MasukDemi cintanya, Keiko harus melepaskan Jonatan. Keiko harus pergi menjauh dan tidak terlihat sama sekali. Namun permainan takdir membuat Keiko dan Jonatan bertemu kembali. Jonatan yang selalu setia menunggu Keiko, akhirnya tidak mau melepaskan Keiko lagi. Dia berusaha menggenggam erat Keiko agar tidak pergi dari nya. kisah cinta yang indah hanya bertahan selama enam bulan. Untuk kesekian kalinya Keiko meninggalkan Jonatan setelah ucapan janji suci mereka ucapkan di depan gereja. Namun kali ini Keiko meninggalkan Jonatan karena penyakitnya Alzaimer yang mulai menggerogoti ingatannya satu persatu. Kepergian Keiko kali ini mengguncang jiwa Jonatan. Jonatan kehilangan jati dirinya dan terus saja mencari Keiko. Akankah Jonatan menemukan Keiko kembali? Ikuti terus cerita cinta Keiko dan Jonatan
Lihat lebih banyakThe morning sunlight spilled unevenly across the sleek agency headquarters. Jay sat at the end of a long conference table, scrolling through the digital files projected on the big screen. He barely registered the hum of conversation around him, voices blending into white noise. Mission details, updates, protocols — none of it mattered right now.
“Jay! Jay!”
The voice was sharp enough to yank him from his daze. He lifted his head, blinking. “Sorry,” he muttered, glancing at the director’s assistant standing impatiently by the door.
“You’re the one for this,” the assistant said firmly, tapping a document. “You’re leaving. Today.”
Jay’s hand froze on the table. “Me?”
“Yes. You’re the best we’ve got,” another agent added, nodding toward the others around the table. “Jay will handle it.”
Jay exhaled sharply, resting both hands on the polished surface. He swallowed. “Alright. I’ll go.”
The meeting wrapped up, and as Jay walked into the hall, two familiar arms draped around his shoulders — Kim on the left, Alex on the right.
“Drinks tonight,” Kim suggested with a teasing grin.
“Good idea,” Alex added, smirking.
Jay shrugged them off, muttering, “No, I’m not coming.”
They weren’t about to let him off that easily. By the time they reached the small bar near headquarters, a cold pint of beer was placed in front of him. Jay downed it in one gulp, slamming the glass on the counter. “That’s not fair! Me? Why me?”
Kim leaned casually against the bar. “Because you’re the good one,” she said, eyes glinting.
Alex, chewing on a snack, tilted his head mischievously. “And because you’re the one who never says no.”
Jay gave him a blank stare. “Date someone? I… I don’t have anyone.”
Alex laughed, nudging him playfully. “Are you sure? We could fix that.”
Kim smacked Alex lightly on the back of the head. “Stop teasing him!”
Jay sighed, leaning his forehead onto the table. For a moment, he imagined his sister, his quiet life at home, a world where he didn’t have to be the perfect agent. He pushed the thoughts away and reached for his beer again. “Yeah… fine, I’ll drink.”
“Don’t overdo it,” Kim warned, smirking.
“I’m fine,” Jay muttered, though his fingers tightened around the glass.
By the end of the night, they piled into a taxi, laughing and teasing each other along the way. Jay let himself be pulled along, despite protesting, until they arrived at Kim’s apartment. Alex vanished into the bathroom, muttering something about “surviving the night,” while Kim flopped onto the bed with a sigh. Jay sank onto the sofa, exhausted, letting the events of the day wash over him.
Morning came too quickly. Sunlight painted the room gold as Jay opened his eyes. Alex and Kim were still asleep, tangled in blankets. Jay stretched, sitting up. “Wake up. We have work,” he muttered, shaking his head with a small smile.
They dressed, perfectly suited, and left for the agency headquarters. Walking through the building, Jay noticed the ordinary lives behind the agents — men and women with families waiting at home, secrets they would never share. Jay’s own life was built entirely on secrecy.
He reached the director’s office, heart already tightening. “May I come in?” he asked.
“Jay!” the older man smiled warmly. “How are you?”
“I’m fine,” Jay replied, keeping his tone neutral.
“You’ve seen the report?” the director asked, eyes twinkling. “You don’t want to do this, do you?”
Jay’s mouth tightened. “Yeah… I don’t.”
“But you have to,” the director said firmly, placing a thick folder on the desk. “You’re leaving for Italy. Your name stays Jay. You’re the perfect person for this mission.”
Jay exhaled slowly and accepted the documents. He glanced at the file — photos, notes, mafia profiles. One name stood out: Rafael “Rafe” Bianchi. The mafia boss of Milan, infamous for his ruthlessness, his dominance, and… apparently, his taste in men.
The assistant appeared with a small suitcase. “Your things are here. And you’ll need to change your appearance for the mission,” she said.
Jay opened the room to find a sleek, modern suit laid out on the bed. It looked more like a model’s outfit than a spy’s disguise. Jay froze. His eyes scanned the documents again — Rafe liked handsome, sharp-featured men. Jay groaned inwardly. Of course… they all want models.
He changed quickly, straightening the jacket, running his fingers through his jet-black hair, and catching his reflection. Sharp, cold, dominant — someone who could sit on a mafia boss’s radar without being noticed… or maybe noticed in exactly the right way.
Grabbing the documents and the suitcase, Jay left for Italy, feeling the familiar mix of dread and excitement swirl in his chest. Every step toward the plane, every thought of Milan, brought one question forward: What kind of man is Rafael Bianchi — and am I ready to face him?
As he boarded, Jay couldn’t help the shiver of anticipation. This wasn’t just another mission. This was a game of dominance, secrecy, and forbidden attraction. And somehow, he had a feeling he wasn’t going to like losing.
18 tahun kemudian "Pagi Ma, apa kamu tidur nyenyak selama ini? hari ini pertama kali nya aku datang menemuimu setelah sekian lama. sudah dari dulu aku meminta papa mengantarkanku kesini, tapi papa selalu saja sibuk dengan pekerjaannya. Kamu tahu Ma, aku kesini tanpa bilang ke Papa. Entah reaksi apa yang akan Papa lakukan saat papa tahu aku tidak ada dikamar pagi ini. ckckc" ucap Viona sambil duduk di samping makam Keiko yang di Jerman. Malam kemarin Keiko menyelinap Keluar dari rumah dan terbang ke Jerman sendirian. sudah satu bulan Keiko mempersiapkan perjalanan ini. selama 18 tahun Viona tidak pernah melihat mama nya sendiri. Setelah Keiko meninggal. Jonatan kembali membawa Viona ke negara X. dan Rasya menjadi ibu angkat nya. merawatnya bersama Daniel seperti anaknya sendiri. Dalam perjalanan ini Viona dibantu oleh Daniel untuk urusan tiket, dan pasport nya. agar tidak diketahui oleh orang tua mereka, mereka mengumpulkan uang saku mereka untuk membeli tiket dan penginapan. Viona
5 minggu kemudian"Kei awas,"teriak Jonatan yang melihat Keiko sedang naik diatas kursi untuk mengambil balon yang terbang dan tersangkut di ujung dinding. Tanpa menyadari kehamilannya, Keiko terjatuh dari kursi dan mengalami pendarahan. Jonatan langsung membawa Keiko ke rumah sakit."Kei bertahanlah, "ucap Jonatan dengan panik.Haffa datang bersama temannya Alice datang dari koridor. teman Haffa memeriksa kondisi Keiko, dan memutuskan untuk melakukan operasi ceacar. Jonatan menyetujui itu dan menunggu di luar ruangan. Hampir dua jam Keiko berada di ruang operasi. akhirnya lampu hijau ruangan operasi menyala. teman Haffa keluar dan memandang Jonatan."Anakmu bertahan dengan sangat baik Jo, dia lahir dengan sehat,"ucap Alice yang menangani operasi itu. Mendengar itu Jonatan merasa sangat lega, namun ekspresi Jonatan berubah saat melihat ekpresi Alice. "Apa yang terjadi kepada Keiko?"tanya Jonatan dengan suara gemetar. Haffa mengetahui situasai yang terjadi dan mencoba menenangkan Jon
Ucapa Keiko seperti petir untuk Jonatan. Keadaan Keiko yang semakin memburuk jika tidak segera diatasi. namun obat ini belum teruji aman untuk ibu hamil. jonatan hanya terdiam dan memikirkan semua solusi yang bisa dia pikirkan. ketika Keiko sudah bertekat, tidak ada yang bisa menghalanginya. apalagi ini tentang anak yang sedang dia kandung. Keiko benar-benar menyiapkan dirinya untuk segala situasi. di menyiapkan semua yang dia perlukan saat dia kehilangan kesadarannya. bahkan ketika dia kehilangan kesadarannya, dia tidak boleh lupa kalau dia sedang hamil, untuk keselamatan janinnya. 6 bulan berlalu begitu cepat, gejala alzaimer Keiko juga semakin parah. fisik Keiko juga semakin lemah. rasa frustasi dan cemas terkadang melanda Keiko. di bulan ke empat, saat gejala alzaimer Keiko muncul, Keiko merendam dirinya di bathtub hampir 2 jam. Jonatan sontak langsung mengangkat Keiko dan menghangatkannya. untungnya janin yang ada dikandungan Keiko tidak apa-apa. saat itu Jonatan merasa sangat
Satu bulan kemudian Jonatan meneliti kembali pengembangan obat alzaimer yang sedang di teliti Haffa dan tim nya. karena keterlibatannya dalam penelitian ini, Jonatan terpaksa meminta perawat menjaga Keiko saat dia di Lab. namun Jonatan lebih banyak melakukan analisis data di rumah, agar dia bisa menjaga Keiko. Kondisi Keiko sedikit lebih stabil dan membaik satu bulan terakhir ini. masa kambuhnya hanya terjadi beberapa saat. dan ketika keiko sedang kambuh, Jonatan tidak meninggalkannya sama sekali. dia selalu menemani dan merawat Keiko dengan sabar nya. Penelian mereka mendapatkan angin segar setelah Jonatan menemukan beberapa variabel yang membuat obat ini tidak cukup bekerja. dengan kecerdasan Jonatan dalam waktu satu bulan bisa membuat analisis yang pas. "Kita berhasil Jo, Obat ini akhirnya bisa selesai,"ucap Haffa memeluk Jonatan dengan bahagia. "Aku sangat yakin, dengan obat ini Keiko akan sembuh."ucap Haffa dengan penuh keyakinan. Jonatan kembali ke rumah dengan perasaan bah
"Apa kamu harus benar-benar melakukan ini Kei?" tanya Haffa sebelum menyuntikkan sampel obat pertama kepada Keiko. "Lakukan Kak, "ucap Keiko dengan senyum keyakinan.Dengan berat hati Haffa menyuntikkan sampel uji coba obat yang sudah jadi. Keiko tidak menunjukkan ekspresi apapun dalam wajahnya. Dala
satu minggu berlalu, rumah selesai di renovafi dengan kilat oleh Jonatan. rumah ini di desain seperti keinginan Keiko dulu. selama seminggu ini Jonatan merawat Keiko dan membuat Keiko bisa nyaman dengan kehadirannya, bairpun dia tidak mengenali nya. Jonatan menemui Haffa dan meminta Haffa meninjau r
"Apa kamu punya hubungan khusus dengan Keiko?"tanya Haffa Jonatan masih bergulat dengan pikirannya sendiri dan tidak menghiraukan pertanyaan Haffa. "Apa yang terjadi pada nya Fa?"tanya Jonatan yang terbangun dari pikirannya." Alzaimer,"jawab Haffa singkat."Sejak kapan?" tanya Jonatan"Sekitar 3 tahun
Siang malam Haffa mengerjakan penelitian ini tanpa beristirahat sama sekali. satu minggu ini, dia tidak keluar sama sekali dari LAB. Jannifer yang menemani Keiko di asrama menceritakan perjuangan Haffa untuk riset ini. biarpun terkadang Jennifer hanya berbicara sendiri karena Keiko dalam keadaan tid
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak