Masuk“Denyut nadinya melemah lagi.”
Josselyn menempelkan dua jarinya ke pergelangan tangan Ratu. Kulitnya dingin. Terlalu dingin di ruangan yang hangat. “Sudah berapa kali darah keluar?” tanyanya. “Dua kali sampai malam ini,” jawab pelayan istana. “Tidak banyak, tapi—” “Setiap tetes berarti,” potong Josselyn. Yorick berdiri di sisi ranjang, wajahnya tak lagi santai. “Sejak minum ramuan herbal darimu, Ratu sudah membaik. Tapi dua hari belakangan, kembali memburuk.” “Jadi, apa kita perlu naikkan dosisnya?” Josselyn menoleh, meminta konfirmasi. Ia tak bisa begitu saja menaikkan dosis tanpa persetujuan dari Kepala Tabib, alias Yorick. Yorick memejamkan mata. “Masih banyak mata dari kerajaan lain yang terus menatap Ratu di istana ini. Jika mereka mengetahui kelemahan ini, kerajaan Valenroth akan dalam masalah besar. Setidaknya, sampai musim dingin berakhir,” sahut Yorick datar. Josselyn menunduk, ia ingat tentang Howarth dan Sebastian, dua bangsawan dari kerajaan lain yang masih tinggal di istana ini. Bahkan mungkin ada kerajaan yang ia tak ketahui. Ia akhirnya membuka tabung ramuan. Cairan kehijauan itu berkilau lembut di bawah cahaya lilin. “Kalau tubuhnya menolak—” “—fokuskan pikiranmu untuk kesembuhan Ratu,” perintah Yorick. “Jangan pikirkan yang lain.” Josselyn menelan ludah. Ia menyodorkan sendok ke bibir Ratu. “Minumlah, Yang Mulia.” Ratu membuka mata perlahan, sepasang matanya yang layu menatap Josselyn. “Kau di sini lagi.” Josselyn tersenyum lembut. “Saya akan selalu di sini, Yang Mulia.” Josselyn tak tahu apa dia boleh berbicara seperti itu. Karena ia tahu betul, saat ini yang dipikirkannya hanya cara untuk menyelamatkan kepalanya sendiri. ***~*** Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Langkah kaki berat terdengar sebelum suara itu muncul. “Apa yang kau lakukan di sini?” Josselyn tetap menaikkan selimut Sang Ratu. Menepuk pelan untuk memastikan Ratu sudah nyaman dalam tidurnya. “Bisakah Anda menurunkan nada bicara Anda, Yang Mulia? Yang Mulia Ratu baru saja tertidur,” ucap Josselyn setengah berbisik tanpa menoleh. “Ck.” decak Killian, nadanya semakin tinggi. “Aku bertanya, apa yang kau lakukan di sini, Josselyn?” “Yang Mulia…” Suara Yorick muncul di ambang pintu kamar. “Mari bicara di luar dengan saya. Sebaiknya Ratu beristirahat dengan nyenyak malam ini. Agar efek ramuannya bekerja dengan maksimal.” Killian bergeming, ia tak peduli dengan Yorick. Matanya masih menatap Josselyn yang sedang membereskan alat-alatnya. “Aku mendengar kau berani menaikkan dosis ramuan buat Ibu.” Killian melirik tabung ramuan di atas nampan Josselyn. “Apa sebenarnya yang kau masukkan ke dalam ramuan itu? Kau sengaja melakukannya?” Josselyn menaikkan pandangannya. Nampan di tangan Josselyn bergetar. “Anda mencurigai saya meracuni Yang Mulia Ratu?” tanya Josselyn dengan suara tertahan. “Lalu, jelaskan kenapa penyakit Ibu justru bertambah parah?” “Kami sedang mencari tahu. Tapi menurut detak jantungnya yang tak biasa, ia sedang mengalami stress.” Killian tertawa mengejek. “Kau pikir aku akan percaya?” Ia melangkah mendekat. Bahkan ketika perutnya sudah menempel pada nampan yang dibawa Josselyn. Gadis itu terpaksa melangkah mundur hingga punggungnya terjebak di dinding kamar. “Aku sudah memperingatimu, Anak Pengkhianat. Jangan macam-macam dengan Ibu.” ucapnya, menekan kalimat terakhir. Rahang Josselyn langsung mengeras. Entah dari keberanian mana, ia mendorong nampan yang menempel perut Si Putra Mahkota dengan sekuat tenaga, menjauhkan tubuh pria bermata biru keabuan itu dari dirinya. Tubuh Killian mundur sedikit. Tapi tak ingin memberikan celah kemudahan untuk Josselyn. Ia menahan nampannya. Lalu menundukkan kepalanya, berbisik di telinga Josselyn. “Kau sengaja memberi racun untuk membunuhnya perlahan? Aku bisa melakukan hal yang sama padamu. Camkan itu.” Josselyn sudah tak tahan dengan perlakuan kelewatan Killian. Ia langsung menginjak ujung jari kakinya dengan keras. Putra Mahkota refleks membungkuk, ia hampir berteriak kesakitan, sebelum Josselyn dengan santainya menutup mulut Killian dengan tangannya. “Yang Mulia Ratu sedang istirahat. Jangan sampai Anda membangunkannya.” bisik Josselyn tajam. “Anda mengerti?” Kali ini sorot matanya ikut mengancam. Ekspresi Killian yang tadinya menyeramkan, kini jelas terkejut melihat sikap Josselyn padanya. Gadis itu akhirnya menurunkan tangannya. Lalu menunduk sedikit lebih dalam selama beberapa detik. Setelah itu, berbalik dan melangkah pergi. ***~*** “Aargghh! Sial… apa yang sudah kulakukan?” Josselyn meremas rambutnya. frustrasinya semakin bertambah. “Kenapa saya bisa bersikap seperti itu padanya, Tuan Yorick~” tanya Josselyn menatap Yorick dengan tatapan penuh keputusasaan. Yorick melirik sebentar, lalu menarik napas panjang. Sejak kejadian “kurang ajar” di kamar Ratu, Josselyn terus menerus mencercau. “Tanyakan saja pada seseorang yang membuat gaduh istana.” ucapnya sarkas. Josselyn bertambah meraung, menyesal dengan kebodohan yang telah ia lakukan. “Bagaimana kalau dia memenggal kepala saya, Tuan?” tanya Josselyn dengan ekspresi ketakutan. “T-tapi, dia yang lebih dulu menyebutku ‘Anak Pengkhianat’.” “Tapi dia Putra Mahkota, Josselyn. Hukum berpihak padanya.” Yorick mendengus kasar, rasa frustrasi asistennya itu menular padanya. “Ini sudah dua hari, dan kau masih bernapas. Berharap saja Putra Mahkota melupakan kesalahanmu.” Nasehat yang menenangkan. Tapi terasa sangat tidak mungkin terjadi. Saat Josselyn masih menyesali tingkahnya yang lalu, teriakan kemenangan menggema di halaman luar. “Dia kembali!” seru seorang penjaga istana. “Kepala Ksatria!” “Darius Blackmoor!” Josselyn mendekat ke balkon kecil Sayap Ratu, mengintip dari balik tirai bersama pelayan lainnya. Pasukan masuk membawa peti-peti besar. Emas. Senjata. Bendera musuh. “Rampasan perang,” kata pelayan di sampingnya kagum. “Katanya setara dengan kerugian perdagangan selama enam bulan.” Josselyn dan Yorick saling menatap. ‘Tak ada alasan lagi untuk Killian minta maaf.’ ***~*** Malam itu, lorong Sayap Ratu sunyi. Josselyn baru saja keluar dari kamar Ratu. Di tangannya penuh nampan berisi tabung ramuan dan mangkuk kecil. Ia berjalan santai sambil menikmati pemandangan malam taman istana, sampai ia melihat siluet asing seseorang. Tubuhnya menegang. “Siapa di sana?” Ia memberanikan diri untuk bertanya. Sosok itu berhenti. Seorang pria tinggi berdiri di bawah obor. Tubuhnya besar, bahunya lebar, sebuah bekas luka panjang melintang di salah satu matanya. “Aku bisa bertanya hal yang sama,” katanya. Tangan Josselyn bergetar. Ia tak pernah melihat sosok ini di istana. “Saya asisten tabib.” jawabnya berusaha tegas. “Tabib?” alis pria itu terangkat. “Tuan Yorick tidak bilang apa-apa.” Kelegaan perlahan menyebar di hati Josselyn ketika nama itu disebut. “Tuan Yorick sibuk.” jawab Josselyn, kali ini lebih tenang. Pria itu tersenyum tipis. “Aku Darius.” Mata Josselyn melebar sesaat. “Kepala Ksatria.” Sudut bibir Darius terangkat lebih tinggi. Seolah mengkonfirmasi pernyataan Josselyn. “Dan kau?” “Josselyn Ashcroft.” Darius mengernyit sebentar. “Nama yang… tidak biasa.” “Ada banyak hal tak biasa di istana,” jawab Josselyn hati-hati, ia mengerti maksud Darius. Karena semua penghuni istana juga berekspresi sama sepertinya saat pertama kali bertemu. Darius terkekeh. “Benar.” Ia melirik tabung di tangan Josselyn. “Untuk Ratu?” “Iya.” “Dia memburuk?” “Dia bertahan dengan sangat baik” Darius mengangguk pelan. “Bagus. Emosi Putra Mahkota terlihat tak stabil jika dibanding sebelum kepergianku.” ‘Bukankah dia selalu tak stabil? Aku pikir itu hanya karena wataknya.’ timpalnya dalam hati. Josselyn menelan ludah. “Anda dekat dengannya?” “Aku bersumpah setia padanya,” jawab Darius. “Itu berbeda.” ***~*** Josselyn baru saja terlelap, saat ia mendengar suara gaduh. Pintu kamarnya diketuk dengan kasar berkali-kali. Disusul suara gebrakan keras, seolah ingin mendobrak pintunya. Refleks Josselyn duduk dan mencengkeram selimutnya. “S-siapa?” Ia berusaha berteriak, tapi yang keluar hanya nada getaran. “Buka pintunya! Aku bilang buka!” Josselyn memicingkan mata. “Putra Mahkota?” Ia segera membuka pintu kamar. Aroma anggur menusuk hidungnya. “Yang Mulia—” Josselyn menutup hidungnya. Ia menengok ke lorong di depan kamar. Tak ada satu orangpun di sana. “Ke mana para penjaga? Mereka tak tahu Killian di sini?” gumam Josselyn sedikit frustrasi. Langkah Killian tidak stabil. Matanya merah. Jubahnya kusut. Ia memaksa masuk ke dalam kamar Josselyn. “Yang Mulia,” Josselyn menghadang. “Ini sudah larut malam. Kembalilah ke kamar Anda.” “Dan kau menghalangi jalanku?” Killian mendekat terlalu dekat. “Kau mabuk,” katanya dingin. “Aku sadar,” sahut Killian. “Sangat sadar.” Josselyn tersenyum sinis. Tangannya bersedekap di depan dada. “Pergilah.” “Atau apa?” “Atau aku akan memanggil Kepala Ksatria.” Killian tertawa rendah. “Darius? Dia tidak akan—” Josselyn menarik tangan Killian, hendak membawanya keluar kamar. Tapi tenaga Killian jauh lebih besar, walaupun dalam keadaan setengah sadar, ia membalas menarik tangan Josselyn. Hingga tubuh Josselyn menubruk dada Killian. Matanya menyapu wajah Josselyn. “Menarik,” gumamnya. “Kau berani mengusirku.” Josselyn menegang. “Jangan berani—” Killian tiba-tiba menarik leher belakang Josselyn.“Denyut nadinya melemah lagi.” Josselyn menempelkan dua jarinya ke pergelangan tangan Ratu. Kulitnya dingin. Terlalu dingin di ruangan yang hangat. “Sudah berapa kali darah keluar?” tanyanya. “Dua kali sampai malam ini,” jawab pelayan istana. “Tidak banyak, tapi—” “Setiap tetes berarti,” potong Josselyn. Yorick berdiri di sisi ranjang, wajahnya tak lagi santai. “Sejak minum ramuan herbal darimu, Ratu sudah membaik. Tapi dua hari belakangan, kembali memburuk.” “Jadi, apa kita perlu naikkan dosisnya?” Josselyn menoleh, meminta konfirmasi. Ia tak bisa begitu saja menaikkan dosis tanpa persetujuan dari Kepala Tabib, alias Yorick. Yorick memejamkan mata. “Masih banyak mata dari kerajaan lain yang terus menatap Ratu di istana ini. Jika mereka mengetahui kelemahan ini, kerajaan Valenroth akan dalam masalah besar. Setidaknya, sampai musim dingin berakhir,” sahut Yorick datar. Josselyn menunduk, ia ingat tentang Howarth dan Sebastian, dua bangsawan dari kerajaan lain yang masih tingg
‘Edevan?’Josselyn melirik badge di dada dua pria itu—lambang sama, warna berbeda.Sepersekian detik cukup untuk menyimpulkan: satu kerajaan. Namun jika mereka bersaudara, darah tak cukup kuat membuat wajah mereka serupa.“Namamu…”“Saya Josselyn.” jawabnya sedikit canggung. Rasanya keliru memperkenalkan diri setelah hampir menyaksikan pertumpahan darah.“Oh,” Howarth tersenyum lebih lebar. “Terimakasih karena tahun ini kau membuat pesta menjadi lebih menarik.”Josselyn bergerak kikuk. Tak paham dengan maksud pria berambut perak itu.“Kakakku hanya menyukai situasi berbahaya,” kata Sebastian sekenanya.“Aku hanya tak suka pesta membosankan,” sahut Howarth terkekeh. “Seperti tahun-tahun kemarin.”Howarth menatap Josselyn. Ia maju setengah langkah, mendekatkan wajah ke telinganya.“Tapi ternyata keputusanku datang tepat. Aku bisa melihat Putra Mahkota yang terkenal kejam itu mengangkat pedangnya,” bisik Howarth. “Dan anehnya hanya untukmu.”Napasnya tercekat. Sejenak, aura berbahaya How
“Nona Josselyn, Ratu… kondisi Ratu…”Tubuh Josselyn menegang saat ketukan tergesa terdengar di pintunya.Seorang pelayan berdiri di sana, wajahnya pucat.“Apa yang terjadi?” Tanpa sadar, suaranya meninggi. Kilatan pedang terbayang di depan matanya.“Tubuh Ratu berkeringat hebat. Perutnya melilit, dan ia tak bisa tidur.” jawab pelayan.Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung keluar dari kamarnya.“Ayo kita ke sana.”Suara langkahnya bergema selama di koridor Sayap Ratu. Ia terus bergumam dalam hati.‘Tolong selamatkan Ratu, Tuhan. Jika tidak, kepalaku akan jadi taruhannya.’ doanya.Sesampainya di depan pintu kamar Ratu, dari arah lain muncul Yorick. Rambutnya terlihat berantakan. Dan ia masih menggunakan baju tidurnya. Mereka saling bertatapan, lalu Yorick mengangguk.Prajurit yang berjaga segera membukakan pintu kamar Ratu.“Yang Mulia, Anda baik-baik saja?” tanya Josselyn, menghampiri Ratu.Ratu sedang duduk, wajahnya terlihat pucat. Keringat sebesar biji jagung muncul di dahinya. Baj
“Kau bilang menambahkan madu dalam ramuan herbal untuk Ratu?” bisik Yorick. Josselyn mempercepat langkahnya, berusaha menyamai langkah panjang Yorick. “Ya, karena saya sempat mencicipinya,” Josselyn hampir berhenti, karena mengingat perlakuan Killian saat di Ruang Herbal. “Rasanya pahit sekali. Saya takut Ratu akan menolak meminumnya.” Ia menoleh pada Yorick, menunggu responnya. Kata bisik-bisik di istana, Yorick terbilang muda untuk seorang tabib, namun keahliannya meracik ramuan herbal membuat semua orang tunduk pada penilaiannya. Yorick mengangguk-angguk mengerti. “Bagus.” Tangannya sempat menyentuh rambut Josselyn—singkat. Sentuhan itu belum sempat membuat Josselyn bernapas lega ketika suara sepatu berhenti tepat di belakang mereka. “Josselyn.” Sebuah suara dingin menggelegar di koridor itu. Langkah Josselyn terhenti. Di ujung koridor, di depan pintu kamar Ratu, berdiri Killian dengan tatapannya yang membakar. “Kau lambat sekali.” Nada itu dingin. Terlalu tenang tapi t
“Sial—” Punggungnya melengkung secara naluriah. Pikirannya kabur, entah karena efek ramuan obat atau karena kenikmatan. Matanya turun dengan sayu, mulutnya terbuka tanpa sadar. “Killian—” Napas Josselyn tersendat, Killian menekannya tanpa meminta izin, lalu berhenti. Sengaja ingin menggoda. “Kau menginginkannya.” Suara rendahnya menambah denyutan yang ia rasakan pada tubuh bagian bawahnya. “Jangan… berhenti.” Gadis itu hampir memekik. Gerakan Killian terlalu liar hingga membuat tumpuan tangan Josselyn melemah. Selanjutnya hanya terdengar desahan dan bunyi tak pantas yang dihasilkan dari dua tubuh. Malam itu ia tak dapat berpikir jernih lagi—tidak, dari awal sepertinya memang ada yang salah. ***~*** “Ugh… Kepalaku sakit sekali.” keluh Josselyn begitu membuka matanya keesokan harinya. Beberapa kali ia mengerjapkan mata, agar dapat melihat lebih jelas. Ia menyambar segelas air yang berada di atas meja. Lalu meneguknya perlahan. Berharap dapat meredakan rasa tak nyaman di kepa







