LOGINIn a world where Omegas are generally looked down upon; A rare male Omega becomes the cause of a lot of dispute in the werewolf kind. Will he be able to bring about a change or will he become the subject of rejection? "Alpha, this incident is something I have never heard of before." The man gulped. "What do you mean?" The Alpha asked, bewildered. "The boy who defeated all our wolves, was an Omega." He confessed.
View More“Tu-Tuan Muda? Ke-kenapa Tuan Muda ada di kamar saya?” tanya Nina dengan takut-takut. Hawa malam itu sangat mencekam. Ruangan sempit yang awalnya adalah gudang, disulap sedemikian rupa menjadi sebuah kamar. Ya, kamar untuk Nina sebagai asisten rumah tangga yang baru saja bekerja di rumah itu semingguan lebih.
Pria yang bernama Bryan Lawrence itu sedang berdiri di depan pintu kamar Nina yang tadinya tertutup. Bryan adalah anak tunggal dari majikan Nina, pemilik rumah tersebut. Penampilan Bryan amat berantakan karena ia baru saja pulang dari klub malam, tetapi Bryan masih terlihat tampan. Walaupun bau alkohol tercium jelas di tubuhnya.
“Berikan aku makanan! Aku lapar!” titah Bryan.
Nina yang tadinya baru saja ingin beristirahat kemudian bangkit dari kasurnya. Nina sempat bergerutu dalam hati sebab ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari dan anak majikannya itu tiba-tiba memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan meminta makan. Namun, Nina juga bernapas lega karena prasangka buruk yang sempat ia pikirkan ternyata tidak benar.
“Baik, Tuan Muda. Saya siapkan dulu,” jawab Nina tanpa merasa curiga.
Bryan akhirnya keluar dari kamar diikuti oleh Nina menuju dapur. Nina dengan cekatan mengolah semua bumbu serta bahan yang tersedia menjadi sebuah masakan yang lezat. Satu jam berlalu, akhirnya kerjaan gadis itu telah selesai. Dan saatnya ia memanggil sang majikan yang sudah menunggunya dari tadi.
TOK TOK TOK
“Permisi, Tuan Muda. Makanannya sudah siap,” ucap Nina dengan suara lantangnya.
“Masuk!” teriak Bryan dari dalam kamar.
Nina kemudian membuka pintu lalu berjalan perlahan. Ia masuk ke dalam kamar besar nan megah dengan pencahayaan yang minim. Ia melangkah sembari menundukkan kepala. Terlihat Bryan sedang meneguk segelas alkohol. Dada bidangnya sudah terekspos jelas alias pria itu sedang tidak mengenakan bajunya.
“Tuan Muda, makanannya sudah siap,” ujar Nina lagi, dengan nada yang amat sopan. Ini hari pertamanya ia bertemu dengan Bryan, anak dari pemilik rumah mewah tempatnya bekerja. Sebab dari seminggu yang lalu ia bekerja, pekerja yang lain mengatakan bahwa Bryan sedang berada di Singapura, menuntut ilmu S-2 nya. Dan sekarang Bryan tengah libur kuliah selama 3 bulan, maka dari itu ia kembali ke Jakarta, ke rumah orangtuanya.
“Kenapa lama sekali?” tanya Bryan sembari melemparkan tatapan dingin pada Nina.
“Ma-maaf, Tuan Muda. Sa-saya tadi harus merebus ayam terlebih dahu—”
“Aku tidak meminta makanan yang itu,” potong Bryan cepat. Ia menatap gadis lugu di hadapannya itu. Ditatapnya penuh gairah sembari ia berjalan mendekati Nina.
“Tu-Tuan Bryan, Tu-Tuan mau ngapain?” tanya Nina tergugup.
“Ssstt! Santai saja! Jangan tegang! Yang berhak tegang di sini cuman burungku. Heheh.” Bryan masih sempat terkekeh saat Nina benar-benar ketakutan. Nina terus berjalan mundur ketika Bryan terus mendekatinya hingga tubuh Nina mentok di dinding kamar.
Nina menatap wajah tampan tuan mudanya yang saat ini sangat dekat dengan wajahnya. “Tuan?”
“Kamu cantik sekali, Nina,” goda Bryan sebelum menempelkan bibirnya ke bibir gadis itu. “Boleh aku menciummu, Nina?” Mata Bryan terus tertuju pada bibir merah Nina, gadis itu menjawab pertanyaannya dengan sebuah gelengan kecil, namun Bryan tidak peduli dengan tolakan tersebut. Bryan langsung menempelkan bibirnya pada bibir Nina.
Nina tersentak kaget dan langsung menjauhkan bibirnya dari Bryan. “Tuan Muda, apa Tuan sedang mabuk?” tanyanya dengan napas yang tersengal saking gugupnya.
Bryan mengangguk. “Yes, baby. Aku mabuk karenamu.” Bryan langsung menempelkan kembali bibirnya dan melumat lembut milik Nina. Bryan menahan tengkuk Nina agar gadis itu tidak melepaskan ciuman mereka lagi.
Satu tangan Bryan mulai mengusap dan meraba punggung Nina. Bryan mulai nakal menyelinap masuk ke dalam baju Nina kemudian membuka pengait bra gadis itu. Bryan lalu menenggelamkan wajahnya, menghirup aroma wangi di leher mulus Nina.
“T-Tuan Bryan, jangan lakukan ini. Saya mohon… H-hentikan ini, Tuan. Lepaskan saya!!” teriak gadis itu. Ia terus melawan, namun percuma saja, tenaganya tidak sebanding dengan pria itu. Kini Bryan telah berhasil melucuti pakaian gadis itu.
Bryan mendekap mulut Nina agar gadis itu mau diam. “Ssstt. Jangan teriak Nina, nanti yang lain terbangun. Kalau kamu teriak sekali lagi, aku bakal suruh Papa untuk mecat kamu!”
Nina hanya mengangguk lemah setelah Bryan mengancamnya.
Bryan tersenyum penuh kemenangan. “Aku beruntung sekali, baru pulang tadi pagi langsung disambut dengan seorang ART baru seperti kamu. Cantik dan tentunya masih muda,” bisiknya. Pria itu kemudian membawa Nina dan melemparkan tubuh Nina ke atas ranjang. Dengan sigap, Bryan merangkak naik ke atas tubuh Nina, menguasai sepenuhnya tubuh indah sang asisten rumahnya.
“Ngghh… aahhh… Tu-Tuan Bryan… Hentikan ini, Tuan,” pinta Nina dengan wajah memelas. Sesekali ia mendesah. Entah apa yang dirasakannya saat ini.
“Why, Nina? Do you like it?” tanya pria itu dengan sikap genitnya. Gerakan tangan Bryan semakin liar. Tangan yang kokoh itu sedang sibuk meremas-remas kedua tumpukan daging kenyal yang menjadi aset sang gadis. Bibir Bryan tak kalah lincahnya kini menciumi leher Nina yang lembut.
“Hmmpss… ahh….” Nina tak lagi memberontak. Gadis itu terbuai dengan sentuhan-sentuhan yang diberikan oleh majikannya. Nina yang awalnya meronta meminta agar Bryan berhenti, kini ia pasrah dan justru tubuhnya merespon seolah-olah meminta lebih.
Tidak dapat menahan lebih lama, Bryan membuka celananya sendiri. Nina menggelengkan kepalanya kala melihat tuan mudanya kini mengeluarkan senjata yang berurat maksimal. Nina berniat merapatkan kedua kakinya, namun Bryan menahannya.
“Ja-jangan lakukan ini, Tuan. Saya tidak mau. Hentikan ini, Tuan,” pinta Nina ketakutan.
Bryan berpura-pura tidak mendengarnya. Pria bajingan itu justru memasukkan anaconda besarnya ke milik Nina.
“Mmmmpph… ahh… Tuan… sa… sakit… Tuan Bryan, tolong…” Nina meremas seprai kasur Bryan hingga berantakan. Nina terus-terusan menjerit kesakitan kala Bryan memompa kejantanannya hingga masuk ke tempat yang paling dalam milik Nina. Sakitnya sungguh berasa hingga tak sadar membuat Nina meneteskan air mata.
Bryan melihat tangis kesakitan di mata Nina. Pembantunya itu kemudian berhenti meremas seprai dan beralih mencakar punggungnya hingga berdarah.
Bryan mengecup ujung mata sang gadis dan berbisik, “Apa terlalu sakit, Nina? Bawa enjoy aja. Nanti lama-lama enak kok.”
“Ahh… ahh… h-hentikan….” Tubuh Nina mengejang karena kenikmatan yang baru pertama kali dia rasakan. “Hentikan, saya mo—”
Belum selesai sang asistennya berbicara, Bryan kembali melahap bibir Nina dengan brutal. Lidahnya menerobos masuk dengan ciuman yang berkembang semakin liar. Ciuman penuh gairah dan brutal diterima Nina, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, gadis itu pun pasrah.
Nina tidak kuat lagi menerima rangsangan bertubi-tubi dari Bryan. Kemaluannya yang diserang dengan barang kokoh milik majikannya, ditambah lagi bibirnya yang tiada henti dicium oleh pria berusia 23 tahun itu.
Beberapa menit berlalu, permainan mereka hampir berada di ujung jalan. Nina tidak sanggup lagi menahan aliran deras hangat yang keluar dari miliknya. Sedangkan Bryan masih terus memompa batangnya hingga dirinya pun mengalami klimaks.
“Ohh, shit! Kamu sangat enak. Bikin nagih.” Begitulah perkataan pria bajingan yang selalu bermain wanita di luaran sana. Ini bukan pertama kalinya Bryan meniduri perempuan. Diberkahi wajah tampan dan harta berlimpah dari orangtuanya membuat siapa saja bertekuk lutut di hadapan Bryan. Gadis mana yang mampu menolak seorang Bryan? Bahkan tak jarang seorang gadis yang masih suci bersedia melepas mahkotanya kepada sosok bad guy itu.
Bryan pun mengerang kenikmatan saat dirinya menyembur cairan cinta ke rahim gadis malang itu. Seiring dengan datangnya rasa nikmat itu, pria berwajah tegas itu langsung lemas dan ambruk di atas tubuh Nina.
Nina kini menangis tanpa suara. Dari raut wajahnya saja bisa dinilai bahwa gadis itu sungguh syok berat atas kejadian ini. Nina menyingkirkan tuan mudanya yang kini terlelap di atas tubuhnya.
“Hiks. Hiks.” Nina menyeka air matanya. Ia melihat ke arah Bryan yang saat ini sudah tertidur pulas di sampingnya. ‘Apa yang harus aku lakukan sekarang?’ lirihnya dalam hati.
Dengan sisa tenaga yang masih ada, Nina beranjak pergi dari ranjang itu. Tempat di mana ia melepaskan kehormatannya secara paksa dengan dibanjiri air mata. Nina mengambil pakaian miliknya yang tergeletak di atas lantai lalu memakainya kembali. Ia menghela napas panjang diiringi deraian air mata yang tak kunjung reda, gadis itu pun keluar dari kamar dan meninggalkan sang majikan seorang diri.
Enrique rubbed his shoulders to steal some warmth, as he scrutinized the thick clouds overhead.A spike of piercing lightning forced him to look away from the sky, when his gaze fell on the small gathering around the pack infirmary.He could not see clearly through the window, but it appeared like an emergency in the middle of the night, he could make out the silhouettes of the pack nurses and Elio and Adrian among a few unfamiliar ones.His feet moved automatically towards the door, he would do anything for those two at this point, Elio and Adrian had become important people in his life, it was because of them that his existence had become purposeful again.He was aware the pack Alpha was unavailable at the moment, and in his absence a commotion near the infirmary didn’t seem like good news.He took hurried steps towards where Elio was now standing, helping a stranger remove his overcoat and checking him for injuries, and damn did the stranger look bloodied.“Like I said, it is not my
Adrian gently pushed the door open into his spacious room, as he put the smiling Omega back onto his feet, on the soft hardwood floor.Elio inhaled the refreshing, mahogany scent of the Alpha that lingered everywhere in the room, it was an oddly familiar feeling, coming back here again after a handful years.There was the same large bed next to the wall, the dark curtains that swayed lightly in the moonlit breeze slipping in from the full-sized sliding window of the empty balcony, and the metal wind chime that tinkled along, most of the things in this room were the same as before, at first glance, yet there were a few changes.The little things that Elio observed, showed that the Alpha had grown up with time.There were twin longswords hanging on the far wall, a small writing desk with a stack of scrolls and papers, occupied a warm corner by the hearth.The rosewood shelf across the room was bigger now and fuller with different books and metal badges, signifying Adrian’s various achie
Adrian, Elio, and their friends reached pack Nova by early dusk, they were warmly welcomed by the representative pack members and everyone seemed elated to be in their presence. The residents of the Nova pack were very excited to meet their Alpha heir’s friends, they pretended to go about their everyday chores out in the fields, with an actual intention to catch a glimpse, of the most famous young wolves of their generation. There were hushed noises of awe, surprise, and heartfelt gushes, especially as the wondering eyes of the crowd fell over the chattering Omega whose hands were entwined softly, with their brightly grinning Alpha. Elio and Adrian were in the spotlight even as they merely walked towards the Fenrys residence. The people had not seen Adrian be this comfortable with anyone other than his father, everyone could immediately tell that Elio meant a lot to him. There was no denying that there were substantial rumors about the male Omega, ever since the events of the rog
Elio had been to the Nova pack, a couple of times before when he was younger, but this time, felt a whole lot different for him.They were going to Adrian’s pack to meet his friends according to what they had planned, and it pushed the dainty little Omega’s nerves to the edge, thinking about all sorts of things, while sitting cross legged on the bed.What kind of impression would he have on his Alpha friends, would they judge him? would he be able to act normally in front of Alpha Fenrys? Will he end up embarrassing everyone? All these questions were driving him anxious.“Elio?” Adrian’s voice snapped him out of his internal panicking and he turned to look at the Alpha who had just stepped out of the bathroom.He was freshly showered, his hair dripping wet, dampening the plain white shirt he had on.“I asked you for a towel,” The Alpha repeated and purposely ruffled his drenched hair to sprinkle droplets of water on Elio, who giggled and reached for the towel near the cupboard, but th
Several thick layers of snow covered everything in sight, from the bare branches of the humongous Pines, to the jagged rocky lands and hill slopes, the solitary flowing river nearby too, was encased in frosty glass. The freezing cold vast stretches of the oddly aligned peaks, that were collectively
“How dare that low class, wretched male Omega speak to me in that manner.” Alpha Darius grumbled while stomping through the main gate of the Packhouse of the Calyx. He was fuming in anger at the insulting behavior of the pack Alpha and his lowborn son, they had the audacity to tell him, who was an
“Maa, open your eyes, talk to me please, don’t leave me, NO!” Elio screamed awake, panting and sweating, feeling as if someone was pounding on his head with rocks, “Ughh,” the Omega groaned, clutching his head. “Elio, are you okay, does it hurt anywhere!?” A familiar worried voice asked, the Omega
The three wolves turned in unison to face the glowing scarlet eyes, as a medium sized wolf emerged from the middle of the Oak trees, its silver fur standing out in the dark. “Didn’t you hear me?” the voice of the young wolf bellowed in their minds again, “I said step away from my mother, you filthy
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore