LOGINPintu ruang dewan ditutup dengan bunyi berat.
“Mulai,” suara Raja Aleric terdengar datar. Killian berdiri di sisi meja panjang, kedua tangan bertumpu di sandaran kursi. Hari ini rapat darurat diadakan lagi. Ia bertekad untuk fokus, tapi akhir-akhir ini wajah gadis itu selalu muncul di benaknya. “Persediaan garam dari rampasan perang Darius cukup untuk enam bulan,” kata Bendahara. “Itu menenangkan rakyat.” “Bagus,” Samar Killian mendengar Raja menjawab. Sedangkan potongan ingatan di malam ia mabuk kembali menyerangnya. Sentuhan. Nafasnya. Bibirnya. Itu bukan tindakan seorang pewaris takhta. Itu kelemahan. ‘Sial! Aku kehilangan kontrol.” Killian bergerak gelisah dari duduknya. Sekilas ucapan Josselyn yang memuji Darius terngiang di telinganya. ‘Tidak. Ciuman itu hukuman. Karena ia berani membandingkan aku dengan Darius.’ Killian menaikkan sebelah alisnya. ‘Aku seorang Putra Mahkota, tak bisa dibandingkan dengan siapapun. Dia sudah mencoreng harga diriku.’ “Tapi kain,” sela seorang bangsawan berkepala botak, Duke Berric Halven, Penasehat Urusan Perdagangan. “Stok kain menipis. Dua bulan lagi musim dingin tiba.” Killian kembali tersadar dari bisikan di kepalanya. Ia menatap meja. “Kita masih punya waktu.” ucapnya. “Tidak sebanyak yang Paduka pikirkan,” jawab Kepala Logistik. “Pedagang dari utara menahan pengiriman. Mereka menaikkan harga.” “Karena kabar di istana,” gumam Duke Halven. “Karena penghinaan.” Killian mengangkat wajah. “Katakan dengan jelas, Tuan.” “Karena perempuan itu.” Ruangan hening. Killian menatap satu-persatu anggota Dewan yang hadir. Mata mereka terlihat gelisah, tapi mulutnya tertutup rapat. Raja menghela napas. “Jangan berputar-putar.” “Putra Mahkota mempermalukan salah satu pilar kerajaan,” lanjut Duke Halven. “Kini keluarga-keluarga lain menimbang sikap. Kain musim dingin adalah simbol status. Tanpa jubah tebal, tanpa mantel bulu, bagaimana kami menghadiri perjamuan?” “Rakyat butuh hangat, bukan perjamuan,” Killian memotong. “Rakyat meniru bangsawan,” balasnya cepat. “Jika kami gelisah, pasar ikut gelisah.” Killian terkekeh pelan, sarkas. “Jadi ini soal gengsi?” “Ini soal kebutuhan,” sahut Bendahara. “Dan soal Ratu.” Nama itu membuat Killian menoleh ke ayahnya. Raja berkata lirih, “Kesehatan ibumu memburuk. Tabib menyarankan suhu kamarnya dijaga tinggi. Selimut tebal, kain berkualitas, bulu terbaik.” Tangan Killian mengepal. Ia kembali menghadap Dewan di depannya. “Semua akan tersedia,” jawab Killian tegas. “Dari mana?” tanya Kepala Logistik. “Gudang utama hanya cukup untuk kebutuhan umum. Duke Mathias Corven masih memblokir jalur selatan—” “—karena tersinggung,” sambung Duke Halven lagi dengan nada sinis, matanya melirik ke arah Killian. Killian menarik napas panjang. Kepalanya berdenyut. ‘Kapan Josselyn mengunjungi Ratu lagi? Aku akan meminta ramuan herbal untuk mengurangi sakit kepalaku karena rapat ini.’ Bayangan rambut coklat panjang, mata hazel yang menatapnya tanpa takut dan senyumnya yang hangat pada Ratu—terlintas di benaknya. “Putra Mahkota?” suara Raja tajam. Killian langsung tersentak. “Saya mendengar.” “Benarkah?” sindir pria botak itu. “Atau pikiranmu sedang sibuk pada alkemis kecilmu?” Suara kursi berderit ketika Killian berdiri lebih tegak. “Jaga ucapan Anda.” “Apa yang akan Anda lakukan?” lelaki itu tidak mundur. “Ingin menghunuskan pedangmu lagi seperti malam di aula itu?” “Saya membela penghuni istana.” “Penghuni istana? Anak Pengkhianat itu?” Bangsawan botak itu mendengus. “Anda lebih memilih mempermalukan keluarga Duke yang berharga, yang sudah membantu perekonomian Kerajaan Valenroth.” “Dia yang memulai,” Killian membalas dingin. Raja tak tahan lagi. Ia memukul meja pelan. “Cukup.” Hening kembali jatuh. Raja menatap Killian lama. “Kita tidak sedang membahas harga diri semata. Kita membahas efek musim dingin untuk rakyat Valenroth. Dan juga ibumu.” Killian menahan rahangnya agar tidak bergetar. “Saya tidak akan meminta maaf.” Beberapa anggota dewan saling pandang. “Putra Mahkota,” Bendahara mencoba lebih halus, “kadang-kadang satu kalimat dapat menyelamatkan kenyamanan ribuan rakyat.” “Dan mengorbankan kehormatan,” Killian membalas. “Ini bukan tentang kehormatanmu saja,” kata Kepala Logistik. “Ini tentang persepsi. Jika Anda merendah sedikit—” “Tidak.” Satu kata. Tegas. Duke Halven tersenyum tipis. “Kalau begitu, serahkan gadis itu pada Duke Corven.” Ruangan seketika membeku sebelum musim dingin sempat datang. “Ulangi,” suara Killian terdengar sangat pelan. “Serahkan dia. Biarkan dia meminta maaf secara pribadi. Atau biarkan dia menjadi tanggung jawab keluarga Corven. Dengan begitu, keluarganya menarik protes. Pedagang kembali mengirim kain.” “Tidak.” “Putra Mahkota—” Raja memperingatkan. “Tidak,” Killian mengulang, lebih keras. “Dia bukan barang tukar.” “Dia sumber masalah,” potong Duke Halven. “Sejak dia datang, kau berubah. Kau menentang dewan. Kau menentang ayahmu.” Killian tertawa pendek. “Saya menentang kebodohan.” Beberapa anggota dewan tersentak. Raja berdiri perlahan. “Kau melangkah terlalu jauh, Killian.” Killian menoleh, menatap ayahnya. “Dengan segala hormat, Ayah, kerajaan ini tidak akan runtuh karena satu perempuan.” “Kerajaan runtuh karena keputusan kecil yang dibiarkan membesar,” Raja membalas dingin. “Kau terlalu muda untuk melihatnya.” “Dan terlalu tua untuk dipaksa menunduk pada ancaman kain,” Killian menyahut. Bendahara berkata cepat, “Ini bukan ancaman kosong. Bangsawan utara menguasai gudang tekstil. Jika mereka menutup akses—” “Cari pemasok lain.” “Dua bulan,” desah Kepala Logistik. “Kita tidak punya waktu membangun jalur baru.” “Darius bisa—” Killian membenci kenyataan bahwa nama sahabat dekatnya kini terasa seperti rival. Beberapa kepala menoleh karena tiba-tiba Killian menghentikan ucapannya. Raja menyipitkan mata. “Apa?” Killian mengepalkan tangan. “Pasukan Darius mengamankan wilayah perbatasan timur. Ada jalur dagang yang bisa dibuka.” “Jadi sekarang kau akan bergantung pada ksatria itu?” sindir Duke Halven. “Atau hanya tak ingin kehilangan gadis itu?” Darah mendesir di telinga Killian. Ia membenci kebimbangan hatinya. Ia tak pernah terusik oleh satu orang seperti ini sebelumnya. “Cukup,” Raja berkata keras. “Aku tidak ingin mendengar gosip ‘remaja’ di ruang ini.” Killian menarik napas tajam. “Kalau begitu berhenti mengaitkan kebijakan kerajaan dengan urusan pribadi saya.” “Urusan pribadimu telah menjadi urusan publik,” jawab Raja. “Ketika seorang alkemis berdiri di aula dan mempermalukan bangsawan senior, itu menjadi politik.” “Dia hanya mengatakan kebenaran.” “Dan kau membelanya.” “Karena dia tidak salah.” “Karena Anda tidak bisa berpikir jernih,” sahut Duke Halven itu. Killian melangkah maju satu langkah. “Hati-hati.” “Atau apa?” lelaki itu tersenyum tipis. “Kau akan menebasku dengan pedangmu?” Raja menatap Killian dengan tatapan yang tak lagi sabar. “Jawab satu hal. Apakah kau bersedia meminta maaf demi kestabilan kerajaan?” Killian diam beberapa detik. Ia bisa melihatnya dengan jelas: Josselyn berdiri sendirian di tengah aula. Tatapan-tatapan dingin. Bisikan. Jika ia meminta maaf, semua akan menganggapnya bersalah. Jika ia menyerahkannya, ia mungkin akan selalu dihantui rasa bersalah. “Tidak,” katanya akhirnya. Ruang dewan meledak oleh desahan dan bisikan. Raja menutup mata sejenak, lalu membukanya dengan keputusan yang dingin. “Kalau begitu, sebagai Putra Mahkota yang gagal menempatkan kerajaan di atas egonya sendiri, kau akan menerima konsekuensi.” Killian tidak berkedip. “Saya siap.” “Selama tujuh hari, kau akan dikurung di kamarmu. Tanpa audensi. Tanpa perintah. Tanpa akses pada dewan.” Beberapa anggota dewan terkejut. Itu keputusan yang tak disangka. Killian menatap ayahnya. Kilatan kekecewaan tampak di matanya. Tapi itu hanya bagian kecil, sangat kecil jika dibandingkan keresahan yang tiba-tiba membuncah di hatinya. ‘Tujuh hari tanpa Josselyn?’ Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tidak ingin ia akui. ‘Aku tidak ingin menyentuhnya lagi, tapi bukan berarti aku ingin menjauhinya.’ “Paduka—” Bendahara berjalan mendekat, mencoba membela Killian. “Diam,” Raja memotong. “Biarkan dia belajar arti tanggung jawab.” Killian tertawa pelan. “Mengurung saya tidak akan menambah gulungan kain.” “Tidak,” Raja setuju. “Tapi mungkin itu akan mendinginkan kepalamu sebelum musim dingin tiba.” Duke Halven itu menyilangkan tangan. Senyuman puas tersungging di bibirnya. “Keputusan bijak.” Killian menoleh padanya. Ia baru saja akan membalas ucapan pria botak itu. Tapi tiba-tiba sebuah ide muncul. “Ayah,” Killian mengalihkan pandangannya ke Raja. “Aku mengajukan satu syarat.” Duke Halven yang mendengar itu tertawa mengejek. “Apa lagi sekarang? Dia harus belajar menerima keputusan Raja.” Killian melayangkan tatapan tajam ke arahnya. Sehingga ia menutup rapat mulutnya. Raja mendengus. “Katakan.” “Jika aku harus dikurung, maka hanya satu orang yang akan melayani kebutuhanku.” Ruangan menegang. “Josselyn.” ‘Kalau mereka ingin menjadikannya alat tawar, maka aku akan menjadikannya milikku di depan mata mereka.’“TURUNKAN TANGAN ANDA.”Suara Darius yang rendah, cukup untuk menghentikan udara di sekeliling mereka.Josselyn, dengan dada naik turun, melihat Edmund yang membeku.Beberapa saat lalu, pria tua itu tersulut amarah dengan perkataan terakhir yang ia lontarkan. Tangan yang tak pernah mengelus kepalanya sejak ia dilahirkan, masih terangkat tinggi—seperti yang biasa ia lakukan, bersiap mendarat di pipi Josselyn.Namun perbedaannya kini pergelangan tangannya sudah lebih dulu tertahan.Darius berdiri di antara mereka, mencengkeram kuat tanpa memberi ruang sedikit pun.“Lepaskan aku,” desis Edmund.“Bukan ide yang bagus,” balas Darius datar.Tatapan Edmund beralih ke tangan yang menahannya, lalu ke wajah Darius.“Sejak kapan seorang ksatria bayangan berani menyentuh bangsawan?”Darius tidak bergerak. “Sejak bangsawan itu lupa di mana dia berdiri.”Arabella langsung menarik lengan Edmund.“Sudahlah,” katanya pelan, tapi tajam. “Kita tidak perlu mengotori tangan kita di tempat seperti ini.”Ed
Josselyn hampir bernapas lega saat Killian keluar dari tepi kolam. Air menetes pelan dari tubuh pria berpostur tegap itu, saat ia meraih jubah panjang yang telah disiapkan. Tanpa tergesa, ia mengenakannya, menutup tubuhnya dengan gerakan tenang seolah tak terjadi apa pun barusan. Darius sudah berdiri tegak di dekat pintu keluar. “Yang Mulia,” ucapnya singkat, bersiap mengikuti. “Tidak,” potong Killian datar. Menghentikan langkahnya tepat di belakang pintu. Darius mengangkat pandangan. “Antar dia ke kamarnya,” lanjut Killian tanpa menoleh. “Dan pastikan, dia tidak sempat berpikir untuk kabur.” Nada suaranya rendah. Tapi cukup untuk membuat udara di ruangan itu terasa lebih dingin. Darius mengangguk. “Baik, Yang Mulia.” Killian melangkah pergi dan menghilang di balik pintu, tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Josselyn menghembuskan napas panjang. “Bagus, dia sudah pergi,” “Jadi… sampai kapan kau akan berendam di sana?” Suara Darius membuat Josselyn tersentak. Di
Air beriak pelan saat Josselyn mundur.Tangannya refleks menyilang di depan dada, menutupi tubuhnya yang terendam setengah di dalam kolam. Napasnya tercekat begitu sosok itu semakin jelas di hadapannya.Killian berdiri di tepi kolam, menatapnya tanpa berkedip.“Kenapa Anda ada di sini?” ucap Josselyn cepat. Tapi sedetik kemudian ia langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat.‘Bodoh! Ini tempat rahasia Killian. Dia bisa kapan saja berada di sini. Justru kau, Josselyn! Kenapa kau di—’Gumaman di pikiran Josselyn langsung terpotong, saat ia melihat Killian sudah bertelanjang dada dan kini masuk perlahan ke kolam.Mata biru keabuan itu terus mengamatinya. Seperti sedang menganalisa sesuatu.“Tempat ini milikku. Dan untuk selanjutnya, akan menjadi tempat pertemuan rahasia kita berdua.” gumamnya pelan.Josselyn mengernyit. “Apa maksud Anda?”Killian melangkah mendekat—tenang, tanpa riak.Josselyn kembali bergerak mundur hingga punggungnya hampir menyentuh dinding kolam.“Berhenti di situ!” d
Sesuatu yang berat jatuh tepat di tubuhnya.“Bangun.”Josselyn tersentak. Matanya terbuka setengah, napasnya tercekat sejenak sebelum akhirnya ia sadar.Selimut.Ia menatap kain tebal yang kini menutupi tubuhnya, lalu mengangkat pandangan dengan pelan.Darius berdiri di ambang pintu selnya, wajahnya kaku seperti biasa.“Waktumu terbatas,” katanya dingin. “Bersiaplah.”Josselyn mengerjapkan mata beberapa kali. Kepalanya terasa berat. Bahkan tubuhnya juga terasa aneh.“Bersiap untuk apa?” suaranya serak. Ia mencoba untuk duduk.Darius menatapnya sekilas. “Kau dibebaskan.”Josselyn berhenti memijit kepalanya. Pandangannya naik, menatap manik mata Darius yang tertimpa cahaya obor.“…Apa?” “Dengan syarat.” Darius memotong cepat. Ekspresinya yang keras seolah tak nyaman melihat semburat harapan yang muncul di wajah gadis itu.Josselyn menghela napas berat. Wajahnya menunjukkan kelelahan luar biasa.“Syarat apa?” tanyanya sedikit malas.“Bukan tugasku menjelaskan,” jawab Darius singkat. “Be
“Yorick sudah meninggalkan penjara bawah tanah semalam, Yang Mulia.” Darius mempercepat langkahnya mengimbangi Killian. “Kau membiarkannya berdua saja dengan Josselyn di sel?” tanya Killian dingin, tanpa menoleh. “A-ada dua penjaga di luar sel. Saya pikir Josselyn butuh ruang untuk perawatan lukanya.” jawab Darius gugup. Killian belok di tikungan terakhir. Melewati dua penjaga berbadan kekar, lalu menuruni tangga yang curam menuju ruangan gelap gulita. Darius segera menyambar obor dari sisi dinding. Mengangkatnya lebih tinggi untuk menerangi koridor pengap itu. “Tapi, Yang Mulia… penjaga mendengar sesuatu yang aneh saat Yorick datang.” Darius melapor. Sontak Killian menghentikan langkahnya. Ia berbalik serong menghadap Darius. “Katakan.” “Tentang luka… dan….” Darius mencoba mengingat. “Menutup sempurna.” Killian mengernyitkan dahi. “Bicara yang jelas.” Ia melanjutkan langkahnya. Menyusuri lorong dingin dan panjang itu. Bayangan api yang meliuk-liuk di sekitar din
“Ini tidak normal.”Yorick mengulang kalimat itu pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Josselyn.Josselyn menelan ludah. “Anda sudah bilang itu tiga kali.”“Apa biasanya seperti itu?” tanya Yorick cepat. Josselyn menghela napas kesal. “Kalau ini biasa terjadi, saya tak akan seterkejut ini.”Yorick terdiam sejenak. Matanya masih menatap Josselyn, tajam, seolah sedang membedah sesuatu yang tak kasat mata.“Buka tanganmu.” perintahnya tiba-tiba.“Apa?”“Buka. Sekarang.”Josselyn ragu, tapi tetap menurut. Ia mengulurkan tangannya, dengan telapak menghadap ke atas.Yorick mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebilah pisau kecil.Josselyn langsung menarik tangannya. “Hei—! Apa yang Anda lakukan?”“Tes.” jawab Yorick tenang.“Saya tidak setuju!”“Kau ingin tahu kebenarannya atau tidak?” potong Yorick tajam.Josselyn mengatupkan rahangnya.“…Sedikit saja,” lanjut Yorick, nadanya lebih rendah. “Aku tidak akan melukaimu lebih dalam.”Josselyn menggertakkan gigi, tersirat kesal di matanya. “







