Mag-log inOn the day of the wedding, the bride Elina only wore a veil, a wedding dress, quietly sat in the car and went to her husband's house. No banquet tables, no close friends, no joyful atmosphere… This wedding was inherently just a cover, as well as a transaction, but the person who pushed her to this path was her biological mother. In order to treat her sister's illness, she directly sold her to the rich, but everyone knows how fierce and dangerous these powerful families are. She pushed her into a place full of snakes and would rather kill her. She married him – Levi Simon. A silly young master of the Levi family. I thought life would live in the dark, but it's all just the beginning. "I'll protect you from now on." Absolutely not letting her suffer, he stretched out his arms to hug an abandoned daughter like her in his arms. The fool who was sold. They come together to give each other the so-called love.
view moreI need sunshine to kiss me up every single morning, and it's you, Sinar Bhanuresmi.
— Prasetyo Sagara —
Hasrat pada pandangan pertama. Itulah hal pertama yang dirasakan oleh Pras, saat melihat Sinar datang ke kantor firma hukumnya.
“Siapa, perempuan yang ada di ruang Ashi sekarang, Lex?” Pras bertanya pada manajer partnernya di Firma Sagara, sembari terus melangkah menuju ruang kerjanya. Tiap ruangan yang ada di firmanya disekat oleh dinding kaca transparan, hal itu dilakukan agar tidak ada hal terselubung yang diperbuat antara para advokat dan klien mereka.
Lex menoleh sekilas dengan memicingkan mata. “Ibu Sinar Bhanuresmi, kemaren dia sempat menggugat cerai suaminya, tapi yang aku dengar, dia mau mencabut gugatannya dan rujuk.”
“Dia sudah menikah?”
“Don’t you ever think ‘bout it, Pras.”
Lex yang hapal dengan tabiat Pras, harus memperingatkan pria itu karena suami Sinar, bukanlah orang sembarangan. Lex sengaja tidak menyebutkan nama suami wanita itu, biarlah Pras, nantinya akan mengetahui sendiri.
Pras hanya menyematkan senyum tipis dan sejurus kemudian, keduanya berpisah, memasuki ruangan masing-masing.
Secara kepemilikan, Firma Sagara adalah milik Pras. Namun, karena Lex sudah bersama dirinya sejak awal pendirian kantor tersebut. Maka, Pras mengajak Lex untuk menjadi partner sekaligus sebagai capital contribution* bagi firmanya.
Sekitar satu jam kemudian, Pras memanggil Ashi agar segera ke ruangannya untuk membicarakan sesuatu.
“Klienmu, Sinar Bhanuresmi, aku minta semua data lengkapnya. Dan aku yang akan menangani kasusnya.”
“Tapi, Pak—”
Pras mengangkat tangan kanannya untuk menyela Ashi.
“Siapa suaminya? Dan kenapa dia mengajukan gugatan cerai? Satu lagi, kenapa tiba-tiba dia berniat untuk rujuk?”
Ashi mengeluarkan desisan diiringi tarikan napas dari mulutnya. Ini cuma kasus perceraian, kenapa pengacara kelas kakap seperti Pras, mau repot-repot turun tangan untuk menangani hal receh seperti ini, pikirnya. Pasti ada maksud di balik itu semua.
“Suami Bu Sinar ... Wakil Pemimpin Redaksi Network TV, Pak Bintang Galexia.” Ashi menarik napas sejenak, kemudian kembali melanjutkan penjelasannya. “Bu Sinar mengajukan gugatan karena sudah tidak ada kecocokan diantara mereka, tapi beliau tidak menyampaikan alasan untuk kembali rujuk.”
“Ah!” Ada sebuah keterkejutan saat Ashi menyebut nama Bintang, karena setahu Pras, istri Bintang adalah Daya bukan Sinar. Terlalu lama berada di Singapura, membuat dirinya jarang mendengar kabar tentang kehidupan pribadi kolega serta teman lamanya. “Jelaskan tentang ketidakcocokan yang dimaksud?”
“Kompleks, Pak. Dari masalah mertua, tidak adanya quality time, dan terakhir masalah wanita.”
“Baiklah.” Pras mengangguk paham dengan wajah datar. Biarlah nanti, ia cari tahu sendiri tentang Bintang dan Daya. “Kamu boleh pergi dan jangan lupa dengan yang aku minta tadi, e-mail segera.”
---
Pump heels setinggi 5 senti itu, menghentak begitu elegan ke dalam restoran. Menggaungkan bunyi seirama yang menggema, ketika Sinar melewati koridor sebuah restoran untuk menuju ruang VIP.
Ia ada janji temu dengan Ashi hari ini, perihal pencabutan gugatan cerainya. Tapi yang membuat heran adalah, Ashi meminta bertemu di ruang VIP sebuah restoran mewah. Padahal biasanya, mereka hanya bertemu di kafe biasa atau di Firma Sagara.
Sinar berucap terima kasih kepada pelayan yang telah mengantarkan, sekaligus membukakan pintu ruang VIP itu untuknya.
Mulutnya ternganga sejenak, berdiri statis beradu tatap dengan pria tampan berwajah antagonis, yang saat ini tengah berdiri mengancingkan jasnya, saat melihat Sinar ada di bibir pintu.
“Maaf, sepertinya saya salah ruang.” Sinar baru saja hendak membalik tubuhnya, namun ia kembali terdiam, saat mendengar ucapan pria itu.
“Ruangannya benar, silakan masuk.”
Ragu sebenarnya, tapi, kaki Sinar pada akhirnya melangkah maju. Pria itu mengulurkan tangan terlebih dahulu untuk memperkenalkan diri.
“Pras. Prasetyo Sagara.”
“Sinar Bhanuresmi,” kemudian Sinar duduk tanpa melepas pandangannya yang masih saja beradu dengan Pras. Dari nama belakangnya saja, Sinar sepertinya paham, siapa pria di depannya saat ini, yakni pemilik Firma Sagara. Tempat Ashi, pengacara yang mengurus perceraiannya bekerja. “Kemana, Mbak Ashi? Bukannya, saya seharusnya bertemu dengan beliau?”
Pras tidak menjawab. Ia menyodorkan sebuah berkas, yang telah Pras pelajari sebelumnya. “Aku, bukan orang yang suka basa-basi. Silakan baca, dan, karena aku tahu kamu pintar, berkas itu pasti bisa dengan cepat kamu pahami.”
Apa-apaan ini? Pria itu tidak mau repot-repot untuk berbicara formal dengannya. Padahal Sinar adalah klien di firmanya.
Sinar mengambil sebuah map berwarna cokelat yang disodorkan oleh Pras dalam diam. Tidak berucap sepatah katapun. Membaca dan meneliti lembar demi lembar, lalu, lama kelamaan deru napasnya melaju cepat.
“Apa maksudnya ini?”
“Perlu aku perjelas?” ekspresi Pras tidak terbaca, kemudian pria itu melanjutkan kalimatnya. “Itu, salinan dari laporan keuangan APBD, selama ayahmu menjabat sebagai Kabag Humas Pemprov*. Lihat sendirikan, ada beberapa penyelewengan yang ditandatangani oleh Pak Prabu?”
Sinar meneguk ludahnya yang gersang. Menggeleng tidak percaya dengan apa yang telah dibacanya saat ini.
“Terus, apa maksud dari semua ini?” tanyanya sekali lagi sembari mengembalikan berkas ke dalam amplop coklat dan menyodorkannya kepada Pras. “Apa tujuanmu?” Sinar bahkan sudah tidak ingin bersikap formal dengan Pras.
“Aku bisa menjebloskan ayahmu ke penjara, kalau dokumen itu sampai ke pihak berwenang.”
“Brengsek!” Sinar menggebrak meja tanpa ragu, namun Pras tetap tidak berekspresi, tetap tenang dengan wajah arogan. “Apa maumu? Kamu butuh uang? Mau memeras keluarga kami? Begitu?” decihnya penuh tatapan geram.
Pras tertawa pongah, mengejek sekaligus meremehkan. “Harta yang kupunya, bahkan jumlahnya berkali lipat dari milik keluarga kalian.”
“Gak usah bertele-tele! Langsung aja, apa maumu!”
“Jadi milikku!” seru Pras tidak berbasa-basi.
“Are you insane?” Sinar mengangkat tangan kirinya dan memperlihatkan cincin yang masih melingkar di jari manisnya. “I’m married.”
“So? I didn’t see the problem.”
Sinar menggeleng diikuti decakan berkali-kali. Pria seperti apa, yang sedang dihadapinya saat ini. Ekpresinya sangat datar dan tidak mudah untuk di tebak.
“Kamu benar-benar gila, kenapa gak cari cewek di luar sa—”
“Karena aku menginginkanmu!” sela Pras sembari mengarahkan telunjuknya ke arah Sinar. “Well, kita bisa mencobanya terlebih dahulu, satu malam—”
Cukup sudah!
Sinar kembali menggebrak meja dengan emosi yang memuncak. “Pasang indera pendengaranmu itu baik-baik, Pras. Aku sudah menikah da—”
“Dan kamu mengajukan gugatan cerai.” potong Pras dengan tatapan datar, pun intonasi bicaranya. “Apa Bintang gak bisa memuaskanmu di ranjang?”
Pria ini, benar-benar tidak bisa memfilter mulutnya ketika berbicara, pikir Sinar.
“Aku sudah mencabut gugatan itu, dan aku mau rujuk! Dan ini gak ada urusannya dengan masalah ranjang!”
“Boleh aku tahu alasannya?”
“Aku hamil, empat minggu.” intonasi Sinar sedikit melunak.
Detik itu juga, Pras mengumpat dalam hati. Namun wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Kenapa hasratnya harus berurusan dengan wanita yang tengah hamil seperi ini.
“Well, it’s oke. Selalu ada yang pertama bukan? Aku memang gak pernah menghabiskan malam dengan perempuanya yang sedang hamil. Tapi, sepertinya itu menarik.”
Sinar kembali menggeleng, tidak habis pikir dengan semua yang ada di benak Pras. Tidak ingin menghabiskan waktu berlama-lama dengan pria itu, Sinar memundurkan kursinya lalu berdiri dengan menyampirkan tas di bahu.
“Pergilah,” ucap Pras dingin. “Dan bisa aku pastikan kalau besok … ayahmu akan langsung berada di bui.” imbuh Pras beranjak menghampiri Sinar yang saat ini tengah berdiri kaku.
Pria itu berhenti tepat di depan Sinar. Memberikan seringai tipis penuh kemenangan, saat melihat wajah Sinar yang tampak pias. Mulut Pras baru saja hendak terbuka, untuk mentertawakan ketidakberdayaan gadis itu.
Alih-alih sebuah tawa yang keluar dari mulutnya, Pras malah mengaduh keras. Menunduk sembari mengusap kaki kirinya yang baru saja terkena ujung pump heel milik gadis itu.
Yah, Sinar telah menendang tulang kering Pras dengan sekuat tenaga yang ia punya, di tengah kekesalannya yang memuncak.
“SINAR!”
Pras mengumpat, merasa diremehkan. Ini kali pertama, ada seorang wanita yang memperlakukannya dengan kasar. Itu artinya, Sinar telah menantangnya dan Pras pantang untuk ditantang, apalagi dengan mahkluk berjenis kelamin perempuan.
Sinar dengan berani menarik dasi Pras, mensejajarkan wajah pria itu dengan dirinya. “Hei, pengecut! apa kamu gak punya cara yang lebih gentle untuk menghadapi seseorang, sampai harus menyerangnya dari belakang? Lebih baik kamu kebiri aja tuh ulat bulu yang ada di balik celanamu, karena kamu gak pantes sama sekali disebut sebagai seorang laki-laki.”
Oh, sungguh Pras benar-benar merasa tertantang kalau seperti ini. “Ckckck, kamu itu, cuma belum tahu aja, bagaimana ulat buluku bisa membuatmu meracau nikmat saat kamu berada di bawahku.”
Satu tangan Sinar yang lain sudah melayang di udara untuk menampar Pras, namun, pria itu dengan gesit menangkapnya. “Aku suka perempuan yang agresif dan sedikit kasar, apalagi saat di atas ranjang bersamaku.”
“Kamu itu sakit!” maki Sinar.
“Dan, cuma kamu obatnya.” balas Pras dengan menyematkan seringai tipis di wajah tampannya.“Kamu GILA!”“Karenamu!”“Just go to fuckin hell!”“And I’ll bring you with me, then.”“You’re such an asshole!” jerit Sinar pada akhirnya. Ia sudah benar-benar jengah dengan Pras.“I bet, this asshole gonna make you scream my name, all night long. and you won’t regret it at all!”---
* Capital Contribution: partner yang memasukkan sumber daya atau materi keuangannya sendiri ke dalam perusahaan untuk meningkatkan modal ekuitas.
* Kabag Humas Pemprov: Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Provinsi.
He finally fulfilled his promise to him that year. He took Kylie home, and in this life, he was only faithful to her. Kylie soon moved out to live with him. She pursues her passion for drawing and he is the president of a corporation. As long as she wants him, he can give it to her, in this life, it seems that she only needs to follow her passion and he will take care of everything. "Sleeping worm, if you don't wake up soon, I'll kiss you. His deep voice rang in her ears, but she couldn't move her body. Her eyes were heavy, her whole body was tired, and turned to blame him. "Is it because someone didn't let me sleep last night? She grumbled, pushed him away, then pulled the blanket over her back to sleep again. Last night, he ignored her pleas and boldly entered the house to harm her. Now, his hips hurt and he feels like he's exhausted. Yet he dares to say that if she doesn't wake up, he will kiss her. “It was just then that I lost control a bit. Who said you're so charming that I ca
One month later...! “Hurry, come here, here and here. Add a little more chalk. “Help me with this curl. In a large room with luxurious design is the image of a beautiful girl sitting in front of the mirror. Hairdressers and makeup artists run up and down to make her more gorgeous. From outside, Kylie took Troye and ran inside.His face was in a hurry as if something big had happened. "It's time, let's go out. She nodded and looked at herself again in the mirror. Time flies so fast, she remembers the day she got in the flower car for the first time to her husband's house. That day, she had a gloomy color, she was alone and walked into a new life alone.Strange, fear is all she brings home to her husband. Just like that, she now has a second marriage. It's the same dress, the same wedding flowers, the same veil, but this time it's different. The wedding dress she is wearing is worth up to a billion dong. It is set with 751 diamonds, Swarovski gems weighing over 1.00 carats, and a 70-car
I have an appointment with old Levi today. Even though he had been rejected by him, he had a little pity for his situation now. After all, he was his biological father, he couldn't leave him like that and turn his back on him. The familiar Ferrari stopped at a cafe. She grabbed her bag and went out.The place he met with old Levi was also close to where she and Kylie were supposed to meet, so they both went together. Now that her belly has grown, walking is also more inconvenient. He helped her out of the car and gently kissed her hair. "I'll be back in a little while. “You go carefully.She also returned his kiss and watched him turn to leave. She was so absorbed in following his figure that she forgot that Kylie had been standing next to her ever since. She crossed her arms in front of her chest, looking very adult as she followed her gaze. “You guys are always handing out wages to people. Startled, she turned to see him standing beside her. Gently pat Kylie on the head, she said wi
Today is the opening day of the trial. Since yesterday he had been up to organize the evidence documents. Many aunties woke up and did not see him, but she went out into the hallway to look at his office. It was still lit, he was still engrossed in watching every detail. She could only help him make a cup of coffee or say a few words of encouragement and then go back to her room.When she woke up early in the morning, there was news about today's trial. Starting at eight o'clock in the morning. This is extremely hot news that every newspaper can see. In general, Vera's sins are not small. Digging up the case of his mother's murder twenty years ago includes bribery. Butler Lam was also killed by one of her hands. Moreover, Levi Liam is not the biological son of the Levi family.If these things were to be rumored, she wouldn't dare look at other people's faces. “Madam, are you in the mood to read the newspaper today? Butler put a glass of warm milk on the table and asked her. Elina smil












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Rebyu