Share

The Devil's Obsession
The Devil's Obsession
Author: Zizara Geoveldy

Part 1

last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-11 12:07:05

Cahaya matahari yang menyengat menembus celah tirai, jatuh tepat di atas kelopak mata seorang perempuan yang terlelap selama satu minggu penuh. Panasnya begitu tajam, memicu denyut nyeri di kepalanya yang terasa remuk.

​Lamat-lamat, kelopak matanya terbuka. Hal pertama yang dirasakannya adalah rasa berat yang menghantam kepalanya, seolah ribuan jarum menusuk sarafnya secara bersamaan. Rambut panjangnya yang berwarna auburn tergerai di atas bantal sutra putih, tampak demikian kontras seperti tumpahan anggur merah di atas salju.

​"Ugh..." Erangan halus terlepas dari bibirnya yang pucat dan pecah-pecah.

​Dia mencoba mengangkat tangan untuk memegang pelipisnya, namun setiap gerakan sekecil apa pun memicu rasa mual yang hebat.

Tubuhnya terasa asing, kaku, dan penuh dengan sisa rasa sakit yang tidak bisa dia jelaskan.

​Dia menatap langit-langit kamar. Ruangan itu begitu tinggi dan mewah, dengan ukiran stucco rumit yang menghiasi sudut-sudutnya. Namun, tidak ada satu pun detail di sana yang memicu percikan memori di otaknya.

Matanya beralih ke jendela besar yang menghadap ke laut biru, lalu ke furnitur antik yang tampak sangat mahal. Semuanya terasa asing. Terlalu asing hingga mencekam.

​"Aku di mana?" bisiknya, suaranya terdengar parau dan nyaris hilang, tertelan oleh kesunyian kamar yang begitu luas.

​Di sudut ruangan yang remang, terpisah dari jangkauan sinar matahari, Lorenzo berdiri mematung. Segelas scotch di tangannya sudah tidak lagi dingin, namun dia tak peduli. Iris mata abu-abunya menyipit, memerhatikan setiap gerak-gerik wanita di ranjang itu dengan penuh kewaspadaan.

"Kamu sudah bangun?" suara Lorenzo terdengar jelas bersama kewaspadaannya yang semakin meningkat.

​Wanita itu mencoba menoleh pada sumber suara. Gerakannya begitu kaku, karena setiap kali dia bergerak tubuhnya terasa semakin remuk.

​"Siapa ... siapa kamu?" lirih wanita itu, matanya berkedip bingung, mencari-cari titik fokus. "Dan kenapa kepalaku?” Dia memegang kepalanya. “Aku tidak ingat kenapa aku di sini."

​Gelas scotch di tangan Lorenzo berhenti bergerak.

​"Kamu tidak ingat siapa aku?" tanyanya.

​Wanita itu menggeleng pelan, air mata mulai menggenang karena rasa sakit dan ketakutan yang mencekam. "Aku tidak ingat namaku. Aku tidak ingat tempat ini. Tolong ... siapa kamu?”

​Lorenzo meletakkan gelasnya di atas meja, kemudian melangkah tenang mendekati ranjang.

​"Tenanglah, Cara (sayang)," ucapnya sembari duduk di tepi ranjang. Dia mengulurkan tangan, membelai rambut sang wanita dengan gerakan posesif. ​"Namamu adalah Allegra. Kamu mengalami kecelakaan hebat. Dokter bilang memori yang hilang adalah hal yang wajar karena benturan keras di kepalamu,” jelasnya dengan ekspresi yang begitu meyakinkan.

​Allegra menatap pria itu, satu-satunya manusia yang ada di dunianya yang kosong saat ini. "Kecelakaan?” ulangnya bingung. Dia benar-benar tidak ingat apa pun. “Lalu kamu ... siapa kamu bagiku?"

​Lorenzo mengecup punggung tangan Allegra, menghirup aroma kulit wanita itu dengan begitu penuh kasih. ​"Aku Lorenzo," bisiknya tepat di depan wajah Allegra sambil mengunci tatapannya. "Dan aku adalah suamimu, Allegra. Kita berdua saling mencintai. Terlebih dirimu. Kamu tergila-gila padaku jauh sebelum kita menikah.”

​Allegra terdiam, membiarkan nama dan penjelasan itu meresap ke dalam benaknya.

Allegra.

Istri Lorenzo.

Dia merasa asing dengan identitas itu. Sungguh.

"Suami?"

​Allegra mengucapkannya dengan nada sangsi. Meski sentuhan pria itu terasa hangat, ada sesuatu di dasar jiwanya yang berteriak, sebuah penolakan yang tidak bisa dia jelaskan. Dia menarik tangannya perlahan, membuat kerutan tipis muncul di dahi Lorenzo.

​"Kalau kamu suamiku," Allegra menatap mata abu-abu itu dengan saksama, "kenapa aku merasa tidak mengenalmu sama sekali? Kenapa ruangan ini, tempat ini ... terasa asing? Dan di mana orang tuaku? Kenapa hanya ada kamu?"

​"Kamu sedang syok, Allegra. Trauma fisik dan mental setelah kecelakaan itu membuatmu mengalami amnesia. Wajar kalau tempat ini terasa asing bagimu," suara Lorenzo terdengar sangat lembut. "Dan tentang orang tuamu ... maafkan aku harus mengatakannya sekarang, tapi mereka sudah tiada sejak dua tahun yang lalu karena kecelakaan pesawat. Sejak saat itu, hanya aku yang dirimu punya. Hanya aku yang menjagamu."

​Allegra tertegun. Berita kematian itu terasa hampa karena dia tidak ingat wajah mereka, namun rasa sesak tetap menghimpit dadanya. "Meninggal? Lalu ... apa yang terjadi saat itu? Kenapa aku bisa kecelakaan?"

​Lorenzo bergeser lebih dekat, tangannya menyentuh bahu Allegra. "Malam itu kita bertengkar hebat karena masalah sepele. Kamu emosional, lalu pergi membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Aku mengejarmu, Allegra. Aku melihat sendiri mobilmu tergelincir dan terjun ke tebing. Aku pikir aku sudah kehilangan kamu selamanya. Tapi syukurlah kamu masih bisa diselamatkan. Aku yang menyelamatkanmu.”

​"Aku tidak percaya," bisik Allegra, matanya mulai berkaca-kaca. "Ini tidak masuk akal. Aku butuh bukti."

​Lorenzo tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak penuh kesabaran. Dia berdiri, berjalan menuju laci meja antik dan mengambil sebuah kotak beludru hitam.

​"Aku tahu sulit bagimu untuk percaya pada orang asing," kata Lorenzo lalu mengeluarkan handphonenya dari saku celana.

​Dia kembali menghampiri tempat tidur, menunjukkan layar pada Allegra. Di sana terlihat slide foto-foto pernikahan yang megah. Allegra mengenakan gaun putih indah, berdiri di depan altar sebuah kapel tua di Sicily. Di sampingnya, Lorenzo tampak gagah, memeluk punggungnya dengan erat. Foto-foto itu terlihat sangat asli, mulai dari detail wajahnya, senyumnya, hingga latar belakang bangunan yang tampak tua.

​Lalu, Lorenzo membuka kotak beludru itu. Sebuah cincin mewah dengan berlian mungil di tengah ada di dalamnya.

​"Lihat jari manis kirimu," perintah Lorenzo lembut.

​Allegra melihat jarinya yang polos dan menemukan bekas luka karena kecelakaan. Lorenzo mengambil tangan Allegra, lalu dengan gerakan perlahan dia menyematkan cincin tersebut. Ukurannya sangat pas. Seolah-olah cincin tersebut memang diciptakan untuk jari lentik Allegra.

​"Cincin ini terlepas saat aku menyelamatkanmu. Dan lihat ini," Lorenzo menunjukkan tangan kirinya sendiri, di mana melingkar sebuah cincin serupa. Bedanya cincin itu polos, khas laki-laki. Dia melepas cincinnya sejenak dan menunjukkan bagian dalamnya pada Allegra. ​Tercetak ukiran halus di sana dengan tulisan ‘Allegra’.

​"Dan di dalam cincinmu," Lorenzo membimbing jemari Allegra untuk meraba bagian dalam cincinnya, "ada namaku. Lorenzo."

​Allegra terpaku melihat bukti-bukti fisik di depan matanya. Foto, cincin, dan bekas luka di tubuhnya seolah membenarkan setiap untaian kata yang keluar dari mulut pria ini. Logikanya mulai menyerah pada kenyataan yang disuguhkan.

​"Kenapa aku merasa sangat sedih saat menatapmu?" bisik Allegra lirih, air matanya akhirnya jatuh.

​Lorenzo merengkuh tubuh Allegra ke dalam pelukannya. Dia membelai punggung Allegra dengan gerakan protektif yang begitu posesif.

​"Itu karena sisa amarahmu malam itu, Cara. Tapi jangan khawatir," bisik Lorenzo di telinga Allegra, lagi-lagi dengan suara yang begitu lembut. "Aku akan membantumu mengingat betapa kita saling mencintai. Aku akan membuat kamu jatuh cinta lagi padaku setiap hari, sampai kamu tidak butuh lagi ingatan lamamu."

​Meski masih dilanda kebingungan hebat, Allegra memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan pria asing yang mengaku sebagai suaminya.

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rika Andikashb
Ini cerita nya kok gitu ya? Gak masuk akal tau, gak ada di ceritain awal mula dia kecelakaan, trus kenapa bisa obses, trus cewe nya kok buat yang baca benci gitu ya sama dia. Masa belum apa” udah ada korban gara” hanya kecemburuan doang? Dan si ceritanya juga macam berbelit” gitu sih menurut aku
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • The Devil's Obsession   Tamat

    Hari-hari pertama memulai pekerjaan sebagai petani anggur, Lorenzo tidak tahu cara mengayunkan cangkul dengan benar. Telapak tangannya yang halus langsung melepuh. Cairan bening keluar dari luka-lukanya, namun dia tidak berhenti. Dia merasa malu jika harus mengeluh di depan Allegra yang terlihat lebih tangguh dari dirinya.​Setiap gerakan Lorenzo terasa kaku. Saat dia mencoba memperbaiki saluran irigasi, dia malah membuat air meluap dan membasahi celananya hingga berlumpur. Dia seringkali berdiri mematung di tengah barisan pohon anggur yang meranggas, memandangdahan-dahan kering itu seolah-olah mereka adalah musuh yang harus dia taklukkan dengan tatapan mata, padahal mereka hanya butuh sentuhan tangan yang ahli.​"Sialan," umpatnya pelan saat punggungnya terasa seolah mau patah setelah dua jam mencangkul. Dia terbiasa dengan kelelahan mental akibat perang saraf mafia, bukan kelelahan otot yang membuat napasnya tersengal-sengal seperti ini. Namun, Lorenzo tidak ingin menyerah. Menjadi

  • The Devil's Obsession   Part 89

    Setelah tiga minggu terombang-ambing di kapal kargo, Lorenzo, Allegra, dan Alessandro mendarat di pelabuhan kecil Bahía Blanca, Argentina. Mereka turun tengah malam lalu menyelinap di antara tumpukan kontainer untuk menghindari petugas pelabuhan. Lorenzo tidak punya rumah mewah yang menunggu. Yang dia miliki hanyalah tas kain berisi uang tunai dalam jumlah besar, beberapa bongkah emas, dan batu berlian.​"Kita tidak punya tempat tujuan, Enzo,” ujar Allegra bingung saat mereka berdiri di pinggir jalan raya yang sepi dan berdebu.​Lorenzo menggeleng, matanya terus waspada memindai sekeliling. "Belum. Tapi kita punya uang, dan di negara ini, uang bisa membeli identitas baru dalam semalam."Lorenzo lalu menyewa sebuah mobil tua dan berkendara menuju Barat, menjauhi hiruk-pikuk ibu kota. Lorenzo sengaja memilih provinsi Mendoza yang jaraknya sekitar lima belas jam perjalanan darat dari Buenos Aires, ibu kota Argentina, sebagai pelarian. Bukan karena dia sudah punya properti di sana, tapi k

  • The Devil's Obsession   Part 88

    Hujan turun seperti air mata yang tumpah dari langit saat mobil yang dikendarai Lorenzo membelah jalan. Lorenzo mengebut dengan tatapan waspada sambil mengawasi kalau ada mobil yang mengikuti di belakangnya. Kalau-kalau Matteo berubah pikiran dan berkhianat.Lorenzo memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi menuju pelabuhan peti kemas di Gioia Tauro. Dia menghindari jalan tol utama, dan lebih memilih jalur tikus yang hanya diketahui oleh para penyelundup. ​"Kenapa kita tidak ke bandara, Enzo?" tanya Allegra dengan suara gemetar sembari memeluk Alessandro yang gelisah dalam tidurnya.​"Bandara adalah jebakan, Cara. Di sana ada kamera biometrik dan petugas yang bisa dibeli. Di pelabuhan kargo, hanya ada uang dan kesetiaan yang bisa disuap," jawab Lorenzo pendek.​Di pelabuhan, Lorenzo menemui kapten kapal. Pria itu pernah dia selamatkan dari eksekusi klan musuh sekitar satu setengah tahun yang lalu. Tanpa paspor, tanpa manifes, Lorenzo menyerahkan jam tangan Patek Philippe seharga ratu

  • The Devil's Obsession   Part 87

    Malam itu, di ruang kerjanya Lorenzo Castellano berdiri mematung. Di atas meja kuno yang telah menjadi saksi bisu ribuan perintah kematian, tergeletak sebuah cincin emas dengan ukiran huruf C, simbol kekuasaan tertinggi klan Castellano.​Pintu terbuka. Matteo masuk dengan langkah tegap, namun wajahnya tampak tegang. Dia sudah mencium aroma kegelisahan sejak satu minggu terakhir.​"Anda memanggil saya, Don?" suara Matteo terdengar.​"Duduklah, Matteo."​Matteo menurut, namun punggungnya tidak menyentuh sandaran kursi. Matanya langsung tertuju pada cincin di atas meja. Jantungnya berdegup kencang. Dalam dunia mereka, cincin yang dilepaskan hanya berarti dua hal, yaitu kematian atau pengkhianatan.​"Satu minggu ini aku tidak bisa menyentuh putraku," Lorenzo memulai. "Setiap kali aku mendekat, Allegra menatapku seolah aku adalah bangkai yang busuk. Dia memanggilku iblis di depan telinga Alessandro."​"Nyonya Allegra sedang emosional, Don. Dia akan luluh seiring berjalannya waktu," sahut M

  • The Devil's Obsession   Part 86

    Lorenzo Castellano tergelak sinis. Dia berdiri dari duduknya. Telapak tangannya menekan meja sambil menatap Belladonna dengan sorot mata yang begitu tajam.​"Kamu memintaku mati, Cara," desisnya. "Tanpa tahta ini, aku hanyalah sasaran empuk. Kamu ingin melihatku digantung di alun-alun kota? Kamu ingin Alessandro melihat kepala ayahnya dikirim dalam kotak kayu oleh klan Valenti?"​Belladonna tidak berkedip. "Aku lebih baik menangisi makam seorang suami yang jujur daripada harus hidup bersamamu tapi jiwaku mati setiap kali kau menyentuhku dengan tangan yang berbau darah keluargaku."​"Jawabannya adalah TIDAK," jawab Lorenzo tegas dengan suara yang begitu keras. "Aku tidak akan membiarkan kalian dalam bahaya hanya karena idealisme butamu."​Belladonna tidak mendebat lagi. Dia hanya menatap Lorenzo dengan tatapan kosong. "Baiklah. Kalau begitu nikmatilah tahtamu yang berdarah itu, Don Lorenzo. Tapi jangan pernah bermimpi untuk menyentuh Alessandro. Jangan pernah berharap bisa mencium bau

  • The Devil's Obsession   Part 85

    Tangis kecil Alessandro membangunkan Belladonna dari tidurnya. Dengan gerakan refleks seorang ibu Belladonna langsung terduduk.“Sshhh... Sayang, Ibu di sini. Ibu di sini," bisik Belladonna lembut. Dia mengangkat Alessandro ke dalam pelukannya lalu menyusuinya.Setelah Alessandro tenang dan kembali terlelap, Belladonna merebahkan anak itu kembali di atas tempat tidur. Dia mengusap pipi putranya sejenak, merasakan kehangatan yang menjadi satu-satunya kekuatannya saat ini.​Saat keluar kamar, dia bertemu dengan Lorenzo yang berdiri di depan pintu entah sejak kapan. ​"Dia kembali tidur?" tanya pria itu.“Iya. Mandilah, Lorenzo," ucap Belladonna dingin tanpa emosi. "Bersihkan aroma alkohol dan kegelapan dari tubuhmu. Aku akan menemuimu di ruang makan dalam tiga puluh menit. Kita akan bicara, dan kau akan mendengar harga yang harus kau bayar untuk kepulanganku."​Lorenzo terdiam, rahangnya mengeras sejenak sebelum dia mengangguk patuh. Sebuah pemandangan langka di mana dia tunduk pada per

  • The Devil's Obsession   Part 76

    Belladonna menghabiskan waktunya di penginapan Assunta. Ia memulihkan kekuatannya sambil terus mendekap Alessandro. Bayi laki-laki tampan itu adalah dunianya yang baru. Setiap gerakan kecil jemari Alessandro atau rengekan lembutnya saat haus menjadi satu-satunya alasan bagi Belladonna untuk tetap

  • The Devil's Obsession   Part 74

    Fiammetta mematung selama beberapa detik. Matanya terpaku pada sosok wanita yang merintih di lantai. ​"Fiammetta! Tunggu apa lagi? Cepat bantu aku!" bentakan Assunta menyentak Fiammetta kembali ke realita.​Fiammetta segera melangkah maju, tangannya yang dingin gemetar saat ia menyusupkan lenganny

  • The Devil's Obsession   Part 68

    ​Lorenzo melepaskan rentetan tembakan ke arah barisan depan, memaksa Alfonso dan Francesco untuk tetap menunduk di balik perlindungan mereka. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Belladonna. Dia kembali berlari. Dia meloncati tumpukan kursi yang terguling. Kakinya yang tanpa alas kini mulai tera

  • The Devil's Obsession   Part 67

    Francesco membeku. Wajah tampannya yang tadi memancarkan arogansi kini memucat, lalu perlahan berubah menjadi merah padam yang mengerikan. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya terlihat jelas. Dia melihat tangannya yang baru saja disentak oleh Belladonna, tangan yang kini terasa kosong da

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status