LOGINPara pejabat mulai membalik lembar demi lembar perkamen yang telah dibagikan sebelum sidang dimulai.“Penyelidikan ini bermula sekitar satu bulan lalu. Saat itu, beredar laporan mengenai krisis air bersih di sekitar wilayah Panti Asuhan St. Seraphina. Pemerintah setempat hanya mengandalkan distribusi pasokan makanan dari luar, sementara kerusakan lingkungan sama sekali tidak ditelusuri,” papar Alaric langsung pada inti masalah.Mara mengangkat wajah sedikit.Penjelasan Alaric tentang pemerintah setempat yang hanya sibuk menyalurkan bantuan tanpa menyelidiki akar persoalan mendadak mengingatkannya pada cerita yang pernah dibagikan seniornya saat ekspedisi.Seniornya pernah berkata, meski data lengkapnya belum berhasil disusun, sebuah wabah besar menyerang Kekaisaran Valedron beberapa waktu setelah kudeta Alaric. Wabah itu bermula dari krisis kesehatan di wilayah terpencil yang diabaikan dan tidak diselidiki semestinya, hingga akhirnya mencapai ibu kota.Seorang pejabat kekaisaran kemud
Suasana malam di kamar Mara terasa begitu hening setelah ia selesai membersihkan diri dan menghabiskan makan malamnya. Sesuai anjuran Gordon, ia juga telah meminum obat pencegah infeksi yang diberikan sebelum bersiap untuk tidur.Namun, baru saja ia hendak merebahkan diri, ketukan pelan terdengar dari balik pintu.Begitu pintu dibuka, sosok Eron sudah berdiri di ambangnya dengan wajah kaku. Pria itu menyodorkan sebuah keranjang rotan berisi berbagai camilan dan buah-buahan segar.Mara menatap keranjang tersebut, lalu mengangkat sebelah alis.“Biar kau tidak bosan selama masa pengurungan,” ujar Eron ketus. Tanpa menunggu tanggapan, ia langsung berbalik dan hendak pergi.“Tu-tunggu!”Mara buru-buru bangkit dari kursinya dan menyusul pria itu sebelum sempat menjauh.Eron meliriknya malas dari sudut mata. “Apa lagi?”Alih-alih langsung menjawab, Mara justru mengamati penampilan saudara angkatnya dari ujung kepala hingga kaki.“Selarut ini kau masih mengenakan seragam lengkap?” Ia menyipit
Di bawah pengawasan ketat para prajurit, ketiga anak yang meninggal dimakamkan di area pemakaman kecil milik panti asuhan.Tangisan para pengurus dan anak-anak yang ditinggalkan mengiringi prosesi hingga selesai, termasuk Ilyas yang akhirnya merelakan kepergian adiknya.Tak lama setelah pemakaman, Alaric mengeluarkan perintah evakuasi. Rombongan Mara yang terdiri dari Sarah, Emily dan Florencia diperintahkan kembali ke ibu kota, Kaisergard.Para prajurit ditinggalkan untuk mengawasi panti asuhan dan desa.Atas arahan Mara, setiap orang yang ikut dalam rombongan telah mengenakan masker kain yang dibuat khusus sebagai langkah perlindungan tambahan selama perjalanan.Hari telah beranjak sore ketika kapal penyeberangan akhirnya merapat di dermaga utama daratan Valedron.Pelabuhan yang biasanya dipenuhi kesibukan kini diselimuti ketegangan. Beberapa gerbong kereta kuda mewah dengan lambang keluarga bangsawan telah berderet menunggu di area dermaga.Rupanya, kabar mengenai kondisi di St. Se
“Kau begitu mempercayainya?” selidik Mara, menatap Alaric dengan kening berkerut.“Tidak, Mara. Aku tidak memercayainya begitu saja. Aku hanya sedang memasang taruhan,” jawab Alaric tenang. “Jika Lucas terbukti melanggar kesepakatan dan membahayakan kita, aku sudah menyiapkan langkah untuk menyingkirkannya.”Mara tidak bertanya lebih jauh. Mengenal sifat Alaric yang selalu memperhitungkan berbagai kemungkinan, ia tahu pria itu tidak akan mengambil risiko tanpa menyiapkan langkah antisipasi.Tanpa membuang waktu, Mara mengajaknya segera kembali ke kompleks Panti Asuhan St. Seraphina.Namun, begitu mereka mendekati pelataran panti, suasana yang sebelumnya dipenuhi kesibukan penanganan medis mendadak berubah menjadi kepanikan.Kerumunan orang memenuhi halaman depan. Para pengurus, anak-anak panti, hingga prajurit yang bertugas tampak berdesakan, sementara suara tangisan dan teriakan saling bersahutan di antara mereka.Mara memperlambat langkah. Ada sesuatu yang tidak beres.Alaric melirik
Mara berhenti di balik dinding batu ketika melihat Theon akhirnya menghentikan langkah.Seseorang sudah menunggunya di sana.Seorang pria berjubah gelap berdiri membelakangi Mara. Dari tempatnya bersembunyi, ia tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas. Namun, cara Theon menyambutnya menunjukkan bahwa mereka bukan dua orang asing yang baru pertama kali bertemu.“Aku sudah bilang jangan datang ke sini,” terdengar suara Theon rendah.“Aku tidak punya banyak pilihan, Tuan Muda. Ada hal yang harus segera saya sampaikan.”Mara menahan napas. Ia mencoba mengintip dari celah dinding, berusaha menangkap percakapan mereka.Pria berjubah itu kemudian mengeluarkan sebuah gulungan kecil dari balik pakaiannya. Theon menerimanya, tetapi belum sempat membuka gulungan tersebut ketika terdengar suara langkah lain dari arah jalan setapak.Keduanya langsung menoleh.Seseorang muncul dari balik kegelapan.Pria itu melangkah tanpa tergesa. Jubah putihnya bergerak pelan mengikuti embusan angin malam,
“Apa yang membawamu kemari?” tanya Mara dengan napas tertahan. Tangannya masih menggenggam baskom berisi kain-kain kotor. Ia menatap Alaric seolah belum percaya pria berambut perak itu benar-benar berdiri di hadapannya.Alaric tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Mara.“Syukurlah, kau tidak demam,” gumamnya lega.Setelah memastikan keadaan Mara, ia mendekatkan wajah ke telinganya.“Maaf. Sejak penyerangan para pembunuh bayaran itu, aku menempatkan beberapa kesatria bayangan untuk mengawasimu secara diam-diam.”Mara tertegun. Ia tidak menyangka Alaric masih mengawasinya selama beberapa hari terakhir.“Salah satu dari mereka melaporkan bahwa ada penyakit menular yang menyerang panti asuhan ini,” lanjut Alaric. “Begitu mendengarnya, aku langsung berangkat bersama pasukan dan membawa bantuan medis.”Mara menoleh ke belakang. Barisan kesatria bersenjata lengkap memenuhi halaman panti yang tidak terlalu luas.“Memang perlu membaw







