Teilen

Bab 10

Nenas
Nino menepati perkataannya.

Di hadapan para tetua keluarga, dia mengakui bahwa insiden diriku jatuh ke air saat upacara perahu adalah kesalahannya.

Dia juga menjelaskan di depan semua orang bahwa selama 6 tahun ini, akulah yang merawat Ayah Shawn dan mempertahankan toko payung Keluarga Shawn.

Keluarga Shawn tetap menggunakan desain payung bambu hijauku dan membayarku berdasarkan jumlah payung yang dibuat, tetapi tidak lagi menjadikan itu alasan untuk memintaku kembali.

Sebulan kemudian, aku perg
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 10

    Nino menepati perkataannya.Di hadapan para tetua keluarga, dia mengakui bahwa insiden diriku jatuh ke air saat upacara perahu adalah kesalahannya.Dia juga menjelaskan di depan semua orang bahwa selama 6 tahun ini, akulah yang merawat Ayah Shawn dan mempertahankan toko payung Keluarga Shawn.Keluarga Shawn tetap menggunakan desain payung bambu hijauku dan membayarku berdasarkan jumlah payung yang dibuat, tetapi tidak lagi menjadikan itu alasan untuk memintaku kembali.Sebulan kemudian, aku pergi ke Keluarga Shawn untuk menyelesaikan perhitungan.Saat tiba di rumah perahu, aku sudah mendengar suara Dina.“Sekarang kamu malah melempar semua kesalahan kepadaku?”Dia berdiri di tengah bengkel perbaikan kapal. Di kakinya tergeletak kunci lemari sebelah barat dan cap cabang kedua Keluarga Shawn.Nino bersandar di sisi meja. Wajahnya tampak lelah.“Aku tidak bilang semua kesalahan ada padamu.”“Tetapi kamu mengusirku dari toko payung, mengambil kembali kuncinya, bahkan tidak mengizinkanku ma

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 9

    Vino kembali ke Kota Ark dua hari kemudian.Saat datang ke bangsal penyeberangan, dia mengenakan jubah panjang bergaya kota lain. Wajahnya hampir sama persis dengan Nino, tetapi rautnya jauh lebih santai.Sudah 6 tahun kami tidak bertemu. Hal pertama yang dia lakukan adalah memanggilku, “Mia.”Tanganku yang sedang merapikan permukaan payung tidak berhenti, “Panggil aku Nona Fore.”Dia tampak canggung, lalu meletakkan bungkusan yang dibawanya di atas meja.“Selama bertahun-tahun, setiap kali pulang ke kampung halaman, aku tidak pernah bertemu denganmu. Sebenarnya, selama ini aku selalu ingin mengatakan satu hal kepadamu. Apa yang terjadi waktu itu adalah kesalahanku. Aku minta maaf.”Aku meletakkan payung di tangan, lalu menatapnya.“Kesalahanmu bukan hanya kepadaku.”Dia menghindari tatapanku. Setelah terdiam cukup lama, dia kembali berbicara.Dia menceritakan banyak hal, seolah ingin menuntaskan semua penjelasan yang tertunggak selama 6 tahun sekaligus.Katanya, dulu dia tidak ingin m

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 8

    3 hari kemudian, aku pergi ke wilayah selatan kota untuk mengantarkan pesanan. Saat kembali, aku mendapati bangsal penyeberangan itu sudah berganti pintu baru.Atapnya sudah diperbaiki, celah-celah dinding yang sebelumnya membuat angin masuk juga sudah ditutup.Bahkan meja kerjaku dinaikkan kembali, tepat sesuai ukuran yang paling nyaman bagiku.Nino berdiri di dekat pintu, lengan bajunya digulung sampai siku.“Coba pintunya.”Aku mendorongnya. Engsel pintu bergerak begitu mulus, tanpa sedikit pun tersendat saat dibuka-tutup.Ada setitik cahaya di mata Nino, “Mulai sekarang, jarimu tidak akan terjepit lagi.”Aku menarik tanganku. Ujung jariku sempat menyentuh kusen pintu, “Terima kasih, tetapi tidak perlu melakukan hal-hal seperti ini lagi.”Sedikit cahaya yang baru saja muncul di matanya segera meredup, “Tidak mungkin membiarkanmu terus tinggal di bangsal reyot seperti ini.”Sambil berkata demikian, dia mengeluarkan selembar surat perjanjian yang sudah dilipat dari balik bajunya dan m

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 7

    Aku tetap kembali ke kediaman Keluarga Shawn.Aku sudah merawat Ayah Shawn selama bertahun-tahun. Saat penyakitnya kambuh di malam hari, orang lain tidak akan bisa langsung mengetahui apa yang harus dilakukan.Saat masuk ke kamar, Nino sedang berjaga di sisi ranjang. Ujung lengan bajunya terkena percikan obat.Begitu melihatku masuk, dia segera berdiri dan memberikan tempat kepadaku.Dahi Ayah Shawn penuh keringat, tetapi jemarinya justru menggenggam tanganku erat-erat. Dari tenggorokannya terdengar panggilan samar, “Mia … jangan pergi .…”Dadaku terasa sesak.Aku segera membantu mengatur napasnya, lalu mencampurkan setengah mangkuk air hangat ke dalam mangkuk obat di sampingnya.Di balik papan bambu di sisi ranjang terselip setumpuk catatan. Aku mengambilnya dan mencocokkan satu per satu waktu yang tertulis di sana.Kebiasaan yang kulakukan selama bertahun-tahun sudah terukir dalam tulangku.Dina berdiri di samping sambil membawa semangkuk obat lain. Wajahnya pucat, “Aku membuatnya se

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 6

    Saat hujan musim gugur pertama turun, bangsal penyeberangan itu bocor di 7 tempat.Aku memindahkan permukaan payung yang baru selesai ditempel ke sudut dinding, sementara aku sendiri diguyur hujan hampir sepanjang malam.Luka lama di tangan kananku terasa berdenyut karena air dingin, bahkan rangka payung yang paling tipis pun sudah sulit kugenggam dengan erat.Dulu, setiap kali menghadapi keadaan seperti ini, aku selalu pergi ke rumah perahu.Nino sangat pandai memperbaiki atap.Seberapa lapuk pun papan kayunya, begitu sampai di tangannya, dia selalu tahu bagian mana yang harus diberi penyangga.Mulutnya selalu mengeluh bahwa aku merepotkan, padahal di toko payung ada begitu banyak orang, tetapi aku justru datang mengganggu ketenangannya.Namun, sebelum fajar keesokan harinya, dia pasti sudah datang membawa peralatan dan memperbaiki setiap bagian yang bocor hingga rapat kembali.Saat hujan turun sangat deras, aku bahkan sudah berjalan sampai ke pintu.Air lumpur sudah menggenang hingga

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 5

    Aku pergi ke tepian sungai di sebelah barat kota dan tinggal sementara di sebuah bangsal penyeberangan tua yang sudah terbengkalai selama bertahun-tahun.Atap bangsal itu bocor, sementara pintu kayunya hanya bisa tertutup separuh. Saat aku sedang mengikat engsel pintu dengan tali rami, Nino pun datang.Dia masih membawa gantungan payung itu di tangannya. Berdiri di tempat yang terkena angin, tetapi tidak masuk ke dalam.“Kamu meninggalkan benda ini di rumah perahu, apa maksudnya?”Aku terus mengencangkan simpul tali tanpa menoleh, “Awalnya aku ingin memberikannya kepadamu. Tetapi aku berubah pikiran.”“Ditinggalkan di depan pintu atau diberikan kepadaku, apa bedanya?”Aku pun menatapnya, “Jika diberikan, berarti itu untukmu. Jika ditinggalkan di ambang pintu, berarti itu sesuatu yang tidak kuinginkan lagi.”Jari-jari Nino segera menegang. Dia meletakkan gantungan payung itu di atas meja, lalu kembali berbicara dengan nada dinginnya yang biasa.“Nama di buku pintu air bisa kutambahkan k

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status