ログイン“Ibu tidak ingin melihat Ivony kabur lagi di malam hari.”Kalimat itu terdengar tak setenang seorang yang mengucapkannya. Semalam suntuk Adelaide tak bisa tidur usai mendapati Ivony bersama Alexander dan tidur dalam pelukan pria yang tidak mengakuinya sebagai ayah tersebut. Binaran indah di kedua bola mata Ivony seperti cahaya yang terang. Si Kecil hanya tersenyum. Tampak tak memahami ucapan ibunya tapi berusaha patuh. “Ibu jangan takut. Ivony hanya membantu Tuan Duke, Ibu,” kata anak yang lucu itu. Ivony turun dari atas ranjang. Berdiri dengan kaki kecilnya yang sudah dibalut sepatu biru mungil. “Ibu tahu, orang-orang yang semalam berkumpul bersama Tuan Duke itu tidak ada yang pintar, Ibu," ucap Ivony memasang wajah payah.“Mereka bilang banyak orang yang terluka di tempat perang. Mengapa mereka harus perang ya, Bu?” imbuh si kecil. Tak habis pikir oleh Adelaide. Ternyata semalam Ivony mengikuti Alexander mengadakan pertemuan khusus untuk masalah perang. Dari kabar burung yang
Ivony terlelap dalam pelukan Alexander. Saat pertemuan penting para strategis perang berkumpul, Ivony yang duduk di atas meja di depan Alexander—anak itu tiba-tiba turun ke pangkuan Alexander dan tidur memeluknya. Alexander tidak pernah melihat Ivony tidur. Terakhir kali melihatnya saat anak itu masih bayi. Kini Alexander bisa melihat Ivony tertidur meringkuk dalam pelukannya. "Anak ini." Alexander berbisik tak terdengar oleh siapapun. "Pertemuan selesai!" putus Alexander tiba-tiba setelah pembahasan selesai. Semua orang pun setuju dan mereka bersiap untuk keluar dari dalam ruangan itu. Alexander menggendong Ivony untuk diajak bersamanya. "Apa Tuan Putri akan ikut dengan Anda?" tanya Eros. "Tentu. Aku akan membawanya pulang bersamaku." "Sebenarnya saya tapi penasaran—bagaimana bisa Tuan Putri keluar malam-malam sendiri tanpa sepengetahuan siapapun." "Ibunya memang ceroboh dan bodoh," balas tuan itu. Setelah mengatakannya, Alexander membawa Ivony pergi bersa
"Tuan Duke, setelah saya berkoodinasi dengan Yang Mulia Raja, beliau meminta saya agar untuk meminta pendapat Anda terkait urusan strategi peperangan." Tuan Seron menunjukkan gulungan peta di tangannya. Dalam selembar kertas itu, ada banyak coretan, nama kawasan, serta banyak lagi tanda-tanda yang memiliki makna tertentu. "Banyak prajurit yang gugur di wilayah selatan. Daerah Elioster bisa jatuh ke tangan musuh dalam waktu dekat bila kita tidak waspada dan mempersiapkan kekuatan baru." Sir Andes pun ikut menjabarkan. Alexander meraih peta di hadapannya dan mempelajari ulang strategi peperangan yang telah dibentuk beberapa bulan lalu. "Kawasan selatan memiliki lokasi yang sangat panas, tidak heran bila banyak pasukan yang gugur karena haus dan kelaparan." Alexander berkata. "Benar, Yang Mulia. Di tenda darurat, pengobatan juga mulai menipis. Para ahli medis juga banyak yang pergi entah ke mana meninggalkan medan perang tanpa rasa tanggung jawab." Alexander memperhatikan Ivony yan
Adelaide menutup pintu kamarnya dengan keras. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu dan terdiam dengan rasa marah yang tersisa. Matanya memandang sayu telapak tangan kanannya yang ia gunakan untuk menampar para pelayan-pelayan tadi. Adelaide tidak menyangka ia akan berbuat sejauh ini. Padahal dirinya di kehidupan yang dulu hanya bisa menangis dan bersedih. Tetapi kali di kehidupan yang baru ini, Adelaide mengubah segalanya, termasuk ketegasan dalam dirinya. "Tidak, aku tidak melakukan kesalahan dengan menampar mereka." Suara lirih itu terucap dari bibir Adelaide. "Mereka pantas mendapatkannya." Adelaide mengusap wajahnya kasar. Lalu berjalan menuju ke arah ranjang dan duduk di sana. Adelaide menyadari sesuatu, bahwa sebagian kejadian masa lalu yang menyedihkan sudah ia halau di masa kini. Satu-satunya yang membuat Adelaide ingin berubah adalah demi melindungi Ivony. "Yang Mulia Duchess, bolehkah saya masuk!" Suara keras Pelayan Mica terdengar. Adelaide menoleh ke arah pintu k
Phak! Phak! Nyaring suara tamparan mendarat di pipi kelima pelayan yang sudah berani menghina dan memaki Ivony secara terang-terangan. Para pelayan itu langsung bersimpuh di hadapan Adelaide sambil memegang pipinya yang panas akibat tamparan keras dari tangan Adelaide. "Berani kalian menghina putriku seperti itu, huh?" ucapan Adelaide bercampur kemarahan. "Kalian adalah pelayan di rumah ini. Kalian tidak ditugaskan untuk mencaci maki putriku!" Tangan Adelaide sampai gemetar. Nyalang pandangan matanya seperti singa betina liar yang mengamuk. "Tidak sekali dua kali kalian menghina Ivony tapi aku diam. Kalian selalu mengatakan anakku menjijikkan, anakku adalah kutukan, lalu apa lagi?!" bentak Adelaide pada para pelayan-pelayan yang bungkam tidak berani membalasnya. Tak satupun pelayan berani membuka mulut. Semuanya diam, bungkam. Tiba-tiba salah satu dari mereka mendekati Adelaide dan mencekal kakinya. "Nyonya Duchess, maafkan kami. Kami tidak akan lagi-lagi mengatakan hal seper
Alexander meninggalkan tempat pelatihan ksatria setelah ditolak mentah-mentah oleh putrinya. Para ksatria yang berada bersama Ivony hanya bisa bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada ayah dan dan anak itu. "Tuan Putri, tidak seharusnya Anda bersikap seperti itu pada Tuan Duke," tutur Ksatria Armon. Pria berambut keriting hitam bertubuh gempal—menekuk lututnya di hadapan Ivony. "Mengapa tidak boleh, Paman? Tuan Duke bersikap seperti itu pada Ibu," jawabnya. "Apakah Ibu Tuan Putri yang meminta Tuan Putri untuk melakukan ini?" Salah satu ksatria bertanya. Ivony menggeleng sambil menggenggam batang ketapel miliknya. "Tidak. Ini kemauan Ivony sendiri." Anak itu tertunduk sedih. "Tuan Duke tidak pernah perhatian pada Ibu. Sekalinya Tuan Duke perhatian pada Ivony, Lady Serafina terlihat tidak suka. Sebenarnya, apakah Paman tahu, siapa Lady Serafina itu? Kenapa terlihat sangat berharga untuk Tuan Duke?" Ketiga ksatria di samping Ivony kini saling tatap. Mereka tampak bingung m
Dua tahun Kemudian. "Ibu... bolehkah Ivony menemui Tuan Duke dan memarahinya! Beraninya Tuan Duke menolak laporan pekerjaan Ibu yang kelima kalinya!" Anak perempuan bertubuh mungil, rambut cokelatnya yang bergelombang dikuncir dua dengan hiasan pita, berbalut gaun renda merah muda—berdiri berk
Embun pagi yang turun dari langit, tak sedingin ruang tamu di kastil utara. Dua orang yang tengah berhadapan di sana. Tiada hujan, tiada angin, pagi-pagi buta Alexander memasuki kastil utara hanya untuk bertemu dengannya. Adelaide tidak tahu, apalagi rencananya? Hal ini ia tidak mengingatnya di ma
[Berita panas di Balford! Setelah Duchess Adelaide melahirkan, belum genap bayi perempuannya berusia sepuluh hari, Duke Alexander sudah mengangkat sahabat masa kecilnya untuk menjadi selirnya ] [Kisah cinta Duke dan sahabatnya yang tak terpisahkan, hubungan mereka yang dulunya pupus karena Duke ha
Setelah pertengkarannya dengan Alexander tentang draf perjanjian pemisah sukarela yang hancur menjadi serpihan. Sejak saat itu, Adelaide tidak pernah menunjukkan dirinya lagi di kastil tengah. Bahkan saat acara makan pagi hingga malam, Adelaide tidak datang. Hari-harinya Adelaide habiskan bersama







