LOGIN“Apakah itu benar, Nona?”Suara pelan membuatnya menoleh.Anne berdiri tak jauh darinya, membawa nampan kosong. Wajah pelayan itu tampak tegang, meski berusaha terlihat biasa.“Semua orang membicarakannya,” lanjut Anne lirih. “Bahkan penjaga di gerbang dalam pun mulai berbisik-bisik.”Ratu diracun.Topik itu semakin hangat setelah Raja memberikan ultimatumnya.Dan Josselyn adalah orang yang memulai semuanya.Jari-jarinya mengencang di sisi gaunnya.‘Ini yang kuinginkan…’Tapi rasa itu—yang seharusnya menjadi kemenangan kecil—tidak terasa seperti itu. Lebih seperti sesuatu yang mulai lepas dari kendali. Josselyn menatapnya sejenak. Ia bisa saja membeberkan detail poin yang membuatnya curiga. Tapi, pelayan bukan orang yang tepat untuk mendengar itu.“Kita tunggu hasil penyelidikan dari Inkuisitor.”Anne ragu. Tangannya meremas kain gaunnya dengan cemas.“Namun jika ini sampai keluar—”“Tidak akan,” potong Josselyn halus. “Raja sudah mengeluarkan ultimatum hukuman untuk yang membocorkan
“Ratu diracun…”Bisik-bisik itu sudah terdengar sejak pagi.Tidak ada yang benar-benar ribut. Tidak ada yang berani berbicara keras. Namun bisikan—halus, cepat, dan berbahaya—mengalir seperti racun di antara lorong-lorong marmer.“Ada pengkhianat di dalam istana…”“Siapa yang berani melakukan itu…?”Josselyn menghentikan langkahnya di ujung koridor. Tangannya mengepal tanpa sadar.Cepat sekali.Ia tahu persis dari mana rumor itu berasal. Dari dirinya sendiri. Dari kalimat yang ia ucapkan semalam—yang sengaja ia ucapkan dengan keras agar didengar pelayan.Rencananya sederhana: menanam kecurigaan. Mengarahkan perhatian kepada Killian.Namun sekarang,‘Ini sudah keluar kendali.’Josselyn mengembuskan napas pelan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak stabil.‘Ini memang yang kuinginkan… tapi kenapa rasanya seperti… aku sedang berdiri di ujung jurang?’“Josselyn.”Suara itu memotong pikirannya.Ia menoleh.Yorick berdiri tidak jauh darinya. Wajah pria itu tenang—namun matanya ta
Hangat.Itu hal pertama yang dirasakan Josselyn.Tubuhnya tanpa sengaja melengkung, mendesak lebih dalam pada kehangatan itu. ‘Ini nyaman sekali…’ ucapnya dalam hati.Hangat yang familiar, menekan kulitnya dari segala arah, seolah tubuhnya dibungkus sesuatu yang hidup. Bukan selimut. Tapi sesuatu yang… bernapas.Alisnya berkerut. Kesadarannya naik perlahan, berat, seperti ditarik dari dasar air yang gelap.Dingin.Ingatan itu datang menyusul—air beku, paru-paru yang terbakar, tubuh yang perlahan kehilangan kendali.Napasnya tercekat. Matanya terbuka.Dan ia langsung membeku.Aroma ini—hutan basah yang dingin tapi menenangkan.Killian.Pria itu memeluknya dari belakang, tubuhnya menempel erat tanpa jarak. Dada telanjangnya hangat di punggung Josselyn, napasnya jatuh teratur di tengkuknya.Josselyn menegang.Untuk sesaat, ia bahkan tidak berani bergerak. Otaknya mencoba mengejar apa yang terjadi—kenapa ia ada di sini, kenapa pria itu…Tubuhnya refleks bangkit. Menjauh.“Yang Mulia—”Te
Pintu kamar Killian terbuka perlahan—dan dada Josselyn langsung menegang.Ia menahan langkahnya sesaat. Napas panjang ditariknya, mencoba menyiapkan diri untuk apa pun yang menunggu di dalam.Dan kemudian… ia berhenti.Di sana.Killian berdiri tidak jauh dari jendela besar, cahaya siang menyinari rambut hitam pekatnya. Tapi bukan itu yang membuat Josselyn membeku.Melainkan wanita di sampingnya.Angeline.Madame Angeline. Begitu orang-orang menyebutnya. Tak sesuai dengan usianya yang masih di pertengahan dua puluhan.Tangan wanita itu hampir menyentuh lengan Killian, dan pria itu—tidak menghindar.Seolah itu hal yang wajar.Seolah keberadaan Josselyn… tidak berarti apa-apa.“Ah,” suara Killian terdengar santai, terlalu santai. “Kau datang.”Josselyn tidak langsung menjawab. Ia memaksakan ekspresi datar, meski perutnya terasa seperti dipelintir.“Yang Mulia memanggil saya.”Angeline menoleh. Senyumnya halus, nyaris sempurna.“Oh? Jadi ini dia?” katanya pelan. “Gadis yang sering Anda se
“Kenapa kita tidak kabur saja?”Kata-kata Darius masih menggantung di udara, berat, menekan, seolah memiliki wujud.Ruangan itu tiba-tiba terasa terlalu sempit. Terlalu sunyi. Bahkan Josselyn tak dapat mendengar isi kepalanya sendiri.Ia berdiri di sana, membelakangi Darius, jemarinya masih mencengkeram tepi meja kayu. Napasnya pelan, tapi tidak stabil.Ia tidak menjawab. Tidak bisa. Karena satu jawaban saja—akan menjadi akhir yang salah.Di belakangnya, Darius tidak bergerak. Ia menunggu.Satu detik.Dua detik.Lima detik.Lalu ia tertawa pelan. Hambar.“Begitu ya…” gumamnya.Josselyn menutup matanya sejenak. Ini terlalu tiba-tiba. Dia tak tahu harus merespon apa. Dan ia tak ingin gegabah.Tapi Darius sepertinya menganggap diamnya Josselyn dengan arti lain.“Tidak apa-apa,” lanjut Darius, suaranya lebih tenang sekarang. Terlalu cepat tenang. “Aku sudah menduga.”Josselyn menggertakkan giginya. Ia mengetukkan jarinya tiga kalaai di atas meja. Memaksa otaknya untuk berpikir cepat.“Aku
Josselyn menahan napasnya.Lorong itu terasa terlalu sempit, terlalu penuh oleh kehadiran dua pria di hadapannya. Howarth berdiri santai, seolah dunia ini hanya panggung hiburan untuknya. Darius di sisi lain—kaku, diam, seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu agar tidak runtuh.Josselyn menatap Howarth, rahangnya sedikit mengeras.‘Tuan, bukankah itu tidak sopan?’Ia hanya memikirkannya. Tatapannya cukup tajam untuk menyampaikan maksud itu.Howarth hanya mengunyah santai.“Aku hanya lapar.”Nada suaranya ringan. Ia menelan potongan terakhir kue itu, lalu menatap Josselyn dengan senyum tipis.“Padahal aku membawakan roti madu untukmu.”Josselyn membeku.Roti madu.Sesuatu dalam ingatannya bergerak cepat.Pagi itu. Rasa manis yang lembut. Hangat. Familiar.Matanya menyempit sedikit.“Itu… dari Anda?”Howarth mengangkat bahu. “Kau memakannya, bukan?”Josselyn tidak langsung menjawab.Ada sesuatu yang tidak ia sukai dari kenyataan itu. Cara perhatian itu diberikan—diam-diam, tanpa i







