Beranda / Zaman Kuno / The Alchemist's Touch / 6 - A Kiss He Shouldn't Have Taken

Share

6 - A Kiss He Shouldn't Have Taken

Penulis: Ivy Morfeus
last update Tanggal publikasi: 2026-03-03 00:04:18

Yang Josselyn rasakan saat itu hanya: telapak tangan dingin Killian yang mencengkeram tengkuknya.

Wajah mereka nyaris bersentuhan.

Bau anggur dan amarah bercampur di udara sempit itu.

“Semua ini…” suara Killian rendah, serak. “Karena kau.”

Josselyn menatap lurus ke mata biru keabuan itu. Tidak mundur. Tidak gemetar.

“Karena saya?”

“Sejak kau menginjakkan kaki di istana ini—” rahang Killian mengeras. “Kondisi ibuku memburuk. Dewan menuntutku. Dan aku—”

Ia terdiam. Tangannya masih mencengkeram tengkuk Josselyn, tapi kekuatannya melemah tanpa ia sadari.

“Apa?” Josselyn mendesak pelan. “anda apa, Yang Mulia?”

Killian menundukkan wajahnya sedikit lebih dekat. Ujung hidung mereka hampir bersentuhan.

“Aku membuat kesalahan,” bisiknya.

Josselyn membeku.

‘Kesalahan?’ pikirnya.

Itu bukan kata yang biasa keluar dari mulut Putra Mahkota.

“Kau seharusnya dibiarkan hancur malam itu,” lanjut Killian, suaranya berubah tajam lagi. “Seharusnya aku tidak membelamu.”

Sesak itu datang, tapi Josselyn menelannya.

“Kalau begitu, jangan pernah melakukannya lagi. Saya tidak pernah memintanya.”

Jawaban itu datang dengan cepat. Tegas. Tanpa ragu.

Killian terdiam. Tatapan mereka saling mengunci.

Sesuatu bergerak di mata Killian. Sepertinya ia menyadari suara gemetar gadis di hadapannya.

“Kau pikir aku membelamu untukmu?” ia tertawa pendek, pahit. “Aku membelamu karena aku tidak tahan melihat orang lain menyentuh milikku.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Kernyitan samar di dahi Josselyn menjelaskan rasa terkejut yang sedang ditahannya. Denyut jantung Josselyn bergetar tak terkendali.

‘Apa yang pria ini coba katakan?’ geram Josselyn dalam hati.

“Dan itu masalahnya,” lanjut Killian lirih. “Aku tidak seharusnya peduli.”

Tangannya yang mencengkeram tengkuk Josselyn perlahan bergeser ke rahangnya. Jempolnya hampir menyentuh bibir gadis itu, lalu berhenti.

Napasnya berat.

“Aku seharusnya menghancurkanmu,” katanya lagi, tapi kali ini suaranya retak. “Bukan—”

Ia memejamkan mata sesaat. Seolah menelan kalimat yang tak sanggup ia ucapkan.

Josselyn melihatnya. Benar-benar melihatnya.

Pria di hadapannya ini berlagak seolah bukan Putra Mahkota. Bukan pria yang menarik pedang di aula. Bukan lelaki yang menggagahinya di atas ranjang dengan perhitungan dingin—ia mengingat lagi mimpi malam itu.

Tanpa sadar ia mendengus. Dengusannya terlalu keras hingga membuat Killian membuka matanya.

“Anda harus menghentikan kebiasaan mabuk Anda, Yang Mulia. Ekspresi sedih Anda ini—” Josselyn berkedip pelan. “—bisa menipu banyak orang.”

“Kalau Anda ingin menyalahkan seseorang,” ucap Josselyn pelan, “salahkan Dewan yang pengecut. Salahkan politik busuk yang membuat Anda harus meminta maaf pada orang yang menghina kerajaan Anda sendiri.”

Tatapan Killian kembali tajam.

“Aku tidak akan meminta maaf.”

“Saya tahu.” Josselyn memberi jeda sebentar. “Anda seharusnya berterima kasih dengan Kepala Ksatria Darius. Dia menyelamatkan harga diri Anda dan ke—”

Belum selesai Josselyn berbicara, ia merasakan bibirnya bertabrakan dengan sesuatu yang lembut.

Killian melumat bibirnya.

Gerakannya kasar.

Perih.

Dengan beberapa gigitan kecil yang tanpa sadar membuat Josselyn mengernyit kesakitan.

“Lepaskan!” erangnya di antara desakan benda lembut itu.

Killian seakan tak mendengar. Bahkan ketika Josselyn memukul-pukul dadanya dengan kuat, pria itu justru menekan lebih dalam leher belakang Josselyn. Tak berniat menghentikan ciumannya.

Tubuh Josselyn mendidih.

‘Dasar bodoh! Dorong lagi dengan sekuat tenaga, Josselyn! Dia sedang mabuk!’

Suara-suara di kepala Josselyn mulai bersahutan.

“Yang Mulia Killian.”

Sebuah suara menyadarkan Killian. Tangan Killian akhirnya terlepas sepenuhnya dari tengkuk Josselyn. 

Berbeda dengan Josselyn yang langsung memalingkan wajahnya sambil menyeka bibirnya, Killian justru menoleh ke arah suara dengan ekspresi marah.

“Ada apa, Darius?”

Josselyn membelalakkan mata. Ia makin memutar tubuhnya, membelakangi Killian. Wajahnya memerah.

‘Sial. Kalau Darius tahu, mungkin semua penghuni istana akan membicarakanku.’ pikirnya panik.

“Yang Mulia Raja memanggil Anda di ruangannya.” jawab Darius.

Josselyn masih berdiri tegak di tempat. Tanpa menoleh. Rasanya ia ingin menggali tanah dan bersembunyi di dalamnya.

“Ck,” Killian berdecak frustasi. “dia sudah membicarakan masalah itu sepanjang hari. Dia pikir aku akan berubah pikiran.”

Ia mundur satu langkah. Menatap punggung Josselyn.

“Kau belum tahu seperti apa rasanya berada di bawah perhatianku, Josselyn.” Killian mengancam.

Tangan Josselyn mengepal di samping tubuhnya.

“Saya tidak ingin mengetahuinya.” jawab Josselyn dengan nada setenang mungkin.

Killian mendengus sinis. “Baik. Kita lihat, apa kau akan menjilat ludahmu sendiri, Anak Pengkhianat.”

Dada Josselyn berdenyut nyeri. Tapi ia buru-buru menelan ludahnya, untuk mencegah rasa nyerinya bertambah.

“Aturan pertama. Jangan pernah sengaja menghindariku. Kau akan datang, kapanpun kupanggil.” perintah Killian.

Josselyn hampir terbahak dengan perintah konyol itu.

“Jadi sekarang saya juga budak Anda?”

“Jika perlu.” Killian berhenti sejenak, lalu melanjutkan, kali ini dengan nada lebih sinis. “Apa kau benar-benar mengira dirimu Gadis Istimewa yang Dibela Putra Mahkota? Istana ini pandai menciptakan cerita yang tidak pernah kumaksudkan.”

Killian terkekeh.

“Jadi seharusnya Anda tak perlu memberikan perhatian besar pada saya.” balas Josselyn.

“Itu bukan wewenangmu, Josselyn. Hanya perintahku yang berlaku di sini.” ucap Killian tajam. “Dan aku tidak mendengar kepatuhanmu.”

Josselyn segera mengusap air mata yang kini sudah semakin deras. Ia ingin segera mengakhiri ini. Kepalanya sudah pening sekali.

“Baik, Yang Mulia.”

Ia berhasil mengontrol kestabilan pada nada bicaranya.

Killian akhirnya meninggalkan kamar Josselyn dengan langkah terhuyung—Josselyn mengetahuinya dari suara benturan di pintunya.

Begitu ia memastikan suara langkahnya menghilang, ia menutup pintu dan bersandar di sana, napasnya tidak teratur.

Jari-jarinya menyentuh bibirnya perlahan.

Dan yang membuatnya marah bukan hanya karena ciumannya direnggut, tapi karena ada sepersekian detik ia tidak langsung mendorongnya pergi.

Rasa itu membuatnya muak pada dirinya sendiri.

“Killian…” suaranya pecah. “Dia sudah mengambil ciuman pertamaku.”

Matanya mengeras.

“Aku pastikan dia akan menyesalinya.”

***~***

Di lorong gelap, Killian bersandar pada dinding batu. Napasnya berat. Tangannya mengepal kuat.

“Anda yakin bisa sampai ke kamar? Perlu bantuanku, Yang Mulia?” tanya Darius sedikit menggoda.

“Kau berbohong,” Killian menoleh ke arah Darius dengan ekspresi tak suka. “Sudah kuduga.”

“Maafkan aku, Yang Mulia. Entah apa yang terjadi antara Anda dengan gadis alkemis itu. Tapi posisi Anda sedang tidak menguntungkan.”

Killian cegukan lagi.

Darius spontan mendekat dan menepuk punggungnya dengan lembut.

“Kau mengkhawatirkanku, huh? Apa aku terlihat semenyedihkan itu?” tanya Killian, ia menepis tangan Darius. Ia berusaha menegakkan punggungnya.

Darius hanya tersenyum miring.

“Dalam keadaan mabuk masuk ke kamar gadis Alkemis di larut malam—” Darius menggeleng prihatin. “Jika ada yang melihat, Anda hanya akan memperburuk keadaan, Yang Mulia.”

Sementara itu, di balik salah satu pilar besar istana, dua pasang mata diam-diam memperhatikan mereka.

“Kau dengar itu, Sebastian? Gadis alkemis itu… Josselyn kan?” tanya salah satu pria berambut perak.

Pria lain, dengan rambut coklat gelap di sebelahnya mengangguk. “Mungkin.”

“Apa yang dia lakukan di dalam kamar gadis itu dalam keadaan mabuk?” gumam Howarth.

Mata ambernya berkilat. Satu sudut bibirnya terangkat. Ia menyeringai.

“Menarik.” bisiknya. “Mungkin kita baru saja menemukan kelemahan sang Putra Mahkota.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • The Alchemist's Touch    108 – The Same Sky, A Different Ending

    Aula itu belum sepenuhnya tenang.Bisik-bisik masih berdesir, lebih tajam dari sebelumnya. Kali ini bukan lagi sekadar kegelisahan—melainkan kecurigaan. Mata para bangsawan berpindah, dari satu wajah ke wajah lain, sebelum akhirnya berhenti pada satu titik yang sama.Raja.Dan Clarissa.Ratu masih berada dalam pelukan Killian. Napasnya lemah, tapi stabil. Setiap tarikan napasnya seperti bukti hidup yang membungkam tuduhan yang selama ini dilontarkan.Josselyn berdiri tegak, botol kosong di tangannya masih terasa dingin.“Ini bukan percobaan pembunuhan biasa,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang, tapi cukup keras untuk menjangkau seluruh aula.Semua mata beralih padanya.“Racun ini tidak bekerja seperti racun biasa. Ia tidak membunuh dengan cepat.” Ia berhenti sejenak. “Ia menunggu.”Sunyi.“Menunggu kebahagiaan.”Beberapa bangsawan saling pandang.Yorick melangkah maju satu langkah, wajahnya serius.“Ramuan seperti ini,” katanya pelan, “tidak mungkin dibuat tanpa pengetahuan khusus. Dan

  • The Alchemist's Touch    107 – The Wedding & The Truth

    Josselyn menarik napas panjang, tatapannya belum berpindah dari langit hari itu.Warna birunya yang bersih dan cerah, tidak terasa seperti akhir dari segalanya.Istana Valenroth berdiri megah, dihiasi kain-kain putih dan emas yang menjuntai dari pilar ke pilar. Bunga-bunga segar memenuhi setiap sudut aula utama, aromanya manis—terlalu manis, hampir memualkan.Hari pernikahan Putra Mahkota.Hari yang seharusnya menjadi perayaan.Namun bagi Josselyn, ini terasa seperti panggung eksekusi yang disamarkan dengan kemewahan.Ia berdiri di antara para pelayan, mengenakan gaun sederhana berwarna pucat. Rambutnya ditata rapi, wajahnya tenang. Sangat kontras dengan detakan jantungnya yang menggila ini.Matanya mengarah ke depan.Clarissa.Gaun pengantin itu tampak sempurna di tubuhnya—putih bersih, berkilau, dengan sulaman emas yang mempertegas statusnya sebagai calon Ratu. Senyum tipis menghiasi bibirnya, tapi mata itu… penuh kemenangan.Seolah semua ini memang sudah menjadi miliknya sejak awal

  • The Alchemist's Touch    106 – The Price of Salvation

    Kotak kayu kecil itu terasa lebih berat dari seharusnya di tangan Josselyn—seolah apa pun yang ada di dalamnya, bisa menyelamatkan… atau menghancurkan semuanya.Pintu terbuka tiba-tiba.Langkah berat masuk tanpa izin.Itu Darius.Tanpa basa-basi, tanpa penjelasan—ia langsung mengambil kotak itu dari tangan Josselyn.“Darius—”“Aku yang akan membukanya.”Nada suaranya tegas. Tidak memberi celah Josselyn membantah.Josselyn mengernyit. “Anda bahkan tidak tahu isinya—”“Aku mendengar Raja sudah mengirim prajurit untuk menangkap pencuri di perpustakaan pribadinya. Kita tak ada waktu untuk ragu.”Ia menatapnya sekilas. Dalam. Mantap.“Aku akan memastikan kalian keluar hidup-hidup,” ucapnya pelan. “Meski harus kutukar dengan nyawaku sendiri.”Sunyi.Yorick mendengus pelan. Josselyn yakin, ia tahu mereka tak ada pilihan lain.“Terlalu sembrono.” ucapnya, menutupi kekhawatirannya.Namun, itu tidak menghentikan Darius.Darius membuka kotak itu perlahan. Engsel kayu berderit pelan. Suara kecil,

  • The Alchemist's Touch    105 – The Missing Cure

    Ruangan herbal itu sunyi.Hanya suara gesekan daun kering dan aroma pahit dari ramuan yang memenuhi udara. Cahaya dari jendela kecil jatuh miring ke meja batu, menyoroti botol-botol kaca yang tersusun rapi—seolah menyimpan rahasia yang tak ingin dibongkar.Josselyn berdiri di sana, kedua tangannya bertumpu di meja.Matanya dingin.“Tuan Yorick.”Namanya dipanggil tanpa basa-basi.Pria itu yang sedang mengaduk sesuatu dalam mangkuk kecil berhenti. Gerakannya melambat. Lalu diam.Josselyn menoleh.“Saya ingin memastikan sesuatu.”Nada suaranya tenang. Yorick mengangkat pandangannya perlahan. Matanya awas, mewaspadai ucapan Josselyn berikutnya.“Ingat yang Anda janjikan pada saya?” lanjut Josselyn.Sunyi.“Saya membantu Anda,” katanya lagi. “Saya ikut dalam rencana Anda untuk menjatuhkan Killian.” Napasnya tertahan sejenak. “Dan sebagai gantinya… Anda akan memberi saya penawar.”Tatapannya menajam. Seolah sedang menuntut respons.“Penawar untuk efek kekuatan penyembuh saya.”Yorick masi

  • The Alchemist's Touch    104 – A Smile That Kills

    “Menggantikan Ratu?”“Apa maksudnya?”Bisik-bisik para bangsawan masih berdesir pelan, seperti angin yang menolak reda. Ancaman perang dari Edevane dan ucapan Howarth tentang pengganti Ratu barusan jelas mengguncang mereka.Mempertanyakan bagaimana nasib mereka selanjutnya di Kerajaan Valenroth. Isi dalam istana yang berantakan, ditambah tidak ada yang ingin menjadi alasan kehancuran keluarga mereka sendiri.Dan Raja tahu itu.Ia menarik napas pelan, lalu mengangkat tangannya sedikit. Satu gerakan kecil—cukup untuk membungkam seluruh ruangan.Matanya menyapu kerumunan. Lalu berhenti pada satu orang.“Ah… aku ingat sekarang.”Suaranya berubah lebih ringan. Hampir seperti percakapan biasa.Semua mata mengikuti arah pandangnya.Clarissa.Gadis itu menegang seketika ketika namanya disebut tanpa benar-benar dipanggil.“Kau… sepupu Josselyn, bukan?” lanjut Raja, seolah baru menyadari. “Dan kau pernah mengatakan ingin menikah dengan Putra Mahkota.”Clarissa membeku.Josselyn ikut menatapnya.

  • The Alchemist's Touch    103 – The Crown’s Judgment

    “Jalan!”Suara prajurit itu lantang. Mendorong Josselyn dan kelima pria lainnya di hadapan singgasana Raja. Lantai marmer itu dingin ketika tubuh mereka dijatuhkan tanpa belas kasihan.Rantai di pergelangan tangan beradu dengan suara nyaring.Josselyn mengangkat wajahnya perlahan.Aula itu penuh.Para menteri. Para bangsawan. Mata-mata yang terbiasa menilai tanpa berbicara. Semua berkumpul, berdiri dalam setengah lingkaran, menyisakan ruang kosong di tengah—ruang yang kini mereka isi.Di ujung ruangan, di atas tangga marmer yang tinggi, duduk Raja.Diam. Menunggu.Killian menghela napas pelan, lalu menyeka darah tipis di sudut bibirnya dengan punggung tangan yang terikat.“Jadi menurutmu ini ide bagus?” gumamnya, suaranya rendah tapi jelas terdengar di keheningan itu.Howarth berdiri sedikit di belakangnya, bahu santai seolah tidak sedang dihadapkan pada eksekusi.“Kalau tidak,” jawabnya ringan, “Jossie tidak akan menyetujuinya.”Killian menoleh tajam.“Berhenti memanggilnya Jossie.”

  • The Alchemist's Touch    86 – You Were Suppose to Destroy Me

    Udara di ruang pemeriksaan terasa terlalu tegang. Bahkan semua orang menahan napas.Josselyn berdiri di sisi ruangan, sedikit di belakang barisan bangsawan. Posisi yang cukup aman—tidak mencolok, tapi masih bisa melihat segalanya dengan jelas.Di tengah ruangan, kursi kayu tinggi ditempatkan sepert

  • The Alchemist's Touch    3 – Protected by The Heir

    Ketukan tergesa terdengar dari balik pintu kamarnya. Seorang pelayan berdiri di sana, wajahnya pucat. “Nona Josselyn… Ratu tak bisa tidur. Tubuhnya berkeringat hebat, perutnya melilit,” kata pelayan. Tubuh Josselyn menegang. Kilatan pedang Killian terbayang di depan matanya. Tanpa menunggu waktu

  • The Alchemist's Touch    2 – A Taste of Treason 

    “Kau sadar, satu tetes madu bisa dianggap racun di istana ini?” bisik Yorick. Josselyn mempercepat langkahnya, berusaha menyamai langkah panjang Yorick. “Tidak mungkin,” Josselyn hampir berhenti. “Justru jika saya tak ubah rasanya, saya takut Ratu akan mengira ku berusaha meracuninya.” Ia menoleh

  • The Alchemist's Touch    1 – A Bitter Taste of Trust

    “Sial—” Punggungnya melengkung secara naluriah. Pikirannya kabur, entah karena efek ramuan obat atau karena kenikmatan. Matanya turun dengan sayu, mulutnya terbuka tanpa sadar. “Killian—” Napas Josselyn tersendat, Killian menekannya tanpa meminta izin, lalu berhenti. Sengaja ingin menggoda. “Ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status