تسجيل الدخول"B-bagaimana mungkin..." Suara Shen Ryu bergetar. Matanya membelalak, napasnya tidak lagi teratur seperti sebelumnya. Aura yang tadi ia banggakan kini terasa goyah di hadapan tekanan yang dilepaskan Ravina dan Irish. "I-ini mustahil..." Laqisha menguap ringan. Seolah apa yang terjadi di hadapannya hanyalah hal biasa. "Dari pukulanmu tadi," ujarnya santai sambil melirik Shen Ryu, "aku bisa menebak kau berada di Alam Raja Suci tahap puncak." Ia memiringkan kepala, senyumnya tipis namun penuh ejekan. "Aku tidak tertarik bertanya bagaimana kau bisa sampai ke sana, atau berapa banyak keberuntungan yang kau telan." Tatapannya menjadi sedikit tajam. "Tapi yang ingin kutahu…" Ia melangkah satu langkah maju. "Apakah kau masih cukup optimis untuk mengalahkan kami sekarang?" Tubuh Shen Ryu gemetar. Bukan karena takut. Melainkan karena marah. "T-tidak mungkin!" Energinya meledak liar, membuat tanah di sekitarnya retak. "Aku sudah menunggu hari ini terlalu lama!
Shen Ryu tersenyum sinis. Tatapannya menyapu keempat sosok di hadapannya dengan penuh penghinaan, seolah mereka hanyalah serangga yang siap diinjak kapan saja. "Seperti biasa," ujarnya pelan namun tajam, "manusia rendahan tidak akan pernah mengenaliku… sampai mereka mengalami sendiri kehancuran." Aura hitam keemasan di sekeliling tubuhnya berdenyut semakin kuat. "Kalian pikir kalian pantas bersaing denganku? Pantas melawanku?" Ia tertawa rendah. "Bahkan jika Nathan sendiri berada di sini, dia belum tentu mampu bertarung seimbang denganku yang sekarang." Angin malam berputar liar. "Aku datang membawa dendam dari masa lalu. Pembalasan atas kematian ibuku… dan kedua pamanku… yang mati kaerna ulah Nathan." Suasana menjadi dingin. Namun sebelum siapa pun bergerak, suara santai Laqisha terdengar. "Kau bodoh atau bagaimana?" Semua mata langsung tertuju padanya. Laqisha berdiri dengan ekspresi datar, bahkan sedikit bosan. "Bukankah ibumu dan kedua pamanmu yang sela
Rabik bergerak. Tidak ada aba-aba, tidak ada gerakan berlebihan. Hanya satu langkah sederhana, namun dampaknya langsung mengubah seluruh medan pertempuran. Bam! Ledakan udara mengguncang area sekitar. Tujuh anggota Organisasi Ular Putih yang berdiri di hadapannya bahkan tidak sempat bereaksi. Tubuh mereka terpental bersamaan seperti daun diterpa badai, menghantam dinding gudang, tanah, dan tumpukan peti kayu dengan suara beruntun. Darah muncrat. Jeritan memenuhi malam. Satu serangan. Hanya satu serangan. Dan tujuh ahli sekaligus dibuat tak berdaya. Cameron membeku. Tawa penuh ejekan yang tadi memenuhi wajahnya menghilang seketika, digantikan keterkejutan yang sulit disembunyikan. "Mustahil..." Namun pengalaman puluhan tahun membuat refleksnya tetap tajam. Tanpa membuang waktu, Cameron menghunus tombak hitam legam yang selalu menjadi senjata andalannya. Energi gelap berputar di sekeliling tombak itu ketika ia menusukkannya ke punggung Rabik. Tepat saat uju
Pintu gudang terbuka sepenuhnya. Satu per satu, tujuh sosok melangkah keluar dari dalam kegelapan. Mereka berdiri berjajar di belakang Cameron, membentuk formasi yang rapi dan mengintimidasi. Ditambah Cameron, jumlah mereka kini menjadi delapan orang. Sementara anggota kesembilan, pria yang sebelumnya dihajar Rabik, telah mundur ke bagian terdalam markas untuk memulihkan luka-lukanya. Rabik menyapu mereka dengan tatapan tenang. Dari aura yang mereka pancarkan, tidak satu pun dari mereka adalah manusia biasa. Tiga orang adalah mutan. Tubuh mereka memancarkan energi biologis yang liar dan tidak stabil, khas hasil modifikasi genetik tingkat tinggi. Empat lainnya adalah praktisi supranatural, aura gelap dan aneh berputar di sekitar tubuh mereka seperti kabut hidup. Dan dua orang terakhir... Tatapan Rabik sedikit menyipit. Keduanya adalah kultivator. Kekuatan mereka berada di Alam Kesempurnaan Jiwa tahap puncak, nyaris setara dengan dirinya sebelum Nathan menyembuhkan fondasi ku
"Apa yang Kak Nathan katakan?" tanya Irish sambil melompat ringan mengikuti langkah mereka di atas deretan atap. Laqisha yang berada di sisi Rabik tersenyum tipis. "Tidak ada hal penting. Nathan hanya mengingatkan kita untuk berhati-hati dan tidak gegabah." Ia melirik Ravina dan Irish dengan penuh percaya diri. "Tapi dengan dua kultivator hebat seperti kalian di sini, rasanya sulit membayangkan sesuatu bisa berjalan buruk." Irish terkekeh pelan, tetapi Ravina justru menggeleng. "Jangan terlalu percaya diri, Laqisha. Sampai kita mengetahui kekuatan musuh, kita harus selalu waspada." Rabik mengangguk setuju. "Ravina benar." Tatapannya tetap lurus ke depan, menembus kegelapan malam. "Meskipun secara individu kita mungkin lebih kuat dari mereka, mereka memiliki organisasi besar, sedangkan kita hanya berempat." Ia berhenti sejenak, nada suaranya berubah lebih serius. "Selain itu, kita juga harus mempertimbangkan Malik dan Shafira. Aku tidak ingin satu langkah salah yang kita am
Sementara itu...Malam menyelimuti Kota Metropolis dengan ketenangan yang jarang dirasakan Nathan akhir-akhir ini. Angin lembut berembus melewati halaman vila, menggoyangkan dedaunan dan menghadirkan suasana damai yang begitu menenangkan. Nathan baru saja selesai mandi. Rambut hitamnya masih basah, beberapa tetes air masih mengalir di leher dan dadanya. Ia hanya mengenakan handuk mandi yang melilit pinggangnya ketika keluar dari kamar. Ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berdering. Nathan melirik layar, lalu senyum tipis muncul di wajahnya. Virellia. Ia segera menerima panggilan itu. "Halo." Suara Virellia terdengar dari seberang, sedikit gugup, tetapi juga dipenuhi antusiasme. "Nathan, aku sedang bersama Elvira dan Eva." Nathan dapat membayangkan ketiga gadis itu sedang berkumpul sambil saling mendorong untuk berbicara. "Lalu?" "Mulai sekarang... kami juga boleh datang ke vilamu, kan? Maksudku, bukankah sekarang kita..." Kalimatnya menggantung, tetapi Nathan
Sorak sorai masih menggema di seluruh arena. Nama Nathan terus disebut, diteriakkan dari berbagai penjuru tribun. Tatapan kagum, pujian terbuka, bahkan decak iri bercampur menjadi satu. Ia menikmati pertandingan sebagaimana mestinya, berdiri di tengah lapangan bukan hanya sebagai pemain, tetapi seb
Pandangan mereka bertabrakan hampir bersamaan. Bukan karena suara, bukan karena gerakan, melainkan karena sesuatu yang lebih sunyi. Sesuatu yang langsung dikenali oleh hati. Eva. Elvira. Detik itu terasa menggantung. Riuh arena mendadak menjauh, sorakan seolah teredam oleh kesadaran yang sama-s
Peluit panjang menandai dimulainya kuarter kedua. Skor masih berpihak pada MIU A. Namun suasana di lapangan perlahan berubah. Jika pada kuarter pertama permainan MIU A terlihat rapi dan efisien, maka kini, keras. Bukan keras yang kasar secara terang-terangan, melainkan keras yang disamarkan oleh
Pagi datang tanpa benar-benar membawa ketenangan. Kompleks penyelenggara olimpiade masih ramai sejak subuh. Beberapa panitia terlihat mondar-mandir dengan wajah letih, sementara aparat keamanan kampus berdiri lebih banyak dari biasanya. Tidak ada pengumuman resmi, namun satu nama terus beredar pel







