LOGIN“Sebenarnya…”Suara itu memotong udara di dapur yang sempit.Josselyn langsung menoleh.“Apa yang sedang kalian lakukan sedari tadi?”Howarth berdiri di ambang pintu, satu tangan bertumpu pada kusen, alisnya sedikit terangkat. Tatapannya bergantian antara Josselyn dan Kael—lalu berhenti.Di meja. Botol kaca itu terlihat kosong.Mata Howarth menyipit.Sebelum Howarth melontarkan kata lagi, Josselyn bergerak lebih cepat. Ia melangkah mendekat, hampir menutup pandangan Howarth dengan tubuhnya sendiri.“Kami sedang menyelesaikan ramuan,” katanya cepat.Howarth tidak langsung menjawab. Tatapannya turun lagi. Ke meja. Ke botol itu.Lalu kembali ke wajah Josselyn.“Dan itu?” tanyanya pelan.Josselyn tidak mengikuti arah pandangannya.“Tidak ada hubungannya dengan ini.”Terlalu cepat—hampir seperti menutup sesuatu.Howarth tersenyum tipis. Tapi tidak dengan sorot matanya.Kael di belakang hanya diam, mengamati sebelum bertindak lebih jauh.“Kalau sudah selesai,” lanjut Howarth ringan, “anak-a
“Ini tidak akan cukup…”Suara Josselyn nyaris tak terdengar saat ia menatap anak laki-laki di hadapannya.Tubuh kecil itu menggigil. Bibirnya pucat. Dan noda merah yang mengering di sudut mulutnya membuat dada Josselyn terasa sesak.Kael berdiri di sampingnya.“Kondisinya memburuk sejak semalam.”Josselyn tidak menjawab. Tangannya sudah bergerak lebih dulu.Ia berlutut. Tangannya menyentuh dahi anak itu—panas, dengan suhu yang tak wajar.“Sejak kapan muntah darah?” tanyanya pelan.“Dua anak mulai tadi malam. Yang lain… pagi ini,” jawab salah satu wanita desa di belakang mereka.Josselyn mengangguk kecil.“Semua mundur.”Nada suaranya berubah. Lebih tegas.Orang-orang langsung menurut. Mereka mundur beberapa langkah, memberi ruang.Kael tidak bergerak. Ia hanya memperhatikan di samping Josselyn.Gadis itu menarik napas panjang. Matanya terpejam sesaat. Fokus. Seperti yang selalu ia lakukan. Seperti yang biasanya berhasil.Tangannya mulai menghangat. Cahaya samar muncul di ujung jarinya
“Brengsek…”Gumamannya pelan, hampir seperti desisan. Ia menyeka bibirnya dengan kasar.Udara malam terasa lebih dingin saat Josselyn keluar dari kamar itu.Pintu di belakangnya tertutup dengan bunyi keras—hampir seperti ia sengaja membantingnya.Langkahnya cepat. Tidak teratur.Dadanya masih naik turun, bukan hanya karena marah, tapi juga karena sesuatu yang lebih mengganggu.Sentuhan itu.Ciuman itu.Dan cara Killian menatapnya, seolah semua yang ia katakan tadi tidak ada artinya sama sekali.“Aku benar-benar butuh udara.”Ia berbelok ke arah belakang rumah, mencari udara. Mencari jarak untuknya bernapas.Dan di sanalah ia berhenti.Seseorang sudah lebih dulu berdiri di sana.“Darius.”Bersandar santai pada pagar kayu, satu kaki terangkat sedikit, seolah ia sudah berada di sana cukup lama.Tatapannya langsung beralih ke Josselyn. Perlahan turun. Seakan sedang mengamati.Josselyn mengerutkan kening. “Apa?”Dia langsung membalikkan tubuh dan ikut bersandar di samping Darius.Pria bert
“Apa maksud Anda… hampir membunuh seseorang?”Suara Josselyn tidak keras. Tapi cukup membuat udara di dalam ruangan terasa lebih berat.Howarth tidak langsung menjawab. Ia berdiri bersandar di dekat pintu, satu tangannya menyentuh rahang yang masih memar.Sebastian melirik kakaknya, lalu kembali ke Josselyn.“Dia tidak bercanda,” gumamnya ringan, meski nada suaranya lebih serius dari biasanya. “Kalau aku tidak menarik beberapa prajurit menjauh, mungkin sekarang sudah ada mayat.”Josselyn menegang.“Siapa?” tanyanya lagi.Howarth menghela napas pelan.“Rivan.”Hening. Hanya suara napas Josselyn yang sedikit tertahan.“Apa… yang sebenarnya terjadi?” suaranya lebih rendah sekarang.Howarth menatapnya sejenak, seolah mempertimbangkan seberapa banyak yang harus ia katakan. Lalu akhirnya ia berbicara.“Malam tadi… Yang Mulia keluar tanpa pengumuman.”Josselyn mengernyit.“Dengan beberapa prajurit. Tidak banyak.”Sebastian menyilangkan tangan.“Jika kau berpikir itu untuk patroli, jelas buka
“Kau tidak bisa menyembuhkan dirimu sendiri?”Suara Kael rendah. Hampir seperti bisikan, tapi cukup dekat untuk membuat Josselyn menegang.Ia tidak langsung menjawab. Napasnya masih berat sejak tadi. Setiap gerakan kecil membuat punggungnya terasa seperti terbakar dari dalam.“Aku bertanya,” ulang Kael pelan, sedikit menunduk agar sejajar dengannya. “Kau tidak bisa?”Josselyn mengerjapkan mata perlahan.Bayangan itu datang begitu saja.Darah.Pisau.Dan senyum tenang Yorick.Ia ingat dengan jelas bagaimana pria itu pernah menyayat tangan Josselyn—dalam, tanpa ragu. Dan bagaimana lukanya menutup cepat. Dan hampir tak meninggalkan bekas.Josselyn menelan ludah.“Aku… bisa,” gumamnya akhirnya. “Seharusnya bisa.”Kael tidak langsung menanggapi. Tatapannya turun ke punggung Josselyn, meski tertutup kain yang mulai menggelap karena darah.“Lalu kenapa tidak?” tanyanya lagi.Josselyn menggeleng pelan.“Aku juga tidak tahu…” suaranya semakin kecil. “Mungkin… karena lukanya terlalu parah.”‘At
“Siapa yang melemparnya?”Suara Killian tidak keras. Justru itu yang membuat seluruh balai desa terasa membeku.Josselyn masih berada dalam pelukannya. Napasnya tidak stabil. Setiap tarikan terasa seperti menggesek luka di punggungnya.Tidak ada yang berani menjawab. Hanya suara angin yang melewati sela bangunan kayu.“Yang Mulia—”Seorang prajurit maju setengah langkah.“Biarkan kami—”“Tidak.”Satu kata pendek dan tegas.Josselyn mendengar gemuruh di dada Killian. Dan tak sengaja, matanya menangkap gerakan tangan Killian, memegang gagang pedang.‘Dia tak akan melakukan itu kan?’ pikir Josselyn, panik. Jarinya langsung mencengkeram lengan baju Killian.“Yang Mulia, jangan…”Suaranya lemah. Hampir tidak terdengar.Killian tidak berhenti.“Lepaskan.” perintahnya, datar dan dingin.Josselyn menggeleng pelan. Napasnya tersengal.“Kalau Anda melakukan itu…” ia menarik napas dengan susah payah, “semua yang saya lakukan di sini… akan sia-sia.”Killian akhirnya menoleh. Matanya turun menatap
Sesuatu yang berat jatuh tepat di tubuhnya.“Bangun.”Josselyn tersentak. Matanya terbuka setengah, napasnya tercekat sejenak sebelum akhirnya ia sadar.Selimut.Ia menatap kain tebal yang kini menutupi tubuhnya, lalu mengangkat pandangan dengan pelan.Darius berdiri di ambang pintu selnya, wajahny
“Tuan Howarth—”Suara Yorick terdengar lebih tajam dari biasanya.“Letakkan dia dengan hati-hati.”Howarth masih menopang tubuh Josselyn yang hampir jatuh di pelukannya. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajah Josselyn dengan alis terangkat.“Aku tidak tahu tabib kerajaan mudah pingsan sepe
“Pagi ini istana terasa lebih tenang,” lanjut Yorick.Josselyn menatap cangkirnya.Saat ibunya masih hidup, ia sering membantu meracik ramuan di laboratorium kecil mereka. Ia hafal hampir semua aroma tumbuhan dan akar kering.‘Aroma ramuan ini beda. Asing.’ Josselyn melirik Yorick. ‘Apa Tuan Yorick
“Sebutkan namanya.”Suara Killian masih rendah. Tidak meninggi. Tidak marah. Tapi justru itu yang membuat dada Josselyn terasa sesak.Ia menatap pecahan kaca di lantai.“S-saya, tidak ingat, Yang Mulia.”Josselyn menelan ludah. Ia mengingatnya dengan jelas. Bagaimana mereka memanggil namanya dengan







