LOGIN"Ah benar, maafkan aku... aku lupa bahwa kau pasti punya keluarga. Bagaimana jika kita memberi kabar pada keluargamu terlebih dahulu?" Mara tidak menjawab."Mereka juga akan ditempatkan di tempat yang aman, selama dirimu nanti hidup bersamaku," bisik Isolda lembut, jemarinya yang hangat menyeka bulir air mata yang terus meleleh di pipi gadis itu.Pertanyaan itu justru menghantam dada Mara lebih keras. Isaknya pecah, semakin tak terkendali. Pulang? Bagaimana bisa ia pulang jika dunia tempat ia berpijak sekarang terpisah oleh dimensi dan rentang waktu yang tak masuk akal?Lagi pula, rumah mana yang menunggunya? Di zamannya sendiri pun, ia sudah sebatang kara sejak kakeknya—satu-satunya keluarga yang ia miliki—meninggal dunia tahun lalu.Rasa kehilangan yang belum sepenuhnya sembuh kini berpadu dengan ketidakberdayaan di dunia asing ini, menggulung Mara dalam rasa sepi yang menghimpit dada."Countess, biarkan saya yang mengantarnya ke kamar," suara Alaric akhirnya memecah keheningan di r
Countess Isolda merangkul bahu Mara yang masih gemetar basah kuyup, menuntun gadis itu berbalik memunggungi takhta. Mara sempat melirik ke belakang untuk sekilas—mendapati Adelaide menatapnya dengan rahang mengeras dan mata yang dipenuhi kebencian.Di luar halaman aula istana, sebuah kereta kuda telah menunggu dan membentangkan daun pintunya, menyambut Mara dan Countess Isolda. Dua perempuan itu lantas masuk, menduduki kursi berpelapis beludru di dalamnya.Situasi mendadak hening dan canggung. Sejak kereta kuda meninggalkan istana, tak ada yang memulai pembicaraan, dua perempuan itu sibuk dengan pikiran masing-masing, membiarkan rasa itu berlarut hingga kereta kuda berhenti di depan sebuah mansion.Mansion itu dikelilingi hamparan mawar putih di tamannya. Kelopak-kelopak yang berguguran tertiup angin sore berserakan di sepanjang jalan, membuat ilusi sebuah bentangan altar pernikahan.Alaric yang sejak tadi mengiringi perjalanan mereka dari atas kuda hitamnya melompat turun dengan gerak
Countess Isolda Veyne berlari menerobos barisan prajurit, disusul oleh Alaric yang melangkah lebar dengan pedang berhulu rubi di tangannya.Kaisar Aurelian yang melihat kedatangan mereka perlahan menyunggingkan senyum sinis. "Ah, putraku yang beberapa waktu lalu kembali dari medan perang membawa kemenangan dan sulit sekali ditemui... akhirnya muncul juga," sambutnya seraya bertepuk tangan pelan.Alaric sama sekali tidak membalas sapaan itu. Tanpa mengalihkan pandangan, ia melangkah lebar menghampiri Mara yang masih berlutut di lantai.Dengan satu tebasan pedang, ia memotong tali yang mengikat kedua tangan Mara ke belakang, lalu membantunya berdiri. Rahang Alaric mengeras seketika saat mendapati sudut bibir gadis itu bengkak dan mengeluarkan amis darah segar.Adelaide yang melihat pemandangan itu menggigit bibirnya kesal, matanya menyala penuh dengki.Aurelian menyipitkan mata, kembali bersuara dingin, "Untuk seorang selir yang berzina, kau memperlakukannya terlalu baik, Putraku."Tat
Kehidupan istana dimulai sejak fajar menyingsing. Lonceng istana berbunyi, diiringi para pelayan yang berpacu waktu menyiapkan hidangan untuk sarapan, dan melayani majikan mereka untuk bersiap memulai hari. Alaric telah meninggalkan istana sejak subuh bersama ksatria pribadinya. Sementara itu, Mara memulai harinya dengan duduk bersantai di meja kerja Alaric.Rasa bosan mendera. Jemarinya sibuk melipat lembaran kertas menjadi origami berbentuk burung, sampai seorang pelayan masuk membawa nampan berisi sarapan."Silakan, Lady," ujar pelayan itu seraya menundukkan kepala.Mara menatap wajah pelayan itu sejenak. Sorot matanya terasa asing—jelas bukan pelayan yang kemarin memandikannya. Namun, enggan memperpanjang curiga, ia mengabaikannya dan meraih sendok untuk menyantap makanan.Pelayan itu bergeser ke arah jendela di belakang Mara, menata tirai yang terkulai.Tanpa peringatan, sebuah kain tebal berbau apak mendadak menyergap dari belakang, membekap rapat mulut dan hidung Mara!"Diam k
Setelah pemeriksaan selesai, Mara, Alaric, dan Dokter Gordon menuju ruang tengah mansion untuk mengabarkan hasil otopsi."Hasil pemeriksaan organ dalam membuktikan tuduhan perzinaan itu sama sekali tidak benar," ujar Dokter Gordon.Pria tua itu membenarkan posisi kacamatanya, menatap Countess Isolda dan Eron bergantian."Saya tidak menemukan sisa cairan sperma di dalam rahim Lady Elara. Bahkan... kondisi jaringan organ reproduksinya membuktikan bahwa beliau sama sekali tidak melakukan hubungan seksual dalam waktu dekat sebelum eksekusi."Countess Isolda langsung menangis seraya memeluk Eron erat-erat. Eron menepuk punggung ibunya dengan rahang berkilat menahan murka."Bukan hanya itu. Kami juga menemukan material asing yang tersumbat di bawah kuku-kuku Lady Elara," lanjut Mara seraya menunjukkan sampel di dalam plastik tersebut ke hadapan semua orang.Eron mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih."Ini adalah campuran cat dan tanah liat merah. Dokter Gordon mengonfirmasi ba
"Sebelum kita menyentuh jasadnya, kalian semua harus menggunakan pelindung," potong Mara cepat ketika Alaric dan Eron bersiap melangkah keluar dari mansion."Maksudku… apakah ada kain linen tebal di rumah ini? Bersentuhan langsung dengan jenazah yang sudah membusuk tanpa pelindung sangat berbahaya.""Katakan apa saja kebutuhanmu, Lady. Aku akan meminta para pelayan menyiapkannya sekarang juga," ujar Countess Isolda yang berdiri di sebelahnya.Mara kemudian menyebutkan satu persatu kebutuhan untuk melindungi diri dalam proses pengangkatan jenazah, yang bisa ditemukan di era Valedron.Begitu barang-barang itu dibawa, ia bergerak cepat memotong dan mengikat kain hingga menyerupai jubah pelindung."Pakai ini, Yang Mulia," ujar Mara seraya memakaikan kain itu ke tubuh Alaric. Pelayan membantu memasangkannya pada Eron dan Dietrich.Mereka melaju menunggangi kuda menuju lereng pegunungan terpencil di belakang wilayah keluarga Veyne. Hanya butuh beberapa menit sampai mereka tiba di makam ters







