Se connecterSa isang malupit na lugar kung saan walang puwang para sa kabiguan, dahil ang kabiguan ay nangangahulugan ng dugo at kamatayan. Simple lang ang hamon. Survive and escape the claws of your doom. The race against death's door begins once you enter the door...
Voir plus“Hamil …?”
Bibir Belvina tanpa sengaja menirukan ucapan ibunya yang saat ini tengah duduk di ruang tamu bersama dengan Alethea, sepupunya, dan Aldric---kekasih sekaligus calon suaminya. Ketegangan di wajah sang ibu bisa Belvina rasakan saat ini, tapi dia tidak tahu apa penyebabnya. Yang dia tahu sang ibu hanya mengatakan satu kata yaitu ‘hamil’. Beberapa saat sebelum dia meninggalkan ruang tamu untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di kamar, ibunya serta Aldric masih berbincang riang, tawa renyah juga mengiringi percakapan mereka hingga kehadiran Alethea dengan wajah muramnya mengubah semua itu. Pernyataan yang baru saja dibuat Alethea tentang kehamilannya tentu sesuatu yang mengejutkan. Dengan gerakan cepat, Belvina sudah berpindah posisi duduk di sisi Alethea. Matanya melirik sebentar Aldric yang hanya diam dengan wajah menegang. Sementara Alethea terlihat menundukkan kepala sambil meremas ujung rok yang wanita itu kenakan. “Ka---kamu hamil?” tanya Belvina memastikan pernyataan Alethea. Sepertinya di sini yang terlihat paling terkejut adalah Belvina, ketimbang Amora—sang ibu. Sedikit pertanyaan muncul dibenaknya tentang reaksi sang ibu yang terlihat tenang. Tidak ada ketegangan ataupun rasa khawatir di wajah wanita itu, padahal jika sesuatu yang buruk menimpa Alethea, ibunya selalu panik dan terlihat resah. Namun, kali ini ia tidak melihat itu. “Bukankah sudah aku katakan, pakailah pengaman jika kamu ingin melakukannya!” cerocos Belvina. Tatapannya menajam ke Alethea yang semakin menundukkan kepalanya. Ya …, hal semacam itu tentu bukan hal tabu bagi Belvina. Ia bekerja di bidang industri hiburan. Banyak artis serta model yang melakoni gaya hidup bebas, meski tidak semua dan Alethea adalah salah satunya. Wanita itu selalu bisa menjaga dirinya dengan baik. Ia bahkan tidak pernah mendengar Alethea keluar masuk klub malam ataupun berteman dengan orang-orang yang tidak benar. Sepupunya itu selalu menjaga batasan untuk hal-hal yang berbau negatif. “Ibumu sudah tahu?” Lagi, Belvina terlihat begitu penasaran. Bukan penasaran dalam hal julid, hanya saja wanita itu masih belum bisa percaya dengan apa yang baru saja didengarkannya. Alethea menggelengkan kepalanya. Matanya melirik ke arah Amora yang sejak tadi menutup mulut. Begitu pun dengan Aldric. Belvina mengusar rambutnya, wanita itu tampak frustasi mendengar jawaban dari Alethea. “Kenapa …?” tanya Belvina. “Aku ….” “Takut …?” potong Belvina, “Atau laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab?” imbuhnya. Alethea semakin gugup, manik matanya kembali menatap sang bibi dan Aldric secara bergantian, mengharapkan bantuan. Namun sayangnya, keduanya tetap diam seolah membiarkannya untuk menyelesaikan semua ini sendiri. Tak tahu harus bersikap serta berbuat bagaimana, Alethea kembali menunduk sambil memegangi kepalanya. Kedatangannya ke rumah keluarga Belvina hanya ingin memberitahu tentang kehamilannya dan tentang siapa ayah dari anak yang dikandungnya, tapi pada kenyataannya, bibirnya terasa kelu untuk sekadar mengungkap fakta itu. “Hay … kenapa?” tanya Belvina lembut. “Sayang, bagaimana kalau kita membantu Thea?” Kali ini Belvina berdalih pada sang kekasih karena tak mendapatkan jawaban pasti dari Alethea. Tangannya digenggam lembut oleh tangan Aldric yang terasa---dingin, entah karena apa. Belvina mengangguk cepat mendengar penawaran Aldric. Melihat keadaan sepupunya yang terlihat kacau seperti ini, tentu Belvina tidak bisa hanya diam saja. Ia kembali beralih menatap Alethea. “Kalau kamu ingin menyembunyikan tentang kehamilanmu, aku dan Aldric akan mengatakan kepada Bibi Cassie bahwa kamu mendapatkan job di Amerika. Sampai bayi itu lahir, kamu bisa tinggal di sana!” kata Belvina, mengusulkan ide. “Kamu bisa melakukannya kan, Sayang?” tanya Belvina pada sang kekasih yang sejak tadi hanya diam dan menunjukkan mimik wajah tidak seperti biasa. Kekasihnya itu hendak mengangguk tapi terhenti karena mendengar isak tangis Alethea. “Maaf ….” Setetes air mata meluncur begitu saja di pipi Alethea, membuat Belvina menatap bingung. Bukankah dia sudah memberikan jalan keluar atas permasalahan Alethea? Lantas kenapa sepupunya itu malah terlihat semakin muram? Tidak hanya itu, ibu dan kekasihnya juga menunjukkan reaksi yang sama---muram seakan dunia akan berakhir hari ini dan tidak akan ada hari esok. “El, sungguh aku minta maaf!” Tanpa aba-aba, Alethea bersimpuh di kaki Belvina, membuat wanita cantik itu seketika tersentak. Ia menoleh menatap sang ibu dan Aldric dengan tatapan meminta bantuan. “Aku hamil anak Aldric!” Aku Alethea, matanya terpejam, takut melihat reaksi Belvina. Belvina seketika diam mematung. Bulu matanya mengerjap beberapa kali, mencoba memahami situasi saat ini. Alethea baru saja mengatakan bahwa wanita itu mengandung anak Aldric—kekasih yang sebentar lagi akan dinikahinya. Entah lelucon macam apa yang saat ini sedang dihadapinya. Membayangkan saja tidak pernah, tapi dia harus dihantam oleh sebuah kenyataan gila ini. Alethea meremas rok yang dipakainya semakin kuat. Diamnya Belvina, membuat ia semakin takut. “Maaf …,” cicit Alethea, lagi. Lagi-lagi tidak ada reaksi apa pun yang ditunjukkan oleh Belvina, wanita itu hanya tersenyum miring. Matanya kini menatap Aldric dengan wajah tak bisa diartikan. Aldric---laki-laki yang dianggap hanya mencintainya itu ternyata malah menimbulkan luka. Belvina tertawa, entah mentertawakan nasibnya atau kesialan yang menimpanya saat ini. Rasa sesak dan perih yang dirasakannya membuat wanita itu tak lagi bisa membedakan. Dari sekian banyak masalah, kenapa dia harus menghadapi masalah ini? “Sejak kapan?” Kata-kata yang terdengar dingin dari bibir Belvina membuat Aldric yang sejak tadi hanya diam kini mulai bereaksi. Laki-laki itu bangun dari duduknya dan melangkah mendekati Belvina. Namun sayang, Belvina justru mundur beberapa langkah. Tidak ada air mata di sana, hanya tatapan dingin menakutkan. “Aku bisa jelaskan, Sayang!” Beberapa kata yang keluar dari bibir Aldric membuat sudut bibir Belvina semakin tertarik. Wanita cantik itu kembali tertawa. “Jelaskan? Setelah membuatku seperti orang bodoh, tadi?” sahut Belvina, “Apa kamu tahu diammu itu jauh lebih buruk dari pengkhianatan yang kamu lakukan saat ini, Tuan Aldric!” imbuh Belvina menambahkan embel-embel ‘Tuan’ untuk menyebut nama kekasihnya. Aldric menggelangkan kepalanya. Wajahnya terlihat panik tapi bagi Belvina semua itu hanya akting yang ditunjukkan oleh Aldric. “Ini semua tidak seperti apa yang kamu pikirkan, sayang! Aku sama sekali tidak pernah mengkhianatimu!” jelas Aldric, “Kami hanya melakukannya sekali, itu pun aku juga tidak terlalu mengingatnya!” lanjut Aldric. Belvina mendecih. Sekali saja dia bilang? Sekali pun juga sudah fatal! Matanya menatap malas pada sosok Alethea yang saat ini masih bersimpuh. Rasa iba yang tadi dirasakannya tiba-tiba menguap begitu saja berganti rasa benci dan marah. Sepupu yang dianggapnya sebagai adik kandungnya sendiri justru tega menikamnya dari belakang tanpa belas kasihan. Melihat Belvina yang hanya diam, Aldric kembali bersuara. “Kita bisa melakukan apa yang sudah kamu rencanakan tadi. Mengirim Alethea ke Amerika dan membawanya kembali ketika bayinnya sudah lahir. Bagaimana, hem?” “Lakukan seperti apa yang dikatakan oleh Aldric, Belvina! Pernikahan kalian sudah semakin dekat, membatalkannya tentu bukan sebuah solusi!” saran Amora yang kini juga mulai ikut angkat bicara. Belvina memalingkan kepalanya, melihat sang ibu yang masih duduk di sofa dengan wajah datar. Sungguh, apa yang dikatakan oleh ibunya adalah sesuatu yang sama sekali tidak disangkanya. “Pikirkan tentang pernikahan kalian yang sudah di depan mata. Mengakhiri semuanya tentu bukan keputusan yang baik. Lagipula selama ini Aldric sudah berjuang dalam hubungan kalian. Anggap saja masalah ini hanya sandungan sebelum menuju ke jenjang pernikahan, Nak!” sambung Amora panjang lebar. “Pernikahan …?” ulang Belvina dengan senyum penuh kesakitan. Kakinya melangkah meninggalkan orang-orang di sekelilingnya. Dia butuh tempat untuk menumpahkan segala rasa sakitnya. Namun, sebelum bayangan wanita itu benar-benar menghilang, Aldric menyusul dan menggenggam tangannya erat-erat. “Sayang, jangan begini! Kita bisa perbaiki semuanya sama-sama, aku mohon …,” pinta Aldric tangannya terjulur menggenggam tangan Belvina. Namun, wanita itu menepisnya dengan kasar. “Maaf, tapi aku tidak bisa! Aku akan membatalkan pernikahan kita!”Sunud-sunod na maririnig ang malalaking pagsabog mula sa mga fireworks sa labas na nakikita sa glass wall. Lahat ay nakasuot ng magarang damit. Sa unang tingin at sa kumikislap, makintab na mga butil nito na malamang na katumbas ng taunang suweldo ng isang karaniwang manggagawa, hindi lang ito isang abot-kayang damit na madaling makakayang bilhin ng isang middle class.Ang bawat isa ay may glass wine sa kanilang mga kamay, ang malakas na hiyawan ay umalingawngaw sa buong lugar nang matapos ang mga paputok."Magandang gabi sa lahat." Isang host sa entablado ang nagsimula sa kanyang pambungad na talumpati. He wore a tuxedo, a gloomy grey color on it that drew something from him, a self-respecting pride and confidence that had been longing to emerge. Walang dudang siya ang host ngayong gabi. "I just want to congratulate all of us for another well-done 20th anniversary event. As expected, it was a well - crafted, breath-takingly jaw dropping and another remarkable event that will be writ
Ang katahimikan na namagitan sa kanila ay sapat na upang ipahayag ang kawalan ng pag-asa at paghihirap na kanilang nararamdaman. Nanalo sina Yekaterina at Andrik, pero parang natalo pa rin sila ng husto. Hindi nila nararamdaman na nanalo sila. Sa isang laro kung saan kailangan mong patayin ang iyong mga kaibigan at pamilya para lang manalo at mabuhay, wala talagang mananalo.“Gamitin mo, Zayden. Iligtas mo ang iyong sarili.” Sabi ni Yekaterina nang si Zayden ay nanatiling nakaugat sa kinauupuan niya. Para siyang nawawala sa sarili, hindi makagalaw. Inilapag niya ang katawan ni Blaize sa lupa sa tabi ni Minerva at naupo siya doon na nakasandal sa dingding, nakatitig sa hangin.Naglakad si Yekaterina palapit sa kanya, kinuha niya ang bola at inilagay sa kamay niya. “Kailangan mong gamitin ito. Nais ni Minerva at Blaize na mabuhay ka. Pinrotektahan at iniligtas ka nila sa abot ng kanilang kakayahan. Kaya, kailangan mo itong gawin para sa kanila. Kahit sobrang sakit na gawin mo ito. Kahit
Umalingawngaw sa kanyang tenga ang tunog ng pagkabasag ng kanyang ilong nang tumama ang kamao ni BGN1 sa kanyang mukha. Napaangat ang ulo ni Tradd habang nakapikit sa sakit. Napaatras siya ng ilang hakbang ngunit nanatili siyang nakatayo, kahit na ramdam na niya kung gaano karaming lakas ang kailangan para ayusin ang sarili matapos halos umikot ang kanyang mundo sa isang nakakahilo na aksis.He re-enforces his stance, lifting the arnis in front of him higher and readying for BGN1’s next attack. BGN1 snickered, thinking just how useless his choice of weapon was against his extremely, bulky muscular form.He flexes his biceps and his chest muscles after eyeing the arnis on both his hands. He then motioned for him to attack. Sinenyasan siya nito na umatake. Ang ego ni Tradd ay mas malaki kaysa sa katawan ni BGN1 kaya't bumangon siya sa kanyang hamon at sumugod patungo sa kanya at paulit-ulit na hinampas siya ng arnis stick sa kanyang mga braso, na sinundan ng kanyang mga pag-atake pabab
Kinasa ni Blaize ang baril at lumapit sa pinagtataguan ni Zayden ngunit wala na siya roon. Mula sa likuran, sinakal siya ni Zayden habang nakapulupot ang mga braso sa leeg. Binitawan ni Blaize ang baril at hinawakan ang kanyang mga braso para subukang tanggalin ito sa kanyang leeg.Pero mahigpit siyang hinawakan ni Zayden, hindi kumalas ang pagkakahawak sa kanya. Nagpupumiglas si Blaize na makawala, sinipa niya ang kanyang tuhod at siniko siya, tinamaan ang kanyang leeg at naging dahilan para mabitawan siya nito habang umuungol sa sakit."Ang lakas ng loob mong magsinungaling at sabihing kapatid kita!""Hindi ko rin pinangarap na maging kapatid mo." Yumuko siya para kunin ang baril sa lupa habang si Zayden ay umatras ng ilang hakbang. Nang hindi nakatingin si Blaize, inilabas niya ang taser gun na nakasukbit sa kanyang baywang at binaril ang likod ni Blaize gamit iyon.Sandaling nanginig ang kanyang katawan at napaungol siya sa gulat at sakit nang bumagsak siya sa lupa. Sinipa niya an
Pabiling-biling at dumadaing dahil sa sobrang sakit ng kanyang balikat, nagising si Blaize. Umupo siya sa kama at tumingin sa braso niyang nasugatan, napansin niyang mukhang nagka-infection ito. Nilalagnat din siya.Napanaginipan na naman niya ang nakaraan, na palaging nangyayari kapag siya ay may sa
Nagising si Blaize sa sakit ng kanyang katawan. Katulad ng kanyang normal na araw, nag-training siya nang walang pahinga."Gising ka na pala?" Nakita niya ang kanyang lolo sa pintuan ng kanyang silid."Tara, jog tayo bago sumikat ang araw.""Lolo, pwede po bang magpass muna ngayon?""Hindi." Naglakad si
Dala-dala ang kani-kanilang mga armas, lumabas sila ng silid at nagpasyang sumakay sa elevator pababa upang makita kung ano ang nangyayari sa iba pang mga palapag. Napahinto sila at natigilan sa kanilang mga hakbang nang bumukas ang pinto ng elevator. Ang mga dingding at sahig ng elevator ay nababal
Ang biglaang pagbabago ay hindi nila inaasahan at napaghandaan dahilan para malagay silang lahat sa isang estado ng kahinaan. Si Yekaterina at ang kanyang koponan ay palaging naglalaro nang patas, hindi alam ang laro maliban sa katatapos lang na laro kahapon.Knowing beforehand is cheating and it’s l
Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.