Share

Ibu Bos Datang

Penulis: Black Jack
last update Tanggal publikasi: 2025-04-01 10:12:05

Adit sungguh malas jika ia harus kembali ke tempat istirahat. Ia tahu, di sana ada beberapa terapis cowok yang sudah pasti paham apa masalah yang menimpanya hari itu. Mungkin di sana juga ada Pak Rudi. Tapi Bu Celina meminta ia untuk menunggu di ruang istirahat. Jadilah ia ke sana.

Adit melangkah malas menuju ruang istirahat, menghela napas panjang sebelum membuka pintu. Ia tahu betul siapa saja yang mungkin ada di dalam. Dan benar saja, begitu ia masuk, tatapan beberapa orang langsung tertuju
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Widi Walujo
celine jgn goblok lapor aja langsung ke.boss, emang ga ada cctv apa di ruang twrapis, bodo jgn di pelihara dong...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Tukang Pijat Tampan   Tebusan 100 Juta Per Kepala

    Halaman itu sungguh terlihat kacau dan berantakan. Banyak pot berisi bonsai mahal yang terjatuh. Renata pasti akan sangat kesal melihat semua kekacauan itu.Semua yang masih bisa berdiri sudah lari. Semua yang tidak bisa berdiri tergeletak di atas lantai atau di atas rumput taman dalam posisi yang bermacam-macam; sebagian meringkuk, sebagian telentang datar, sebagian saling menimpa satu sama lain seperti tumpukan karung yang dijatuhkan tanpa perencanaan.Sekitar seratus lima puluh orang, lebih atau kurang. Adit tidak menghitungnya dengan saksama, tapi matanya sudah terlatih untuk membaca kepadatan dan ia tahu angkanya tidak jauh dari itu.Bayu mengeluarkan teleponnya, menghubungi seseorang, dan berbicara dengan nada rendah yang tidak terdengar dari mana Adit berdiri. Joko sudah bergerak, berjalan di antara tubuh-tubuh yang tergeletak, memeriksa satu per satu, memastikan tidak ada yang dalam kondisi yang memerlukan penanganan segera, bukan karena kasihan, tapi karena orang yang mati ak

  • Tukang Pijat Tampan   Tinggal Cari Tahu Siapa Mereka

    Penyerang lain datang dari kiri; pria bertubuh besar dengan rantai besi yang diputar di atas kepalanya, menimbulkan dengung yang memekakkan. Ia berlari dengan langkah berat, yakin bahwa momentum dan massa tubuhnya cukup untuk merobohkan apapun yang ada di depannya.Adit tidak bergerak. Tidak satu langkah pun. Ia hanya menatap, menghitung, menunggu. Tiga langkah. Dua. Satu.Tepat saat rantai itu terayun ke arah kepalanya, Adit melangkah miring setengah meter ke kanan, gerakan paling minimal yang mungkin dilakukan, dan rantai itu lewat begitu saja, membelah udara tepat di sisi kirinya. Sebelum lawan sempat menarik kembali ayunannya, Adit memutar tubuh, menghantamkan sikunya dengan presisi ke tulang rusuk penyerang itu.Krak.Suara yang tidak enak didengar.Pria besar itu terlipat ke depan, napasnya tercabut seketika. Adit menangkap kepalanya, membantingnya ke lantai dengan satu gerakan mulus.BAAAMMM!!Bisa dipastikan, dia tak akan bangun lagi dalam waktu lama.Tapi yang lainnya terus d

  • Tukang Pijat Tampan   Rumah Renata Diserang

    Perjalanan pulang adalah perjuangan yang tidak mudah. Area disekitaran Auditorium itu masih ramai meski sudah 30 menit acara tersebut selesai. Entah kenapa mereka tak mau pulang. Tapi memang ada hoax bahwa Adit akan menemui fans yang ada di luar. Jadilah mereka menunggu. Dan yang tadi ada di dalam Auditorium juga tak pula lekas pulang.Di dalam mobil SUV hitam yang kedap suara, Adit duduk di tengah, diapit oleh Vera yang terus memantau tabletnya dan Renata yang duduk diam menyesap aroma dari botol kecil essential oil.Seluruh kacanya gelap. Orang tidak tahu siapa yang ada di dalam. Namun demikian, entah mobil apapun yang keluar dalam kawalan ketat, pasti akan menimbulkan teriakan dari fans yang menggila itu.“Astaga…” Adit cukup syok melihatnya.“Sampai sebegitunya ya…” kata Vera.“Masuk ke dunia hiburan adalah kesalahan terbesar yang telah kalian lakukan…” Renata berkomentar. “Aku tidak memungkiri, kamu mendapatkan banyak pendukung, Dit. Mereka akan maju saat kamu ada masalah. Sepert

  • Tukang Pijat Tampan   Jumpa Fans

    Mobil itu berangkat pukul delapan pagi.Renata duduk di depan bersama sopirnya. Adit dan Vera di belakang, dengan jarak yang sudah menjadi jarak default mereka dalam perjalanan panjang.Vera sibuk dengan ponselnya yang sudah aktif sejak sejam sebelumnya, membalas pesan dari Bu Ria dan tim manajemen yang rupanya juga sudah tidak tidur sejak tadi malam.Sementara Adit dengan jaket gelap dan masker yang sudah ia pasang sejak keluar dari gerbang, memilih untuk menatap keluar jendela dengan ekspresi seseorang yang sedang mencoba meyakinkan dirinya bahwa hari ini tidak berbeda dari hari-hari lain.Adit diam-diam mencoba untuk tidak gugup. Tapi ia tidak berhasil."Kamu sarapan tadi nggak habis," kata Vera tanpa menoleh dari layarnya."Habis.""Apa iya? Kayaknya kamu nggak habis deh sarapannya..." Vera menggodai Adit.Adit tidak merespons. Jiwanya seolah tidak sedangh berada di tubuhnya. Melihat hal itu, Vera memilih untuk tidak melanjutkan.Renata di depan tidak berkomentar, tapi ada sesuatu

  • Tukang Pijat Tampan   Thrailer Sudah Muncul

    Sekian hari berlalu. Proyek pembangunan itu sedang berjalan.Setiap pagi atau sore, Adit dan Vera selalu datang ke tempat proyek itu, kadang sebentar, kadang sampai senja, berjalan mengelilingi ruangan-ruangan yang sedang dikupas dan dibentuk ulang. Para pekerja sudah hafal dengan kehadiran mereka; beberapa menyapa singkat, sebagian besar melanjutkan pekerjaan tanpa banyak interaksi. Kontraktornya, seorang pria pendiam bernama Pak Yusuf, selalu menyambut mereka dengan laporan harian yang ringkas dan langsung ke intinya, cara yang Adit hargai lebih dari basa-basi panjang.Progres bergerak dengan ritme yang konsisten. Dinding-dinding lama sudah dibersihkan, rangka lantai dua dan tiga sedang diperkuat, dan di area yang akan menjadi café, tanda-tanda ruang mulai terbentuk dari garis-garis kapur di lantai beton.Dua minggu berlalu tanpa terasa, seperti waktu yang bergerak lebih cepat ketika ada sesuatu yang sedang dibangun.***Di luar jam memantau renovasi, hari-hari Adit berjalan dalam r

  • Tukang Pijat Tampan   Adit Setuju, Tapi Tidak Mau Gratis

    Mobil meluncur meninggalkan kawasan itu, menembus siang yang mulai condong ke sore, dan bayangan bangunan terbengkalai di balik pagar berkarat itu masih duduk di kepala Adit ketika Renata memecah keheningan."Tidak perlu berpikir lama."Adit menoleh ke arahnya."Bangunan itu terbengkalai dan aku tidak tahu harus berbuat apa dengannya." Renata berbicara dengan nada seseorang yang sedang membahas sesuatu yang sudah lama tidak ia pikirkan dan tidak merasa perlu untuk mulai memikirkannya. "Jadi pakai saja. Balik nama ke notaris. Selesai."Adit menarik napas kecil. "Kak Ren, konsepku itu, aku beli lahan, lalu mendirikan tempat usaha dari uangku sendiri…""Ya sudah, kamu beli saja kalau begitu." Renata mengangkat satu alis dengan ekspresi seseorang yang tidak mengerti di mana letak masalahnya. "Sama saja kan? Kamu beli dari orang lain dan beli dariku, tetap ada namanya kesepakatan, ke notaris, balik nama, dan lain-lain. Prosesnya tidak berbeda."Adit diam sebentar. Logikanya tidak salah."B

  • Tukang Pijat Tampan   Larasati Lemas

    Keesokan paginya, Adit terbangun dengan perasaan yang aneh; campuran antara bahagia dan gelisah. Pengalaman semalam masih terasa sangat nyata di ingatannya. Sensasi melayang, alam yang indah bersama Larasati. Adit seolah menemukan solusi bagaimana mereka pacaran dan melepas rindu tanpa ketahuan ora

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Tukang Pijat Tampan   Tak Pernah Bisa Menolak Renata

    Renata tersenyum melihat Adit sedang berpikir, lalu melanjutkan."Dulu aku tidak bisa terang-terangan memberikan hadiah-hadiah menarik untukmu. Aku takut ketahuan suamiku. Tapi kini aku bebas. Aku bisa memberimu posisi bagus sebagai wakilku. Tidak usah bekerja keras. Hanya tinggal menyuruh dan meng

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • Tukang Pijat Tampan   Deal Memainkan Film Dewasa

    "Tapi..." Adit bersuara pelan. "Ini tantangan juga sih. Dan kayaknya aku butuh pelatih khusus deh buat latihan akting harian. Soalnya tokoh di film ini beda banget sama film pertama."Vera tersenyum tipis. "Itu gampang. Nanti kita carikan acting coach yang bagus. Mungkin bisa latihan sama coach-nya

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • Tukang Pijat Tampan   Putus Dengan Laras?

    Adit kembali ke ruang tamu dengan langkah gontai, wajahnya suram seperti langit mendung yang siap menurunkan hujan. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya menyeret beban seberat gunung.Di ruang tamu, semua mata langsung tertuju padanya. Larasati yang duduk di sofa dengan tubuh tegang, Nyonya

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status