MasukYang Josselyn rasakan saat itu hanya: telapak tangan dingin Killian yang menarik leher belakangnya dengan kasar, dan detak jantungnya yang sangat berisik.
Nafasnya tercekat saat wajah mereka hanya berjarak satu hembusan angin. Aroma anggur dan sesuatu yang terbakar bercampur dalam udara sempit kamar itu. “Semua ini…” suara Killian rendah, serak. “Karena kau.” Josselyn menatap lurus ke mata biru keabuan itu. Tidak mundur. Tidak gemetar. “Karena saya?” “Sejak kau menginjakkan kaki di istana ini—” rahang Killian mengeras. “Kondisi ibuku memburuk. Dewan menuntutku. Dan aku—” Ia terdiam. Tangannya masih mencengkeram tengkuk Josselyn, tapi kekuatannya melemah tanpa ia sadari. “Apa?” Josselyn mendesak pelan. “anda apa, Yang Mulia?” Killian menundukkan wajahnya sedikit lebih dekat. Ujung hidung mereka hampir bersentuhan. “Aku membuat kesalahan,” bisiknya. Josselyn membeku. ‘Kesalahan?’ pikirnya. Itu bukan kata yang biasa keluar dari mulut Putra Mahkota. “Kau seharusnya dibiarkan hancur malam itu,” lanjut Killian, suaranya berubah tajam lagi. “Seharusnya aku tidak membelamu.” Sesak itu datang, tapi Josselyn menelannya. “Kalau begitu, jangan pernah melakukannya lagi. Saya tidak pernah memintanya.” Jawaban itu datang dengan cepat. Tegas. Tanpa ragu. Killian terdiam. Tatapan mereka saling mengunci. Sesuatu bergerak di mata Killian. Sepertinya ia menyadari suara gemetar gadis di hadapannya. “Kau pikir aku membelamu untukmu?” ia tertawa pendek, pahit. “Aku membelamu karena aku tidak tahan melihat orang lain menyentuh milikku.” Kalimat itu menggantung di udara. Kernyitan samar di dahi Josselyn menjelaskan rasa terkejut yang sedang ditahannya. Denyut jantung Josselyn bergetar tak terkendali. ‘Apa yang pria ini coba katakan?’ geram Josselyn dalam hati. “Dan itu masalahnya,” lanjut Killian lirih. “Aku tidak seharusnya peduli.” Tangannya yang mencengkeram tengkuk Josselyn perlahan bergeser ke rahangnya. Jempolnya hampir menyentuh bibir gadis itu, lalu berhenti. Napasnya berat. “Aku seharusnya menghancurkanmu,” katanya lagi, tapi kali ini suaranya retak. “Bukan—” Ia memejamkan mata sesaat. Seolah menelan kalimat yang tak sanggup ia ucapkan. Josselyn melihatnya. Benar-benar melihatnya. Pria di hadapannya ini berlagak seolah bukan Putra Mahkota. Bukan pria yang menarik pedang di aula. Bukan lelaki yang menggagahinya di atas ranjang dengan perhitungan dingin—ia mengingat lagi mimpi malam itu. Tanpa sadar ia mendengus. Dengusannya terlalu keras hingga membuat Killian membuka matanya. “Anda harus menghentikan kebiasaan mabuk Anda, Yang Mulia. Ekspresi sedih Anda ini—” Josselyn berkedip pelan. “—bisa menipu banyak orang.” “Kalau Anda ingin menyalahkan seseorang,” ucap Josselyn pelan, “salahkan Dewan yang pengecut. Salahkan politik busuk yang membuat Anda harus meminta maaf pada orang yang menghina kerajaan Anda sendiri.” Tatapan Killian kembali tajam. “Aku tidak akan meminta maaf.” “Saya tahu.” Josselyn memberi jeda sebentar. “Anda seharusnya berterima kasih dengan Kepala Ksatria Darius. Dia menyelamatkan harga diri Anda dan ke—” Belum selesai Josselyn berbicara, ia merasakan bibirnya bertabrakan dengan sesuatu yang lembut. Killian melumat bibirnya. Gerakannya kasar. Perih. Dengan beberapa gigitan kecil yang tanpa sadar membuat Josselyn mengernyit kesakitan. “Lepaskan!” erangnya di antara desakan benda lembut itu. Killian seakan tak mendengar. Bahkan ketika Josselyn memukul-pukul dadanya dengan kuat, pria itu justru menekan lebih dalam leher belakang Josselyn. Tak berniat menghentikan ciumannya. Tubuh Josselyn mendidih. ‘Dasar bodoh! Dorong lagi dengan sekuat tenaga, Josselyn! Dia sedang mabuk!’ Suara-suara di kepala Josselyn mulai bersahutan. “Yang Mulia Killian.” Sebuah suara menyadarkan Killian. Tangan Killian akhirnya terlepas sepenuhnya dari tengkuk Josselyn. Berbeda dengan Josselyn yang langsung memalingkan wajahnya sambil menyeka bibirnya, Killian justru menoleh ke arah suara dengan ekspresi marah. “Ada apa, Darius?” Josselyn membelalakkan mata. Ia makin memutar tubuhnya, membelakangi Killian. Wajahnya memerah. ‘Sial. Kalau Darius tahu, mungkin semua penghuni istana akan membicarakanku.’ pikirnya panik. “Yang Mulia Raja memanggil Anda di ruangannya.” jawab Darius. Josselyn masih berdiri tegak di tempat. Tanpa menoleh. Rasanya ia ingin menggali tanah dan bersembunyi di dalamnya. “Ck,” Killian berdecak frustasi. “dia sudah membicarakan masalah itu sepanjang hari. Dia pikir aku akan berubah pikiran.” Ia mundur satu langkah. Menatap punggung Josselyn. “Kau belum tahu seperti apa rasanya berada di bawah perhatianku, Josselyn.” Killian mengancam. Tangan Josselyn mengepal di samping tubuhnya. “Saya tidak ingin mengetahuinya.” jawab Josselyn dengan nada setenang mungkin. Killian mendengus sinis. “Baik. Kita lihat, apa kau akan menjilat ludahmu sendiri, Anak Pengkhianat.” Dada Josselyn berdenyut nyeri. Tapi ia buru-buru menelan ludahnya, untuk mencegah rasa nyerinya bertambah. “Aturan pertama. Jangan pernah sengaja menghindariku. Kau akan datang, kapanpun kupanggil.” perintah Killian. Josselyn hampir terbahak dengan perintah konyol itu. “Jadi sekarang saya juga budak Anda?” “Jika diperlukan. Iya.” Killian berhenti sejenak, lalu melanjutkan, kali ini dengan nada lebih sinis. “Apa kau benar-benar mengira dirimu Gadis Istimewa yang Dibela Putra Mahkota? Istana ini pandai menciptakan cerita yang tidak pernah kumaksudkan.” Killian terkekeh. “Jadi seharusnya Anda tak perlu memberikan perhatian besar pada saya.” balas Josselyn. “Itu bukan wewenangmu, Josselyn. Hanya perintahku yang berlaku di sini.” ucap Killian tajam. “Dan aku tidak mendengar kepatuhanmu.” Josselyn segera mengusap air mata yang kini sudah semakin deras. Ia ingin segera mengakhiri ini. Kepalanya sudah pening sekali. “Baik, Yang Mulia.” Ia berhasil mengontrol kestabilan pada nada bicaranya. Killian akhirnya meninggalkan kamar Josselyn dengan langkah terhuyung—Josselyn mengetahuinya dari suara benturan di pintunya. Begitu ia memastikan suara langkahnya menghilang, ia menutup pintu dan bersandar di sana, napasnya tidak teratur. Jari-jarinya menyentuh bibirnya perlahan. Dan yang membuatnya marah bukan hanya karena ciumannya direnggut, tapi karena ada sepersekian detik ia tidak langsung mendorongnya pergi. Rasa itu membuatnya muak pada dirinya sendiri. “Killian…” suaranya pecah. “Dia sudah mengambil ciuman pertamaku.” Matanya mengeras. “Aku pastikan dia akan menyesalinya.” ***~*** Di lorong gelap, Killian bersandar pada dinding batu. Napasnya berat. Tangannya mengepal kuat. “Anda yakin bisa sampai ke kamar? Perlu bantuanku, Yang Mulia?” tanya Darius sedikit menggoda. “Kau berbohong,” Killian menoleh ke arah Darius dengan ekspresi tak suka. “Sudah kuduga.” “Maafkan aku, Yang Mulia. Entah apa yang terjadi antara Anda dengan gadis alkemis itu. Tapi posisi Anda sedang tidak menguntungkan.” Killian cegukan lagi. Darius spontan mendekat dan menepuk punggungnya dengan lembut. “Kau mengkhawatirkanku, huh? Apa aku terlihat semenyedihkan itu?” tanya Killian, ia menepis tangan Darius. Ia berusaha menegakkan punggungnya. Darius hanya tersenyum miring. “Dalam keadaan mabuk masuk ke kamar gadis Alkemis di larut malam—” Darius menggeleng prihatin. “Jika ada yang melihat, Anda hanya akan memperburuk keadaan, Yang Mulia.” Sementara itu, di balik salah satu pilar besar istana, dua pasang mata diam-diam memperhatikan mereka. “Kau dengar itu, Sebastian? Gadis alkemis itu… Josselyn kan?” tanya salah satu pria berambut perak. Pria lain, dengan rambut coklat gelap di sebelahnya mengangguk. “Mungkin.” “Apa yang dia lakukan di dalam kamar gadis itu dalam keadaan mabuk?” gumam Howarth. Mata ambernya berkilat. Satu sudut bibirnya terangkat. Ia menyeringai. “Menarik.”Yang Josselyn rasakan saat itu hanya: telapak tangan dingin Killian yang menarik leher belakangnya dengan kasar, dan detak jantungnya yang sangat berisik.Nafasnya tercekat saat wajah mereka hanya berjarak satu hembusan angin.Aroma anggur dan sesuatu yang terbakar bercampur dalam udara sempit kamar itu.“Semua ini…” suara Killian rendah, serak. “Karena kau.”Josselyn menatap lurus ke mata biru keabuan itu. Tidak mundur. Tidak gemetar.“Karena saya?”“Sejak kau menginjakkan kaki di istana ini—” rahang Killian mengeras. “Kondisi ibuku memburuk. Dewan menuntutku. Dan aku—”Ia terdiam. Tangannya masih mencengkeram tengkuk Josselyn, tapi kekuatannya melemah tanpa ia sadari.“Apa?” Josselyn mendesak pelan. “anda apa, Yang Mulia?”Killian menundukkan wajahnya sedikit lebih dekat. Ujung hidung mereka hampir bersentuhan.“Aku membuat kesalahan,” bisiknya.Josselyn membeku.‘Kesalahan?’ pikirnya.Itu bukan kata yang biasa keluar dari mulut Putra Mahkota.“Kau seharusnya dibiarkan hancur malam
“Denyut nadinya melemah lagi.” Josselyn menempelkan dua jarinya ke pergelangan tangan Ratu. Kulitnya dingin. Terlalu dingin di ruangan yang hangat. “Sudah berapa kali darah keluar?” tanyanya. “Dua kali sampai malam ini,” jawab pelayan istana. “Tidak banyak, tapi—” “Setiap tetes berarti,” potong Josselyn. Yorick berdiri di sisi ranjang, wajahnya tak lagi santai. “Sejak minum ramuan herbal darimu, Ratu sudah membaik. Tapi dua hari belakangan, kembali memburuk.” “Jadi, apa kita perlu naikkan dosisnya?” Josselyn menoleh, meminta konfirmasi. Ia tak bisa begitu saja menaikkan dosis tanpa persetujuan dari Kepala Tabib, alias Yorick. Yorick memejamkan mata. “Masih banyak mata dari kerajaan lain yang terus menatap Ratu di istana ini. Jika mereka mengetahui kelemahan ini, kerajaan Valenroth akan dalam masalah besar. Setidaknya, sampai musim dingin berakhir,” sahut Yorick datar. Josselyn menunduk, ia ingat tentang Howarth dan Sebastian, dua bangsawan dari kerajaan lain yang masih tingg
‘Edevan?’Josselyn melirik badge di dada dua pria itu—lambang sama, warna berbeda.Sepersekian detik cukup untuk menyimpulkan: satu kerajaan. Namun jika mereka bersaudara, darah tak cukup kuat membuat wajah mereka serupa.“Namamu…”“Saya Josselyn.” jawabnya sedikit canggung. Rasanya keliru memperkenalkan diri setelah hampir menyaksikan pertumpahan darah.“Oh,” Howarth tersenyum lebih lebar. “Terimakasih karena tahun ini kau membuat pesta menjadi lebih menarik.”Josselyn bergerak kikuk. Tak paham dengan maksud pria berambut perak itu.“Kakakku hanya menyukai situasi berbahaya,” kata Sebastian sekenanya.“Aku hanya tak suka pesta membosankan,” sahut Howarth terkekeh. “Seperti tahun-tahun kemarin.”Howarth menatap Josselyn. Ia maju setengah langkah, mendekatkan wajah ke telinganya.“Tapi ternyata keputusanku datang tepat. Aku bisa melihat Putra Mahkota yang terkenal kejam itu mengangkat pedangnya,” bisik Howarth. “Dan anehnya hanya untukmu.”Napasnya tercekat. Sejenak, aura berbahaya How
“Nona Josselyn, Ratu… kondisi Ratu…”Tubuh Josselyn menegang saat ketukan tergesa terdengar di pintunya.Seorang pelayan berdiri di sana, wajahnya pucat.“Apa yang terjadi?” Tanpa sadar, suaranya meninggi. Kilatan pedang terbayang di depan matanya.“Tubuh Ratu berkeringat hebat. Perutnya melilit, dan ia tak bisa tidur.” jawab pelayan.Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung keluar dari kamarnya.“Ayo kita ke sana.”Suara langkahnya bergema selama di koridor Sayap Ratu. Ia terus bergumam dalam hati.‘Tolong selamatkan Ratu, Tuhan. Jika tidak, kepalaku akan jadi taruhannya.’ doanya.Sesampainya di depan pintu kamar Ratu, dari arah lain muncul Yorick. Rambutnya terlihat berantakan. Dan ia masih menggunakan baju tidurnya. Mereka saling bertatapan, lalu Yorick mengangguk.Prajurit yang berjaga segera membukakan pintu kamar Ratu.“Yang Mulia, Anda baik-baik saja?” tanya Josselyn, menghampiri Ratu.Ratu sedang duduk, wajahnya terlihat pucat. Keringat sebesar biji jagung muncul di dahinya. Baj
“Kau bilang menambahkan madu dalam ramuan herbal untuk Ratu?” bisik Yorick. Josselyn mempercepat langkahnya, berusaha menyamai langkah panjang Yorick. “Ya, karena saya sempat mencicipinya,” Josselyn hampir berhenti, karena mengingat perlakuan Killian saat di Ruang Herbal. “Rasanya pahit sekali. Saya takut Ratu akan menolak meminumnya.” Ia menoleh pada Yorick, menunggu responnya. Kata bisik-bisik di istana, Yorick terbilang muda untuk seorang tabib, namun keahliannya meracik ramuan herbal membuat semua orang tunduk pada penilaiannya. Yorick mengangguk-angguk mengerti. “Bagus.” Tangannya sempat menyentuh rambut Josselyn—singkat. Sentuhan itu belum sempat membuat Josselyn bernapas lega ketika suara sepatu berhenti tepat di belakang mereka. “Josselyn.” Sebuah suara dingin menggelegar di koridor itu. Langkah Josselyn terhenti. Di ujung koridor, di depan pintu kamar Ratu, berdiri Killian dengan tatapannya yang membakar. “Kau lambat sekali.” Nada itu dingin. Terlalu tenang tapi t
“Sial—” Punggungnya melengkung secara naluriah. Pikirannya kabur, entah karena efek ramuan obat atau karena kenikmatan. Matanya turun dengan sayu, mulutnya terbuka tanpa sadar. “Killian—” Napas Josselyn tersendat, Killian menekannya tanpa meminta izin, lalu berhenti. Sengaja ingin menggoda. “Kau menginginkannya.” Suara rendahnya menambah denyutan yang ia rasakan pada tubuh bagian bawahnya. “Jangan… berhenti.” Gadis itu hampir memekik. Gerakan Killian terlalu liar hingga membuat tumpuan tangan Josselyn melemah. Selanjutnya hanya terdengar desahan dan bunyi tak pantas yang dihasilkan dari dua tubuh. Malam itu ia tak dapat berpikir jernih lagi—tidak, dari awal sepertinya memang ada yang salah. ***~*** “Ugh… Kepalaku sakit sekali.” keluh Josselyn begitu membuka matanya keesokan harinya. Beberapa kali ia mengerjapkan mata, agar dapat melihat lebih jelas. Ia menyambar segelas air yang berada di atas meja. Lalu meneguknya perlahan. Berharap dapat meredakan rasa tak nyaman di kepa







