LOGINSetelah pemeriksaan selesai, Mara, Alaric, dan Dokter Gordon menuju ruang tengah mansion untuk mengabarkan hasil otopsi.
"Hasil pemeriksaan organ dalam membuktikan tuduhan perzinaan itu sama sekali tidak benar," ujar Dokter Gordon.
Pria tua itu membenarkan posisi kacamatanya, menatap Countess Isolda dan Eron bergantian.
"Saya tidak menemukan sisa cairan sperma di dalam rahim Lady Elara. Bahkan... kondisi jaringan organ reproduksinya membuktikan bahwa beliau sama sekali tidak melakukan hubungan seksual dalam waktu dekat sebelum eksekusi."
Countess Isolda langsung menangis seraya memeluk Eron erat-erat. Eron menepuk punggung ibunya dengan rahang berkilat menahan murka.
"Bukan hanya itu. Kami juga menemukan material asing yang tersumbat di bawah kuku-kuku Lady Elara," lanjut Mara seraya menunjukkan sampel di dalam plastik tersebut ke hadapan semua orang.
Eron mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.
"Ini adalah campuran cat dan tanah liat merah. Dokter Gordon mengonfirmasi bahwa tanah liat jenis ini tidak ada di area istana utama—tanah ini hanya ditemukan di kediaman Pangeran Lucien," lanjut Mara.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Kaisar tidak mungkin mengizinkan kasus ini dibuka ulang." kata Eron kemudian.
"Aku yang akan mengurusnya. Saat ini Countess, Eron, dan Gordon, ikutlah ke Kaisergard. Demi keamanan kalian, sementara tinggallah di mansion pribadiku. Aku dan gadis ini akan kembali ke istana utama," terang Alaric.
Mara membelalak terkejut. "Tunggu!" serunya. Semua orang yang tengah duduk di sofa ruang tengah itu menatap Mara dengan penasaran. "Sebaiknya aku pergi saja, aku sudah membantu dengan sedikit kemampuanku, tidak ada alasan lagi aku ikut kembali denganmu."
"Menurutmu, apakah keadaanmu akan aman di luar sana setelah menghebohkan seluruh istana dengan kemunculanmu yang tiba-tiba kemarin sore?" tembak Alaric dingin.
"Bagaimana jika dia ikut kami ke Kaisergard?" sela Countess Isolda seraya mengusap air matanya.
Mara menatap Countess sejenak. Ia memang tidak tahu harus tinggal di mana di dunia Valedron yang asing ini, namun ia sadar situasi.
"Sepertinya saya akan ikut Alaric, Countess," ujar Mara setelah menimbang keadaan. "Pasti terasa sangat tidak nyaman bagi Countess jika terus-menerus melihat wajahku yang sangat mirip dengan mendiang putri Anda."
Countess Isolda terhenyak. Ia menatap Mara dengan raut serba salah, lalu bungkam tanpa mampu membantah.
Rencana pembagian tugas disepakati. Countess Isolda, Eron, dan Dokter Gordon bertolak menuju Kaisergard secara tersembunyi, sementara Alaric membawa Mara kembali menerobos kegelapan menuju Istana Utama.
Alaric dan Mara tiba di istana saat matahari tenggelam. Alaric tidak lagi menempatkan Mara di kamar menara yang terisolasi, melainkan di sebuah ruangan tepat sebelah kamar pribadinya.
Beberapa pelayan menyambutnya saat sampai di ruangan yang telah disulap menjadi kamar yang nyaman itu. Ia dilayani untuk membersihkan diri. Para pelayan itu baru pergi saat Mara telah terbaring di atas ranjang, bersiap tidur.
Namun rasa kantuk tak kunjung datang, sementara pikirannya masih memutar kembali kejadian sejak ia terlempar di Valedron. Tak ada satu pun waktu damai yang ia lewati, hanya mempertaruhkan nyawa dan melakukan hal yang menguras emosi.
Keheningan kamar yang terlalu asing itu menghimpit dadanya. Perasaan terisolasi, cemas, dan rindu akan kehidupan normalnya menumpuk begitu berat. Air mata yang sejak kemarin ia tahan akhirnya menetes basah menembus kain bantal.
Mara bangkit. Ia melangkah keluar menuju balkon kamar yang terhubung langsung dengan taman pribadi Alaric.
Tanpa alas kaki, ia berjalan menyusuri rumput basah itu; sebuah metode pelepas kekhawatiran yang pernah mendiang kakeknya ajarkan padanya, saat umur sepuluh tahun.
Saat dimana mimpi buruk merayap tiap malam menggerogoti kedamaiannya; masa dimana kedua orangnya tuanya berpaling, tanpa pernah menoleh padanya lagi.
Mara mendongak ke langit malam. Tampak rembulan bertengger di antara bintang-bintang. Angin malam berhembus membelai kulitnya dibalik gaun tidur.
"Kenapa kau belum tidur?"
Mara tersentak. Suara berat itu datang dari arah pohon rindang di sudut taman. Alaric sedang duduk di sebuah kursi panjang kayu, merokok dengan sebotol anggur di sampingnya.
Mara melangkah mendekati pria itu, lalu mendudukkan dirinya di atas rumput dan bersandar di kaki kursi yang diduduki Alaric.
"Duduk di atas," tegur Alaric.
"Bukankah tidak sopan duduk sejajar di samping Putra Mahkota?" jawab Mara pelan.
Alaric mendengus. "Siapa namamu?" tanyanya kemudian tanpa membalas pernyataan Mara yang kaku.
Mara mendongak ke arah Alaric. "Maracelestia Avelline. Dipanggilnya Mara," jawabnya.
Alaric memiringkan kepala.
"Lucu juga... setelah dipikir-pikir, aku belum memperkenalkan diri sejak sampai di Valedron. Kalian yang bertemu denganku, hanya memanggil 'Lady' padahal aku juga bukan bangsawan," celetuknya.
"Maaf jika aku bertindak kasar," kata Alaric.
"Seharusnya aku benar-benar memukulmu kemarin," balas Mara sembari terkekeh.
Alaric turun dari kursi, ikut duduk di atas rumput tepat di sebelah Mara. Lalu ia menatap Mara dan meraih tangan kurus gadis itu dan meletakkannya di depan wajah. "Pukul sekarang jika kau menginginkannya," ujarnya.
Mara menyipitkan mata sambil menarik tangannya. "Daripada memukulmu, apakah kau mau mengabulkan satu permintaanku?"
"Katakan."
Mata Mara beralih membinar. "Berikan aku sebuah rumah kecil setelah ini selesai. Tidak harus besar, tapi layak dihuni."
Alaric mengernyit. "Bukankah tadi kau bilang akan ikut denganku?"
"Hanya untuk saat ini... setelah semuanya selesai, tidak ada alasan lagi bagiku di sini. Aku butuh tempat tinggal sementara, setidaknya sampai aku menemukan cara untuk kembali ke dunia asalku."
"Apakah perlu kupanggilkan Gordon? Otakmu perlu diperiksa. Mengaku berasal dari masa depan itu sama sekali tidak masuk akal."
"Terserahlah jika dirimu masih tidak percaya," decak Mara.
"Lebih baik kau mengaku sebagai penyihir daripada membicarakan omong kosong itu," timpal Alaric.
Mara menghela napas pasrah, memilih mengalah. "Lalu... bagaimana rencanamu mengurus pembongkaran kasus fitnah ini?"
Raut wajah Alaric seketika berubah mengeras. "Aku akan melakukan kudeta."
"Jangan kudeta! Kudeta hanya akan membuatmu terlihat buruk di mata rakyat Valedron!" potong Mara tegas.
"Dunia tidak bisa diubah, kecuali kau yang memegang kuasa, Mara."
Jantung Mara berdesir seketika Alaric menyebut namanya untuk pertama kali. Ia meraih kedua pundak Alaric dengan kedua tangannya, memutar tubuh pria itu agar menatapnya.
"Di masa depan Yang Mulia hanya akan dikenal sebagai tiran, jika kudeta itu terjadi."
Alaric tidak menyibak tangan Mara di pundaknya. Pria itu justru memajukan wajahnya hingga jarak di antara mereka terkikis habis, sampai ujung hidung mereka hampir bersentuhan.
Mara hendak menarik tubuhnya ke belakang, tetapi tangan kekar Alaric bergerak cepat mengunci pinggangnya.
"Aurelian memang harus segera lengser, Mara. Kurasa rakyat akan berpihak padaku karena dia telah merusak banyak hal."
Mara menjentikkan jari. "Nah, jika ada banyak kejahatan yang dilakukan kaisar, bukankah lebih efektif memainkan opini publik?" cetus Mara.
Alaric menaikkan sebelah alisnya.
"Pilihlah seseorang yang pandai bercerita, lalu susupkan mereka ke pasar. Pasar adalah tempat pertukaran informasi yang efektif, karena orang-orang dari berbagai penjuru melakukan transaksi jual beli sambil mengobrol. Selipkan kebenaran tentang fitnah yang terjadi pada Lady Elara, itu akan memantik empati publik, jika terjadi secara masif kaisar kehilangan kredibilitasnya," jelas Mara.
Alaric semakin mengikis jarak, hingga ujung hidung mereka bertabrakan. "Kau berbahaya, Lady."
***
"Ah benar, maafkan aku... aku lupa bahwa kau pasti punya keluarga. Bagaimana jika kita memberi kabar pada keluargamu terlebih dahulu?" Mara tidak menjawab."Mereka juga akan ditempatkan di tempat yang aman, selama dirimu nanti hidup bersamaku," bisik Isolda lembut, jemarinya yang hangat menyeka bulir air mata yang terus meleleh di pipi gadis itu.Pertanyaan itu justru menghantam dada Mara lebih keras. Isaknya pecah, semakin tak terkendali. Pulang? Bagaimana bisa ia pulang jika dunia tempat ia berpijak sekarang terpisah oleh dimensi dan rentang waktu yang tak masuk akal?Lagi pula, rumah mana yang menunggunya? Di zamannya sendiri pun, ia sudah sebatang kara sejak kakeknya—satu-satunya keluarga yang ia miliki—meninggal dunia tahun lalu.Rasa kehilangan yang belum sepenuhnya sembuh kini berpadu dengan ketidakberdayaan di dunia asing ini, menggulung Mara dalam rasa sepi yang menghimpit dada."Countess, biarkan saya yang mengantarnya ke kamar," suara Alaric akhirnya memecah keheningan di r
Countess Isolda merangkul bahu Mara yang masih gemetar basah kuyup, menuntun gadis itu berbalik memunggungi takhta. Mara sempat melirik ke belakang untuk sekilas—mendapati Adelaide menatapnya dengan rahang mengeras dan mata yang dipenuhi kebencian.Di luar halaman aula istana, sebuah kereta kuda telah menunggu dan membentangkan daun pintunya, menyambut Mara dan Countess Isolda. Dua perempuan itu lantas masuk, menduduki kursi berpelapis beludru di dalamnya.Situasi mendadak hening dan canggung. Sejak kereta kuda meninggalkan istana, tak ada yang memulai pembicaraan, dua perempuan itu sibuk dengan pikiran masing-masing, membiarkan rasa itu berlarut hingga kereta kuda berhenti di depan sebuah mansion.Mansion itu dikelilingi hamparan mawar putih di tamannya. Kelopak-kelopak yang berguguran tertiup angin sore berserakan di sepanjang jalan, membuat ilusi sebuah bentangan altar pernikahan.Alaric yang sejak tadi mengiringi perjalanan mereka dari atas kuda hitamnya melompat turun dengan gerak
Countess Isolda Veyne berlari menerobos barisan prajurit, disusul oleh Alaric yang melangkah lebar dengan pedang berhulu rubi di tangannya.Kaisar Aurelian yang melihat kedatangan mereka perlahan menyunggingkan senyum sinis. "Ah, putraku yang beberapa waktu lalu kembali dari medan perang membawa kemenangan dan sulit sekali ditemui... akhirnya muncul juga," sambutnya seraya bertepuk tangan pelan.Alaric sama sekali tidak membalas sapaan itu. Tanpa mengalihkan pandangan, ia melangkah lebar menghampiri Mara yang masih berlutut di lantai.Dengan satu tebasan pedang, ia memotong tali yang mengikat kedua tangan Mara ke belakang, lalu membantunya berdiri. Rahang Alaric mengeras seketika saat mendapati sudut bibir gadis itu bengkak dan mengeluarkan amis darah segar.Adelaide yang melihat pemandangan itu menggigit bibirnya kesal, matanya menyala penuh dengki.Aurelian menyipitkan mata, kembali bersuara dingin, "Untuk seorang selir yang berzina, kau memperlakukannya terlalu baik, Putraku."Tat
Kehidupan istana dimulai sejak fajar menyingsing. Lonceng istana berbunyi, diiringi para pelayan yang berpacu waktu menyiapkan hidangan untuk sarapan, dan melayani majikan mereka untuk bersiap memulai hari. Alaric telah meninggalkan istana sejak subuh bersama ksatria pribadinya. Sementara itu, Mara memulai harinya dengan duduk bersantai di meja kerja Alaric.Rasa bosan mendera. Jemarinya sibuk melipat lembaran kertas menjadi origami berbentuk burung, sampai seorang pelayan masuk membawa nampan berisi sarapan."Silakan, Lady," ujar pelayan itu seraya menundukkan kepala.Mara menatap wajah pelayan itu sejenak. Sorot matanya terasa asing—jelas bukan pelayan yang kemarin memandikannya. Namun, enggan memperpanjang curiga, ia mengabaikannya dan meraih sendok untuk menyantap makanan.Pelayan itu bergeser ke arah jendela di belakang Mara, menata tirai yang terkulai.Tanpa peringatan, sebuah kain tebal berbau apak mendadak menyergap dari belakang, membekap rapat mulut dan hidung Mara!"Diam k
Setelah pemeriksaan selesai, Mara, Alaric, dan Dokter Gordon menuju ruang tengah mansion untuk mengabarkan hasil otopsi."Hasil pemeriksaan organ dalam membuktikan tuduhan perzinaan itu sama sekali tidak benar," ujar Dokter Gordon.Pria tua itu membenarkan posisi kacamatanya, menatap Countess Isolda dan Eron bergantian."Saya tidak menemukan sisa cairan sperma di dalam rahim Lady Elara. Bahkan... kondisi jaringan organ reproduksinya membuktikan bahwa beliau sama sekali tidak melakukan hubungan seksual dalam waktu dekat sebelum eksekusi."Countess Isolda langsung menangis seraya memeluk Eron erat-erat. Eron menepuk punggung ibunya dengan rahang berkilat menahan murka."Bukan hanya itu. Kami juga menemukan material asing yang tersumbat di bawah kuku-kuku Lady Elara," lanjut Mara seraya menunjukkan sampel di dalam plastik tersebut ke hadapan semua orang.Eron mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih."Ini adalah campuran cat dan tanah liat merah. Dokter Gordon mengonfirmasi ba
"Sebelum kita menyentuh jasadnya, kalian semua harus menggunakan pelindung," potong Mara cepat ketika Alaric dan Eron bersiap melangkah keluar dari mansion."Maksudku… apakah ada kain linen tebal di rumah ini? Bersentuhan langsung dengan jenazah yang sudah membusuk tanpa pelindung sangat berbahaya.""Katakan apa saja kebutuhanmu, Lady. Aku akan meminta para pelayan menyiapkannya sekarang juga," ujar Countess Isolda yang berdiri di sebelahnya.Mara kemudian menyebutkan satu persatu kebutuhan untuk melindungi diri dalam proses pengangkatan jenazah, yang bisa ditemukan di era Valedron.Begitu barang-barang itu dibawa, ia bergerak cepat memotong dan mengikat kain hingga menyerupai jubah pelindung."Pakai ini, Yang Mulia," ujar Mara seraya memakaikan kain itu ke tubuh Alaric. Pelayan membantu memasangkannya pada Eron dan Dietrich.Mereka melaju menunggangi kuda menuju lereng pegunungan terpencil di belakang wilayah keluarga Veyne. Hanya butuh beberapa menit sampai mereka tiba di makam ters







