เข้าสู่ระบบDokter dan perawat masih sibuk memeriksa kondisi Renata; mengecek luka di dadanya, mengganti perban, mengatur dosis obat. Adit tetap berdiri di samping ranjang, memegang tangan Renata dengan lembut.Bayu yang mendengar kabar dari luar langsung masuk dengan wajah penuh harap. Begitu melihat Renata dengan mata terbuka, wajahnya langsung berubah, lega bercampur haru."Boss," panggilnya dengan suara bergetar.Renata menoleh sedikit, lalu tersenyum tipis melihat Bayu.Bayu mendekat, tapi tidak terlalu dekat karena dokter dan perawat masih bekerja. "Syukurlah, Boss. Syukurlah..."Dokter akhirnya selesai dan berbalik ke Adit dan Bayu. "Kondisinya sudah jauh lebih stabil. Tapi dia masih perlu istirahat total. Jangan banyak bicara dulu, jangan banyak gerak. Kalau tidak ada komplikasi, mungkin besok atau lusa bisa dipindah ke ruang rawat biasa.""Terima kasih, Dok," kata Adit.Dokter mengangguk, lalu keluar bersama para perawat.Kini ruangan kembali hening; hanya tinggal Adit, Bayu, dan Renata.
Adit terbangun dengan tubuh yang terasa... segar.Aneh, mengingat dia tidur di bangku panjang yang keras, dengan bantal seadanya, jaket yang dilipat dan selimut yang bahkan tidak ada. Tapi entah kenapa, tidurnya sangat nyenyak. Seperti tubuhnya tahu bahwa dia butuh istirahat total setelah menguras energi semalam.Dia membuka mata perlahan, menyesuaikan pandangan dengan cahaya pagi yang mulai masuk lewat jendela koridor. Jam dinding menunjukkan pukul enam pagi.Adit duduk perlahan, meregangkan tubuhnya yang kaku. Leher sedikit pegal, tapi secara keseluruhan dia merasa jauh lebih baik dari semalam.Dia melirik ke samping, Bayu tertidur di bangku seberang dengan posisi setengah duduk, kepala bersandar di dinding, mulut sedikit terbuka. Wajahnya terlihat lelah bahkan saat tidur.Beberapa anak buah lain juga masih tertidur di berbagai posisi, ada yang meringkuk di bangku, ada yang tidur dengan kepala di atas meja tunggu. Hanya dua orang yang masih terjaga, berdiri di dekat pintu dengan mat
Adit kembali duduk di bangku tunggu, pikirannya melayang jauh.Sungguh dia tidak mau terlibat lagi dalam urusan dunia hitam ini. Sudah. Dia sudah keluar. Sudah punya kehidupan baru; jadi aktor, punya karir yang cerah, punya nama yang bersih di mata publik.Tapi melihat Renata tertembak seperti ini... dia tidak bisa diam saja.Renata bukan hanya mantan bos. Dia orang yang pernah memberinya kesempatan ketika dia bukan siapa-siapa. Orang yang mempercayainya, yang membentuknya, yang mengajarkan banyak hal, baik dalam hal asmara hingga tentang kehidupan bawah tanah.Dan sekarang dia terbaring lemah, hidupnya bergantung pada mesin dan keajaiban.Adit merasa marah. Marah pada siapa pun yang melakukan ini. Marah pada dunia yang penuh dengan pengkhianatan dan kekerasan ini.Tapi dia juga tahu; marah saja tidak cukup.Dia harus berbuat sesuatu.Adit tahu ada banyak kelompok kriminal di kota ini. Lingkaran Merah memang yang paling terkenal; ormas besar yang punya cabang di banyak kota, punya kon
Petang mulai menyelinap masuk lewat jendela koridor rumah sakit. Cahaya oranye keemasan menerangi wajah-wajah tegang para anak buah Renata yang masih setia berjaga. Adit duduk di bangku tunggu dengan kepala bersandar di dinding, mata memandang kosong ke arah pintu ruang ICU di mana Renata masih terbaring kritis.Ponselnya bergetar. Nama Vera muncul di layar.Adit mengangkat dengan suara pelan. "Halo, Ver.""Dit, kamu di mana? Udah mau maghrib. Kok belum pulang?" tanya Vera dengan nada khawatir.Adit menghela napas. "Aku di rumah sakit."Hening sejenak di ujung sana. "Rumah sakit? Kamu kenapa? Sakit?""Bukan aku yang sakit," jawab Adit sambil mengusap wajahnya yang lelah. "Renata. Mantan bos aku. Dia ditembak orang. Sekarang lagi kritis.""Apa?!" Vera terdengar shock meski ia tak kenal siapa Renata. Namun ia hanya tahu dari cerita Adit, bahwa Renata adalah wanita pertama yang memperkenalkan Adit pada kehidupan semacam itu. "Ditembak? Siapa yang nembak?""Belum tahu pasti. Bang Bayu bil
Adit tiba di rumah sakit dalam waktu dua puluh menit. Dia memarkirkan motornya dengan tergesa, lalu berlari masuk ke lobi rumah sakit.Bayu sudah mengirim nomor ruangan lewat pesan; ruang ICU VVIP di lantai tiga.Adit naik lift dengan napas yang mulai terengah, bukan karena kelelahan fisik, tapi karena kekhawatiran yang mulai menggigit.Begitu pintu lift terbuka, Adit langsung melihat kerumunan orang di ujung koridor; sekitar sepuluh hingga lima belas orang yang berdiri dengan wajah tegang. Mereka semua anak buah Renata. Adit mengenali beberapa wajah.Bayu yang pertama melihat Adit. Dia langsung mendekat dengan langkah cepat."Dit," sapanya dengan nada lega bercampur cemas."Bang, Bu Renata kenapa?" tanya Adit langsung ke inti tanpa basa-basi.Bayu menarik napas panjang, lalu menjawab dengan suara pelan tapi tegas. "Dia ditembak."Adit membeku. "Apa?""Ditembak. Kena di dada. Pelurunya ngelewatin paru-paru, hampir kena jantung. Sekarang dia lagi kritis. Dokter masih berusaha stabilin
Mereka berdua sempat tidur sebentar. Saat bangun, waktu sudah menunjukkan jam setengan 1 siang. Adit merasa sangat lapar. Saat ia beringsut pelan untuk berpakaian, Ayunda pun terbangun.“Ini udah jam berapa Dit? Aduh, kita ketiduran ya…”“Jam setengah 1 Ayun… aku lapar banget. Bangun geh, kita cari maem…” ajak Adit.“Iya… ughh… ngilu semua aku. Astaga… hihihi…”“Waduh… maafkan aku, Yun… kebablasan…”“Nggak apa-apa. Enak kok. Aku yang malu Dit. Harusnya aku yang nyenengin kamu. Eh malah aku yang kewalahan…”“Aku seneng kok… bentar, aku tak mandi aja deh…”“Ikut… biar cepet…”“E… ayo kalau gitu…” kata Adit ragu. Ia khawatir, mandi bareng akan membuat mandinya tak kunjung selesai.Mereka pun mandi. Dan benar saja. Senjata Adit kembali berdiri. Tapi, tak terjadi apa-apa. Ayunda pura-pura cuek dan tak melihat pentungan yang menggemaskan itu. Ia tahu batas tubuhnya. Jika main lagi, ia pasti jatuh sakit. Jadi, acara mandi itu murni mandi saja. Lalu mereka berpakaian.Adit dan Ayunda meningga







