LOGIN
Cahaya matahari yang menyengat menembus celah tirai, jatuh tepat di atas kelopak mata seorang perempuan yang terlelap selama satu minggu penuh. Panasnya begitu tajam, memicu denyut nyeri di kepalanya yang terasa remuk.
Lamat-lamat, kelopak matanya terbuka. Hal pertama yang dirasakannya adalah rasa berat yang menghantam kepalanya, seolah ribuan jarum menusuk sarafnya secara bersamaan. Rambut panjangnya yang berwarna auburn tergerai di atas bantal sutra putih, tampak demikian kontras seperti tumpahan anggur merah di atas salju. "Ugh..." Erangan halus terlepas dari bibirnya yang pucat dan pecah-pecah. Dia mencoba mengangkat tangan untuk memegang pelipisnya, namun setiap gerakan sekecil apa pun memicu rasa mual yang hebat. Tubuhnya terasa asing, kaku, dan penuh dengan sisa rasa sakit yang tidak bisa dia jelaskan. Dia menatap langit-langit kamar. Ruangan itu begitu tinggi dan mewah, dengan ukiran stucco rumit yang menghiasi sudut-sudutnya. Namun, tidak ada satu pun detail di sana yang memicu percikan memori di otaknya. Matanya beralih ke jendela besar yang menghadap ke laut biru, lalu ke furnitur antik yang tampak sangat mahal. Semuanya terasa asing. Terlalu asing hingga mencekam. "Aku di mana?" bisiknya, suaranya terdengar parau dan nyaris hilang, tertelan oleh kesunyian kamar yang begitu luas. Di sudut ruangan yang remang, terpisah dari jangkauan sinar matahari, Lorenzo berdiri mematung. Segelas scotch di tangannya sudah tidak lagi dingin, namun dia tak peduli. Iris mata abu-abunya menyipit, memerhatikan setiap gerak-gerik wanita di ranjang itu dengan penuh kewaspadaan. "Kamu sudah bangun?" suara Lorenzo terdengar jelas bersama kewaspadaannya yang semakin meningkat. Wanita itu mencoba menoleh pada sumber suara. Gerakannya begitu kaku, karena setiap kali dia bergerak tubuhnya terasa semakin remuk. "Siapa ... siapa kamu?" lirih wanita itu, matanya berkedip bingung, mencari-cari titik fokus. "Dan kenapa kepalaku?” Dia memegang kepalanya. “Aku tidak ingat kenapa aku di sini." Gelas scotch di tangan Lorenzo berhenti bergerak. "Kamu tidak ingat siapa aku?" tanyanya. Wanita itu menggeleng pelan, air mata mulai menggenang karena rasa sakit dan ketakutan yang mencekam. "Aku tidak ingat namaku. Aku tidak ingat tempat ini. Tolong ... siapa kamu?” Lorenzo meletakkan gelasnya di atas meja, kemudian melangkah tenang mendekati ranjang. "Tenanglah, Cara (sayang)," ucapnya sembari duduk di tepi ranjang. Dia mengulurkan tangan, membelai rambut sang wanita dengan gerakan posesif. "Namamu adalah Allegra. Kamu mengalami kecelakaan hebat. Dokter bilang memori yang hilang adalah hal yang wajar karena benturan keras di kepalamu,” jelasnya dengan ekspresi yang begitu meyakinkan. Allegra menatap pria itu, satu-satunya manusia yang ada di dunianya yang kosong saat ini. "Kecelakaan?” ulangnya bingung. Dia benar-benar tidak ingat apa pun. “Lalu kamu ... siapa kamu bagiku?" Lorenzo mengecup punggung tangan Allegra, menghirup aroma kulit wanita itu dengan begitu penuh kasih. "Aku Lorenzo," bisiknya tepat di depan wajah Allegra sambil mengunci tatapannya. "Dan aku adalah suamimu, Allegra. Kita berdua saling mencintai. Terlebih dirimu. Kamu tergila-gila padaku jauh sebelum kita menikah.” Allegra terdiam, membiarkan nama dan penjelasan itu meresap ke dalam benaknya. Allegra. Istri Lorenzo. Dia merasa asing dengan identitas itu. Sungguh. "Suami?" Allegra mengucapkannya dengan nada sangsi. Meski sentuhan pria itu terasa hangat, ada sesuatu di dasar jiwanya yang berteriak, sebuah penolakan yang tidak bisa dia jelaskan. Dia menarik tangannya perlahan, membuat kerutan tipis muncul di dahi Lorenzo. "Kalau kamu suamiku," Allegra menatap mata abu-abu itu dengan saksama, "kenapa aku merasa tidak mengenalmu sama sekali? Kenapa ruangan ini, tempat ini ... terasa asing? Dan di mana orang tuaku? Kenapa hanya ada kamu?" "Kamu sedang syok, Allegra. Trauma fisik dan mental setelah kecelakaan itu membuatmu mengalami amnesia. Wajar kalau tempat ini terasa asing bagimu," suara Lorenzo terdengar sangat lembut. "Dan tentang orang tuamu ... maafkan aku harus mengatakannya sekarang, tapi mereka sudah tiada sejak dua tahun yang lalu karena kecelakaan pesawat. Sejak saat itu, hanya aku yang dirimu punya. Hanya aku yang menjagamu." Allegra tertegun. Berita kematian itu terasa hampa karena dia tidak ingat wajah mereka, namun rasa sesak tetap menghimpit dadanya. "Meninggal? Lalu ... apa yang terjadi saat itu? Kenapa aku bisa kecelakaan?" Lorenzo bergeser lebih dekat, tangannya menyentuh bahu Allegra. "Malam itu kita bertengkar hebat karena masalah sepele. Kamu emosional, lalu pergi membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Aku mengejarmu, Allegra. Aku melihat sendiri mobilmu tergelincir dan terjun ke tebing. Aku pikir aku sudah kehilangan kamu selamanya. Tapi syukurlah kamu masih bisa diselamatkan. Aku yang menyelamatkanmu.” "Aku tidak percaya," bisik Allegra, matanya mulai berkaca-kaca. "Ini tidak masuk akal. Aku butuh bukti." Lorenzo tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak penuh kesabaran. Dia berdiri, berjalan menuju laci meja antik dan mengambil sebuah kotak beludru hitam. "Aku tahu sulit bagimu untuk percaya pada orang asing," kata Lorenzo lalu mengeluarkan handphonenya dari saku celana. Dia kembali menghampiri tempat tidur, menunjukkan layar pada Allegra. Di sana terlihat slide foto-foto pernikahan yang megah. Allegra mengenakan gaun putih indah, berdiri di depan altar sebuah kapel tua di Sicily. Di sampingnya, Lorenzo tampak gagah, memeluk punggungnya dengan erat. Foto-foto itu terlihat sangat asli, mulai dari detail wajahnya, senyumnya, hingga latar belakang bangunan yang tampak tua. Lalu, Lorenzo membuka kotak beludru itu. Sebuah cincin mewah dengan berlian mungil di tengah ada di dalamnya. "Lihat jari manis kirimu," perintah Lorenzo lembut. Allegra melihat jarinya yang polos dan menemukan bekas luka karena kecelakaan. Lorenzo mengambil tangan Allegra, lalu dengan gerakan perlahan dia menyematkan cincin tersebut. Ukurannya sangat pas. Seolah-olah cincin tersebut memang diciptakan untuk jari lentik Allegra. "Cincin ini terlepas saat aku menyelamatkanmu. Dan lihat ini," Lorenzo menunjukkan tangan kirinya sendiri, di mana melingkar sebuah cincin serupa. Bedanya cincin itu polos, khas laki-laki. Dia melepas cincinnya sejenak dan menunjukkan bagian dalamnya pada Allegra. Tercetak ukiran halus di sana dengan tulisan ‘Allegra’. "Dan di dalam cincinmu," Lorenzo membimbing jemari Allegra untuk meraba bagian dalam cincinnya, "ada namaku. Lorenzo." Allegra terpaku melihat bukti-bukti fisik di depan matanya. Foto, cincin, dan bekas luka di tubuhnya seolah membenarkan setiap untaian kata yang keluar dari mulut pria ini. Logikanya mulai menyerah pada kenyataan yang disuguhkan. "Kenapa aku merasa sangat sedih saat menatapmu?" bisik Allegra lirih, air matanya akhirnya jatuh. Lorenzo merengkuh tubuh Allegra ke dalam pelukannya. Dia membelai punggung Allegra dengan gerakan protektif yang begitu posesif. "Itu karena sisa amarahmu malam itu, Cara. Tapi jangan khawatir," bisik Lorenzo di telinga Allegra, lagi-lagi dengan suara yang begitu lembut. "Aku akan membantumu mengingat betapa kita saling mencintai. Aku akan membuat kamu jatuh cinta lagi padaku setiap hari, sampai kamu tidak butuh lagi ingatan lamamu." Meski masih dilanda kebingungan hebat, Allegra memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan pria asing yang mengaku sebagai suaminya. ***Teo yang kini mengenakan kemeja hitam yang belum dikancingkan sempurna menghentikan gerakannya. Rahangnya mengeras seketika. Sorot mata yang beberapa menit lalu hangat penuh gairah, kini mendingin sekeras es musim dingin di pegunungan Sicily."Don Lorenzo?" Teo menyalakan sebatang rokok, membiarkan asapnya mengepul tebal di antara aroma amis jaring ikan. "Dia hampir gila, Fiammetta. Benar-benar gila."Fiammetta menahan napas, tangannya gemetar saat merapikan anak rambutnya yang kusut. "Apa maksudmu?""Sejak istrinya hilang, dia tidak lagi menjadi pria yang kukenal. Dia tidak tidur, tidak makan dengan benar, dan setiap perintah yang keluar dari mulutnya hanya berisi darah dan kemarahan," Matteo menatap ujung rokoknya yang membara dengan tatapan kosong. "Dia kehilangan akal sehatnya karena keinginan untuk menyeret Nyonya Allegra pulang."Teo mengembuskan asap rokoknya ke udara, bahunya tampak merosot seolah memikul beban seluruh klan Castellano."Dia memberiku tugas yang sangat bera
Fiammetta menarik tangan Teo dengan terburu-buru, menembus rimbunnya semak liar dan jalan setapak berbatu yang licin. Napas gadis itu terdengar memburu. Tidak. Itu bukan karena gairah. Tapi karena perasaan takut.Setiap langkah menjauh dari penginapan adalah detik berharga yang dia berikan bagi Belladonna untuk melarikan diri. Semoga saja Belladonna menggunakannya. Walau sebenarnya Fiammetta sangat kasihan pada wanita itu. Belladonna tidak punya tempat untuk berlindung. Ke mana lagi dia akan pergi?Mereka tiba di gudang perahu yang merupakan tempat untuk menyimpan perahu, jaring ikan dan bengkel bagi perahu yang rusak. Aroma kayu lapuk bersatu dengan bau jaring ikan yang amis dan pengap saat keduanya masuk ke sana. Cahaya bulan menyelinap masuk melalui celah-celah atap.Setelah pintu tertutup, Teo langsung memutar tubuh Fiammetta, menekannya ke dinding kayu yang kasar."Kau sangat terburu-buru malam ini, Piccola (sayang/baby/little girl)," bisik pria itu dengan suara serak di dekat
Wajah Fiammetta seketika berubah pucat-pasi. Dia menoleh pada sumber suara tempat Assunta memanggil dengan tatapan horor, seolah-olah ibunya baru saja mengumumkan kedatangan malaikat maut.Lalu dia kembali memandang Belladonna dengan tatapan penuh peringatan. "Masuk ke kamarmu sekarang! Kunci pintunya dan jangan buat suara sekecil apa pun. Apa pun yang kau dengar, jangan keluar."Belladonna tidak banyak bertanya. Dia bergegas masuk ke kamar Fiammetta, menutup pintu kayu itu dengan hati-hati. Di dalam kamar, dia segera menghampiri Alessandro yang sedang menggeliat kecil di atas tempat tidur. Dia mendekap bayi itu erat-erat, seolah ingin menyembunyikan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang hingga terasa ke ujung jari. Siapa pun oang yang datang Belladonna harus tetap waspada dan berhati-hati. Di luar sana Fiammetta menemui kekasihnya."Fiammetta, kau tidak menjawab teleponku dengan benar, jadi aku datang sendiri."”Sudah kubilang jangan ke sini!" suara Fiammetta terdengar
Belladonna menghabiskan waktunya di penginapan Assunta. Ia memulihkan kekuatannya sambil terus mendekap Alessandro. Bayi laki-laki tampan itu adalah dunianya yang baru. Setiap gerakan kecil jemari Alessandro atau rengekan lembutnya saat haus menjadi satu-satunya alasan bagi Belladonna untuk tetap waras di tengah pelariannya yang tidak berujung. Meskipun demikian, Belladonna masih bisa bersyukur karena dia dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Assunta dan putrinya.Fiammetta menjadi sosok yang sangat bisa diandalkan. Gadis itu membantu membeli perlengkapan Belladonna dan Alessandro, dan juga membantu mendiamkan Alessandro yang menangis saat Belladonna sedang mandi atau keluar kamar sebentar."Ini aku belikan jaket untuknya. Biar dia tidak kedinginan,” kata Fiammetta pada suatu hari sambil memberikan jaket mungil berwarna biru pada Belladonna.Assunta tertawa geli. “Dia baru berumur beberapa hari. Tapi kau membelikan pakaian seolah dia sudah bisa berlari.”Fiammetta hanya mend
Assunta menyeka sisa-sisa keringat di dahi Belladonna. Sementara bayi mungil laki-laki itu mulai bergerak-gerak kecil di atas dada ibunya. Belladonna hanya bisa menatapnya dengan pandangan tak percaya. Di dunianya yang penuh dengan pengkhianatan dan pelarian, makhluk kecil ini adalah satu-satunya hal baik yang sangat dia syukuri."Siapa namanya?” tanya Assunta ingin tahu.Belladonna termangu. Pikirannya melayang pada nama-nama besar yang penuh kuasa di luar sana. Nama-nama yang membawa maut, dominasi, dan ketakutan. Dia tidak ingin putranya menjadi bagian dari kegelapan yang selama ini mengepung hidupnya. Dia menginginkan sebuah nama yang melambangkan kekuatan untuk bertahan, namun juga martabat yang tinggi untuk berdiri tegak."Alessandro," Belladonna menjawab. "Alessandro," ulang Assunta dengan mata berbinar memandang sang bayi. "Nama yang gagah dan klasik. Seorang pejuang kecil yang lahir di tengah badai, siap untuk memenangkan dunianya sendiri."Seulas senyum membingkai bibi
Fiammetta mematung selama beberapa detik. Matanya terpaku pada sosok wanita yang merintih di lantai. "Fiammetta! Tunggu apa lagi? Cepat bantu aku!" bentakan Assunta menyentak Fiammetta kembali ke realita.Fiammetta segera melangkah maju, tangannya yang dingin gemetar saat ia menyusupkan lengannya di bawah ketiak Belladonna. Begitu kulit mereka bersentuhan, ia bisa merasakan detak jantung Belladonna yang begitu liar.Belladonna mencengkeram baju Fiammetta hingga kainnya berkerut. Dia menyandarkan kepalanya yang lemas di bahu gadis itu.Sepasang ibu dan anak tersebut lalu membawa Belladonna masuk ke kamar Fiammetta.Assunta dengan cekatan membentangkan kain bersih di atas tempat tidur, sementara Fiammetta membantu membaringkan Belladonna."Ambilkan air hangat dan handuk bersih sekarang," perintah Assunta sambil mulai menyingsingkan lengan bajunya.Fiammetta mengangguk kaku lalu bergegas keluar dengan kilat. Sesaat kemudian gadis itu kembali. Dia memberikan apa yang diminta oleh i







