LOGIN"Jadi, aku memang suamimu?" Frederitch bertanya sembari menyambar tangan Valyria untuk ia genggam. "Ya Tuhan, jadi selama ini ... semua keanehan dan keraguanku bukanlah sesuatu yang salah, aku memang kekasihmu!" Frederitch tampak bersuka-cita berucap pada Wanita yang tertegun dihadapannya itu. Valyria mengangguk pelan dengan wajah memerah malu. "Aku bersyukur kau tidak bereaksi defensif terhadapku usai aku memberitahu hal ini padamu," ucap Valyria. "Demi Tuhan aku memang masih bingung tapi aku senang kau tidak menolak perasaanku," sahut Frederitch cukup lantang. Suara Frederitch itu membuat seisi Cafe memandanginya tapi kebanyakan Para Wanita kagum karena sosok rupawan seperti Frederitch tak perduli mengakui cintanya pada Valyria. Valyria mendeham sejenak. Kemudian ikut menggengam tangan Frederitch yang besar dan hangat itu. "Frederitch aku butuh bantuanmu untuk badai yang akan datang lagi," ucap Valyria. "Katakan," perintah Frederitch kini kembali serius dan tenang. "Aku butuh
"Harlan, mau kemana?" tanya Liriel pada Harlan yang membawa kopernya. Harlan terdiam sejenak, sikapnya pada Liriel jadi dingin beberapa hari ini usai mengetahui kedekatan Liriel dengan teman lamanya, Albert. "Aku ingin menenangkan pikiranku sejenak, jaga dirimu dan anak kita nanti aku akan sesekali kemari," ucap Harlan. "Tidak! kau tak berhak meninggalkanku!" teriak Liriel. "Kau juga tak berhak mengkhianatiku Liriel!" bentak Harlan. Liriel langsung terdiam usai dibentak oleh Harlan. Ia hanya bisa memandangi pasrah suaminya yang berjalan keluar dari rumah kecil ini. Liriel langsung menaruh dendam pada Valyria karena berhasil menerka semuanya. Alih-alih menyesali perbuatannya, Liriel langsung bergegas kekamarnya setelah itu mengobrak-abrik nakas meja. Ia mengambil berkas-berkas kertas yang ada disana. Liriel meraih ponsel genggamnya kemudian tampak menghubungi nomor seseorang. "Benar ini aku, dokter Liriel, aku menerima tawaran kerja samamu," ucap Liriel. Ia menatap tajam sejenak.
Hal pertama yang Valyria lakukan setelah keluar dari Rumah Sakit adalah menghubungi Pengacaranya dan membuat jadwal persidangan untuk memindahkan aset dan kekayaan keluarga Kinaru kembali padanya. Valyria sudah cukup dibohongi oleh Paman dan Bibinya itu. Valyria ingin mengambil kembali kenangan dari Orang Tuanya. "Kurasa barang Tuan Muda hanya ini saja," ucap Tarra yang habis membantu mengemasi barang-barang Valyria di ruang perawatan sementara Valyria baru selesai menelpon Pengacaranya. Valyria mengangguk. "Aku akan pergi pulang, sebelum Frederitch datang menjemputku," ucap Valyria."Memangnya kenapa jika aku menjemputmu?" celetuk Frederitch yang sudah ada diambang pintu. Valyria menghela napas cukup panjang. Dia hanya tak mau berdebat dengan sikap protektif Frederitch. "Aku sudah sembuh biarkan aku kembali pulang untuk mengurus hidupku lagi," ucap Valyria pasrah. "Aku paham, biarkan aku mengantarmu pulang." Frederitch berucap sembari mendekap tubuh Valyria yang lebih kecil darin
"Anda pasienku, Nona Valyria Soga Kinaru, meski wajah Anda sangat familiar." Dokter itu menjawab. "Maafkan aku Dokter Will, Valyria dalam masa sulit," sahut Tarra tak nyaman sambil meraih pergelangan tangan Valyria. "Ayo, aku antar kembali ke kamarmu," ajak Tarra. "Wajahku bukan kebetulan kau kenal Dokter," ucap Valyria.Sang Dokter tertegun mendengar ucapan Valyria, ia sempat menatap kedua mata kenari Valyria yang menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Dokter itu menghela napas kemudian berjalan menuju koridor rumah sakit. Ia meraih ponsel genggamnya kemudian menelpon seseorang. "Direktur sudah tiada, ketahuilah posisimu yang penting untuk Rumah Sakit ini jadi besok kami akan mulai mengadakan rapat, kau harus hadir Frederitch," ucap Dokter William pada ponselnya. "Aku tahu itu, jadi bagaimana keadaan permaisuriku saat ini Will?" Dokter William menghela napas sejenak. "Frederitch, keadaannya lebih stabil, kenapa kau baru bilang jika sudah menikah?" "Keadaannya sulit untuk
Sudah lima hari Valyria berada di kamar perawatan dengan keadaan bosan. Satu-satunya hiburan Valyria hanyalah ponsel genggamnya dan beberapa buku yang sempat dibawakan oleh Frederitch tapi sudah dua hari ini Si Pria Pirang itu tampak absen mengunjunginya. Kondisi Valyria sudah lebih baik. Tubuhnya tak terasa lemas lagi dan nafsu makannya juga kembali normal. Valyria yang semula hanya setengah duduk di ranjang kasur langsung terkejut mendapati kedatangan Tarra dengan gaun hitamnya. "Maaf Valyria aku baru bisa menjengukmu," ucap Tarra sambil menghampiri Valyria. Valyria gelagapan gugup. Ia memang sengaja tidak mengabari Tarra tapi kehadiran Tarra tampaknya ulah dari Frederitch. "A-aku baik-baik saja cuman kelelahan," sahut Valyria gugup. "Kau tak perlu sungkan, aku tahu dari Fred jika saat ini kau sedang mengandung bayinya, aku turut senang lho!" Tarra memeluk Valyria dengan penuh suka cita setelah itu menatap Valyria. "Mengingat dirimu yang tertutup wajar saja kalian menjalani hubu
"Selagi kondisimu belum stabil aku yang akan bertanggung jawab," putus Frederitch. Valyria memandangi Si Pria Pirang itu. Dia seakan-akan hendak mengucapkan kata-kata lain namun Frederitch langsung menghela napas dan beranjak pergi dari Ruang Perawatan. Ia tinggalkan Valyria yang masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Valyria menunduk menatap kedua tangannya yang mengurus. Tetes demi tetes air mata jatuh. Ia menangis dengan perasaan haru dan duka yang bersamaan. "Ternyata, selama ini cinta yang kami rasakan nyata, keberadaanmu dalam tubuhku itu nyata," ucap Valyria sembari mengusap perutnya yang masih datar itu. Valyria beranjak berdiri dengan susah payah. Ia berjalan sembari mendorong tiang infus untuk menuju jendela kamar perawatan kemudian membuka jendela itu lebar-lebar. Ia menikmati angin malam yang berhembus masuk membelai permukaan kulitnya kemudian menatap bulan purnama yang terang temaram. "Aku tak bisa tinggal diam, aku juga harus melakukan sesuatu." Valyria berucap
Ellis memengang wajah Mario yang sekarat. “Mario... Kau selama ini bersamaku?” Isak Ellis.Mario tersenyum dengan bibir bersimbah darahnya, luka pada dada Mario sudah pendarahan dengan deras. Mustahil ia selamat dengan waktu yang kecil ini.“K-kami menunggumu, Tuan Baik Hati,'' ucap kecil dari Mari
“Maafkan aku," ucap Frederitch mengecup bekas gigitan di telapak tangan Ellis. Frederitch melihat luka bekas gigitannya yang tidak kunjung hilang dengan cepat seperti sebelumnya. “Benar, dia belum ingat seutuhnya,” batin Frederitch.Tok ... Tok ...“T-Tuan Muda, sarapan sudah siap!" teriak suara Pa
Sejak mulai dari malam hingga menjelang pagi. Bunyi suara dari dapur sebuah penginapan terdengar sibuk, mulai dari denting panci dan spatula. Kedua tangan ramping berkulit putih mulus itu tampaklah sibuk, sementara Sang empunya tangan memasang raut datar dengan kedua mata yang jelas-jelas sembab.“
“Kalau begitu, selamat malam Ellis, kau boleh pergi.”“A-apa?! Yang Mulia Tunggu!” cegah Ellis ketika Alphonse membukakan kereta kuda untuknya.Ellis langsung keluar dari kereta dengan tatapan tak percaya. Ia sudah tiba di penginapan Wood Remington. Ellis segera menuruni kereta tapi masih sempat me







