Beranda / Mafia / The Mafia's Deceptive Bride / BAB 7 - TAWARAN IBLIS

Share

BAB 7 - TAWARAN IBLIS

Penulis: Shiva Jodi
last update Tanggal publikasi: 2025-12-24 22:58:43

Cahaya matahari pagi yang pucat menembus jendela kaca raksasa penthouse Atlas, menyinari debu-debu yang beterbangan di udara yang dingin oleh AC sentral. Bagi dunia luar, hari ini adalah hari Rabu yang biasa. Namun bagi Alana Nareswari, dunia yang ia kenal telah berhenti berputar sejak jam dua dini hari tadi.

Di dinding ruang tengah, sebuah televisi layar datar berukuran raksasa menyala tanpa suara, menampilkan tayangan berita breaking news. Alana berdiri terpaku di depan layar, jemarinya yang masih berbekas luka goresan mencengkeram pinggiran meja marmer hingga buku jarinya memutih.

Gambar di layar itu adalah puing-puing hitam yang masih berasap. Galeri Nareswari. Tempat yang ia bangun dengan tetesan keringat dan cinta, tempat di mana aroma cat minyak biasanya memberikan kedamaian, kini hanya menyisakan kerangka beton yang menyedihkan. Garis polisi kuning melintang di depan fasad yang hancur.

“...diduga akibat hubungan arus pendek listrik yang memicu ledakan di gudang penyimpanan bahan kimia cat,” bunyi teks berjalan di bawah layar. “Pemilik galeri, Alana Nareswari, dilaporkan hilang dan diduga berada di dalam bangunan saat kejadian berlangsung. Pencarian korban masih berlanjut...”

"Kecelakaan arus pendek," bisik Alana, suaranya bergetar karena amarah yang tertahan. "Mereka membakar hidupku dan menyebutnya kecelakaan."

"Itu cara kerja mereka, Alana. Bersih, efisien, dan tidak meninggalkan pertanyaan bagi publik," suara rendah Atlas terdengar dari arah ruang makan.

Alana berbalik dan mendapati Atlas sedang duduk di meja makan panjang berbahan kayu hitam yang dipoles mengkilap. Pria itu tampak sangat segar, seolah peluru yang berdesing di dekat kepalanya beberapa jam lalu hanyalah mimpi buruk yang tidak berarti. Di hadapannya tersaji sepiring steak wagyu yang masih mengepulkan uap, dimasak medium rare dengan sisa darah yang mengumpul di dasar piring.

Atlas memegang pisau dan garpu peraknya dengan posisi yang sangat sempurna, presisi seorang ahli bedah atau mungkin, seorang pembunuh yang terbiasa dengan anatomi. Dia memotong daging itu dengan gerakan lambat dan terukur.

"Duduklah. Kau butuh energi untuk menghadapi apa yang akan datang," perintah Atlas tanpa menatapnya.

Alana berjalan mendekat, namun ia tidak duduk. Dia berdiri di ujung meja, menatap Atlas dengan tatapan menuntut. "Siapa 'mereka', Atlas? Konsorsium Varma? Dan kenapa polisi berbohong? Kenapa mereka tidak mencariku dengan benar?"

Atlas meletakkan pisaunya, menimbulkan denting pelan yang bergema di ruangan yang sunyi itu. Dia menatap Alana dengan mata kelamnya yang datar. "Karena polisi yang menangani kasusmu berada di bawah penggajian Varma. Komandan Reza yang kau lihat semalam hanyalah salah satu pion. Varma tidak ingin kau ditemukan sebagai korban; mereka ingin kau tetap 'hilang' sampai mereka bisa membawamu secara diam-diam. Saat ini, fotomu sudah tersebar di setiap terminal keberangkatan, pelabuhan tikus, hingga stasiun kereta api. Kau adalah target paling dicari di Asia Tenggara, Alana. Bukan oleh hukum, tapi oleh mereka yang berada di atas hukum."

Rasa dingin menjalar di punggung Alana. "Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang pelukis."

"Kau adalah putri dari 'The Cleaner'. Dan kau memegang Buku Besar yang bisa mengirim setengah dari elit politik dan bisnis negeri ini ke tiang gantungan atau penjara seumur hidup," Atlas memotong sepotong kecil daging dan menyuapkannya ke mulut dengan tenang. "Di mata Varma, kau bukan lagi manusia. Kau adalah sebuah risiko yang harus dieliminasi atau diamankan."

"Aku tidak bisa terus bersembunyi di sini!" seru Alana frustrasi, suaranya meninggi hingga mencapai nada histeris. "Aku punya hidup! Aku punya pameran bulan depan, aku punya teman-teman yang akan mengkhawatirkanku, aku punya..."

"Kau tidak punya apa-apa lagi!" potong Atlas, suaranya tidak keras namun penuh otoritas yang membungkam Alana seketika. "Ayahmu mati karena dia mengkhianati mereka. Galerimu hangus karena mereka ingin menghapus jejakmu. Identitasmu sebagai Alana Nareswari sudah tamat saat ledakan itu terjadi. Jika kau melangkah keluar dari pintu depan gedung ini sekarang, aku berani bertaruh dalam sepuluh menit kau akan berakhir di dalam bagasi mobil dengan leher terikat."

Alana terdiam, kakinya terasa lemas. Dia merosot ke kursi di hadapan Atlas, menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya. Air mata kemarahan dan keputusasaan mulai mengalir, membasahi tangannya. "Lalu apa maumu? Kau menyelamatkanku, kau membawaku ke sini... Kau pasti punya harga yang harus kubayar."

Atlas meletakkan serbet di samping piringnya. Dia berdiri, gerakannya anggun namun mengancam seperti macan tutul yang sedang mendekati mangsanya. Dia berjalan memutari meja panjang itu, langkah kakinya tidak terdengar sama sekali di atas lantai marmer. Atlas berhenti tepat di belakang kursi Alana.

Dia membungkuk sedikit, cukup dekat sehingga Alana bisa mencium aroma maskulin yang dingin—campuran kayu cendana dan samar-samar bau logam. Nafasnya terasa hangat di tengkuk Alana, kontras dengan kedinginan yang terpancar dari kata-katanya.

"Aku punya cara untuk membuatmu tidak tersentuh," bisik Atlas. "Sebuah perlindungan yang bahkan Konsorsium Varma tidak akan berani mendobraknya tanpa memicu perang yang tidak mampu mereka bayar."

Alana menahan nafas. "Apa itu?"

"Menjadi bagian dari keluarga yang kuat. Secara hukum, secara status, dan secara perlindungan fisik. Aku ingin kau menikahiku."

Alana tersentak, hampir melompat dari kursinya. Dia berbalik dengan cepat, menatap Atlas seolah pria itu baru saja menumbuhkan kepala kedua. Dia tertawa, sebuah tawa getir yang terdengar hampir seperti isak tangis.

"Menikah? Kau pasti bercanda! Kita baru bertemu di tengah hujan peluru beberapa jam yang lalu! Aku bahkan tidak tahu nama belakangmu, aku tidak tahu apa pekerjaanmu yang sebenarnya, dan kau memintaku menikah?"

Atlas tidak bereaksi terhadap ledakan emosi Alana. Dia menarik sebuah kursi di samping Alana dan duduk dengan sikap santai, menyatukan jemarinya di depan dada. "Ini bukan tentang cinta, Alana. Jangan terlalu romantis. Ini tentang diplomasi dan aset. Jika kau menjadi istriku, kau akan mendapatkan nama belakang baru. Identitas baru yang dilindungi oleh firma hukum internasional milik keluargaku dan kekebalan yang datang bersama namaku."

"Kenapa harus pernikahan?" tanya Alana dengan nada curiga yang kental.

"Karena di dunia kami, kontrak darah adalah satu-satunya yang diakui. Sebagai istriku, secara hukum kau berada di bawah perlindunganku. Varma tidak bisa menyentuhmu tanpa menyerangku secara langsung. Dan percayalah, mereka belum siap untuk itu. Kau akan tinggal di kediaman yang lebih aman dari bunker militer mana pun di negara ini. Kau akan bebas melukis, bebas bernafas, selama kau berada di bawah bayang-bayangku."

Alana menyipitkan mata, mencoba mencari celah di balik wajah topeng Atlas. "Dan imbalannya? Kau tidak melakukan ini karena belas kasihan."

Atlas mengangguk tipis, menghargai kejujuran pahit itu. "Tentu saja tidak. Sebagai imbalannya, kau akan memberiku akses penuh ke Buku Besar itu. Aku ingin kau membantu mendeskripsi kode-kode yang mungkin hanya diketahui olehmu atau ayahmu. Aku membutuhkan informasi di dalamnya untuk mengamankan posisiku sendiri."

"Kau memanfaatkanku," desis Alana. "Kau hanya ingin buku itu. Kau tidak lebih baik dari mereka yang membakar galeriku."

Atlas mencondongkan tubuh, matanya yang tajam mengunci pandangan Alana hingga gadis itu tidak bisa berpaling. "Bedanya adalah, aku menyelamatkan nyawamu sementara mereka ingin mengakhirinya. Pikirkan baik-baik, Nona Nareswari. Kau bisa memilih untuk menjadi istri dari seorang pria misterius yang bisa menjamin keselamatanmu, atau kau bisa keluar dari sini dan menjadi mayat tanpa nama di gang sampah dalam hitungan jam. Pilihan ada di tanganmu."

Atlas berdiri, merapikan kaosnya yang tanpa lipatan. "Aku akan memberimu waktu sampai matahari terbenam untuk memutuskan. Jika kau setuju, pengacaraku akan datang membawa dokumen identitas barumu. Jika tidak... aku akan memberimu uang tunai yang cukup untuk bertahan hidup selama empat puluh delapan jam di jalanan sebelum mereka menemukanmu. Jangan harap aku akan menyelamatkanmu untuk kedua kalinya."

Dengan itu, Atlas melangkah pergi, meninggalkan Alana dalam keheningan yang menyesakkan.

Alana menatap ke luar jendela. Matahari mulai meninggi, menyinari kota Jakarta yang luas dan kejam. Di bawah sana, ribuan orang menjalani hidup mereka dengan normal, tidak tahu bahwa di atas mereka, seorang wanita sedang menimbang harga dari sebuah kebebasan.

Dia teringat Buku Besar yang disembunyikannya di kamar semalam. Inisial V.S. yang misterius. Jika dia menikah dengan Atlas, apakah dia akan selangkah lebih dekat dengan pembunuh ayahnya? Ataukah dia justru sedang melompat dari mulut serigala ke dalam pelukan naga?

Rasa sakit di hatinya karena kehilangan ayahnya perlahan mengeras, membeku menjadi sebuah tekad yang gelap. Ayahnya mati untuk buku itu. Ayahnya ingin dia hidup. Jika satu-satunya cara untuk bertahan hidup dan membalas dendam adalah dengan menjual jiwanya kepada iblis bernama Atlas, maka biarlah begitu.

Alana menatap pantulan dirinya di jendela kaca. Wajahnya yang pucat, rambutnya yang berantakan, dan matanya yang kini memancarkan kebencian yang mendalam. Alana Nareswari yang lembut dan mencintai seni sudah mati di dalam galeri yang terbakar itu.

Saat senja mulai menyemburat di ufuk barat, mewarnai langit dengan warna merah darah yang sama dengan steak di piring Atlas tadi, Alana berdiri. Dia tidak lagi gemetar. Dia berjalan menuju ruang kerja Atlas dengan langkah yang mantap.

Dia akan menandatangani kontrak itu. Dia akan menjadi istri dari pria yang tidak dikenalnya. Bukan karena dia takut mati, tapi karena dia ingin tetap hidup cukup lama untuk melihat Konsorsium Varma hancur berkeping-keping, tidak peduli apa yang harus dia korbankan.

Tawaran iblis itu telah diterima. Dan mulai malam ini, permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (5)
goodnovel comment avatar
Spider Lily
Emang boleh sat set gini langsung ngajak nikah? [laugh] Demi keamanan Alana juga si ini tapi aksks
goodnovel comment avatar
Shiva Jodi
Mendadak nikah ...
goodnovel comment avatar
Lyineva
Nah! pilihan bagus. Seenggaknya tetep hidup
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 7: Intuisi (flashback)

    Suara wanita di telepon itu seperti embusan angin dari kubur—dingin, berwibawa, dan memiliki aksen aristokrat yang ganjil. Alana membeku di tengah ruko Petojo yang remang-remang. Di hadapannya, monitor besar menunjukkan hitungan mundur yang kini menyisakan delapan menit tiga puluh detik."Siapa kau?" bisik Alana. Tangannya yang bersimbah keringat mencengkeram ponsel itu hingga buku jarinya memutih."Aku adalah alasan kenapa ayahmu membangun labirin ini, Alana," suara itu menjawab datar. "Aku adalah subjek dari potret yang kau kupas di usia delapan tahun. Berhenti menatap layar. Layar adalah distraksi. Layar adalah estetika palsu yang ingin membelokkan tujuanmu."Alana berpaling dari monitor. Dia memaksakan otaknya untuk kembali ke mode kurator. Dia harus melihat lapisan di balik situasi ini. "Kau bilang ada lapisan kesembilan. Ayah hanya mengajariku sampai delapan. 3-5-8.""Karena angka delapan adalah penyelesaian bagi orang luar, tapi bagi seorang Kurator, delapan adalah awal dari de

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 6: Ghost Riding (flashback)

    Malam di pinggiran Jakarta tidak pernah benar-benar gelap, kecuali di kawasan industri tua yang terlupakan oleh pembangunan. Alana mencengkeram kemudi sebuah sedan tua yang dia curi dari area konstruksi, mobil yang tidak mencolok untuk menjadi hantu. Di sampingnya, tas pemberian ayahnya terasa seperti bom waktu yang siap meledak.Pesan di ponsel itu terus berkedip di kepalanya. Lima jam.Dia sedang menuju ruko di Petojo, namun spion tengahnya menangkap dua pasang lampu xenon yang bergerak dengan kecepatan tidak wajar di belakangnya. Mereka menemukannya. Musuh ayahnya tidak menggunakan pelacak GPS konvensional; mereka menggunakan jaringan pengawas kota yang sudah mereka retas."Pelajaran keenam, Alana," suara ayahnya bergema dalam ingatan, sejelas bisikan di telinganya. "Jika mereka bisa melihatmu, mereka bisa membunuhmu. Seni menghilang bukan tentang menjadi transparan, tapi tentang menyatu dengan kegelapan hingga kau menjadi kegelapan itu sendiri."Alana membelokkan mobil ke arah jal

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 5: Misteri 3-5-8 (flashback)

    Telinga Alana berdenging. Suara Mercedes yang menghantam pintu depan paviliun terdengar seperti ledakan artileri di ruang tertutup. Bubuk putih dari sistem pemadam api menari-nari di udara, menciptakan selimut kabut yang menyesakkan. Pria di atasnya tersentak, perhatiannya teralih selama satu detik oleh hanturan logam di depan sana—dan Alana hanya memerlukan satu detik.Alana menghantamkan tumit sepatunya ke tulang kering pria itu, lalu menyikut ulu hatinya dengan kekuatan penuh. Cengkeraman di pergelangan kakinya mengendur. Alana merangkak dengan kalap, jemarinya menyambar lembaran kertas transparan yang tergeletak di lantai marmer yang licin, lalu dia menghilang ke dalam kegelapan di balik rak buku antik."Alana! Masuk!"Itu suara ayahnya. Tuan Danu tidak keluar dari mobil. Mercedes perak itu menderu di ambang pintu yang hancur, lampu depannya yang retak menembus kabut kimia seperti mata monster yang marah.Alana melompat ke kursi penumpang tepat saat pria bersenjata itu melepaskan

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 4: Di Balik Sebuah Kanvas (flashback)

    Bau lem kanvas yang menyengat dan aroma kayu mahoni baru memenuhi galeri pribadi yang baru saja selesai dibangun di paviliun belakang rumah mereka. Alana, yang kini menginjak usia empat belas tahun, berdiri di tengah ruangan yang diterangi lampu sorot presisi. Ini adalah "Galeri Alana"—setidaknya itu yang tertulis di plakat perunggu di depan pintu. Namun, bagi Alana, tempat ini terasa lebih seperti ruang interogasi estetika daripada ruang pameran.Tuan Danu berdiri di depan sebuah lukisan lanskap klasik karya pelukis lokal yang namanya tidak pernah terdengar di balai lelang besar. Lukisan itu membosankan; hanya pemandangan sawah dan gunung dengan teknik pewarnaan yang medioker."Kenapa kita memajang ini, Pa?" Alana bertanya, tangannya menyilang di dada. "Ini tidak memiliki nilai kurasi. Teknik sapuannya kasar, perspektifnya meleset di bagian cakrawala. Ini sampah yang dibingkai mahal."Danu menoleh, memberikan senyuman tipis yang kini sering Alana artikan sebagai tanda bahwa dia baru

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 3: Mesin dan Estetika

    Dunia Alana tidak pernah tentang taman bermain. Sementara anak-anak seusianya asyik bermain sepeda roda tiga dengan rumbai-rumbai di stangnya, Alana menghabiskan waktunya di sebuah sirkuit pribadi di pinggiran Bogor, tersembunyi di balik barisan pohon mahoni raksasa. Udara di sana tidak berbau bunga; tetapi campuran memabukkan dari bensin oktan tinggi, ban yang terbakar, dan oli mesin yang panas.Di depannya saat itu terparkir sebuah Mercedes-Benz W124 E-Class berwarna perak metalik. Di tangan yang tepat, mobil itu akan menjadi tank yang mematikan."Masuk, Alana," perintah Tuan Danu. Alana, yang kini berusia dua belas tahun, memanjat ke kursi pengemudi. Kakinya nyaris tidak sampai ke pedal, tetapi ganjalan khusus yang dipasang mekanik ayahnya membuat semuanya terasa pas. Setahun lagi Alana akan menjadi lebih tinggi sehingga pas dengan interior kendaraan."Ayah, aku belum bisa melihat melewati dasbor dengan jelas," protes Alana, tangannya mencengkeram kemudi kulit yang dingin."Seoran

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 2: Sekolah Diplomat (flashback)

    "Kenapa aku tidak punya seragam seperti anak-anak di TV, Pa?"Alana, sepuluh tahun, berdiri di depan cermin besar di lorong rumah aman mereka yang baru di pinggiran Jakarta. Dia mengenakan blazer wol abu-abu yang dijahit khusus oleh penjahit pribadi ayahnya, potongan yang terlalu kaku dan dewasa untuk anak seusianya. Di tangannya bukan tas punggung berwarna cerah bergambar kartun, melainkan sebuah koper kulit kecil berisi jurnal sketsa, satu set pensil grafit, dan sebuah kamera Leica tua yang berat.Tuan Danu muncul di belakangnya, bayangannya menjulang tinggi di cermin. Dia merapikan kerah Alana dengan gerakan mekanis yang tidak menyisakan ruang untuk kehangatan. "Kau sedang menempuh kurikulum diplomat khusus, Alana. Sekolah umum hanya mengajarkan cara menjadi bagian dari kerumunan—menjadi rata-rata. Ayah mengajarimu cara menguasai kerumunan itu tanpa pernah menjadi bagian darinya.”Sekolah Alana bukanlah gedung dengan papan tulis, bel istirahat, dan bau kapur. "Kelasnya" adalah enti

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 82 - Refleks

    Ledakan itu melempar tubuh mereka ke dalam kegelapan yang pekat. Suara berdenging panjang memenuhi gendang telinga Alana, mengubur suara reruntuhan beton yang jatuh di sekitar mereka. Ia merasa sesak. Debu mesiu dan semen memenuhi paru-parunya."Alana! Kau bisa mendengarku?"Suara i

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 81 - Amnesia

    Cahaya putih dari perangkat laser itu perlahan memudar, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam lab bawah tanah Marina. Atlas masih berlutut di samping meja operasi, jemarinya meremas tangan Alana yang kini terasa hangat—kehangatan manusiawi yang sudah lama tidak ia rasakan. Di layar mo

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 80 - Labirin Marina Bay

    Pintu lift terbuka dengan desis hidrolik yang halus, menyingkap sebuah lorong panjang yang diterangi lampu ultraviolet pucat. Di bawah kemegahan kasino dan hotel Marina Bay Sands, terdapat labirin beton yang tidak terjamah peta sipil. Atlas melangkah keluar sambil tetap menggendong Alana, diikuti

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 79 - Pelarian ke Singapura

    Atlas merasakan paru-parunya seperti akan meledak saat cengkeraman Alana akhirnya terlepas. Istrinya jatuh lunglai ke dalam dekapannya, kepalanya terkulai lemas dengan sisa pendar biru yang meredup di balik kelopak mata yang terpejam. Cairan penenang yang disuntikkan Atlas bekerja cepat, mematika

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status