ログインDua tahun telah berlalu, Davia, permata hati Celine dan Davies, telah tumbuh menjadi anak berusia tujuh tahun yang ceria, lincah, dan penuh rasa ingin tahu. Rambut pirangnya sering diikat ekor kuda oleh Celine, dan matanya yang tajam seperti Davies namun selalu berbinar ceria, tak pernah berhenti menjelajahi dunia. Pagi itu, Davies dan Celine sedang menikmati sarapan di teras belakang, ditemani semilir angin yang membawa aroma bunga melati dari taman. Davia duduk di antara mereka, asyik membaca buku komik petualangan terbarunya. Kehidupan mereka adalah gambaran sempurna dari keluarga bahagia: Davies kini lebih sering tersenyum, Celine bersinar dalam perannya sebagai istri dan ibu, dan Gerald, sang paman yang kini hangat, sering berkunjung dari Melbourne, membawa oleh-oleh kopi spesial dan cerita lucu yang selalu membuat Davia tertawa. "Ayah, Ibu," kata Davia, mengangkat kepalanya dari buku, "Nanti sore kita jadi ke Darling Harbour kan? Lihat kapal besar!" Davies tersenyum, mengusap
Beberapa tahun telah berlalu sejak Davies dan Celine mengikat janji suci di luar kontrak. Tahun-tahun yang membawa serta kedamaian yang tak pernah mereka duga, sebuah ketenangan yang menaungi hidup mereka di bawah langit yang luas. Bayang-bayang masa lalu telah memudar, digantikan oleh cahaya kebahagiaan yang terang benderang. Pagi di Sydney terasa hangat, dengan semilir angin laut yang lembut membawa aroma garam. Rumah modern Davies yang dulu terasa dingin dan formal, kini dipenuhi tawa dan kehangatan. Di dalamnya, sebuah keajaiban telah hadir, melengkapi kebahagiaan Davies dan Celine. Seorang anak perempuan yang cantik, dengan mata tajam seperti Davies namun memancarkan keceriaan Celine, telah mengisi setiap sudut hati dan rumah mereka. Mereka memberinya nama Davia, versi feminin dari nama Davies. Davia tumbuh menjadi anak yang ceria, rambutnya pirang kecoklatan seperti Celine, namun dengan kekokohan Davies. Setiap harinya adalah warna baru dalam hidup mereka. Tangisan bayi yan
Dengan beban masa lalu yang perlahan terangkat, Gerald melangkah menjauh dari bayang-bayang Evan dan dunia lamanya. Udara pagi terasa lebih bersih, seolah beban di pundaknya telah terangkat. Ia tahu, jalan di depannya tidak akan mudah. Dunia yang telah ia tinggalkan tidak akan melepaskannya begitu saja. Namun kini, ia punya tujuan yang jelas: menjadi kakak yang pantas bagi Celine. Ia akan menebus kesalahannya, melindungi adiknya, dan membangun kembali apa yang telah hancur. Sementara itu, di kediaman mereka, Davies dan Celine duduk berdekatan di sofa, tangan mereka bertaut erat. Cahaya pagi menyusup masuk melalui jendela, menerangi wajah mereka yang tampak lelah namun tenang. Konflik yang telah memporak-porandakan mereka, badai demi badai yang terus datang, justru telah menempa sebuah ikatan yang tak terduga. Mereka telah melewati cobaan yang menyakitkan, bahaya yang mengancam nyawa, dan rahasia kelam yang nyaris menghancurkan segalanya. Namun, cinta yang tumbuh di tengah semua it
Tawaran gencatan senjata Davies menggantung di udara, dipenuhi harapan dan ketidakpastian. Gerald masih terdiam, wajahnya kaku, namun di dalam dirinya badai emosi tengah mengamuk. Kata-kata Davies tentang ayahnya yang juga tak bersih, menghantamnya dengan telak. Realitas pahit itu, bahwa dendamnya dibangun di atas fondasi yang rapuh, mulai meruntuhkan dinding pertahanannya. Namun, yang paling menghantamnya adalah tatapan Davies pada Celine, dan kata-kata, "Aku yakin kau juga tidak ingin... membawa adikmu ke dalam bahaya." Memori Celine yang pingsan, wajahnya yang pucat, dan peluru yang menembus kakinya, semua itu berkelebat di benak Gerald. Ia telah melukai adiknya sendiri, orang yang ia sayangi, demi sebuah dendam yang kini terasa hampa Gerald menyadari bahwa siklus dendam ini harus diakhiri. Ia tak ingin lagi hidup dalam bayang-bayang kegelapan yang telah merenggut begitu banyak darinya, masa mudanya, kebebasannya, dan kini, nyaris merenggut adiknya. Ia ingin sebuah kehidupa
Di ruang tamu rumah kecil itu, Gerald duduk di sofa, tatapannya kosong ke depan. Davies berdiri tidak jauh dari Celine, matanya tetap waspada, mengawasi setiap gerak-gerik Gerald. Celine duduk di sofa lain, menatap kakaknya dengan campuran luka dan kerinduan. "Aku... aku minta maaf, Celine," Gerald memulai, suaranya terdengar berat, dipenuhi beban masa lalu yang menyesakkan. "Aku tahu aku tidak pantas dimaafkan. Aku sudah meninggalkanmu dan memilih jalan seperti ini." Ia menghela napas panjang, lalu mulai menceritakan semuanya. Gerald melarikan diri dari kekejaman sang ayah, dari rumah yang penuh dengan pukulan dan teriakan. Ia mencari perlindungan di rumah teman, tempat yang tanpa disangka menjadi awal dari jalan gelapnya. Ayah temannya, seorang mafia berpengaruh, melihat potensi dalam dirinya, mungkin juga rasa sakitnya. Lingkungan itu membentuknya, mengajarinya kerasnya hidup, dan perlahan membawanya pada keterlibatan dalam bisnis gelap yang kini menjeratnya. Ia tidak menyembuny
Di markasnya yang gelap, Gerald duduk sendiri di balik meja besarnya dengan segelas wiski di tangan. Telinganya yang terluka masih berdenyut nyeri, namun rasa sakit fisik itu tak seberapa dibandingkan gejolak di hatinya. Pikirannya melayang pada Celine, adiknya, dan ingatan tentang masa lalu yang pahit. Ia teringat masa kecil adiknya, Celine yang polos dan ceria, selalu tersenyum, selalu ingin tahu. Sebuah kontras yang tajam dengan kekejaman ayahnya yang tak terlupakan, seringai kejam, dan cambukan yang dulu biasa mendarat di tubuhnya. Ayahnya, seorang pria yang seharusnya melindungi, justru menjadi sumber teror di rumah mereka. Gerald selalu berusaha melindungi Celine dari amarah ayah mereka, menjadi perisai bagi adiknya yang rapuh. Semua itu memuncak pada satu malam yang dingin, bertahun-tahun silam. Setelah pertengkaran hebat dengan ayahnya, di mana Gerald mencoba membela Celine, ia akhirnya memutuskan pergi. Ia kabur dari rumah, meninggalkan Celine dan ayahnya, sebuah keputusan
Setelah badai Marcus berhasil mereka atasi, ketenangan kembali menyelimuti rumah mewah itu. Namun, kali ini, ketenangan itu diisi dengan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang baru dan tak terduga. Momen-momen romantis mulai bermunculan, tak direncanakan, justru semakin mengaburkan garis antara peran "
Marcus tidak menyia-nyiakan waktu. Begitu ada kesempatan, di sebuah acara makan malam bisnis yang dihadiri banyak kolega dan media, ia melancarkan serangannya. "Pernikahan Davies dan Celine, ya?" Marcus memulai, suaranya lantang, diselingi tawa sinis. "Aku dengar ini hanyalah pernikahan kontrak, d
Pagi di rumah Davies terasa dingin, bahkan di bawah sinar matahari Sydney yang sudah terik. Udara di rumah mewah itu jauh lebih dingin dari AC yang menyala. Davies duduk di ruang makan, kemeja sutra birunya rapi tanpa cela, tatapannya tajam menatap layar ponsel di tangannya. Di sisi la
Pagi itu, rumah terasa sunyi setelah Davies pergi. Rutinitas Celine berjalan seperti biasa—menyiapkan sarapan, merapikan beberapa sudut rumah yang tak pernah disentuh Davies. Namun, sebuah kejanggalan memecah ketenangan itu. Di dekat pintu utama, tergeletak sebuah tas kulit hitam, yang Celine yakin







