Home / Zaman Kuno / The Alchemist's Touch / 7 - Not A Bargaining Piece

Share

7 - Not A Bargaining Piece

Author: Ivy Morfeus
last update publish date: 2026-03-04 04:11:20

Pintu ruang dewan ditutup dengan bunyi berat.

“Mulai,” suara Raja Aleric terdengar datar.

Killian berdiri di sisi meja panjang, kedua tangan bertumpu di sandaran kursi. Hari ini rapat darurat diadakan lagi. Ia bertekad untuk fokus, tapi akhir-akhir ini wajah gadis itu selalu muncul di benaknya.

“Persediaan garam dari rampasan perang Darius cukup untuk enam bulan,” kata Bendahara. “Itu menenangkan rakyat.”

“Bagus,” 

Samar Killian mendengar Raja menjawab. Sedangkan potongan ingatan di malam ia mabuk kembali menyerangnya.

Sentuhan. Nafasnya. Bibirnya.

Itu bukan tindakan seorang pewaris takhta. Itu kelemahan.

‘Sial! Aku kehilangan kontrol.” Killian bergerak gelisah dari duduknya. Sekilas ucapan Josselyn yang memuji Darius terngiang di telinganya.

‘Tidak. Ciuman itu hukuman. Karena ia berani membandingkan aku dengan Darius.’ Killian menaikkan sebelah alisnya. ‘Aku seorang Putra Mahkota, tak bisa dibandingkan dengan siapapun. Dia sudah mencoreng harga diriku.’

“Tapi kain,” sela seorang bangsawan berkepala botak, Duke Berric Halven, Penasehat Urusan Perdagangan. “Stok kain menipis. Dua bulan lagi musim dingin tiba.”

Killian kembali tersadar dari bisikan di kepalanya. Ia menatap meja.

“Kita masih punya waktu.” ucapnya.

“Tidak sebanyak yang Paduka pikirkan,” jawab Kepala Logistik. “Pedagang dari utara menahan pengiriman. Mereka menaikkan harga.”

“Karena kabar di istana,” gumam Duke Halven. “Karena penghinaan.”

Killian mengangkat wajah. “Katakan dengan jelas, Tuan.”

“Karena perempuan itu.”

Ruangan hening. Killian menatap satu-persatu anggota Dewan yang hadir. Mata mereka terlihat gelisah, tapi mulutnya tertutup rapat.

Raja menghela napas. “Jangan berputar-putar.”

“Putra Mahkota mempermalukan salah satu pilar kerajaan,” lanjut Duke Halven. “Kini keluarga-keluarga lain menimbang sikap. Kain musim dingin adalah simbol status. Tanpa jubah tebal, tanpa mantel bulu, bagaimana kami menghadiri perjamuan?”

“Rakyat butuh hangat, bukan perjamuan,” Killian memotong.

“Rakyat meniru bangsawan,” balasnya cepat. “Jika kami gelisah, pasar ikut gelisah.”

Killian terkekeh pelan, sarkas. “Jadi ini soal gengsi?”

“Ini soal kebutuhan,” sahut Bendahara. “Dan soal Ratu.”

Nama itu membuat Killian menoleh ke ayahnya.

Raja berkata lirih, “Kesehatan ibumu memburuk. Tabib menyarankan suhu kamarnya dijaga tinggi. Selimut tebal, kain berkualitas, bulu terbaik.”

Tangan Killian mengepal. Ia kembali menghadap Dewan di depannya.

“Semua akan tersedia,” jawab Killian tegas.

“Dari mana?” tanya Kepala Logistik. “Gudang utama hanya cukup untuk kebutuhan umum. Duke Mathias Corven masih memblokir jalur selatan—”

“—karena tersinggung,” sambung Duke Halven lagi dengan nada sinis, matanya melirik ke arah Killian.

Killian menarik napas panjang. Kepalanya berdenyut.

‘Kapan Josselyn mengunjungi Ratu lagi? Aku akan meminta ramuan herbal untuk mengurangi sakit kepalaku karena rapat ini.’ 

Bayangan rambut coklat panjang, mata hazel yang menatapnya tanpa takut dan senyumnya yang hangat pada Ratu—terlintas di benaknya.

“Putra Mahkota?” suara Raja tajam.

Killian langsung tersentak. “Saya mendengar.”

“Benarkah?” sindir pria botak itu. “Atau pikiranmu sedang sibuk pada alkemis kecilmu?”

Suara kursi berderit ketika Killian berdiri lebih tegak. “Jaga ucapan Anda.”

“Apa yang akan Anda lakukan?” lelaki itu tidak mundur. “Ingin menghunuskan pedangmu lagi seperti malam di aula itu?”

“Saya membela penghuni istana.”

“Penghuni istana? Anak Pengkhianat itu?” Bangsawan botak itu mendengus. “Anda lebih memilih mempermalukan keluarga Duke yang berharga, yang sudah membantu perekonomian Kerajaan Valenroth.”

“Dia yang memulai,” Killian membalas dingin.

Raja tak tahan lagi. Ia memukul meja pelan. 

“Cukup.”

Hening kembali jatuh.

Raja menatap Killian lama. “Kita tidak sedang membahas harga diri semata. Kita membahas efek musim dingin untuk rakyat Valenroth. Dan juga ibumu.”

Killian menahan rahangnya agar tidak bergetar. “Saya tidak akan meminta maaf.”

Beberapa anggota dewan saling pandang.

“Putra Mahkota,” Bendahara mencoba lebih halus, “kadang-kadang satu kalimat dapat menyelamatkan kenyamanan ribuan rakyat.”

“Dan mengorbankan kehormatan,” Killian membalas.

“Ini bukan tentang kehormatanmu saja,” kata Kepala Logistik. “Ini tentang persepsi. Jika Anda merendah sedikit—”

“Tidak.”

Satu kata. Tegas.

Duke Halven tersenyum tipis. “Kalau begitu, serahkan gadis itu pada Duke Corven.”

Ruangan seketika membeku sebelum musim dingin sempat datang.

“Ulangi,” suara Killian terdengar sangat pelan.

“Serahkan dia. Biarkan dia meminta maaf secara pribadi. Atau biarkan dia menjadi tanggung jawab keluarga Corven. Dengan begitu, keluarganya menarik protes. Pedagang kembali mengirim kain.”

“Tidak.”

“Putra Mahkota—” Raja memperingatkan.

“Tidak,” Killian mengulang, lebih keras. “Dia bukan barang tukar.”

“Dia sumber masalah,” potong Duke Halven. “Sejak dia datang, kau berubah. Kau menentang dewan. Kau menentang ayahmu.”

Killian tertawa pendek. “Saya menentang kebodohan.”

Beberapa anggota dewan tersentak.

Raja berdiri perlahan. “Kau melangkah terlalu jauh, Killian.”

Killian menoleh, menatap ayahnya. “Dengan segala hormat, Ayah, kerajaan ini tidak akan runtuh karena satu perempuan.”

“Kerajaan runtuh karena keputusan kecil yang dibiarkan membesar,” Raja membalas dingin. “Kau terlalu muda untuk melihatnya.”

“Dan terlalu tua untuk dipaksa menunduk pada ancaman kain,” Killian menyahut.

Bendahara berkata cepat, “Ini bukan ancaman kosong. Bangsawan utara menguasai gudang tekstil. Jika mereka menutup akses—”

“Cari pemasok lain.”

“Dua bulan,” desah Kepala Logistik. “Kita tidak punya waktu membangun jalur baru.”

“Darius bisa—”

Killian membenci kenyataan bahwa nama sahabat dekatnya kini terasa seperti rival.

Beberapa kepala menoleh karena tiba-tiba Killian menghentikan ucapannya.

Raja menyipitkan mata. “Apa?”

Killian mengepalkan tangan. “Pasukan Darius mengamankan wilayah perbatasan timur. Ada jalur dagang yang bisa dibuka.”

“Jadi sekarang kau akan bergantung pada ksatria itu?” sindir Duke Halven. “Atau hanya tak ingin kehilangan gadis itu?”

Darah mendesir di telinga Killian.

Ia membenci kebimbangan hatinya. Ia tak pernah terusik oleh satu orang seperti ini sebelumnya.

“Cukup,” Raja berkata keras. “Aku tidak ingin mendengar gosip ‘remaja’ di ruang ini.”

Killian menarik napas tajam. “Kalau begitu berhenti mengaitkan kebijakan kerajaan dengan urusan pribadi saya.”

“Urusan pribadimu telah menjadi urusan publik,” jawab Raja. “Ketika seorang alkemis berdiri di aula dan mempermalukan bangsawan senior, itu menjadi politik.”

“Dia hanya mengatakan kebenaran.”

“Dan kau membelanya.”

“Karena dia tidak salah.”

“Karena Anda tidak bisa berpikir jernih,” sahut Duke Halven itu.

Killian melangkah maju satu langkah. “Hati-hati.”

“Atau apa?” lelaki itu tersenyum tipis. “Kau akan menebasku dengan pedangmu?”

Raja menatap Killian dengan tatapan yang tak lagi sabar. “Jawab satu hal. Apakah kau bersedia meminta maaf demi kestabilan kerajaan?”

Killian diam beberapa detik.

Ia bisa melihatnya dengan jelas: Josselyn berdiri sendirian di tengah aula. Tatapan-tatapan dingin. Bisikan.

Jika ia meminta maaf, semua akan menganggapnya bersalah.

Jika ia menyerahkannya, ia mungkin akan selalu dihantui rasa bersalah.

“Tidak,” katanya akhirnya.

Ruang dewan meledak oleh desahan dan bisikan.

Raja menutup mata sejenak, lalu membukanya dengan keputusan yang dingin. “Kalau begitu, sebagai Putra Mahkota yang gagal menempatkan kerajaan di atas egonya sendiri, kau akan menerima konsekuensi.”

Killian tidak berkedip. “Saya siap.”

“Selama tujuh hari, kau akan dikurung di kamarmu. Tanpa audensi. Tanpa perintah. Tanpa akses pada dewan.”

Beberapa anggota dewan terkejut. Itu keputusan yang tak disangka.

Killian menatap ayahnya. Kilatan kekecewaan tampak di matanya. Tapi itu hanya bagian kecil, sangat kecil jika dibandingkan keresahan yang tiba-tiba membuncah di hatinya.

‘Tujuh hari tanpa Josselyn?’

Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tidak ingin ia akui.

‘Aku tidak ingin menyentuhnya lagi, tapi bukan berarti aku ingin menjauhinya.’

“Paduka—” Bendahara berjalan mendekat, mencoba membela Killian.

“Diam,” Raja memotong. “Biarkan dia belajar arti tanggung jawab.”

Killian tertawa pelan. “Mengurung saya tidak akan menambah gulungan kain.”

“Tidak,” Raja setuju. “Tapi mungkin itu akan mendinginkan kepalamu sebelum musim dingin tiba.”

Duke Halven itu menyilangkan tangan. Senyuman puas tersungging di bibirnya.

“Keputusan bijak.”

Killian menoleh padanya. Ia baru saja akan membalas ucapan pria botak itu. Tapi tiba-tiba sebuah ide muncul.

“Ayah,” Killian mengalihkan pandangannya ke Raja. “Aku mengajukan satu syarat.”

Duke Halven yang mendengar itu tertawa mengejek. “Apa lagi sekarang? Dia harus belajar menerima keputusan Raja.”

Killian melayangkan tatapan tajam ke arahnya. Sehingga ia menutup rapat mulutnya.

Raja mendengus. “Katakan.”

“Jika aku harus dikurung, maka hanya satu orang yang akan melayani kebutuhanku.”

Ruangan menegang.

“Josselyn.”

‘Kalau mereka ingin menjadikannya alat tawar, maka aku akan menjadikannya milikku di depan mata mereka.’

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Alchemist's Touch    104 – A Smile That Kills

    “Menggantikan Ratu?”“Apa maksudnya?”Bisik-bisik para bangsawan masih berdesir pelan, seperti angin yang menolak reda. Ancaman perang dari Edevane dan ucapan Howarth tentang pengganti Ratu barusan jelas mengguncang mereka.Mempertanyakan bagaimana nasib mereka selanjutnya di Kerajaan Valenroth. Isi dalam istana yang berantakan, ditambah tidak ada yang ingin menjadi alasan kehancuran keluarga mereka sendiri.Dan Raja tahu itu.Ia menarik napas pelan, lalu mengangkat tangannya sedikit. Satu gerakan kecil—cukup untuk membungkam seluruh ruangan.Matanya menyapu kerumunan. Lalu berhenti pada satu orang.“Ah… aku ingat sekarang.”Suaranya berubah lebih ringan. Hampir seperti percakapan biasa.Semua mata mengikuti arah pandangnya.Clarissa.Gadis itu menegang seketika ketika namanya disebut tanpa benar-benar dipanggil.“Kau… sepupu Josselyn, bukan?” lanjut Raja, seolah baru menyadari. “Dan kau pernah mengatakan ingin menikah dengan Putra Mahkota.”Clarissa membeku.Josselyn ikut menatapnya.

  • The Alchemist's Touch    103 – The Crown’s Judgment

    “Jalan!”Suara prajurit itu lantang. Mendorong Josselyn dan kelima pria lainnya di hadapan singgasana Raja. Lantai marmer itu dingin ketika tubuh mereka dijatuhkan tanpa belas kasihan.Rantai di pergelangan tangan beradu dengan suara nyaring.Josselyn mengangkat wajahnya perlahan.Aula itu penuh.Para menteri. Para bangsawan. Mata-mata yang terbiasa menilai tanpa berbicara. Semua berkumpul, berdiri dalam setengah lingkaran, menyisakan ruang kosong di tengah—ruang yang kini mereka isi.Di ujung ruangan, di atas tangga marmer yang tinggi, duduk Raja.Diam. Menunggu.Killian menghela napas pelan, lalu menyeka darah tipis di sudut bibirnya dengan punggung tangan yang terikat.“Jadi menurutmu ini ide bagus?” gumamnya, suaranya rendah tapi jelas terdengar di keheningan itu.Howarth berdiri sedikit di belakangnya, bahu santai seolah tidak sedang dihadapkan pada eksekusi.“Kalau tidak,” jawabnya ringan, “Jossie tidak akan menyetujuinya.”Killian menoleh tajam.“Berhenti memanggilnya Jossie.”

  • The Alchemist's Touch    102 – The Crown’s Rot

    Kamar itu masih menyisakan bau besi dari darah yang belum sepenuhnya kering.Prajurit-prajurit yang tadi menyerbu telah tumbang. Sebagian tak sadarkan diri, sebagian lain tak lagi bergerak. Pedang-pedang tergeletak, napas berat memenuhi udara sempit yang kini terasa lebih panas dari sebelumnya.Dan di tengah semua itu—mereka berdiri.Tegang.Tak satu pun benar-benar saling percaya.Josselyn berdiri sedikit terpisah. Jubah milik Sebastian masih menutupi tubuhnya yang belum sepenuhnya rapi. Rambutnya berantakan, napasnya belum stabil, tapi matanya—tajam.Mengawasi.Menilai.Menahan diri agar tidak kembali meledak.“Josselyn benar,” ujar Yorick akhirnya, memecah keheningan. “Kita tidak bisa tinggal diam lebih lama lagi. Kita harus memutuskan—sekarang.”Killian menyeka darah tipis di sudut bibirnya dengan punggung tangan.“Keluar dari istana,” katanya tegas. “Itu satu-satunya pilihan yang masuk akal.”“Howarth?” tanya Sebastian singkat.Howarth menggeleng pelan. “Justru sebaliknya.”Killi

  • The Alchemist's Touch    101 – When Desire Turned to Bloodshed

    Tok. Tok. Tok.Suara ketukan itu terdengar pelan—terlalu pelan untuk disebut sopan, tapi cukup untuk membuat darah Josselyn langsung membeku.Tubuhnya menegang seketika.Killian juga berhenti. Bukan karena ragu. Tapi karena ia mendengar sesuatu yang lain.Suara langkah. Lebih dari satu. Dan terlalu dekat.“Diam,” bisik Killian, napasnya rendah di dekat telinga Josselyn.Josselyn menggigit bibirnya, menahan suara sekecil apa pun. Dadanya naik turun cepat, efek dari situasi sebelumnya, ditambah ketegangan yang tiba-tiba berubah arah.Tok. tok.Kali ini lebih keras.“Buka pintu. Pemeriksaan.”Suara prajurit terdengar datar dari luar.Josselyn menelan ludah.Killian tidak langsung menjauh.Ia justru sedikit menggeser posisinya, menarik Josselyn lebih dekat ke tubuhnya—bukan untuk melanjutkan apa pun, tapi untuk menahannya tetap stabil.Dan gerakan itu cukup membuat Josselyn mencengkeram dada Killian yang terekspos akibat kancing bajunya yang terbuka.“Aku akan ke pintu,” bisik Josselyn, n

  • The Alchemist's Touch    100 – The Fire Behind Closed Doors

    Malam itu menjadi malam menegangkan sejak Josselyn berada di istana ini. Dengan penuh kehati-hatian, Sebastian mengarahkan mereka keluar dari penjara bawah tanah.Tentunya dengan berbagai trick dan berusaha keras tanpa “kekerasan” —jika maksudnya adalah memukul atau menendang hingga berdarah.Sebastian dan Howarth hanya perlu memberi tekanan lebih kuat di beberapa titik untuk melenyapkan kesadaran mereka.“Semuanya aman?” tanya Sebastian saat mereka sampai di lorong istana yang sepi dan gelap.Josselyn mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya bertumpu di atas kedua lututnya.“Aman.” jawabnya dengan napas terengah.“Baiklah, segera masuk ke kamar, Jossie.” ucap Howarth.Tangannya membelai puncak kepalanya dengan lembut, turun ke belakang kepalanya lalu mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu.“Jika efeknya muncul. Datanglah padaku.”Josselyn mengerjapkan matanya beberapa kali. Napasnya belum teratur, dan kini bertambah dengan rasa panas yang naik ke wajahnya.‘Ah, iya. Aku tadi men

  • The Alchemist's Touch    99 – The Kiss That Brought Him Back to Life

    Keheningan di dalam sel itu terasa lebih berat daripada rantai yang melilit pergelangan tangan Killian.Tatapan Josselyn tidak goyah.“Kami tidak datang untuk menyelamatkanmu.”Suara itu dingin. Seolah-olah ia sedang membicarakan sesuatu yang tidak memiliki emosi sama sekali.Killian tersenyum tipis, napasnya tersengal. Sesekali ia terbatuk, meringis, lalu menekan dadanya.“Bagus.”Ia mengangkat sedikit kepalanya, meski gerakan itu membuat luka di lehernya kembali terbuka.“Aku hanya khawatir kau datang dengan niat bodoh.”Josselyn tidak menjawab. Tapi matanya menyapu seluruh tubuh Killian.Darah. Luka terbuka. Memar. Bekas cambukan yang bahkan belum sempat mengering sepenuhnya.Satu titik di hati terdalamnya merasakan perih.Ia seperti melihat dirinya. Disiksa, dikhianati oleh sosok yang seharusnya melindunginya.Terdengar suara tarikan napas yang terseret dari Killian.Dan itu cukup untuk membuat satu hal jelas—dia tidak akan bertahan lama.“Howarth,” gumamnya pelan tanpa menoleh.L

  • The Alchemist's Touch    72 – She Let It Happen 🔞🔞🔞

    Jarak itu seharusnya tidak pernah ada. Terlalu dekat. Begitu dekat hingga napas mereka saling bertabrakan, hangat dan tidak stabil di antara ruang yang semakin sempit. “Lady Josselyn…” suara Darius rendah, nyaris seperti permintaan yang tidak ia sadari. Josselyn tidak langsung menjawab. Ta

  • The Alchemist's Touch    64 – The Moment She Stopped Trusting

    Pintu kamar Ratu terbuka dengan cepat.Aroma obat langsung menyambut begitu Josselyn melangkah masuk—pekat, pahit, bercampur dengan wangi bunga yang mulai layu di sudut ruangan.“Lady Josselyn!”Seorang pelayan bergegas menghampirinya, wajahnya pucat. “Kami sudah mencoba memanggil Tuan Yorick, tapi

  • The Alchemist's Touch    60 – The Desire He Can’t Bury

    Ruangan itu gelap. Hanya cahaya lilin yang bergetar pelan di sudut meja.Darius berdiri diam di dekat jendela, napasnya berat. Ia sudah mencoba tidur.Gagal.Ia sudah mencoba mengalihkan pikirannya.Lebih gagal lagi.Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.“... Sial.”Ia memejamkan mata.Dan itu kesal

  • The Alchemist's Touch    59 - Consumed by The Heat 🔞🔞🔞

    "Cepat sedikit lagi!" suara Darius terdengar tegang dari belakang.Angin malam menerpa wajah mereka saat kuda melesat menembus jalan tanah.Killian tidak menjawab. Tangannya mencengkeram kendali lebih erat, sementara lengan satunya menahan tubuh Josselyn di depannya.Tubuh gadis itu panas.“…panas…

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status