Mag-log inPutra mahkota mengganggukkan kepala, terlihat lega mendengar kesungguhan adik perempuannya. “Aku hanya ingin kau bahagia,” ucapnya.
Suara alunan music pernikahan mengalun, memenuhi udara. Suara tawa dan obrolan memenuhi ruangan, menyaru dengan aroma arak manis dan makanan enak.
Kekehan pelan Dongmei terdengar mengejek, setidaknya di telinga Liwei. “Sekarang kau terlihat seperti seorang kakak.”
“Aku memang kakakmu,” balas Liwei. Tatapann
Fajar baru saja pecah di ufuk timur ketika gerbang-gerbang kayu raksasa ibu kota perlahan membuka lipatan untuk menyambut embusan angin pagi dingin serta hiruk-pikuk awal dari rombongan saudagar dan pelancong yang bersiap mengadu nasib. Di tengah kerumunan yang sibuk melangkah keluar kota, Dongmei melintasi ambang pintu gerbang dengan penampilan jauh dari kesan kemewahan istana.Pagi ini ia mengenakan jubah sederhana berwarna biru tua bertali kain rapat, rambut hitamnya disanggul rendah bersahaja, sementara sebagian wajahnya yang halus tersembunyi rapat di balik terpaan lembut kerudung kain tipis. Penyamaran sebagai seorang putri saudagar kaya yang hendak menginspeksi rute perdagangan keluarga dirancang dengan sangat teliti, didampingi oleh Xuan Huan yang bertindak selaku juru catat keuangan santun dan bertanggung jawab atas pembukuan serta transaksi barang sepanjang perjalanan.Di belakang mereka, Zihai menunggang kuda sembari memimpin sekelompok pengawal setia yang dengan sengaja me
Setelah berbulan-bulan, ketenangan akhirnya kembali. Ibu kota Bai Yun terbangun tanpa suara lonceng darurat. Penjagaan di sekitar istana memang masih diperketat setelah kudeta Perdana Menteri Zhong, tetapi suasananya sudah jauh lebih tenang. Orang-orang mulai kembali pada rutinitas mereka, meski sesekali masih terdengar percakapan pelan mengenai penangkapan para pengkhianat dan nasib keluarga Zhong.Bagi Dongmei, ketenangan itu justru terasa asing. Pagi ini dia berdiri di depan cermin, merapikan rambut kemudian memeriksa pakaian yang dikenakannya sebelum menyelipkan sebilah pisau kecil ke balik ikat pinggang. Kebiasaan itu sudah menjadi sesuatu yang nyaris otomatis sejak ia tiba di Bai Yun. Setelah beberapa kali nyawanya berada dalam bahaya, Dongmei tidak lagi percaya bahwa pagi yang tenang berarti hari akan berjalan aman.Dayang Huan yang sedang menyiapkan aksesori di meja rias memperhatikan gerakannya. “Yang Mulia akan membawa pisau ke ruang makan?”Dongmei menoleh. “Hanya untuk ber
Malam telah jauh melewati pergantian jaga ketika Liwei menerima pesan untuk datang ke kamar peraduan Raja Bai. Tidak ada pengawal yang menjelaskan alasan pemanggilan tersebut. Hanya Kasim Kang yang menunggunya di luar pintu dengan wajah lebih serius daripada biasanya."Yang Mulia sedang menunggu Anda, Putra Mahkota."Liwei mengangguk dan melangkah masuk, mendapati ayahnya belum tidur. Raja Bai duduk bersandar di ranjang dengan sebuah lampu minyak menyala di atas meja kecil, sementara beberapa gulungan laporan pemerintahan dibiarkan terbuka tanpa disentuh. Kondisinya memang jauh lebih baik dibandingkan beberapa waktu lalu, tetapi ekspresi lelah masih terlihat jelas pada wajah lelaki yang telah memimpin Bai Yun selama puluhan tahun itu. "Ayah memanggilku?"Mengangkat pandangan, Raja Bai memberi isyarat agar Liwei duduk. "Aku ingin membicarakan sesuatu sebelum malam semakin larut. Tidak ada urusan pemerintahan yang mendesak, jadi kau tidak perlu datang dengan pikiran bahwa aku hendak mem
Terdiam beberapa saat, Dongmei memandangi wajah Raja Bai untuk beberapa saat sebelum akhirnya duduk lebih nyaman di kursi yang berada di sisi ranjang. Tubuh raja masih lemah, tetapi sorot matanya kembali tajam. Pengalaman puluhan tahun memerintah membuatnya terbiasa membaca kebohongan dari gerakan kecil seseorang, sehingga Dongmei tahu bahwa tidak ada satu pun bagian dari pengakuannya yang akan diterima begitu saja."Aku tidak tahu apakah semua yang akan kuceritakan bisa kau percaya, Yang Mulia" kata Dongmei perlahan. "Sebenarnya aku sendiri membutuhkan waktu cukup lama untuk menerima fakta terlempar ke tempat ini." Menjeda, ia menggendikkan bahunya, ringan. "Jika menceritakannya kepada orang lain, mungkin mereka akan menganggapku gila."Raja Bai tersenyum samar. "Setelah menghadapi Perdana Menteri Zhong, ilmu hitam, jaringan pembunuh, dan seorang putri yang ternyata menyimpan lebih banyak rahasia daripada seluruh pejabat istana, aku tidak merasa memiliki hak untuk menganggap seseoran
Dongmei terbatuk pelan, terlihat tidak heran saat mendengar kabar jika Huo Shan mengirim utusan untuk memutuskan pertunangan mereka. Dongmei malah bersyukur karenanya, setidaknya dia memiliki waktu lebih lama untuk fokus pada perubahan di Kerajaan Bai Yun. Andai Liwei naik takhta nanti. Meifeng bisa memohon untuk tidak menikah.Langkah kaki Dongmei menggema saat melewati koridor panjang menuju peraduan raja. Kesehatan ayahnya semakin menurun, sementara tabib tidak bisa menemukan obat untuk melawan racun darah yang selama ini dimasukkan Jing Fei melalui makanan raja.Raja menolak saat Dongmei mengusulkan agar dia meminum darahnya. Pria itu berpendapat jika sudah saatnya dia membayar atas dosa-dosa yang dia lakukan selama hidupnya.“Meifeng?” Raja memanggil dengan suara lemah. Tangannya yang terulur langsung disambut oleh Dongmei. “Kenapa beberapa hari ini kau tidak datang berkunjung?”Meifeng mengulum senyum dan menjawab, “Pernikahan Putri Biyu dan Zixin sudah dekat, Ayahanda. Aku ikut
Penjara kerajaan Bai Yun berada jauh di bawah bangunan utama istana, di balik lorong batu yang hanya diterangi obor pada jarak tertentu. Tempat itu sengaja dibangun tanpa jendela dengan maksud agar tahanan tidak dapat mengetahui siang atau malam telah berganti. Hanya suara tetesan air dari sela-sela dinding dan langkah para penjaga yang sesekali terdengar, membuat kesunyian di dalamnya terasa semakin berat.Perdana Menteri Zhong telah berada di sana sejak kudetanya gagal. Luka pada kaki kanannya belum sepenuhnya dirawat. Pakaian kebesaran yang dahulu selalu rapi kini diganti pakaian tahanan kusut dan ternoda debu. Tidak ada lagi rombongan pelayan, pengawal pribadi, atau pejabat yang berdiri di belakangnya. Ia benar-benar sendirian.Walau sudah berada di titik terendahnya, Zhong masih berusaha mempertahankan wibawa ketika pintu ruang interogasi terbuka dan Liwei masuk bersama Deming. Dengan gerakan tidak terlalu cepat ia mengangkat kepala dari tempat duduknya. "Putra Mahkota."Liwei
Sang tabib bergegas menuju ruang kerja raja setelah selesai memeriksa Meifeng. Seorang prajurit penjaga melaporkan kedatangannya kepada kepala kasim yang bertugas melayani semua keperluan raja. Kasim tua berjalan tergopoh-gopoh. Tubuh kasim sudah membungkuk oleh usia, tapi kedua matanya masih terli
Wanita itu tersenyum puas saat berhasil melumpuhkan seorang penyerang yang tidak lain Pangeran Kelima Kerajaan Bai Yun. Dalam satu gerakan gesit dia berhasil meloncati benteng Paviliun Teratai Salju, lalu meloncat turun dan berlari melewati lorong dan taman istana dengan puluhan prajurit yang telah
Aroma bunga mawar yang menyelimuti ruangan tidak berhasil menarik wanita itu ke dunia nyata. Napas Dongmei terengah, dadanya naik turun dengan cepat. Ia bahkan tidak menyadari jika rambut pendeknya kini tergerai panjang, hitam dan mengkilap."Tabib, periksa keadaannya!" Ucapan bernada perintah itu
Asap putih pekat dan hawa panas yang berasal dari lantai dasar gedung membuat Dongmei bergerak semakin cepat. Dia dan anggotanya tidak memiliki banyak waktu, mereka harus segera mengeluarkan anak-anak korban penculikan yang disekap di ruang bawah tanah. Suara 'krak' terdengar saat sepatu PDL Dongme







