ANMELDENPutra mahkota mengganggukkan kepala, terlihat lega mendengar kesungguhan adik perempuannya. “Aku hanya ingin kau bahagia,” ucapnya.
Suara alunan music pernikahan mengalun, memenuhi udara. Suara tawa dan obrolan memenuhi ruangan, menyaru dengan aroma arak manis dan makanan enak.
Kekehan pelan Dongmei terdengar mengejek, setidaknya di telinga Liwei. “Sekarang kau terlihat seperti seorang kakak.”
“Aku memang kakakmu,” balas Liwei. Tatapann
Waktu terasa berjalan melambat. Wen Xian mengamati wajah lawan bicaranya, tapi Dongmei tidak terlihat gugup. Namun, dia juga tidak memberikan penjelasan yang dapat mengakhiri kecurigaannya. Wanita itu selalu berhasil menemukan batas antara keterbukaan dan kerahasiaan, seolah-olah terbiasa menghadapi pertanyaan yang jauh lebih sulit.“Setidaknya katakan apakah tujuanmu dapat membahayakan keluarga Bai,” ujarnya.Dongmei memikirkan pertanyaan itu sebelum menjawab. “Aku tidak datang untuk mencelakai keluargamu. Namun, jika dalam perjalananku menemukan seseorang melakukan kejahatan, aku tidak akan berpura-pura tidak melihatnya hanya karena orang tersebut memiliki nama keluarga terhormat.”Terdiam beberapa saat, Wen Xian menurunkan pandangan ke cawannya. “Kau berbicara seolah-olah sudah menduga akan menemukan sesuatu.”“Aku berharap tidak menemukan apa pun yang buruk,” jawab Dongmei, menggendikkan bahunya acuh tak
Pagi belum menyentuh atap kediaman keluarga Bai ketika seorang pengawal rahasia memasuki ruang kerja Adipati Bai Zhenyuan melalui pintu samping. Pria berpakaian serba hitam itu berlutut di hadapan meja, menunggu hingga sang adipati menyelesaikan kalimat terakhir pada dokumen yang sedang dibacanya.“Yang Mulia, tugas hari ini gagal. Tuan Muda Wen Xian datang bersama pengawal Kediaman Adipati dan membantu wanita itu. Anggota yang tertangkap semuanya sudah bunuh diri,” lapornya masih menundukkan kepala, dalam.Ada perasaan was-was saat pria itu memberi laporan kepada sang adipati. Walau dari luar terlihat biasa saja, tidak ada yang bisa menyelami isi kepala Adipati Bai sehingga baik teman ataupun musuh harus tetap berhati-hati saat berhadapan dengannya.Bai Zhenyuan meletakkan kuas di tangannya ke atas tempatnya. “Wen Xian terlibat?” Sebenarnya hal itu sudah tidak membuatnya terkejut. Putra pertamanya pasti langsung bertindak jika ada kekacauan di kota. Bahkan akan sangat aneh jika Wen X
Ketegangan di dalam penginapan masih sangat terasa. Genangan darah terlihat di beberapa titik pertempuran. Beberapa musuh tergeletak di atas lantai, sedangkan para pengawal Dongmei yang sebenarnya pengawal rahasia raja masih bertarung sengit, tiga di antara mereka terluka cukup parah.Bai Wen Xian memberikan isyarat tangan secara kilat kepada dua perwiranya untuk melakukan pengejaran tehadap pria berjubah hitam, tapi dua penyusup bertopeng mendadak melompat mengorbankan diri untuk memotong rute perwira tersebut. Dongmei bergerak lebih cepat dari perkiraan siapa pun, wanita itu menerobos maju, menangkis tebasan pedang musuh yang mengincar rusuk Wen Xian sebelum sang putra adipati sempat meretret posisinya. Benturan baja beradu hebat dan Dongmei memanfaatkan poros putaran tubuhnya untuk mendorong musuh lurus ke arah pedang Zihai yang baru saja merapat ke halaman."Kejar sekarang! Jangan biarkan pria itu meloloskan diri!" seru Dongmei tegas kepada Wen Xian.Mengang
Salah seorang penyusup berbadan kekar berhasil memanfaatkan celah pertukaran serangan untuk melompati pagar tangga. Gerakannya sangat gesit saat berusaha menerobos ke lorong kamar tempat beberapa orang tamu berlindung.Melihat musuh mendekat ke penduduk sipil, Dongmei langsung bergegas untuk memotong jalur. Ia memutar tubuh, menghubuskan pedang ke arah penyerang pertama, tapi dua penyerang lain melompat menghadang dari arah berlawanan secara bersamaan.Beruntung, Dongmei berhasil menghindari serangan dan segera merendahkan tumpuan kaki, mengangkat pedangnya secara menyilang untuk menahan tebasan atas dari penyerang pertama. Ia bahkan belum sempat bernapas saat tusukan penyerang kedua meluncur dari bawah. Menyipitkan mata, Dongmeilu memutar pergelangan tangannya secara ekstrem hingga menyebabkan suara benturan baja yang keras di udara, memercikkan bunga api di tengah temaram cahaya lentera tangga."Habisi dia! Jangan biarkan target meloloskan diri!" Suara komando bernada berat terdenga
Saat perjalanan kembali ke penginapan, lentera-lentera di sepanjang jalan sudah menyala penuh. Dan di antara bayangan gudang serta perahu-perahu yang tertambat di tepi sungai, beberapa orang memperhatikan rombongan mereka sejak meninggalkan Paviliun Yuehe.“Pastikan dia tidak sempat meninggalkan Qingyuan!” katanya pelan.Di bawah cahaya lentera yang mulai meredup, seseorang mengangguk dan menghilang ke dalam gang sempit, membawa perintah yang akan mengubah malam Dongmei menjadi pertarungan untuk bertahan hidup.Kegelapan merayap cepat menyelimuti Qingyuan, membawa serta embusan udara malam yang merengkuh kota dengan rasa dingin menggigit daripada biasanya. Dari celah jendela lantai dua penginapan, Dongmei berdiri membisu memperhatikan deretan lentera kertas yang mulai dinyalakan satu per satu di sepanjang lorong jalan utama.Cahaya kekuningan bergetar ditiup angina, menerangi wajah-wajah para pedagang yang bergegas membereskan dagangan dan men
Malam di Paviliun Yuehe belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir ketika keramaian di lantai dua mulai mereda. Sebagian tamu telah beralih ke meja permainan, sedangka lainnya berkumpul di dekat jendela untuk menikmati pemandangan sungai. Perdebatan tentang puisi yang sempat menghangatkan suasana kini tinggal bahan percakapan ringan. Para perempuan bangsawan yang sebelumnya menantang Dongmei pun tidak lagi berusaha menariknya ke dalam permainan, meskipun beberapa di antara mereka masih sesekali melirik ke arahnya dengan rasa ingin tahu bercampur kesal.Dongmei tidak terlalu memedulikan mereka. Ia sudah menyelesaikan hidangannya dan informasi yang dikumpulkan Xuan Huan membuat kunjungan malam itu cukup berharga. Namun, sebelum meninggalkan restoran, wanita itu ingin menikmati udara malam sejenak.Bangkit dari kursinya, Dongmei memberi isyarat kepada Xuan Huan jika dirinya akan pergi ke luar untuk mencari udara segar. Pemuda itu mengangguk dan tetap tinggal untuk menyelesaikan percakap
Dongmei mengembuskan napas keras. Pertengkaran kecil dengan Liwei membuatnya sedikit kesal. Ia mengatakan semua itu demi Meifeng. Dongmei merasa jika Meifeng tidak sepantasnya mendapat perlakukan sedingin itu dari keluarganya sendiri.Di dalam kamar, ia membuka hanfu lapisan ketiga dan keduanya sem
Liwei berjalan cepat menyusul langkah Dongmei. Ada beberapa alasan hingga membuatnya nekad menyusul adik kandungnya. Liwei harus memberi peringatan kepada Meifeng untuk tidak bersikap seenaknya. Istana memiliki aturan dan Meifeng harus bisa belajar beradaptasi. Sudah satu bulan berlalu, tapi k
Raja Bai menggertakkan gigi. “Apa maksudmu?” Suara berat raja terdengar menakutkan. Namun, Dongmei bergeming. Dia sudah menetapkan hati untuk mengakhir pertunangan ini. “Bagaimana bisa kau meminta hal itu dariku?”“Yang Mulia, aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranku saat memohon kepada Anda unt
Changpu mengetatkan rahang. Dia mungkin tidak mengenal siapa Putri Meifeng, tapi sebagai wanita, dia pun akan terluka jika tunangannya memutuskan hubungan demi wanita lain. “Kalian sangat kurang ajar!”“Kau pikir kami takut kepadamu hanya karena kau putri dari Jenderal Xi?” ujar pria keempat. “Tema







