LOGIN"He's maybe a devil, but he's my devil." Hindi inakala ni Valentina Jade Villamayor na sa dinami-rami ng manliligaw niya ay kay Devon Miles Joaquin pa siya na-inlove. Hindi lang ito isa sa "The Famous Orphans," nagmula din ito sa pamilya na mortal na kaaway ng pamilya niya. Bukod pa roon, halos isumpa niya ito noong una nilang pagkikita. But they fell in love with each other, at ipinangako nilang hinding-hindi nila hahayaang magtagumpay ang mga pamilya nila sa pagpapahiwalay sa kanila. Ngunit sadya yata talagang nakatadhana silang magkalayo. Inakala ni Val na iniwan siya ni Devon at napilitan siyang magbago ng identity at palakihin ng mag-isa ang anak nila. 10 years later, he came back as her boss and she's his secretary. Pero hindi maintindihan ni Val kung bakit galit na galit sa kaniya si Devon. Gayung ito ang nang-iwan pagkatapos makuha ang pagkabirhen niya. Ito ang umalis, so bakit ito galit na galit? At anong gagawin nito kapag nalaman nitong nagbunga ang pagmamahalan nila noon? The media call them The Famous Orphans - adopted and raised to be billionaire heirs. Five of them and Valentina fell in love with the one they called“THE DEVIL.”
View More“Kau punya mata tidak sih? ini sudah dua kalinya kamu memecahkan piring, restoran ini bisa rugi jika begini,” omel seorang Wanita pemilik Rumah Makan ini.
“Maafkan aku Boss, aku akan lebih berhati-hati,” ucap Gadis berambut hitam gelap itu.
“Gajimu bulan ini akan dipotong akibat keteledoranmu,” sahut Wanita itu.
“Jangan, aku butuh uang gaji bulan ini untuk biaya berobat nenekku,” pinta Gadis berambut hitam. Ia memohon pada pemilik Rumah Makan tempatnya bekerja paruh waktu. “Aku minta maaf Boss, aku kurang tidur karena pagi harus berkuliah jadi kumohon ... aku akan lembur tapi jangan potong gajiku.” Gadis itu memelas.
“Masa bodoh! Itu salahmu sendiri pokoknya gajimu dipotong.” Wanita itu berucap sambil meninggalkan sang gadis yang duduk merunduk. “Kemaskan pecahan piring itu, dasar pegawai tak berguna,” cibirnya.
Sang gadis bermata kenari menatap pecahan piring. Ini sudah jadi piring ketiga yang ia pecahkan. “Kenapa tanganku gampang sekali merusak sesuatu,” ucapnya. Gadis itu berbohong jika sedang mengantuk padahal sebenarnya ia punya tenaga yang kuat. Gadis itu mantan seorang murid ahli pedang. Ia harus meninggalkan hobinya karena harus berkuliah dan bekerja untuk biaya pengobatan neneknya.
“Aku tak boleh sedih, jika pulang nanti Nenek pasti cemas,” gumam Gadis itu. Ia pun buru-buru mengambil sapu untuk membereskan pecahan kaca.
Sepulang berkerja. Gadis berambut hitam panjang itu pulang berjalan kaki dengan tampang lesu. Dia melewati gang sempit yang dijejeri oleh gerombolan preman yang tak sesekali bersiul kepadanya. Gadis itu mendecih namun tetap melewati dengan tak gentirnya.
Gadis itu berjalan dengan berani tanpa mengenal ketakutan. Baru saja melangkah nyaris tiba di rumah susunnya. Sebuah tangan terasa membelai punggungnya dengan sensual. Gadis langsung mengcekrem tangan Pria itu dengan keras, menarik tubuh gempal salah satu preman yang bersikap tak bersahabat dengannya. Dalam hitungan dengan mudahnya ia membanting tubuh preman itu menghantam tiang listrik.
Brukkk! Tubuh Pria itu terpental. Sang gadis hanya memberi tatapan tajamnya. “Tch!” decihnya menatap sekawanan preman lain. “Kalau tidak mau tulang kalian patah cepat pergi,” gertak Gadis itu. Dia memberi tatapan tajam.
Senyuman puas tersungging dari bibir ranumnya. Tatapannya meledek kawanan preman yang berlari terbirit-birit akibat ulah ancamannya. “Dasar pria-pria tak berguna,” ucap Gadis itu sembari mengibas-ngibaskan kedua tangannya. Gadis ini memang kuat. Tenaganya tidak main-main meski sebenarnya tubuh gadis ini seperti gadis normal seusianya.
“Nah! maafkan aku membuatmu menunggu, Nek!” Gadis itu menatap pintunya tertutup rapat. Tidak biasanya sang Nenek tak langsung membukakan pintunya. Gadis itu jadi panik.
Tok! Tok! Tok!
Tangan Gadis itu menggedor pintu tak sabaran. Tatapan matanya berubah menjadi cemas. Sekali lagi tangannya mengetuk pintu kayu itu berharap sang pemilik segera membukanya. Saat pintu itu berdecit menyembulkan kepala seorang anak kecil yang lumus, kerdil dan memprihatinkan.
“Nona muda Senna bergegaslah karena Nyonya Yue Ran semakin lemah,” ucap Bocah kecil itu.
“Kau siapa? Ah tidak penting, Nenek aku pulang!” teriak Gadis itu sembari melesat masuk. Paniknya lebih besar daripada harus penasaran dengan sosok bocah misterius yang ada di kediamanya ini.
“Nek! Nek! Senna pulang!” Gadis itu berseru sembari mencari sosok tua renta itu. Gadis itu justru mendapati tubuh renta yang tengah berbaring dengan damainya. Gadis itu berlari menghambur padanya. Dia memengangi nadi tangan dan nadi leher keriput sang nenek, dia juga mencoba menelisik kelopak mata bawah sang nenek dan yang terakhir dia pun menguncang-nguncang tubuh sang nenek dengan keras.
“Nenek, aku melupakan medical kit karena Senna terburu-buru kemari, kumohon bertahanlah Nek, kita segera ke Rumah Sakit saja ya Nenek?” pintanya dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca itu. Gadis itu menggengam tangan keriput neneknya.
Sebuah tangan keriput meraih permukaan wajahnya dengan lembut. “A-Sen cucu Nenek ... Selamat ulang tahun yang ke delapan belas tahun,” ucap Wanita tua rentan itu.
“Nenek punya hadiah kecil-kecilan, ammbil didalam lemari itu dan buka saat seluruh hatimu tengah damai.” Sang Nenek memberi permintaan terakhirnya pada Cucu kesayangannya itu. Sunggingan senyuman dari nenek tua itu terpancar dengan tulus. “Anak baik ... Satu-satunya yang selalu menganggap orang sepertiku, A-Sen berbahagialah ... Tugas Nenek sudah selesai.” Tatapan teduh itu perlahan-lahan menutupkan sepasang kelopak matanya.
“Tidak, Nenek Tidak! Jangan tinggalkan aku!” Teriak Senna menangis histeris dan memeluk tubuh tua itu dengan erat.
Bocah laki-laki kecil itu menepuk pundak Senna dengan perlahan. “Nona muda Senna tidak baik menangisi Nyonya Yue Ran,” nasehat Bocah kecil itu pada Senna yang tak bergeming, dirinya tetap memeluk tubuh tua itu sementara rohaninya telah pergi dengan damai.
Besok paginya kematian dari Wanita tua ini berlangsung di kediaman mewah. Wanita tua ini aslinya seorang kaya raya yang memilih mengasuh anak dari Putrinya yang sudah lama menghilang itu. Yue Ran tua meninggal membawa rasa berkabung untuk Gadis berambut hitam ini.
Suasana berkabung tengah menyelimuti mansion mewah saat ini. Seluruh orang mengenakan pakaian serba hitam. Semuanya tengah berduka dan yang paling terpukul adalah gadis yang mengenakan gaun hitam serba panjang ini.
“Nenek, hiks, Nenek.” Tangis sang Gadis tak berhenti.
“Berhentilah bodoh. Kau ini menangisi orang yang jelas-jelas bukan nenekmu,” sinri pedas terdengar dari suara seorang wanita yang berdiri disebelahnya.
Gadis itu mengepalkan kedua tangannya namun bocah kecil itu segera menggenggam kepalan tangan gadis itu. “Tenanglah Nona Muda,” ucap Bocah itu.
“Kau itu bukan anggota keluarga Ran kenapa kau malah ada disini? Orang asing sepertimu tidak tahu malu ya?” hina Wanita itu lagi.
Tak semuanya ucapan wanita itu salah. Gadis itu mulai merasa bersalah, dia pun menundukkan tatapannya serta melangkah pelan meninggalkan peti jati itu. “Maafkan aku Bibi,” ucap Senna, nama sang gadis berambut hitam ini.
“Masih berani menyahut! Cepat pergi dari sini, kau pasti yang membuat Ibu kami meninggal!” bentak Wanita itu.
Senna pun beranjak sembari menundukkan tatapannya. Gadis muda itu hanya bisa menahan kesedihannya dalam diam bahkan tubuhnya menubruk seseorang yang tengah terdiam diambang pintu. “Ah maafkan aku Tuan,” lirih Senna. Dia menunduk kembali.
“Nona rubah anda melupakan rubah anda.” Suara seorang Pria membuat atensi Senna teralihkan. Suara pria yang sudah Senna tak sengaja tabrak dengan tubuh linglungnya itu.
Senna segera mendongkak. Dia baru menyadarinya jika bocah laki-laki itu tak mengikuti langkahnya. Gadis itu pun menatap pemuda yang raut wajah datar dengan tatapan yang dingin. “Sie! Baise... Baise!” teriak Senna memanggil nama bocah laki-laki itu. Seharusnya dia ada disampingnya bahkan gadis itu masih bisa merasakan pegangan tangannya beberapa saat yang lalu.
“Apa kau ini sudah gila?! Kami tengah berkabung sementara kau berteriak-teriak. Tidakkah kau menghormati nyonya besar Yue Ran?” Lagi-lagi gadis itu dilempar kata-kata yang tak mengenakkan hatinya. Belum lagi tatapan semua orang yang mencemoohnya.
“Dia tak sengaja,” sahut suara yang berat dan dingin. Suara yang terucap berasal dari seorang pemuda yang berdiri di dekat Senna. Pria yang Senna tak sengaja tabrak. Pria itu melangkah dengan anggun mendekati gadis bersurai kelam itu. Dia bisa melihat kedua pundaknya bergetar. Tentu saja tangisannya tengah ditahan.
“Tu-tuan muda Han!”
Semua orang jadi riuh pada tindakan Pria itu yang tiba-tiba saja mendekati Senna. Seluruh orang yang hadir di sana membungkuk dengan sopan. Pria ini berasal dari keluarga yang disegani. Beruntungnya masih berhubungan baik dengan keluarga Ran.
“Tuan Muda, Anak ini memang tidak tahu diri tuan sama seperti ibunya,” hina wanita itu seraya menunjuk gadis itu dengan keji. “Mohon Tuan menjauhi anak kutukan ini,” ucap Wanita itu.
Kesabaran gadis itu sudah habis tersulur oleh api kemurkaannya. “Kalian pikir kalian sudah benar? kalian bahkan tega membiarkan nenek Yue Ran menghabiskan masa tuanya di rusun yang kumuh,” bentak Senna.
Gadis itu dengan tatapannya yang membara tersulut murka. “Ibuku wanita yang baik! seharusnya kalian yang harus sadar diri.” Senna berucap sembari melenggang pergi. Mengacuhkan sahut-sahutan yang menghujami dirinya.
Pemuda itu terdiam tak bergeming sembari menatap sang gadis yang berlalu pergi. Tujuan awalnya adalah mengucapkan belasungkawa terhadap Nyonya Besar Yue Ran yang sudah tiada. Pria muda ini perwakilan dari kerabat keluarga besar Han tetapi dibalik wajah dinginnya. Kedua manik mata biru tuanya senantiasa mengekori sosok gadis manis bersurai kelam yang sudah melenggang meninggalkan kediaman Ran.
Senna berjalan di tepian trotoar dengan kedua mata sembabnya. Kedua pipi gempalnya sudah merah, iris kenarinya sudah sembab serta hidungnya sudah kemerahan. Dia terisak berkali-kali. Langkah pelan Senna membawanya kembali pulang ke rumah kumuh itu. Dia pun membuka pintu reot itu kemudian melangkah menuju ranjang kasur tua serta duduk di ujung ranjang yang tak layak pakai ini.
“Nona muda Senna.” Bocah lelaki itu menampaki wujudnya lagi.
“Siapa namamu?” tanya Senna.
“Baise Nona, hamba ditugaskan Nyonya Yue Ran untuk menjagamu,” jawab Bocah itu.
Senna tak kuasa menahan tangisnya. Neneknya yang tiada bahkan memberikan pengawal kecil untuk menemaninya. “Baise, kemarilah,” ucap Senna sembari menarik bocah laki-laki itu ke dalam dekapannya. “Jangan tinggalkan aku seperti Nenek,” ucap Senna.
Bocah itu menggeleng singkat membalas ucapan gadis itu. “Nona tak perlu khawatir saya akan terus menjaga nona seperti pinta nyonya Yue Ran,” sahut Baise.
Tak lama seberkas cahaya menyelimuti bocah laki-laki itu. Perlahan-lahan tubuhnya berubah menjadi bola seputih salju dengan bulu lebat yang lembut. Tangan sang gadis membelai rubah kecil itu dengan lembut. Baise adalah roh rubah liar yang sudah lama menjadi peliharaan Yue Ran, sekarang pemiliknya adalah gadis bersurai hitam itu.
“Sulit diterima oleh akal sehatku tapi kurasa inilah cara Nenek memberitahu jati diriku,” ucap Senna sembari membelai rubah kecil ini. “Oh, iya, bagaimana pemuda itu bisa melihatmu Baise?” tanya Senna.
Baise jadi rubah kecil yang lucu. Rubah yang sudah lelap tidur dalam pangkuan Senna. Gadis itu menghela nafas panjang. Dia pun mengedarkan seluruh pandangannya pada ruangan bobrok ini. Kini kenangan hidupnya bersama sang Nenek yang tersisa. Dia ingat pertama kali bertemu Nenek ketika ibunya menitipkannya pada Nenek tapi sang Ibu tak kunjung datang menjemputnya.
Senna mengalihkan pandangannya pada sebingkai foto kecil yang terdapat gambar dirinya, sang ibu dan tentunya nenek Yue Ran. Lamunannya memandang jauh peristiwa lama yang sangat hangat dimemorinya. Hidup masa kecil bersama Nenek yang mengajarinya bela diri, berpedang, memanah dan mengenal ilmu pengetahuan.
“Oh iya aku nyaris melupakannya.” Gadis itu baru terhenyak dari lamunannya. Dia baru mengingat perkataan terakhir dari sang nenek. Dia pun beranjak berdiri untuk menuju sebuah lemari disudut ruangan. Kedua tangan mungilnya membuka lemari itu, dia pun mendapati sebuah kotak kayu kecil disana. Dia pun meraih kotak kecil itu, dipandanginya kotak indah dengan pahatan motif bunga anggrek disetiap sisinya.
“Oh, Nenek,” gumam Senna.
Gadis manis itu membuka kotak kecil bermotif anggrek. Dia mendapati sebuah stick tusuk rambut yang terbuat dari giok dengan ujungnya sebuah permata putih yang membentuk bunga anggrek. Gadis itu meraihnya kemudian memegang tusuk rambut itu.
“Ini sangat indah terima kasih Nek, Senna menyukainya,” ucap Senna. Dia pun memeluk stick rambut itu selayaknya mendekap seseorang yang amat disayanginya. Gadis itu melihat pahatan sebuah tulisan didalam kotak itu. Iris kenarinya memandangi kotak kayu itu.
“Akhiri kehidupan seorang malaikat yang mengkhianati surgawi. Langit merah, tentukan pilihanmu, i bersama atau diam menanti kematian.” Gadis itu membaca pahatan ukiran setiap kata yang berasal dari ukiran kotak kecil itu. Kedua alisnya mengkerut beradu satu.
Tok ... Tok ...
Suara pintu berbunyi. Senna beranjak berdiri kemudian membukakan pintunya. Ia mendapati Pria berdiri di luar. Pria yang memakai masker hitam itu mengeluarkan belati dari balik jaketnya kemudian menghunuskan belati pada Senna.
“Ugh, apa yang ... yang kau lakukan?” Senna menatap cairan merah memenuhi dirinya. Sensasi nyeri pada perutnya semakin menjadi kemudian Senna pun ambruk tak sadarkan diri. Kedua pandangan Senna perlahan-lahan memudar sebelum semuanya gelap Senna menatap tangannya yang berlumuran cairan merah.
"Apakah ... aku sudah tiada?"
Naiiyak si Valentina habang pinagmamasdan ang anak na si Queen V habang nagdodrawing ito sa drawing tablet nito. Naiiyak siya dahil naiisip niya si Devon. Kung noon ay hindi siya masyadong nagi-guilty na hindi ipaalam kay Queen V ang pangalan ng daddy nito, ngayon ay nagi-guilty na siya. Dahil una, lumalaki na ang anak niya at mas nakakaintindi na ito ngayon kaysa noon. Pangalawa, nasa bansa na ang ama nito.Devon is back. Nasa malapit lang ito. Hindi niya maiwasang maisip na nagiging unfair siya kay Queen V at kay Devon na rin. "Mommy, I want you to wear this."Kumunot ang noo niya. Nakatitig pa rin si Queen V sa drawing tablet nito. Tulad niya ay hilig nito ang pagdrawing. Ang pagkakaiba lang nila, siya ay tanging mga building and interior design ang dinodrawing, samantalang si Queen V ay malawak ang hilig nito na idrawing. Nang hapong iyon ay mga damit ang dino-drawing nito. Kanina pa ito nag-de-design ng mga gowns. Mula sa sopang kinauupuan niya ay tumabi siya rito sa sahig na
Nakakuyom ang mga kamao ni Valentina habang hinihintay ang elevator na bumukas. Nagpupuyos ang loob niya dahil kay Devon. Napakawalang-puso nito. Ito na ang nang-iwan, ito pa ang galit na galit. Pero ang mas ikinaiinis niya ay ang pagtitig nito kay Helena kanina anng biglang magcomment ang babae sa kunwaring SHOW na pinapanuod nito ang iba pang Joaquin brothers. Para sa mga ito, ay isang nakaka-entertain na palabas ang pagkikita nilang muli ni Devon, at kontodo comment ang mga ito. At nang mag-comment si Helena ay tinitigan ito ni Devon. "God, am I jealous?" tahimik niyang tanong sa sarili. Awtomatikong pumasok sa isipan niya ang mukha ni Devon. He looked so mature, so different, and yet so familiar. Ramdam niya ang kirot sa dibdib niya."And why the hell is he so handsome?" hindi niya napigilang sabi. "Who's handsome?" Muntik na siyang mapatili sa gulat. Tiningnan niya ng masama si Drake pero nakangiti lang ito sa kaniya. Gusto niya itong bugbugin dahil ito ang dahilan ng proble
It was Monday and first day ni Valentina sa Joaquin Groups. Ang una niyang ginawa ay pumunta sa HR para ibigay ang pinirmahan niyang kontrata. Pinadala iyon sa kaniya ni Drake mismo at sinabihan siyang ibigay niya sa HR bago siya pumunta sa office nito. Nang umalis siya sa HR ay dumiretso muna siya sa ladies room para mag-retouch kahit pa nga kare-retouch niya lang bago pumasok sa building ng mga ito. Pero kinakabahan siya at mas lalakas ang loob niya kung 100 percent sure siya na maganda siya sa first day roon. For her first day, pinili niyang magsuot ng itim na sleeveless dress at pinatungan niya ng itim ring blazer dress. Hindi niya sinarado ang blazer dress para kita pa rin ang figure niya. For her shoes, pinili niya ang gray pumps na favorite niya. Three inches ang takong niyon. Gray din ang bag na napili niyang gamitin that day. She looked stylish and elegant sa suot niya. Nakakadagdag pa sa pagiging elegante ng look niya ang alun-alon niyang buhok na kinulayan niya ng blonde.
Ten years later: Present day“Mommy, help. The waves will take me.”Napatingin si Val sa dalampasigan nang sumigaw ang anak niyang si Victoria. Napangiti siya nang makitang kunwari itong tumatakbo palayo sa mga alon. Puro talaga ito kalokohan.Napapangiting kumaway siya rito at mas lumuwang pa ang ngiti niya nang kargahin ito ng uncle River nito. Kaya panatag siya na walang mangyayaring masama rito dahil kasama nito si River.“They look like a real father and daughter duo.” Sabi ni Ginny na kasama niya sa open cottage na tinatambayan nila.Sa kasalukyan ay nasa Camarines Sur sila kung saan nakatira ang mommy ni River. Doon din siya napadpad noon nang sumama siya kay River para lumayo sa pamilya niya. At nang lumipas ang isang buwan at nalaman niyang buntis nga siya, doon din siya naglagi. Buti na lang at masyadong mabait ang mommy ni River kaya kahit nang umalis si River para sa pag-aaral nito sa Maynila ay hindi siya nag-iisa.Naging katuwang niya si Mama Donna, ang mommy ni River, s
Dahil hindi nag-dinner ay nagutom si Valentina bago pa man maghatinggabi. Kanina ay ipinatawag siya ng pamilya niya na kumain at pinuntahan pa siya ng daddy niya para kumbinsihin, pero tinatagan niya ang loob at hindi lumabas ng kwarto. Kahit ng sabihin ng daddy niya na wala ang lola niya at may pi
Madilim na nang makauwi si Val mula sa treehouse. Sa kusina siya dumaan at patakbong inakyat ang mataas na hagdan ng mansion ng lola niya. Nasa third floor kasi ang kwarto niya.Nakahinga siya ng maluwag nang marating niya ang pinto ng kwarto niya nang walang nakakasalubong.Ngunit pagbukas niya ay
Ten years ago… “Hindi mo ako pwedeng iwan Dev.” Naiiyak na sabi ni Valentina sa kasintahang si Devon.Katabi niya itong nakasandal sa pader ng tree house. Ang tree house ay nasa mapunong parte ng Hacienda Joaquin na pag-aari ng pamilya ni Devon. O mas angkop sabihin na pamilyang umampon kay Devon






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.