로그인Sejak pagi, Laura sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Setelah Bald berangkat ke kantor, rumah megah itu terasa jauh lebih lengang dari biasanya. Beberapa kali dia mencoba membaca majalah fashion favoritnya, tetapi baru beberapa halaman, pikirannya kembali melayang.Tatapannya kosong. Sesekali dia mengembuskan napas panjang."Kenapa jadi begini ...." gumamnya lirih.Bayangan wajah Edward kembali muncul di benaknya. Dia masih mengingat bagaimana pria itu bersikap tenang dan sopan setiap kali berbicara dengannya. Semakin dia berusaha mengusir bayangan itu, semakin sulit pula pikirannya menjadi tenang. Namun, bersamaan dengan itu, rasa bersalah perlahan menyusup ke dalam hatinya.Dia memandang cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya. "Bald ...."Suaminya tidak pernah memperlakukannya dengan kasar. Bahkan beberapa hari terakhir, Bald justru terlihat semakin perhatian. Membawakan makanan kesukaannya. Menanyakan keadaannya. Bahkan membantu biaya pengobatan ibu Faela tanpa dimint
Edward berdiri beberapa detik di depan pintu ruang kerja Tuan Bald. Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan debaran jantungnya.Tok ...Tok ...Tok ..."Masuk." Suara berat Tuan Bald terdengar dari dalam.Edward segera membuka pintu sambil membawa dua paper bag dan beberapa gelas kopi. "Permisi, Tuan. Kopi dan pastry yang Tuan pesan sudah saya bawakan.""Taruh saja di meja.""Baik, Tuan."Edward meletakkan semua pesanan dengan hati-hati. Setelah selesai, dia berdiri tegak beberapa langkah di depan meja kerja. "Tadi kata salah satu pegawai, Tuan ingin bertemu saya?"Tuan Bald mengangguk pelan. "Iya."Pria paruh baya itu mengambil amplop cokelat yang sejak tadi tergeletak di atas meja. "Aku baru menerima laporan dari bagian administrasi rumah sakit."Edward mengernyit. "Laporan?""Ibumu ... maksudku, ibunya Faela."Edward langsung menegakkan tubuh.."Bagaimana, Tuan?""Katanya kondisinya memang cukup serius hingga harus dirawat di ICU."Edward menundukkan kepala.."Iya, Tuan."Tua
"Permisi, Pak ... Permisi!" seru salah seorang petugas di cafe tersebut karena Edward sudah dipanggil beberapa kali, tetapi tidak memberikan respon padahal pesanan tersebut sudah selesai dibuat.Edward tersentak. "Eh ... maaf." Dia terkejut karena bahunya ditepuk oleh salah satu petugas. Edward buru-buru berdiri dari kursinya. "Ya, ada apa?""Pesanan yang tadi diorder sudah selesai dibuat. silakan diambil ke meja pengambilan pesanan, Pak," jelas pegawai itu."Baik. Terima kasih banyak atas informasinya." Edward langsung berjalan menuju ke meja pengambilan pesanan.EdwardPetugas kafe tersenyum ramah sambil menyerahkan beberapa cup kopi dan dua paper bag besar berisi beberapa pastry. "Pesanan atas nama Tuan Bald sudah lengkap.""Iya, terima kasih." Edward menerima semua pesanan itu dengan kedua tangan. Dia menghela napas pelan setelah membayar, lalu berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman kafe.Begitu duduk di balik kemudi, dia tidak langsung menyalakan mesin. Tatapannya justr
Edward saat ini sudah berada di sebuah cafe yang sangat mahal yang biasanya didatangi oleh para pejabat maupun orang-orang penting karena nilai secangkir kopi di sini bisa untuk makan seminggu. "Huh, sungguh takdir yang benar-benar kejam. Meski wajahku ini tampan, tapi dompetku selalu kosong. Disuruh-suruh seperti ini sama Tuan Bald membuatku jadi sadar kalau aku ini tidak lebih dari sekedar sampah di sini," gumam Edward meratapi nasibnya yang masih berada di bawah meski sudah berusaha bekerja keras setiap hari. Saat itu antrian cukup panjang sehingga Edward harus menunggu terlebih dahulu dan duduk di salah satu kursi sudut cafe karena merasa canggung melihat orang kaya yang berlalu-lalang di sana. Menunggu membuat Edward jadi melamun dan teringat tentang kejadian tadi malam. Kejadian yang benar-benar mendebarkan karena seumur hidupnya selalu menjunjung tinggi ikatan pernikahan dan juga janji setia. Namun, semua hal yang dia junjung serta harga diri yang tersisa runtuh seketika dal
Tuan Bald melangkah keluar dari ruang makan lebih dulu. Jas hitamnya telah dikenakan rapi, sementara tas kerja kulit berada di tangan kirinya."Ayo, Edward," panggilnya."Siap, Tuan." Edward segera berjalan mendahului menuju garasi. Begitu sedan hitam mewah itu keluar dari tempat parkir, dia turun lebih dulu untuk membukakan pintu belakang."Silakan, Tuan.""Terima kasih." Bald mengangguk tipis sebelum masuk dan duduk di kursi belakang. Edward menutup pintu dengan hati-hati, lalu kembali ke kursi pengemudi.Mesin mobil dinyalakan. Perlahan kendaraan itu meninggalkan halaman rumah yang megah.Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil cukup sunyi. Hanya suara pendingin udara dan alunan musik instrumental yang terdengar pelan.Beberapa menit kemudian, Bald memecah keheningan.."Edward.""Iya, Tuan?""Bagaimana kondisi ibu Faela sekarang?"Edward melirik kaca spion sesaat. "Alhamdulillah, semalam sudah berhasil dibawa ke rumah sakit swasta yang cukup bagus, Tuan.""Syukurlah.""Terim
Cahaya matahari pagi perlahan menembus celah tirai kamar utama. Laura masih terlelap di atas ranjang king size. Wajahnya tampak begitu lelah, bahkan napasnya terdengar lebih berat daripada biasanya.Bald yang sudah selesai mandi melirik jam dinding. "Pukul tujuh?"Keningnya berkerut. Biasanya, Laura sudah bangun lebih dulu untuk bersiap menemaninya sarapan. Namun pagi itu istrinya masih meringkuk di balik selimut.Bald menghampiri ranjang. "Laura ...."Tidak ada jawaban.Dia kembali memanggil dengan nada lebih pelan. "Sayang, bangun."Laura hanya mengerang kecil sambil menarik selimut hingga menutupi bahunya. "Hmm ... sebentar lagi."Bald tersenyum tipis. "Kalau sebentar lagi, nanti kita telat sarapan."Laura membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa berat. "Aku ... capek sekali."Bald duduk di tepi ranjang. "Capek?""Iya.""Kemarin kamu juga tidak banyak aktivitas."Laura langsung tersadar. Dia hampir saja salah menjawab. "Oh ... mungkin karena semalam aku susah tidur."Bald m







