Beranda / Romansa / Tuan CEO, Lepaskan Aku! / Kontrak Di Atas Harga Diri

Share

Kontrak Di Atas Harga Diri

Penulis: V.W. Anara
last update Tanggal publikasi: 2025-12-12 23:26:51

Lift pribadi itu berhenti dengan sentakan halus di lantai paling atas gedung HanGroup. Lantai yang hanya bisa diakses oleh sang kaisar perusahaan, Han Seonwoo.

Saat pintu berdenting terbuka, Seonwoo tidak melepaskan cengkeramannya pada lengan Winda. Ia menyeret wanita itu keluar, mengabaikan rintihan pelan Winda yang mencoba mengimbangi langkah lebarnya yang angkuh.

Lantai eksekutif ini didominasi oleh kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota Seoul dari ketinggian, namun bagi Winda, tempat ini terasa lebih sesak daripada penjara bawah tanah terkecil sekalipun.

Mereka melewati lorong sunyi yang beralaskan karpet tebal, menuju sebuah pintu ganda berbahan kayu dengan berlapis kan cat hitam premium yang tampak megah sekaligus mengancam.

Seonwoo mendorong pintu itu terbuka, lalu menghempaskan Winda ke arah kursi kulit besar di tengah ruangan kerjanya yang luas.

"Duduk!" perintah Seonwoo. Suaranya tidak keras, namun mengandung otoritas mutlak yang membuat lutut Winda lemas seketika.

Winda mencoba mengatur napasnya yang memburu. Matanya menyapu ruangan itu; minimalis, modern, namun terasa sangat dingin. Hanya ada aroma maskulin dari parfum sandalwood milik Seonwoo yang memenuhi udara. Winda berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, ia merapikan kemejanya yang berantakan akibat tarikan Seonwoo tadi.

"Tuan Han, aku di sini untuk bekerja secara profesional sebagai staf legal perwakilan Indonesia. Jika Anda ingin membahas masalah pribadi masa lalu, kantor ini bukan tempatnya," mulai Winda dengan suara yang diusahakan tetap stabil, meski hatinya bergetar hebat.

Seonwoo yang sedang berjalan menuju meja kerjanya tiba-tiba berhenti. Ia berbalik perlahan, memberikan seringai sinis yang membuat bulu kuduk Winda berdiri. "Profesional? Kau bicara tentang profesionalisme di hadapanku?"

Seonwoo mengambil sebuah map berwarna merah tua dari laci mejanya, lalu berjalan pelan mengitari meja itu menuju ke arah Winda. Langkah sepatunya yang beradu dengan lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian di telinga Winda.

"Kau pikir kau lolos seleksi karena ijazah sarjana hukummu yang tidak seberapa itu?" Seonwoo melempar map itu ke pangkuan Winda. "Buka dan baca. Itulah kontrak yang sebenarnya harus kau jalani."

Winda dengan tangan gemetar membuka map tersebut. Matanya menelusuri baris demi baris kalimat di sana, dan seketika wajahnya menjadi sepucat kertas. "Apa ini? 'Asisten Pribadi Khusus? 'Tugas yang tidak terbatas pada jam kantor? 'Tinggal di bawah pengawasan atasan? Ini... ini bukan kontrak kerja! Ini perbudakan!"

"Itu adalah kontrak penebusan dosa, Winda." desis Seonwoo, ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menaruh kedua tangannya di sandaran kursi Winda, mengurung wanita itu di antara tubuhnya. "Kau bukan staf legal di sini. Kau adalah milikku. Kau harus berada di mana pun aku berada, dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu. Kau akan melayani setiap kebutuhanku, tanpa terkecuali." Jelas Seonwoo.

"Aku tidak akan menandatangani ini! Aku bisa menuntutmu ke kementerian tenaga kerja!" seru Winda, ia mencoba berdiri untuk pergi dari ruangan terkutuk itu.

Namun, Seonwoo lebih cepat. Ia menekan bahu Winda agar tetap terduduk, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Winda bisa melihat setiap detail di mata Seonwoo, kemarahan yang sudah mengakar lama dan sesuatu yang lebih gelap yang tidak bisa ia definisikan.

"Menuntutku? Silakan coba," Seonwoo tertawa rendah, suara tawanya terdengar menyakitkan. "Tapi sebelum kau melangkah keluar dari gedung ini, pastikan kau sudah menyiapkan biaya rumah sakit untuk ibumu di Jakarta. Atau mungkin kau lebih suka melihat adikmu dikeluarkan dari universitasnya karena kasus narkoba yang bisa saja 'tiba-tiba' muncul di asramanya?"

Winda membeku. Seluruh persendiannya terasa kaku. "Kau.. kau sudah mengawasi keluargaku?"

"Aku sudah menunggu saat ini selama dua puluh dua tahun, Winda. Kau pikir aku akan membiarkanmu masuk begitu saja tanpa persiapan?" Seonwoo menjauh sedikit, ia mengambil sebatang pulpen mahal dari sakunya dan menjatuhkannya ke lantai, tepat di depan kaki Winda. "Sekarang, ambil pulpen itu. Berlutut, dan tanda tangani kontrakmu jika kau masih ingin keluargamu bernapas dengan tenang di Indonesia."

Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipi Winda. Harga dirinya sebagai seorang sarjana hukum, sebagai seorang wanita, seolah-olah dihancurkan hingga menjadi debu di bawah sepatu mahal Seonwoo. Bayangan wajah ibunya yang renta dan adik-adiknya yang masih menempuh pendidikan terlintas di pikirannya. Ia tidak punya pilihan.

Dengan tangan yang sangat bergetar, Winda perlahan turun dari kursi. Ia berlutut di atas lantai marmer yang dingin, tepat di bawah kaki pria yang paling ia benci. Ia memungut pulpen itu, dan dengan sisa tenaga yang ada, ia membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut.

"Bagus." ucap Seonwoo puas. Ia mengambil kembali map itu dan melihat tanda tangan Winda seolah itu adalah rampasan amunisi perang. "Mulai malam ini, kau akan pindah ke apartemenku. Jangan membawa barang-barang sampahmu yang lama. Semuanya sudah kusiapkan di sana."

"Sampai kapan.. sampai kapan aku harus melakukan ini?" rintih Winda dalam posisinya yang masih berlutut.

Seonwoo berjongkok, menyentuh dagu Winda dan mengangkat wajah wanita itu agar menatapnya. Ia mengusap air mata di pipi Winda dengan jempolnya, namun sentuhannya tidak memiliki kehangatan sedikit pun.

"Sampai aku merasa cukup melihatmu menderita. Sampai nyawa ayahmu yang sudah busuk itu merasa tenang di neraka karena melihat putrinya menjadi mainanku." bisik Seonwoo.

Tepat saat itu, telepon di meja kerja Seonwoo berdering. Seonwoo berdiri dan mengangkatnya. "Ya, siapkan mobil, kami akan langsung menuju apartemen."

Seonwoo mematikan telepon, lalu melirik Winda yang masih terduduk lemas di lantai. "Berdiri. Perbaiki riasanmu. Aku tidak ingin orang-orang mengira aku membawamu sebagai pengemis. Kau asisten pribadiku sekarang. Milik Han Seonwoo yang paling berharga... untuk dihancurkan."

Winda hanya mampu menatap Seonwoo sambil berdiri dengan kaki yang masih gemetar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Tempat Kita Pulang

    Satu tahun berlalu sejak Yura berjuang demi melawan penyakitnya. Kini, musim semi kembali menyapa seluruh penjuru kota dengan keanggunan yang sama, namun kali ini atmosfernya terasa jauh lebih ringan. Tidak ada lagi kabut kecemasan yang menggantung di antara pepohonan pinus, juga tidak ada lagi bayang-bayang menakutkan yang mengintai dari balik kegelapan. Bunga-bunga sakura liar kembali berguguran tertiup angin sepoi-sepoi menutupi rumput hijau dengan kelopak merah muda yang lembut, menciptakan pemandangan yang sangat Indah sebagai wujud nyata dari salah satu lukisan terbaik Winda.Di teras rumah kaca yang kini telah menjadi simbol kedamaian, sebuah meja panjang telah ditata dengan rapi. Aroma sedap dari masakan khas Indonesia yang bumbunya meresap sempurna dari rendang bercampur dengan aroma kopi yang segar. Hari ini adalah hari istimewa dimana merupakan hari perayaan ulang tahun Ji-hoo yang kedua sekaligus syukuran atas satu tahun kebebasan mereka semua dari belenggu masa lalu.

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Di Balik Duka

    Lorong rumah sakit yang terasa dingin dan mencekam itu kini telah menjadi saksi bisu dari sebuah perjuangan seorang wanita bernama Kim Yura. Sudah sepuluh hari sejak operasi besar itu dilakukan, dan Park Jae-hyun tidak pernah sekalipun meninggalkan sisi tempat tidur Yura. Pria yang dulunya dikenal sebagai pria dingin yang mampu meruntuhkan bursa saham hanya dengan satu gerakan tangan itu kini terlihat jauh lebih manusiawi dan jauh lebih rapuh dari sebelumnya .Jae-hyun duduk di kursi kecil, kepalanya bersandar pada pinggiran ranjang Yura. Matanya yang merah karena kurang tidur terus menatap layar monitor yang menampilkan detak jantung Yura yang kian stabil. Ia menggenggam tangan Yura yang masih terasa sangat lemah dengan gerakan yang pelan."Yura," bisik Jae-hyun, suaranya parau. "Musim semi hampir berakhir. Bunga-bunga sakura di kantor baru kita pasti sudah mulai gugur. Kau bilang ingin berdansa di sana tanpa musik, bukan? Aku sudah menyiapkan semuanya. Aku bahkan sudah menghafal l

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Runtuhnya Pertahanan Yura

    Pesta kebun di lereng bukit pagi ini seharusnya menjadi momen yang penuh tawa dan rasa syukur yang dalam dengan dihiasi langit berwarna biru yang seolah sedang memayungi rumah kaca yang kini telah kembali asri. Bahkan aroma daging panggang dan saus marinasi buatan Winda yang menyatu dengan wangi pinus itu seharusnya ikut membuat udara di sekitarnya terasa menyegarkan, tapi tampaknya pagi itu tidak akan berjalan seperti yang seharusnya.Seonwoo sedang berdiri santai dengan mengenakan kemeja linen putih yang membuatnya tampak berbeda dari biasanya, sementara Ji-hoo asyik merangkak di atas rumput hijau dengan pakaian bayi yang membuatnya tampak begitu menggemaskan, sesekali ia mengejar kupu-kupu yang hinggap di bunga-bunga liar sambil terus merangkak.Jae-hyun, yang baru beberapa hari menghirup udara bebas pun tampak begitu segar dengan balutan kemeja putih linen yang senada dengan yang Seonwoo kenakan, ia duduk di bangku kayu bersama Yura sambil terus-menerus memperhatikan wanita itu ya

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Janji Terakhir

    Langit di atas Lapas Permanen Seoul pagi ini tampak lebih cerah dari biasanya, awan kelabu yang menyelimuti sekeliling lapas itu selama berhari-hari itu seolah-olah sengaja menyingkir untuk memberikan jalan bagi sebuah awal yang baru bagi pria bernama Park Jae-hyun itu. Angin musim semi pun bertiup lembut membawa aroma bunga sakura yang mulai berguguran menutupi aspal kasar di depan gerbang penjara dengan kelopak-kelopak merah muda yang tampak begitu cantik.Di depan gerbang besi besar yang dingin itu sebuah mobil sedan berwarna hitam yang tampak mewah telah terparkir di sana. Seonwoo berdiri bersandar pada pintu mobil, tangannya yang sudah tidak lagi dibalut gips terlipat di depan dada. Di sampingnya, Winda berdiri dengan anggun sambil sesekali merapikan selimut Ji-hoo yang ada dalam dekapan Seonwoo. Namun, pusat dari segala penantian pagi ini adalah Kim Yura.Wanita itu berdiri beberapa langkah lebih depan dari yang lain. Ia mengenakan gaun sutra berwarna peach lembut memberikan

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Rahasia...

    Pagi itu langit di kota Seoul ini terlihat sendu dengan tampilan warna yang abu-abu, awan pun seakan sengaja menahan diri untuk tidak menumpahkan air hujan. Di distrik Gangnam yang bising, gedung baru Kantor Hukum Jae-Yura berdiri dengan kokoh, memantulkan kesibukan kota pada dinding kacanya yang mengilat. Namun, di dalam ruangan utama milik Yura, suasananya cukup berbeda dan jauh dari kata bising. Hanya ada kesunyian yang mencekam, yang sesekali dipecah oleh suara helaan napas milik Yura.Winda berdiri di depan pintu kayu besar ruang kerja Yura. Tangannya yang memegang sebuah botol obat kecil tanpa label itu terasa dingin. Ia baru saja kembali dari apotek di pusat kota, tempat seorang kenalan lamanya memberikan konfirmasi yang meruntuhkan separuh dunianya pagi ini.“Ini bukan vitamin, Winda. Ini obat pereda nyeri saraf stadium akhir. Biasanya digunakan untuk pasien yang mengalami tekanan besar di otak agar mereka tetap bisa beraktifitas secara baik.”Kalimat itu terngiang-ngiang di

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Di Atas Gedung Baru

    Matahari musim semi bersinar terik di atas distrik Gangnam, memantul pada dinding kaca gedung-gedung pencakar langit yang menjadi simbol kekuatan ekonomi Seoul. Di salah satu sudut paling mewah, sebuah gedung perkantoran tiga lantai berdiri dengan desain arsitektur modern yang minimalis namun sangat berwibawa. Di bagian depan, terukir huruf logam berwarna perak yang elegan."KANTOR HUKUM JAE-YURA & PARTMER".Ini adalah hadiah dari Han Seonwoo, sebuah bentuk penebusan dosa dan rasa terima kasih yang tak terhingga atas pengorbanan Jae-hyun dan kesetiaan Yura. Bukan sekadar ruko kecil di sudut sempit seperti dulu, kini kantor mereka adalah salah satu firma hukum yang paling diperhitungkan di Seoul, lengkap dengan sistem keamanan tingkat tinggi dan tim staf yang profesional.Pagi itu, Kim Yura melangkah keluar dari mobil sedan hitam yang dikemudikan oleh supir pribadi kiriman Sekretaris Kim. Ia mengenakan setelan jas formal berwarna biru tua yang pas di tubuhnya, rambutnya ditata rapi, da

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Perburuan Hantu

    Langit Seoul malam itu seolah tertutup oleh jaring-jaring besi yang tak kasat mata. Lee Sooyoung tidak pernah melakukan sesuatu dengan setengah hati. Begitu Han Seonwoo melarikan diri dari aula perjamuan bersama Winda Pratiwi, wanita itu langsung mengaktifkan protokol "Keadaan Darurat Korporasi". D

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Tawaran Iblis

    Suara denting peluru yang menghantam bejana perunggu di altar gereja masih terngiang di telinga Seonwoo. Di bawah perlindungan remang-remang menara lonceng yang sempit dan berdebu, ia bisa merasakan jantung Winda berdegup kencang di balik punggungnya. Ruangan itu hanya berukuran beberapa meter pers

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Kembalinya Sang Monster

    Pagi di Seoul terasa menusuk tulang, namun dinginnya cuaca tak sebanding dengan atmosfer di dalam mobil Han Seonwoo yang terparkir di area privat apartemen rahasianya. Di tangannya, sebuah amplop cokelat yang dikirim oleh kurir tak dikenal atas perintah ibunya berisi "bom" yang siap menghancurkan s

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Kembalinya Sang Mantan

    Salju mulai kembali turun di Seoul, namun bagi Han Seonwoo, setiap butiran putih yang jatuh terasa seperti abu yang mendinginkan jiwanya. Ia berdiri di balkon kantornya, menatap lurus ke arah utara, ke arah pegunungan Gangwon yang kini tertutup kabut tebal. Di dalam sakunya, ia meremas ponsel yang

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status