LOGINCahaya matahari pagi yang pucat menembus jendela kaca raksasa penthouse Atlas, menyinari debu-debu yang beterbangan di udara yang dingin oleh AC sentral. Bagi dunia luar, hari ini adalah hari Rabu yang biasa. Namun bagi Alana Nareswari, dunia yang ia kenal telah berhenti berputar sejak jam dua dini hari tadi.
Di dinding ruang tengah, sebuah televisi layar datar berukuran raksasa menyala tanpa suara, menampilkan tayangan berita breaking news. Alana berdiri terpaku di depan layar, jemarinya yang masih berbekas luka goresan mencengkeram pinggiran meja marmer hingga buku jarinya memutih. Gambar di layar itu adalah puing-puing hitam yang masih berasap. Galeri Nareswari. Tempat yang ia bangun dengan tetesan keringat dan cinta, tempat di mana aroma cat minyak biasanya memberikan kedamaian, kini hanya menyisakan kerangka beton yang menyedihkan. Garis polisi kuning melintang di depan fasad yang hancur. “...diduga akibat hubungan arus pendek listrik yang memicu ledakan di gudang penyimpanan bahan kimia cat,” bunyi teks berjalan di bawah layar. “Pemilik galeri, Alana Nareswari, dilaporkan hilang dan diduga berada di dalam bangunan saat kejadian berlangsung. Pencarian korban masih berlanjut...” "Kecelakaan arus pendek," bisik Alana, suaranya bergetar karena amarah yang tertahan. "Mereka membakar hidupku dan menyebutnya kecelakaan." "Itu cara kerja mereka, Alana. Bersih, efisien, dan tidak meninggalkan pertanyaan bagi publik," suara rendah Atlas terdengar dari arah ruang makan. Alana berbalik dan mendapati Atlas sedang duduk di meja makan panjang berbahan kayu hitam yang dipoles mengkilap. Pria itu tampak sangat segar, seolah peluru yang berdesing di dekat kepalanya beberapa jam lalu hanyalah mimpi buruk yang tidak berarti. Di hadapannya tersaji sepiring steak wagyu yang masih mengepulkan uap, dimasak medium rare dengan sisa darah yang mengumpul di dasar piring. Atlas memegang pisau dan garpu peraknya dengan posisi yang sangat sempurna, presisi seorang ahli bedah atau mungkin, seorang pembunuh yang terbiasa dengan anatomi. Dia memotong daging itu dengan gerakan lambat dan terukur. "Duduklah. Kau butuh energi untuk menghadapi apa yang akan datang," perintah Atlas tanpa menatapnya. Alana berjalan mendekat, namun ia tidak duduk. Dia berdiri di ujung meja, menatap Atlas dengan tatapan menuntut. "Siapa 'mereka', Atlas? Konsorsium Varma? Dan kenapa polisi berbohong? Kenapa mereka tidak mencariku dengan benar?" Atlas meletakkan pisaunya, menimbulkan denting pelan yang bergema di ruangan yang sunyi itu. Dia menatap Alana dengan mata kelamnya yang datar. "Karena polisi yang menangani kasusmu berada di bawah penggajian Varma. Komandan Reza yang kau lihat semalam hanyalah salah satu pion. Varma tidak ingin kau ditemukan sebagai korban; mereka ingin kau tetap 'hilang' sampai mereka bisa membawamu secara diam-diam. Saat ini, fotomu sudah tersebar di setiap terminal keberangkatan, pelabuhan tikus, hingga stasiun kereta api. Kau adalah target paling dicari di Asia Tenggara, Alana. Bukan oleh hukum, tapi oleh mereka yang berada di atas hukum." Rasa dingin menjalar di punggung Alana. "Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang pelukis." "Kau adalah putri dari 'The Cleaner'. Dan kau memegang Buku Besar yang bisa mengirim setengah dari elit politik dan bisnis negeri ini ke tiang gantungan atau penjara seumur hidup," Atlas memotong sepotong kecil daging dan menyuapkannya ke mulut dengan tenang. "Di mata Varma, kau bukan lagi manusia. Kau adalah sebuah risiko yang harus dieliminasi atau diamankan." "Aku tidak bisa terus bersembunyi di sini!" seru Alana frustrasi, suaranya meninggi hingga mencapai nada histeris. "Aku punya hidup! Aku punya pameran bulan depan, aku punya teman-teman yang akan mengkhawatirkanku, aku punya..." "Kau tidak punya apa-apa lagi!" potong Atlas, suaranya tidak keras namun penuh otoritas yang membungkam Alana seketika. "Ayahmu mati karena dia mengkhianati mereka. Galerimu hangus karena mereka ingin menghapus jejakmu. Identitasmu sebagai Alana Nareswari sudah tamat saat ledakan itu terjadi. Jika kau melangkah keluar dari pintu depan gedung ini sekarang, aku berani bertaruh dalam sepuluh menit kau akan berakhir di dalam bagasi mobil dengan leher terikat." Alana terdiam, kakinya terasa lemas. Dia merosot ke kursi di hadapan Atlas, menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya. Air mata kemarahan dan keputusasaan mulai mengalir, membasahi tangannya. "Lalu apa maumu? Kau menyelamatkanku, kau membawaku ke sini... Kau pasti punya harga yang harus kubayar." Atlas meletakkan serbet di samping piringnya. Dia berdiri, gerakannya anggun namun mengancam seperti macan tutul yang sedang mendekati mangsanya. Dia berjalan memutari meja panjang itu, langkah kakinya tidak terdengar sama sekali di atas lantai marmer. Atlas berhenti tepat di belakang kursi Alana. Dia membungkuk sedikit, cukup dekat sehingga Alana bisa mencium aroma maskulin yang dingin—campuran kayu cendana dan samar-samar bau logam. Nafasnya terasa hangat di tengkuk Alana, kontras dengan kedinginan yang terpancar dari kata-katanya. "Aku punya cara untuk membuatmu tidak tersentuh," bisik Atlas. "Sebuah perlindungan yang bahkan Konsorsium Varma tidak akan berani mendobraknya tanpa memicu perang yang tidak mampu mereka bayar." Alana menahan nafas. "Apa itu?" "Menjadi bagian dari keluarga yang kuat. Secara hukum, secara status, dan secara perlindungan fisik. Aku ingin kau menikahiku." Alana tersentak, hampir melompat dari kursinya. Dia berbalik dengan cepat, menatap Atlas seolah pria itu baru saja menumbuhkan kepala kedua. Dia tertawa, sebuah tawa getir yang terdengar hampir seperti isak tangis. "Menikah? Kau pasti bercanda! Kita baru bertemu di tengah hujan peluru beberapa jam yang lalu! Aku bahkan tidak tahu nama belakangmu, aku tidak tahu apa pekerjaanmu yang sebenarnya, dan kau memintaku menikah?" Atlas tidak bereaksi terhadap ledakan emosi Alana. Dia menarik sebuah kursi di samping Alana dan duduk dengan sikap santai, menyatukan jemarinya di depan dada. "Ini bukan tentang cinta, Alana. Jangan terlalu romantis. Ini tentang diplomasi dan aset. Jika kau menjadi istriku, kau akan mendapatkan nama belakang baru. Identitas baru yang dilindungi oleh firma hukum internasional milik keluargaku dan kekebalan yang datang bersama namaku." "Kenapa harus pernikahan?" tanya Alana dengan nada curiga yang kental. "Karena di dunia kami, kontrak darah adalah satu-satunya yang diakui. Sebagai istriku, secara hukum kau berada di bawah perlindunganku. Varma tidak bisa menyentuhmu tanpa menyerangku secara langsung. Dan percayalah, mereka belum siap untuk itu. Kau akan tinggal di kediaman yang lebih aman dari bunker militer mana pun di negara ini. Kau akan bebas melukis, bebas bernafas, selama kau berada di bawah bayang-bayangku." Alana menyipitkan mata, mencoba mencari celah di balik wajah topeng Atlas. "Dan imbalannya? Kau tidak melakukan ini karena belas kasihan." Atlas mengangguk tipis, menghargai kejujuran pahit itu. "Tentu saja tidak. Sebagai imbalannya, kau akan memberiku akses penuh ke Buku Besar itu. Aku ingin kau membantu mendeskripsi kode-kode yang mungkin hanya diketahui olehmu atau ayahmu. Aku membutuhkan informasi di dalamnya untuk mengamankan posisiku sendiri." "Kau memanfaatkanku," desis Alana. "Kau hanya ingin buku itu. Kau tidak lebih baik dari mereka yang membakar galeriku." Atlas mencondongkan tubuh, matanya yang tajam mengunci pandangan Alana hingga gadis itu tidak bisa berpaling. "Bedanya adalah, aku menyelamatkan nyawamu sementara mereka ingin mengakhirinya. Pikirkan baik-baik, Nona Nareswari. Kau bisa memilih untuk menjadi istri dari seorang pria misterius yang bisa menjamin keselamatanmu, atau kau bisa keluar dari sini dan menjadi mayat tanpa nama di gang sampah dalam hitungan jam. Pilihan ada di tanganmu." Atlas berdiri, merapikan kaosnya yang tanpa lipatan. "Aku akan memberimu waktu sampai matahari terbenam untuk memutuskan. Jika kau setuju, pengacaraku akan datang membawa dokumen identitas barumu. Jika tidak... aku akan memberimu uang tunai yang cukup untuk bertahan hidup selama empat puluh delapan jam di jalanan sebelum mereka menemukanmu. Jangan harap aku akan menyelamatkanmu untuk kedua kalinya." Dengan itu, Atlas melangkah pergi, meninggalkan Alana dalam keheningan yang menyesakkan. Alana menatap ke luar jendela. Matahari mulai meninggi, menyinari kota Jakarta yang luas dan kejam. Di bawah sana, ribuan orang menjalani hidup mereka dengan normal, tidak tahu bahwa di atas mereka, seorang wanita sedang menimbang harga dari sebuah kebebasan. Dia teringat Buku Besar yang disembunyikannya di kamar semalam. Inisial V.S. yang misterius. Jika dia menikah dengan Atlas, apakah dia akan selangkah lebih dekat dengan pembunuh ayahnya? Ataukah dia justru sedang melompat dari mulut serigala ke dalam pelukan naga? Rasa sakit di hatinya karena kehilangan ayahnya perlahan mengeras, membeku menjadi sebuah tekad yang gelap. Ayahnya mati untuk buku itu. Ayahnya ingin dia hidup. Jika satu-satunya cara untuk bertahan hidup dan membalas dendam adalah dengan menjual jiwanya kepada iblis bernama Atlas, maka biarlah begitu. Alana menatap pantulan dirinya di jendela kaca. Wajahnya yang pucat, rambutnya yang berantakan, dan matanya yang kini memancarkan kebencian yang mendalam. Alana Nareswari yang lembut dan mencintai seni sudah mati di dalam galeri yang terbakar itu. Saat senja mulai menyemburat di ufuk barat, mewarnai langit dengan warna merah darah yang sama dengan steak di piring Atlas tadi, Alana berdiri. Dia tidak lagi gemetar. Dia berjalan menuju ruang kerja Atlas dengan langkah yang mantap. Dia akan menandatangani kontrak itu. Dia akan menjadi istri dari pria yang tidak dikenalnya. Bukan karena dia takut mati, tapi karena dia ingin tetap hidup cukup lama untuk melihat Konsorsium Varma hancur berkeping-keping, tidak peduli apa yang harus dia korbankan. Tawaran iblis itu telah diterima. Dan mulai malam ini, permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.Layar Buku Besar berkedip merah. Kode BAP (Batal Akses Pusat) menyala, mengeksekusi perintah yang selama ini terkunci rapat."Tekan, Alana! Hancurkan semuanya!" Atlas berteriak di tengah desingan peluru.Alana menekan tombol eksekusi. Brak! Lampu LED utama di perapian Tulus meledak, menghujani ruangan dengan pecahan kristal dan kegelapan total. Suara tempur Kolektif menggema, beradu dengan teriakan Atlas."Ke depan, Alana! Pintu keluar utara! Tulus mati!" Atlas menarik lengan Alana kasar, menyeretnya melewati mayat Tulus yang terkapar di beton berminyak. Bau amis ikan asin dan tembaga panas menyerbu indra."Ambil ini!" Alana menyambar pistol Atlas di tanah, mengisi ulang amunisi dengan gerakan mekanis yang didorong adrenalin. "Kita ke belakang gudang pendingin! Cepat!""Jangan buang peluru! Fokus ke exfil!"Mereka meluncur melewati barisan rak jurnal lama, menembus pintu layanan sempit tepat saat gerombolan Kolektif menjebol gerbang depan. Di luar, sebuah mobil lapis baja Nomad menung
“Alana,” suara Atlas parau, tangannya masih menggenggam kemudi yang bergetar, “kalau kau masih punya keraguan, katakan sekarang. Jangan setelah aku banting setir ini.”“Aku tidak ragu,” jawab Alana pelan, matanya menatap jalan gelap di depan. “Aku hanya sedang menghitung berapa banyak yang akan hilang malam ini.”“Hitunganmu selalu akurat,” Atlas tertawa singkat, pahit. “Tapi untuk sekali ini, aku berharap kau salah.”“Terlalu banyak nyawa bergantung pada kesalahan,” balas Alana. “Belok ke kanan. Terowongan sanitasi itu.”“Kau yakin itu masih bisa dilewati?” Atlas menurunkan kecepatan. “Tempat itu sudah mati puluhan tahun.”“Justru karena itu,” jawab Alana. “Yang mati tidak diawasi.”Mobil mereka meluncur masuk ke lorong beton sempit. Suara tembakan memantul, lalu menghilang. Hanya suara mesin dan napas mereka yang tersisa.Atlas menghela napas panjang. “Kita lolos untuk sementara. Tapi jangan bohongi aku. Mereka tidak akan berhenti.”“Aku tidak berniat membohongimu,” kata Alana. “Co
“Lindungi aku, Atlas!” Matriark berteriak ke arahnya. Ini adalah ujian terakhir yang tidak diharapkan siapa pun.Kaca-kaca mozaik patriars di atas Alana meledak lalu terjun bebas dalam kepingan seribu cahaya, saat tembakan dari drone Agra memecah kubah batu tua. Lantai batu pualam kuno di bawah kakinya bergetar, memicu jeritan yang bergema di sepanjang koridor katedral. Bau debu kapur bercampur dengan aroma dupa. Atlas sudah memerintahkan empat tim Nomar Watch untuk mengunci perimeter, tetapi serangan Agra kali ini didalangi sangat cerdik, menembus lapisan keamanan pertama.“Aku bukan Atlas, Matriark Varma.” Alana menyahut. Dia mencengkeram lengan Matriark yang keriput dan penuh perhiasan, menarik wanita tua itu ke belakang pilar batu altar. Kecepatan aksi tersebut hasil dari minggu-minggu pelatihan keras Atlas di bunker.“Perhatikan suamimu yang kurang ajar, Alana! Posisikan diri Anda. Lindungi saya!” Matriark berteriak, lalu tenang kembali. Dia panik karena Alana tak berbuat apa-apa
“Lari! Kita tidak bisa melawan Collective sekarang. Bukan di tempat yang sama yang ingin dibom Agra!”Kaca mobil balistik Nomar itu bergesekan mematikan dengan beton seiring mereka melaju ke jalur menurun tajam. Mesin mobil menderu hebat di dalam lorong yang sempit dan gelap. Debu, asap, dan suara bubuk mesiu di luar terputus mendadak saat pintu beton setebal dua meter menutup di belakang mereka dengan suara mekanis yang berat. Mereka berada di bawah parking deck 4B, terisolasi dari dunia.Atlas segera menyalakan lampu internal mobil, memancarkan warna amber samar yang memotong kegelapan mutlak. Rasa bau apak, semen, dan minyak mesin bekas menempel kuat di udara panas yang sesak. Alana menghentikan mobil di ujung landasan.Ia menghela napas yang kasar, memejamkan mata, mengizinkan adrenalinnya memudar sedikit demi sedikit. Rasa kedinginan karena berhadapan dengan wanita Kolektif itu, rasa terancam yang lebih tajam daripada ancaman Agra, kini menetap di punggungnya. Mereka hampir terbu
Alana memandangi layarnya, tangannya gemetar sedikit. Kepada siapa Atlas berjanji tidak akan pernah menyentuhnya? Kini seluruh dunia kejam itu sudah datang. Alana mengangguk, sorot mata penuh bahaya. "The Collective sudah tiba. Mereka tidak akan menunggu, Tuan Atlas. Dan sepertinya mereka sudah tahu alamat rumah aman ini." Atlas segera bangkit, gerakan mendadak membuat lukanya terasa perih, tetapi ia mengabaikannya. Dia merebut datapad yang berkedip merah terang itu, menganalisis pola enkripsi. "Hong Kong. Cerdas. Jaringan rahasia yang tidak dapat dilacak Matriark, dan yang pasti dideteksi oleh semua Varma yang memiliki pengamat global. Bagaimana mereka tahu Safe House Beta-Tunggal?" "Itu tidak penting. Yang penting, Matriark akan mengabaikan panggilan itu, dan Agra pasti sudah mendengar panggilan itu," Alana menjelaskan, nadanya cepat. Dia sudah merangkai benang pengkhianatan dalam beberapa detik. "Agra akan tahu Nomar Barumu menghadapi bahaya global. Itu memicu keputusasaannya."
“Atlas, kita dijebak, cepat! Bawa aku lari, sekarang!” seru Alana.Lampu-lampu marmer yang menyinari lorong Ruang Mediasi Varma mati total, seolah ada tangan yang secara kejam menarik sumbunya. Kegelapan mutlak turun dalam waktu sepersekian detik, diselingi oleh bunyi senapan otomatis yang ditarik dari jarak tiga meter.Alana tidak membuang waktu. Dalam gelap, Matriark Varma berseru: “Maya, bawa pergi dokumennya! Nomar, keluar!”Kekacauan itu adalah lapisan kegembiraan murni yang kejam di tengah kepanikan. Adrenalin, selalu datang disajikan di piring paling brutal.Atlas tidak bicara. Ia bergerak. Tangan kanannya, meskipun perih karena luka yang belum sepenuhnya pulih, mencengkeram lengan atas Alana dengan cengkeraman baja. Dia menarik Alana melalui pintu samping tersembunyi, jalur evakuasi Matriark Varma yang telah ia pelajari sebelum malam itu.Tembakan menyalak di belakang mereka. Itu adalah peringatan dari Faksi Agra, tetapi jaraknya







