LOGINSasha mengerutkan alis. Merasa bingung dengan ucapan Ludwig. Kalau dia memang sudah menyiapkan karyawan lain lalu kenapa Isabel masih mempertahankannya? Apa Thomas belum membicarakannya dengan Isabel?
“Iya, aku tahu, kok. Dia tadi juga sudah bilang padaku,” balas Isabel yang juga menjawab pertanyaan di benak Sasha.
“Lalu kena
Sasha seolah lupa caranya bernapas. Jarak di antara mereka sangat kecil dan tipis membuat udara di sekitar mereka terasa menyesakkan. Saking dekatnya, Sasha bisa merasakan napas hangat Ludwig menyentuh bibirnya, membuat jantungnya bekerja dua kali lipat lebih cepat. Mata hitam Ludwig yang menatapnya lekat juga membuat pikiran Sasha terasa kosong. Ia hanya mampu memejamkan mata rapat ketika Ludwig menyatukan bibir mereka.Sasha mulai mendesah dalam permainan bibirnya. Tubuhnya bergetar ketika Ludwig semakin memperdalam ciumannya. Mengajak lidahnya untuk masuk ke dalam mulut Sasha.Suara decap lidah kembali memenuhi kamar itu untuk kesekian kalinya. AC kamar juga lagi-lagi harus bekerja keras untuk mendinginkan suasana yang mulai panas itu. Jari Ludwig mulai ikut bermain. Ia melepas perlahan kancing kemeja Sasha. Menariknya hingga terlepas dari tubuh Sasha dan membuangnya ke lantai.Tangannya kemudian membuka pengait rok span Sa
Esok paginya, Sasha terbangun sendiri di kamar itu.Ludwig sudah tidak ada. Menyisakan bekas kasur yang sudah ditiduri di sampingnya. Apa pria itu sudah berangkat ke kantor? Padahal sekarang juga masih pagi buta, Sasha jadi bertanya-tanya seberapa pagi pria itu terbangun. Sasha bangkit dari kasur. Hendak bersiap untuk berangkat ke kantor. Tapi, netranya segera menangkap satu set pakaian formal bersih di atas nakas. Itu bukan bajunya kemarin. Yang berarti, Ludwig menyiapkannya lagi untuknya seperti beberapa hari lalu. Sasha mendesah. Perlakuan ini membuatnya seperti wanita simpanan beneran. Walaupun, memang itu statusnya sekarang. Tidak ingin memikirkannya lebih jauh, gadis itu akhirnya beranjak dari kasur menuju kamar mandi. Ia harus segera bersiap karena sebentar lagi sudah jam masuknya.***“Pagi, Sasha. Kamu sudah sibuk saja sepagi ini,” kekeh Annelise saat Sasha menuju mejanya dengan setumpuk dokumen.
Jantung Sasha berdebar kencang. Keringat gugup mengalir di pelipisnya ketika melihat pemandangan di depannya. Ia sudah melihatnya sekali, tapi masih tak menyangka kalau ‘barang’ pria ini bisa sebesar itu. Bahkan, ketika Sasha mulai menaruh tangannya di sana, tidak semua bagiannya bisa tertutupi. Sasha menarik napas pelan. Ini pertama kalinya Sasha memegang kemaluan pria. Jadi, sensasinya terasa aneh di tangan Sasha. Ia bertanya-tanya apakah semua kemaluan pria memang terasa seperti ini. Panas, licin, berurat, dan— Sasha buru-buru menggelengkan kepalanya. Wajahnya kembali memerah, merasa malu karena sudah memikirkan hal mesum seperti itu. “Sasha,” panggil Ludwig tiba-tiba, menyentakkan dirinya. “Y-ya, Pak?” tanya Sasha balik. “Gerakkan tanganmu,” perintah Ludwig pelan. Wajahnya terlihat sedikit mengeras. Sasha mengangguk pelan. Perlahan, tangannya mu
Sasha menelan ludah. Ia menundukkan pandangan lalu perlahan jemarinya mulai membuka kancing kemejanya. Kemeja itu perlahan luruh dari badannya. Mengekspos kulit mulus Sasha yang sudah basah karena keringat. Mata Ludwig memicing. Ia kembali mendekat dan membubuhkan bibirnya di atas dada Sasha.“A-ah …” tubuh Sasha bergetar lebih kencang. Matanya terpejam erat merasakan sensasi geli dari ciuman Ludwig itu.Tangan Ludwig merambat lebih naik. Gerakan jarinya terasa sensual di punggung Sasha, membuatnya merinding. Ia akhirnya menghentikan tangannya di pengait bra Sasha lalu membukanya dengan cepat.Sasha tercekat pelan saat merasakan branya juga luruh. Wajahnya semakin memerah.Padahal sudah beberapa kali ia menunjukkan badan polosnya di depan Ludwig, tapi tetap saja ia merasa malu. Entah kapan Sasha akan terbiasa.“Sepertinya kamu bersemangat sekarang,” ucap Ludwig tiba-tiba.
Sasha tiba tepat waktu di hotel. Tapi, saat ia memasuki kamar, Ludwig ternyata masih belum ada di sana.Mungkinkah pria itu telat?Tidak ada pesan dari Ludwig. Sasha sendiri juga tidak enak untuk menanyakannya, jadi ia memutuskan untuk menunggu saja.Gadis itu duduk di atas kasur. Mendesah lega karena akhirnya bisa duduk setelah seharian berdiri terus.Sekarang, apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia bersiap terlebih dulu, seperti membuka baju?Membayangkan Ludwig langsung melihat tubuh telanjangnya begitu datang, membuat wajah Sasha memerah. Ia tidak bisa membayangkan reaksi pria itu nanti, karena selama ini dia hanya menunjukkan ekspresi seram.
Sasha mematung. Tubuhnya mendadak mendingin, seolah aliran darahnya tiba-tiba tersumbat.Lagi-lagi pria itu mengancamnya. Tapi, ancaman kali ini terasa lebih berat dari sebelumnya.Tentu saja. Setelah pria itu tidak bisa menjauhkannya dari Isabel, ia pasti semakin merasa was-was hubungan gelap mereka akan terbongkar.Apalagi, Sasha akan terus menempel dengan Isabel ke depannya. Ludwig pasti juga merasa waspada kalau tunangannya itu dekat-dekat dengan wanita yang punya hubungan gelap dengannya.Menarik napas pelan, Sasha akhirnya mengangguk. “Baik, Pak. Saya akan melakukan yang terbaik untuk pekerjaan ini,” ucapnya.Ludwig mendengus pelan.
Sasha segera menyembunyikan dirinya di balik sebuah pilar besar. Ia menatap lekat keduanya dari jauh. Wanita di hadapan Ludwig sangat cantik dan elegan. Wajahnya putih bersih dan senyumannya begitu memikat. Seperti halnya Ludwig, wanita itu juga seperti dipahat langsung oleh dewa!‘Apa jangan-jang
Tubuh Sasha seketika menegang. Apa dia baru saja menyindirnya, dan kontrak mereka barusan? Apa pria itu melakukannya untuk mengintimidasi dirinya?Padahal tanpa melakukan itu, Sasha sudah sangat tertekan sekarang. Tak lama, Ludwig mematikan panggilannya. Ia kini menatap Sasha seutuhnya yang masih
Sasha menelan ludah. Ia meremas ujung blusnya erat-erat. “A-apa saya boleh meminta waktu untuk memikirkannya dulu?” tanya Sasha masih dengan nada yang takut.“Baiklah,” ucap Ludwig pendek membuat Sasha tersentak. Dia tidak salah dengar kan barusan? Ludwig membolehkannya untuk berpikir dulu? Sasha
“Keluarlah, Zen.”Suara dingin dan dalam itu menggema di ruangan itu.“Baik, Pak.”Sasha hampir menahan Zen pergi. Tapi, dia masih menahan diri. Sasha menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tubuhnya bergetar, merasa terintimidasi dengan hawa di ruangan ini. Benaknya sontak mengingat-ingat.Ludwig … Lu







