Se connecterKeheningan setelah kata-kata Yorick terasa lebih menekan di dada Josselyn.Tatapannya masih tertuju pada nama yang terpahat di batu nisan itu.Anne.Jari-jarinya mengepal pelan. Lalu akhirnya, ia berbicara.âAku tidak akan membuat keputusan dalam keadaan seperti ini.âSuaranya rendah. Stabil. Tapi dingin.Yorick mengerutkan kening.âKita tidak punya waktu untukâââWaktu?â potong Josselyn tajam.Ia menoleh, menatap Yorick untuk pertama kalinya sejak tamparan itu.âWaktu adalah sesuatu yang Anda miliki sejak awal. Tapi Anda memilih diam.âKalimat itu menghantam tanpa ampun.Yorick terdiam. Untuk sesaat, tidak ada pembelaan. Tidak ada bantahan.Hanya napas berat yang tertahan di antara mereka.âHowarth.âSuara itu memecah ketegangan.Howarth melangkah maju dari bayangan. Tatapannya tidak tertuju pada siapa pun secara khusus. Tapi terasa seperti melihat semuanya sekaligus.âMasalahnya bukan lagi siapa yang bersalah,â ujar Howarth tenang.Ia berhenti di antara mereka.âTapi siapa yang masi
âHowarthâlepaskan aku!âSuara Josselyn pecah. Tangannya mendorong dada pria itu, mencoba melepaskan diri.Tapi Howarth tidak berhenti.Ia justru mengangkat tubuh Josselyn sepenuhnya, menahannya erat, lalu berjalan menjauh dari gerbang istana tanpa menoleh lagi.âDiam,â gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. âKalau kau terus seperti ini, kau akan membunuh dirimu sendiri sebelum sempat membalas.ââAku harus kembaliâ!â Josselyn berusaha memberontak lagi. âAnneâdiaâââSudah mati.âKalimat itu jatuh datar. Tidak dingin. Tidak kejam. Tapi mutlak.Langkah Howarth tidak melambat.Josselyn membeku di pelukannya. Rasa kehilangan itu merambat perlahan di dadanya. Tidak hanya sekadar shock. Tapi seperti ada sesuatu yang retak di dalam dirinya.Tangannya yang tadi mencoba melawan perlahan jatuh lemas.Howarth membawa Josselyn melewati jalur sempit di sisi istana, menjauh dari cahaya obor dan langkah prajurit. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah area yang jarang dilewatiâhutan kecil di dekat danau
Tatapan Raja tidak pernah benar-benar hangat.Malam itu, pandangan itu terasa lebih dingin dari biasanya.âSeorang Alkemis⊠berkeliaran di penjara bawah tanah selarut ini.âSuara Raja Aleric datar, hampir seperti tidak tertarik. Tapi ketika Josselyn melihat sorot matanya, ia bisa melihat kilatan kejam yang hampir sama dengan Killian.Ia segera menundukkan kepala sedikit.âSaya hanya⊠mencari udara segar, Yang Mulia.âSepersekian detik berikutnya ia langsung menggigit bibir bagian bawahnya. Alasan itu konyol dan tak masuk akal. Tapi hanya kalimat itu yang muncul di kepalanya.âHowarth!âSekali lagi, ia memanggil di kepalanya.âAh, jadi kau di sini.,â Nada ringan yang familiar itu tiba-tiba terdengar. Josselyn refleks mendongak. âAku mencarimu ke mana-mana.âHowarth baru saja muncul dari arah koridor, berhenti beberapa langkah di belakang Raja.Josselyn menahan napas lega yang hampir lolos saat melihatnya.Pria cantik itu sempat memberi gestur dengan matanya, sebelum Raja benar-benar
âNona Josselyn, ini⊠surat untuk Anda.âSuara itu masih terngiang. Beserta sepucuk surat tanpa nama. Bukan surat wangi dan bersihâtapi tetap membuat jantung Josselyn berdebar karena alasan lain.Kertasnya lusuh, terlihat apa adanya. Juga tarikan garis pada huruf-hurufnya yang bergelombang. Seakan memberitahu keputusasaan yang dialami si penulis.Surat yang membawanya diam-diam masuk ke area ini lagi.Dinding penjara bawah tanah membangkitkan ingatan yang ingin ia lupakanâdingin, lembap dan⊠rasa besi.Rasa darah seperti saat itu.Josselyn berdiri diam di ambang lorong, jari-jarinya mengepal pelan di balik lengan jubahnya.Sebuah kilatan singkat melintas di benaknyaânapas berat, jarak yang terlalu dekat, dan rasa hangat yang tiba-tiba memenuhi mulutnya.Lalu cairan merah itu mengalir, bersamaan dengan geraman marah si pemilik bibir yang ia gigit.Ia masih mengingat dengan jelas.Di tempat inilah⊠ia pernah menggigit bibir Killian hingga berdarah.Tidak hanya itu, untuk pertama kalinya,
Josselyn tidak langsung menjawab.Kata-kata Howarth masih menggantung di udara, seperti benang tipis yang tak terlihat⊠tapi perlahan menarik pikirannya ke arah yang tak ingin ia tuju.Orang yang salah.Itu tidak masuk akal.Atau⊠mungkin terlalu masuk akal.Ia menelan ludah. Napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya.âApa maksud Anda?â ulangnya pelan, suaranya nyaris berbisik.Howarth terdiam. Matanya yang tajam justru mengamati Josselyn. Menunggu sekaligus menilai respons gadis itu.Seolah ingin memastikan⊠apakah gadis itu benar-benar siap mendengar.âKau sempat merasa aneh, kan?â katanya ringan, seolah sedang membahas gosip yang menarik.Josselyn mengernyit.âAneh?âHowarth mengangkat bahu santai.âRaja,â lanjutnya santai. âPutranya dituduh mencoba membunuh Ratu⊠dan dia hanya duduk diam. Tenang sekali. Nyaris mengagumkan.âKalimat itu sederhana.Tapi cukup untuk membuat dada Josselyn menegang. Ia memang memikirkannya.Sejak sidang itu. Sejak tatapan Raja yang terlalu tenang.âT
âKami tidak melakukan apapun. Jangan gegabah!âJosselyn tidak mengucapkannya. Tapi pikirannya menjerit jelas. Matanya tertuju pada Howarth.Dan pria berambut perak panjang ituâtertawa pelan. Seolah mendengar jeritan di hatinya.âHmm⊠untuk saat ini?â kata Howarth santai sambil menyilangkan tangan, membalas tatapan Josselyn. âMempercayai siapa pun terdengar seperti ide yang buruk.âDarius mendengus pelan. Ia merasa ucapan itu untuknya. Langkahnya maju satu langkah, menempatkan dirinya sedikit di depan Josselyn. Protektif. Menghalangi.âOh ya?â balasnya dingin. âKalau begitu, bagaimana denganmu?âHowarth mengangkat alis. Tatapannya bergeser pada Darius.âKau mulai terdengar menarik,â Howarth memiringkan kepala. âLanjutkan.âDarius menatapnya tajam.âApakah kau yakin bisa dipercaya?â lanjutnya. âBukankah kau yang merencanakan Madame Angeline muncul di istana ini?âJosselyn membeku. Nama itu mengusiknya.âApaâŠ?â bisiknya pelan.Matanya langsung beralih ke Howarth. Dengan tatapan menuntut
âKenapa aku masih memikirkannyaâŠâJosselyn menatap kosong ke arah jendela. Cahaya pagi sudah masuk sejak lama, tapi ia belum juga beranjak dari tempat tidurnya.Semalam seharusnya hanya menjadi malam biasa.Tapi tidak.Yorick yang keluar dari kamar Ratu.Tatapan Darius yang terlalu lama.Danâsentuh
âKenapa aku jadi tidak mengantuk ya?â Malam itu terasa terlalu panjang. Josselyn menatap langit-langit kamarnya tanpa benar-benar melihat. Cahaya lilin di samping tempat tidurnya bergetar pelan, nyaris padam. Ia sudah mencoba tidur. Gagal. Memejamkan mata hanya membuat ingatan siang itu kembali
Ruangan itu gelap. Hanya cahaya lilin yang bergetar pelan di sudut meja.Darius berdiri diam di dekat jendela, napasnya berat. Ia sudah mencoba tidur.Gagal.Ia sudah mencoba mengalihkan pikirannya.Lebih gagal lagi.Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.â... Sial.âIa memejamkan mata.Dan itu kesal
âIni tidak akan cukupâŠâ Suara Josselyn nyaris tak terdengar saat ia menatap anak laki-laki di hadapannya. Tubuh kecil itu menggigil. Bibirnya pucat. Dan noda merah yang mengering di sudut mulutnya membuat dada Josselyn terasa sesak. Kael berdiri di sampingnya. âKondisinya memburuk sejak sema







