarah ke depan.Clarissa.Gaun pengantin itu tampak sempurna di tubuhnya—putih bersih, berkilau, dengan sulaman emas yang mempertegas statusnya sebagai calon Ratu. Senyum tipis menghiasi bibirnya, tapi mata itu… penuh kemenangan.Seolah semua ini memang sudah menjadi miliknya sejak awal

  • The Alchemist's Touch    106 – The Price of Salvation

    Kotak kayu kecil itu terasa lebih berat dari seharusnya di tangan Josselyn—seolah apa pun yang ada di dalamnya, bisa menyelamatkan… atau menghancurkan semuanya.Pintu terbuka tiba-tiba.Langkah berat masuk tanpa izin.Itu Darius.Tanpa basa-basi, tanpa penjelasan—ia langsung mengambil kotak itu dari tangan Josselyn.“Darius—”“Aku yang akan membukanya.”Nada suaranya tegas. Tidak memberi celah Josselyn membantah.Josselyn mengernyit. “Anda bahkan tidak tahu isinya—”“Aku mendengar Raja sudah mengirim prajurit untuk menangkap pencuri di perpustakaan pribadinya. Kita tak ada waktu untuk ragu.”Ia menatapnya sekilas. Dalam. Mantap.“Aku akan memastikan kalian keluar hidup-hidup,” ucapnya pelan. “Meski harus kutukar dengan nyawaku sendiri.”Sunyi.Yorick mendengus pelan. Josselyn yakin, ia tahu mereka tak ada pilihan lain.“Terlalu sembrono.” ucapnya, menutupi kekhawatirannya.Namun, itu tidak menghentikan Darius.Darius membuka kotak itu perlahan. Engsel kayu berderit pelan. Suara kecil,

  • The Alchemist's Touch    105 – The Missing Cure

    Ruangan herbal itu sunyi.Hanya suara gesekan daun kering dan aroma pahit dari ramuan yang memenuhi udara. Cahaya dari jendela kecil jatuh miring ke meja batu, menyoroti botol-botol kaca yang tersusun rapi—seolah menyimpan rahasia yang tak ingin dibongkar.Josselyn berdiri di sana, kedua tangannya bertumpu di meja.Matanya dingin.“Tuan Yorick.”Namanya dipanggil tanpa basa-basi.Pria itu yang sedang mengaduk sesuatu dalam mangkuk kecil berhenti. Gerakannya melambat. Lalu diam.Josselyn menoleh.“Saya ingin memastikan sesuatu.”Nada suaranya tenang. Yorick mengangkat pandangannya perlahan. Matanya awas, mewaspadai ucapan Josselyn berikutnya.“Ingat yang Anda janjikan pada saya?” lanjut Josselyn.Sunyi.“Saya membantu Anda,” katanya lagi. “Saya ikut dalam rencana Anda untuk menjatuhkan Killian.” Napasnya tertahan sejenak. “Dan sebagai gantinya… Anda akan memberi saya penawar.”Tatapannya menajam. Seolah sedang menuntut respons.“Penawar untuk efek kekuatan penyembuh saya.”Yorick masi

  • The Alchemist's Touch    104 – A Smile That Kills

    “Menggantikan Ratu?”“Apa maksudnya?”Bisik-bisik para bangsawan masih berdesir pelan, seperti angin yang menolak reda. Ancaman perang dari Edevane dan ucapan Howarth tentang pengganti Ratu barusan jelas mengguncang mereka.Mempertanyakan bagaimana nasib mereka selanjutnya di Kerajaan Valenroth. Isi dalam istana yang berantakan, ditambah tidak ada yang ingin menjadi alasan kehancuran keluarga mereka sendiri.Dan Raja tahu itu.Ia menarik napas pelan, lalu mengangkat tangannya sedikit. Satu gerakan kecil—cukup untuk membungkam seluruh ruangan.Matanya menyapu kerumunan. Lalu berhenti pada satu orang.“Ah… aku ingat sekarang.”Suaranya berubah lebih ringan. Hampir seperti percakapan biasa.Semua mata mengikuti arah pandangnya.Clarissa.Gadis itu menegang seketika ketika namanya disebut tanpa benar-benar dipanggil.“Kau… sepupu Josselyn, bukan?” lanjut Raja, seolah baru menyadari. “Dan kau pernah mengatakan ingin menikah dengan Putra Mahkota.”Clarissa membeku.Josselyn ikut menatapnya.

  • The Alchemist's Touch    103 – The Crown’s Judgment

    “Jalan!”Suara prajurit itu lantang. Mendorong Josselyn dan kelima pria lainnya di hadapan singgasana Raja. Lantai marmer itu dingin ketika tubuh mereka dijatuhkan tanpa belas kasihan.Rantai di pergelangan tangan beradu dengan suara nyaring.Josselyn mengangkat wajahnya perlahan.Aula itu penuh.Para menteri. Para bangsawan. Mata-mata yang terbiasa menilai tanpa berbicara. Semua berkumpul, berdiri dalam setengah lingkaran, menyisakan ruang kosong di tengah—ruang yang kini mereka isi.Di ujung ruangan, di atas tangga marmer yang tinggi, duduk Raja.Diam. Menunggu.Killian menghela napas pelan, lalu menyeka darah tipis di sudut bibirnya dengan punggung tangan yang terikat.“Jadi menurutmu ini ide bagus?” gumamnya, suaranya rendah tapi jelas terdengar di keheningan itu.Howarth berdiri sedikit di belakangnya, bahu santai seolah tidak sedang dihadapkan pada eksekusi.“Kalau tidak,” jawabnya ringan, “Jossie tidak akan menyetujuinya.”Killian menoleh tajam.“Berhenti memanggilnya Jossie.”

  • The Alchemist's Touch    86 – You Were Suppose to Destroy Me

    Udara di ruang pemeriksaan terasa terlalu tegang. Bahkan semua orang menahan napas.Josselyn berdiri di sisi ruangan, sedikit di belakang barisan bangsawan. Posisi yang cukup aman—tidak mencolok, tapi masih bisa melihat segalanya dengan jelas.Di tengah ruangan, kursi kayu tinggi ditempatkan sepert

  • The Alchemist's Touch    64 – The Moment She Stopped Trusting

    Pintu kamar Ratu terbuka dengan cepat.Aroma obat langsung menyambut begitu Josselyn melangkah masuk—pekat, pahit, bercampur dengan wangi bunga yang mulai layu di sudut ruangan.“Lady Josselyn!”Seorang pelayan bergegas menghampirinya, wajahnya pucat. “Kami sudah mencoba memanggil Tuan Yorick, tapi

  • The Alchemist's Touch    60 – The Desire He Can’t Bury

    Ruangan itu gelap. Hanya cahaya lilin yang bergetar pelan di sudut meja.Darius berdiri diam di dekat jendela, napasnya berat. Ia sudah mencoba tidur.Gagal.Ia sudah mencoba mengalihkan pikirannya.Lebih gagal lagi.Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.“... Sial.”Ia memejamkan mata.Dan itu kesal

  • The Alchemist's Touch    46 – Don’t Let It Happen Again 🔞🔞

    Angin dingin masuk melalui celah jendela, membuat tubuh Josselyn meremang.“Tidak.”Suara Josselyn jatuh tegas di tengah ruangan kecil itu.Semua mata langsung tertuju padanya.Sebastian mengerutkan kening. “Kau menolak?”“Ya,” jawab Josselyn cepat. “Saya tidak akan menjelaskan tentang Tuan Yorick.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status