LOGINSampai juga gue di halaman 150. Gue membalik kertas pelan-pelan—tapi begitu halaman itu terbuka, udara sekeliling mendadak terasa berat. Keringat tipis mengalir dari pelipis, menetes pelan ke sisi telinga.
Gue menelan ludah, jantung berdebar lebih cepat. Mata gue menatap halaman itu, nggak percaya sama apa yang gue lihat. Di sana—ada foto ilustrasi dokumenter penulis buku. Hitam putih, tapi memori gue langsung menembus kejadian di rumah duka almarhum Mang Sarmin. Sosok pria berpakaian serba hitam berdiri tegap, di belakangnya sosok siluman harimau putih, tubuhnya kekar seperti manusia. Ilustrasi itu persis seperti yang gue lihat sendiri—sosok Mang Sarmin berpose sama. Gue menohok gambar itu dengan jari gemeter, keringat tipis makin terasa. Mata gue menyusuri setiap detail, sambil membaca narasi di bawahnya. Ternyata, sosok itu bernama Raja Arga Dinata, dan harimau putih di belakangnya adalah pembantu setianya. Gue mencoba menafsirkan secara rasional—mungkin macan itu hanya simbol kekuasaan dan ketangguhan Raja Arga, bukan makhluk nyata. Gue lanjut membaca kalimat demi kalimat, dahi mengernyit. Di sana juga tertulis gagasan Raja Arga yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia—cikal bakal ide buat tugas kuliah gue. Tiba-tiba, udara makin menekan. Malam terasa semrawut. Rasanya seperti ada mata yang mengawasi dari belakang. Angin menghembus, bukan cuma dingin tapi ada aroma melati samar. Gue berhenti sejenak, menunduk, mencoba mengenali aroma itu. Ingatan gue melayang ke kebon kosong tadi—wanita renta itu. Ucapannya nyaris sama dengan kutipan di buku ini. Nafas gue tersendat saat membaca kutipan aksara Sunda di bawah narasi. Meski hanya dokumenter, tulisannya terasa hidup. Kutipan itu konon menggema di tanah Pasundan seribu abad silam, ucapan langsung Raja Arga kepada rakyatnya: "Ulah saucap langkah, lamun teu Aya arah." Bulu kuduk berdiri, udara makin mencekik. Gue reflek menutup buku, tapi pikiran gue masih terpaku pada kebon kosong—wajah wanita renta, ucapan, gubuk reyot, kidungnya malam itu. Leher gue gemeter, nafas tak beraturan. Energi itu menahan gue menengok ke belakang. Perlahan, sangat perlahan, gue memutar kepala ke arah halaman rumah yang berabut tipis, larut malam, penuh aura janggal. Keringat memuncak, tangan masih menggenggam buku. Dikit demi sedikit… leher gue menoleh… Setengah menoleh, wajah gue belum sepenuhnya nengok ke belakang, tiba-tiba… Plakkk! Pundak kiri gue ditepuk keras. Reflek, buku gue jatuh brukkk! Niban kaki sendiri, jantung berasa mau copot. Gue loncat kejut, reflek menoleh sambil teriak, “Astaghfirullah! Ya Allah!” Nafas gue seakan berhenti. Tatapan gue melotot. Di depan gue—ibu gue tiba-tiba muncul dari dalam rumah, menepuk pundak kiri gue. Keringat dingin sudah membasahi wajah. Jantung dag-dig-dug. Tangan kanan refleks mengelus dada. “Ngapain kamu! Malem-malem begini sendirian di teras?” suara ibu gue terdengar tegas. Gue masih setengah kaget, menjawab terbata-bata, “Ibu… ngagetin Fadil aja, ya Allah.” Gue tarik napas, mencoba menenangkan diri, “Ini… lagi baca buku, sekalian nulis tugas.” Reflek, gue membungkuk, meraih buku yang tadi terjatuh. “Iya, udah malem. Besok aja! Pintu mau ibu kunci,” kata ibu gue tegas. “Iya, buk,” gue jawab. Gak ada pilihan lain, gue nurut. Gue muter badan, menuju meja, mengambil pulpen dan buku tulis—padahal gue belum nulis sama sekali. Malam yang janggal ini bikin badan gue sedikit panas, kepala agak pusing. Mau nulis pun rasanya gak bakal fokus. Sebelum masuk ke dalam rumah, ibu gue bilang, “Ibu duluan ya, Dil.” Gue belum nengok ke belakang, cuma bilang sambil menoleh sebentar, “Iya, buk.” Ibu gue masuk duluan, meninggalkan suara pintu yang ditutup, dan aroma minyak angin bercampur obat nyamuk yang nempel di daster lusuhnya. Gue buru-buru ikut masuk, tapi udara di luar semakin kacau. Malam semakin semrawut, gak jelas. Pikiran gue mulai berantakan, semua kejadian janggal tadi bikin kepala gue serasa muter dan pusing tak karuan. Setibanya di dalam rumah, pintu langsung gua tutup rapat. Rumah sederhana gua terasa sunyi. Lampu di dalam menyala redup, membuat pandangan sedikit kabur. Sekilas, pikiran gua melayang—tentang keinginan mengubah nasib keluarga, tentang mencukupi kelayakan tempat tinggal yang lebih baik. Gua berjalan mendekati meja kayu di ruang tamu yang tak bertaplak. Buku gua taruh perlahan di atasnya. Kepala terasa sedikit pusing, dan rasa kebelet kencing makin menjadi. Gua melangkah menuju kamar mandi di belakang rumah. Rumah ini cuma punya satu kamar mandi, dipakai bertiga. Sambil berjalan, gua memijat kening pelan. Mata mengerenyit menahan nyeri. Saat melewati kamar ibu dan bapak, terjadi hal yang terasa janggal. Langkah gua refleks terhenti, tepat setelah melewati kusen pintu kamar itu. Tanpa sengaja, gua melihat ibu tidur pulas di atas ranjang. Namun—daster yang ia kenakan berbeda dengan daster yang ia pakai saat di teras tadi. Gua masih berdiri di samping kusen kamar, terpaku sambil berpikir. Dalam hati, gua berbisik lirih, penuh heran. “Perasaan tadi ibu nggak pakai daster itu deh…” Tangan gua bertolak di pinggang. Kepala makin berdenyut, tapi gua mencoba memaksakan logika. Gua bergumam pelan, “Ah, apa gua salah lihat?” Gua terdiam sejenak, menarik napas, lalu bergumam lagi, “Mungkin gua lagi pusing aja.” Sambil kembali memijat kening, gua melanjutkan langkah ke kamar mandi. Anehnya, rasa kebelet kencing mendadak hilang begitu saja, hanya karena melihat hal itu. Sejak saat itu, pikiran gua terus tertarik ke kejadian tadi. Apa yang gua lihat barusan cuma ilusi, atau memang ada yang tak beres? Setelah buang air, tubuh terasa lebih lega. Gua lanjut mengambil wudhu. Kamar mandi ini berada di luar rumah. Di desa, hal seperti ini sudah biasa. Kamar mandi itu tak beratap—langsung menghadap langit. Rembulan menggantung jelas di atas sana. Dindingnya hanya anyaman bambu setinggi leher gua. Air yang mengalir terasa dingin. Bukan cuma airnya—udara dan perasaan pun ikut mendingin, semilir lembut menyapu punggung gua, menusuk sampai ke tulang. Suara burung kucluk terdengar jelas dari sela-sela ranting di dekat kamar mandi. Disusul gesekan pohon bambu yang bergoyang, menciptakan irama alam yang ritmis. Gua berusaha mengalihkan pikiran, tetap fokus. Meski begitu, wudhu gua terasa agak tergesa. Setelah selesai, tubuh gua sedikit menggigil. Di tengah doa penutup wudhu, bulu kuduk tangan gua berdiri. Ada perasaan kuat seolah ada sesuatu sedang memperhatikan dari belakang. Namun bibir gua tetap melantunkan doa dengan lembut. Tatapan gua tegas mengarah ke depan, ke bak kamar mandi. Doa selesai. Meski perasaan masih kacau, suara burung terus berkumandang, dan bambu tetap bergesekan ditiup angin. Gua mencoba menenangkan pikiran, tapi kepala terasa pusing sebelah. Akhirnya, gua melangkah kembali ke dalam rumah, berniat beristirahat.Keesokan harinya. Tok! Tok!! “Dil… Fadil…” Gua refleks terbangun. Kepala masih kleyengan, sampai mata gua harus mengerenyit. Suara itu terdengar lagi. Tok! Tok!! “Dil…” Gua langsung nyaut. Suara itu sangat familiar. “Iya, Buk… bentar.” Gua mencoba bangun perlahan dari kasur. Setiap gerakan tubuh terasa berat, disertai gumaman refleks. “Aduh… astagfirullah…” Gagang pintu gua putar, lalu gua buka pelan. Engsel pintu berderit, disusul suara triplek kayu bagian bawah yang menggesek lantai. Baru saja pintu terbuka, suara ibu langsung menyambut. “Kamu nggak kuliah?” tanyanya dengan wajah cemas. Gua masih lesu, setengah mengantuk. Pandangan terasa berat. Dengan nada malas gua menjawab, “Emang sekarang jam berapa?” “Udah jam setengah delapan,” jawab ibu. Gua langsung melirik jam. Biasanya gua masuk kuliah jam tuju
Sampai juga gue di halaman 150. Gue membalik kertas pelan-pelan—tapi begitu halaman itu terbuka, udara sekeliling mendadak terasa berat. Keringat tipis mengalir dari pelipis, menetes pelan ke sisi telinga. Gue menelan ludah, jantung berdebar lebih cepat. Mata gue menatap halaman itu, nggak percaya sama apa yang gue lihat. Di sana—ada foto ilustrasi dokumenter penulis buku. Hitam putih, tapi memori gue langsung menembus kejadian di rumah duka almarhum Mang Sarmin. Sosok pria berpakaian serba hitam berdiri tegap, di belakangnya sosok siluman harimau putih, tubuhnya kekar seperti manusia. Ilustrasi itu persis seperti yang gue lihat sendiri—sosok Mang Sarmin berpose sama. Gue menohok gambar itu dengan jari gemeter, keringat tipis makin terasa. Mata gue menyusuri setiap detail, sambil membaca narasi di bawahnya. Ternyata, sosok itu bernama Raja Arga Dinata, dan harimau putih di belakangnya adalah pembantu setianya. Gue mencoba menafsirkan secara rasional—mungkin macan itu hanya si
Semakin dekat hansip itu ke semak-semak. Gua masih di belakangnya, jaga jarak setengah meter dari punggung dia. Udara mulai berat. Gua nahan napas. Pohon kecil itu masih bergerak—padahal senter udah hampir nempel ke batangnya. Gua nelen ludah. Dahi gua mengkerut. Mata gua mantengin tiap gerak halus semak-semak itu, nunggu sesuatu nongol. Si hansip masih merunduk, lalu sempet-sempetnya ngambil ranting kecil di tanah, gak jauh dari situ. Tanpa banyak ngomong, dia langsung ngerogoh semak-semak itu pelan-pelan. Ujung kayu dikibas halus, nyibak dedaunan yang gelap dan lembab. Gua ngikutin tiap gerakannya—dan tiba-tiba… Braakkk! Seekor kucing hitam langsung loncat keluar dari semak itu, nyeruduk tepat ke arah muka hansip! Refleks, hansip langsung mental ke belakang sambil teriak, “Gobloooogggg!!!” Dia jatuh duduk keras di tanah, senter kebanting ke tanah, nyorot ke arah kaki gua. Ranting yang tadi dipake langsung kelempar jauh. Gua bengong sepersekian detik—ter
Saat mata gua udah kebuka lebar, dari kejauhan—sekitar empat langkah dari tempat gua berdiri—gua nangkep sosok bayangan yang megang senter. Cahaya senter itu langsung ngarah kegua. Terus dari sana, kedenger suara teriakan: “Jang, naonan didinya! Wey!” Suara itu jelas, suara lelaki dewasa. Tapi yang gua liat cuman bayangan tubuhnya doang, soalnya sekeliling masih gelap gulita. Rasa khawatir gua langsung agak reda. Takut gua yang tadi udah numpuk, mendadak turun pas denger suara itu. Gua jawab, gugup tapi nyoba santai, “E—kagak kok, mang!” Dia nyaut lagi, nada heran tapi tegas, “Ehhh… naonan sosoranganan didinya!” Sambil jalan pelan, gua nyamperin dia, “kagak kok, mang!” Pas udah deket, baru kelihatan jelas—seragam hansip lengkap, sama topi bundarnya. Ternyata dia lagi patroli malam, dan kebetulan nyenter ke arah kebon kosong, terus nemuin gua berdiri sendirian di situ. “Bapak lagi patroli, ya?” tanya gua nahan gugup. “Heeuh,” jawabnya, rada cetus tapi perhatian. “
Di sela riuhnya langkah gua—gua lagi-lagi kudu melintasi jalan setapak yang kiri kanannya kebon kosong. Gua berhenti di ujung jalan. Napas gua berat, mata gua lurus ke depan. Jalan itu panjang, gelap, jelek bebatuan. Tapi gak ada jalan lain—cuma ini satu-satunya jalan pulang ke rumah. Firasat gua mulai aneh pas natap jalan setapak itu. Lampu-lampu jalan seakan gak bersahabat. Di ujung sana, sejauh mata mandang, kabut tipis mulai turun, nutupin pandangan. Lampu jalan di kejauhan sesekali nyala-mati. Deg-degan muncul di dada. Padahal tadi waktu berangkat, gua juga lewat sini. Tapi kenapa pas pulang dari rumah duka almarhum Mang Sarmin, jalan ini kerasa beda—mistis. Gua coba ngatur napas, berusaha tenang. Ngerasionalin pikiran biar gak ngelantur ke mana-mana. Kaki kanan gua mulai menapak, pelan, hati-hati. Bibir gua refleks nyebut, pelan banget, “Bismillahirrahmanirrahim...” Langkah gua makin cepat, tapi entah kenapa, rasanya kayak badan gua melayang. Baru lima bela
Dan di situ… Gua liat Mang Sarmin berdiri di lorong dapur. Di belakangnya, ada sosok besar—siluman macan putih. Tubuhnya kekar, sorot matanya tajam. Mereka berdua natap gua. Sangar. Dingin. Gua terkejut, spontan nyentak kain penutup wajah. Rani langsung jongkok nyentuh gua. Napas gua gak beraturan, keringat dingin ngalir di pelipis. “Dil, kamu kenapa?” katanya panik. Orang yang baca Yasin sempet berhenti, nengok, lalu lanjut lagi. Gua gak bisa jawab. Cuma geleng kepala, berusaha tenangin diri. Rani nengok ke jenazah, buru-buru nutup lagi kain putihnya rapat-rapat. Gua masih ngos-ngosan, nelan ludah. Kepala berat. “gua gak papa kok,” gua bilang pelan. Tapi tubuh gua panas, kepala pusing, dada sesak. Rani sentuh kening gua. “Badan kamu panas! Sakit ya?” Gua jawab gugup, “E—nggak kok.” Dia bujuk lembut, “Udah, keluar aja yuk. Aku buatin teh hangat.” Gua cuma ngangguk pelan, napas masih berat, mata ngikutin dia. Langkah gua lemes, tapi gua ikutin dia kelu