LOGINKeesokan harinya.
Tok! Tok!! “Dil… Fadil…” Gua refleks terbangun. Kepala masih kleyengan, sampai mata gua harus mengerenyit. Suara itu terdengar lagi. Tok! Tok!! “Dil…” Gua langsung nyaut. Suara itu sangat familiar. “Iya, Buk… bentar.” Gua mencoba bangun perlahan dari kasur. Setiap gerakan tubuh terasa berat, disertai gumaman refleks. “Aduh… astagfirullah…” Gagang pintu gua putar, lalu gua buka pelan. Engsel pintu berderit, disusul suara triplek kayu bagian bawah yang menggesek lantai. Baru saja pintu terbuka, suara ibu langsung menyambut. “Kamu nggak kuliah?” tanyanya dengan wajah cemas. Gua masih lesu, setengah mengantuk. Pandangan terasa berat. Dengan nada malas gua menjawab, “Emang sekarang jam berapa?” “Udah jam setengah delapan,” jawab ibu. Gua langsung melirik jam. Biasanya gua masuk kuliah jam tujuh lewat lima belas menit. Jam dinding berada di ruang tamu, tepat di depan kamar gua. Refleks gua melangkah cepat tanpa banyak mikir. Hati sempat cemas—lalu gua ingat. Perasaan gua agak lega, karena hari ini memang nggak ada tatap muka. “Nanti, Buk. Jam sepuluh,” jawab gua. Mendengar itu, wajah ibu berubah. Ada rasa bersalah di sana. “Ya ampun… maaf ya, Nak. Ibu nggak tahu jadwal kamu. Yaudah, kamu tidur lagi aja. Masih ada waktu.” Gua tersenyum. Meski jujur saja ada sedikit rasa kesel. Tapi—ya gimana lagi, itu ibu gua. Sambil menyentuh kedua pundaknya, gua jawab, “Nggak apa-apa kok, Buk.” Lalu gua tambah, “Fadil nggak tidur lagi. Takutnya nanti malah kebablasan.” Ibu membalas senyum gua, lalu berkata lembut, “Yaudah… kalau gitu mau sarapan apa?” Sebenernya gua masih ngantuk dan berat. Nafsu makan pun rasanya nggak ada. Gua menghela napas. Tapi di sela tarikan napas itu, gua tiba-tiba teringat sesuatu. Pandangan gua tanpa sengaja jatuh ke buku-buku semalam yang masih tergeletak di atas meja. Napas gua terhembus keras. Mata gua langsung melotot. “Astagfirullah…” Rasa ngantuk sontak hilang. Gua langsung duduk. Tangan gua meraih buku-buku itu, mulai mengacak-acak halamannya. Gua lupa—semalam, karena kejadian sialan itu, tugas-tugas gua terbengkalai. Dan di pagi yang cerah ini, gua harus mengawali hari dengan hiruk-pikuk kertas dan narasi yang terasa nggak etis jadi pembuka hidup gua. Ibu masih berdiri memandangi gua, wajahnya heran, terdiam sejenak. “Kamu kayaknya belum ngerjain tugas, ya?” tanyanya dengan nada perhatian. “Iya, Buk,” jawab gua sambil tetap sibuk membolak-balik halaman. “Yaudah, kalau gitu ibu buatin teh anget aja ya.” Gua nggak menjawab apa-apa. Tak lama kemudian, ibu meninggalkan gua sendirian—bersama hiruk-pikuk yang harus gua hadapi pagi itu. Di tengah bacaan buku Sosiologi Peradaban, gua terhenti sejenak di halaman sepuluh. Pikiran gua terseret ke ingatan malam tadi—saat gua membuka halaman seratus lima puluh. Namun sebelum mengikuti memori itu, gua memilih membuka daftar isi terlebih dahulu. Tanpa berpikir panjang, gua kembali ke halaman paling depan. Jari gua mengibaskan lembar demi lembar hingga berhenti di daftar isi. Jari telunjuk gua meraba tiap kolom, mencari angka yang terlintas di kepala. 151. Ketemu. Di sampingnya tertulis jelas, dengan huruf tebal: “Gagasan Hirup.” Dahi gua mengerenyit sejenak. Bibir gua bergumam pelan. “Gagasan hirup?” Ingatan gua kembali ke kejadian malam tadi—ke halaman itu, ke ilustrasi yang gua lihat. Ilustrasi seseorang berpakaian serba hitam, mengenakan blankon, dengan sosok siluman macan putih berdiri di belakangnya. Malam itu, gua sudah mencoba mencerna semuanya dari sisi simbolisasi. Dan pagi ini, rasa penasaran itu kembali menarik gua untuk membuka halaman tersebut. Pagi yang cerah ini memberi gua semangat—bukan pada realita kehidupan, melainkan pada ilusi yang hampir merampas batas kewarasan malam tadi. Jemari gua bergerak luwes namun tergesa, membalik halaman demi halaman. “151…” Halaman yang semalam membuat gua kehilangan rasionalitas. Saat sampai di halaman 149, gerakan gua melambat. Gua membaliknya perlahan. Ironisnya, kertas-kertas itu justru saling merekat, terasa lembap. Gua mencoba memisahkannya dengan hati-hati sambil bergumam kesal, “Ck… gini nih. Buku ditaruh sembarangan jadi lembap.” Dan anehnya—hanya halaman itu saja yang terasa lembap. Akhirnya, kertas-kertas itu terpisah. Gua melihatnya. Mata gua langsung melotot. Gua terdiam, menelan ludah, seakan nggak percaya. Halaman 151—isinya berubah. Apa yang pagi ini gua lihat bertolak belakang dengan yang gua lihat semalam. Halaman itu penuh narasi. Nyaris tak ada ilustrasi sama sekali. Gua heran. Nggak percaya. Gua coba membalik lagi: halaman 151, 152, 153. Semuanya hampir sepenuhnya naratif. Tak ada satu pun ilustrasi seperti yang gua lihat malam tadi. Napas gua mulai terdengar brisik, agak cepat. Dalam hati gua berbisik, “Gua lagi kenapa?” Refleks, gua menutup buku itu. Lalu langsung memeriksa sampulnya, memastikan gua nggak salah buku. Setelah mengecek sampul depan dan belakang, gua bergumam heran, “Bukunya bener… tapi?” Pandangan gua kosong menatap ke depan. Gua mencoba menetralkan pikiran yang nyaris kacau pagi itu. Dengan kejadian absurd yang seakan tak ada habisnya, gua memaksa diri memejamkan mata. Gua menarik ulang semua kejadian malam tadi. Otak gua meriset ingatan—dari awal berangkat melayat sampai pulang. Satu per satu momen gua ingat, hingga akhirnya berhenti pada satu percakapan. Perkataan tiga santri yang duduk di bangku, asyik mengobrol. Gua ingat jelas—salah satu dari mereka bertanya tentang anjuran membasuh muka setelah bertemu Mang Sarmin. Dan gua ingat jawaban temannya: jika tidak membasuh muka, seseorang bisa mengalami hal-hal aneh. Mata gua langsung terbuka cepat. Namun sebelum pikiran gua bergerak lebih jauh, sebuah suara memecah lamunan. “Nih, tehnya…” Suara ibu. Gua tersentak, refleks menoleh. “Oh… iya, Buk,” jawab gua pelan.Keesokan harinya. Tok! Tok!! “Dil… Fadil…” Gua refleks terbangun. Kepala masih kleyengan, sampai mata gua harus mengerenyit. Suara itu terdengar lagi. Tok! Tok!! “Dil…” Gua langsung nyaut. Suara itu sangat familiar. “Iya, Buk… bentar.” Gua mencoba bangun perlahan dari kasur. Setiap gerakan tubuh terasa berat, disertai gumaman refleks. “Aduh… astagfirullah…” Gagang pintu gua putar, lalu gua buka pelan. Engsel pintu berderit, disusul suara triplek kayu bagian bawah yang menggesek lantai. Baru saja pintu terbuka, suara ibu langsung menyambut. “Kamu nggak kuliah?” tanyanya dengan wajah cemas. Gua masih lesu, setengah mengantuk. Pandangan terasa berat. Dengan nada malas gua menjawab, “Emang sekarang jam berapa?” “Udah jam setengah delapan,” jawab ibu. Gua langsung melirik jam. Biasanya gua masuk kuliah jam tuju
Sampai juga gue di halaman 150. Gue membalik kertas pelan-pelan—tapi begitu halaman itu terbuka, udara sekeliling mendadak terasa berat. Keringat tipis mengalir dari pelipis, menetes pelan ke sisi telinga. Gue menelan ludah, jantung berdebar lebih cepat. Mata gue menatap halaman itu, nggak percaya sama apa yang gue lihat. Di sana—ada foto ilustrasi dokumenter penulis buku. Hitam putih, tapi memori gue langsung menembus kejadian di rumah duka almarhum Mang Sarmin. Sosok pria berpakaian serba hitam berdiri tegap, di belakangnya sosok siluman harimau putih, tubuhnya kekar seperti manusia. Ilustrasi itu persis seperti yang gue lihat sendiri—sosok Mang Sarmin berpose sama. Gue menohok gambar itu dengan jari gemeter, keringat tipis makin terasa. Mata gue menyusuri setiap detail, sambil membaca narasi di bawahnya. Ternyata, sosok itu bernama Raja Arga Dinata, dan harimau putih di belakangnya adalah pembantu setianya. Gue mencoba menafsirkan secara rasional—mungkin macan itu hanya si
Semakin dekat hansip itu ke semak-semak. Gua masih di belakangnya, jaga jarak setengah meter dari punggung dia. Udara mulai berat. Gua nahan napas. Pohon kecil itu masih bergerak—padahal senter udah hampir nempel ke batangnya. Gua nelen ludah. Dahi gua mengkerut. Mata gua mantengin tiap gerak halus semak-semak itu, nunggu sesuatu nongol. Si hansip masih merunduk, lalu sempet-sempetnya ngambil ranting kecil di tanah, gak jauh dari situ. Tanpa banyak ngomong, dia langsung ngerogoh semak-semak itu pelan-pelan. Ujung kayu dikibas halus, nyibak dedaunan yang gelap dan lembab. Gua ngikutin tiap gerakannya—dan tiba-tiba… Braakkk! Seekor kucing hitam langsung loncat keluar dari semak itu, nyeruduk tepat ke arah muka hansip! Refleks, hansip langsung mental ke belakang sambil teriak, “Gobloooogggg!!!” Dia jatuh duduk keras di tanah, senter kebanting ke tanah, nyorot ke arah kaki gua. Ranting yang tadi dipake langsung kelempar jauh. Gua bengong sepersekian detik—ter
Saat mata gua udah kebuka lebar, dari kejauhan—sekitar empat langkah dari tempat gua berdiri—gua nangkep sosok bayangan yang megang senter. Cahaya senter itu langsung ngarah kegua. Terus dari sana, kedenger suara teriakan: “Jang, naonan didinya! Wey!” Suara itu jelas, suara lelaki dewasa. Tapi yang gua liat cuman bayangan tubuhnya doang, soalnya sekeliling masih gelap gulita. Rasa khawatir gua langsung agak reda. Takut gua yang tadi udah numpuk, mendadak turun pas denger suara itu. Gua jawab, gugup tapi nyoba santai, “E—kagak kok, mang!” Dia nyaut lagi, nada heran tapi tegas, “Ehhh… naonan sosoranganan didinya!” Sambil jalan pelan, gua nyamperin dia, “kagak kok, mang!” Pas udah deket, baru kelihatan jelas—seragam hansip lengkap, sama topi bundarnya. Ternyata dia lagi patroli malam, dan kebetulan nyenter ke arah kebon kosong, terus nemuin gua berdiri sendirian di situ. “Bapak lagi patroli, ya?” tanya gua nahan gugup. “Heeuh,” jawabnya, rada cetus tapi perhatian. “
Di sela riuhnya langkah gua—gua lagi-lagi kudu melintasi jalan setapak yang kiri kanannya kebon kosong. Gua berhenti di ujung jalan. Napas gua berat, mata gua lurus ke depan. Jalan itu panjang, gelap, jelek bebatuan. Tapi gak ada jalan lain—cuma ini satu-satunya jalan pulang ke rumah. Firasat gua mulai aneh pas natap jalan setapak itu. Lampu-lampu jalan seakan gak bersahabat. Di ujung sana, sejauh mata mandang, kabut tipis mulai turun, nutupin pandangan. Lampu jalan di kejauhan sesekali nyala-mati. Deg-degan muncul di dada. Padahal tadi waktu berangkat, gua juga lewat sini. Tapi kenapa pas pulang dari rumah duka almarhum Mang Sarmin, jalan ini kerasa beda—mistis. Gua coba ngatur napas, berusaha tenang. Ngerasionalin pikiran biar gak ngelantur ke mana-mana. Kaki kanan gua mulai menapak, pelan, hati-hati. Bibir gua refleks nyebut, pelan banget, “Bismillahirrahmanirrahim...” Langkah gua makin cepat, tapi entah kenapa, rasanya kayak badan gua melayang. Baru lima bela
Dan di situ… Gua liat Mang Sarmin berdiri di lorong dapur. Di belakangnya, ada sosok besar—siluman macan putih. Tubuhnya kekar, sorot matanya tajam. Mereka berdua natap gua. Sangar. Dingin. Gua terkejut, spontan nyentak kain penutup wajah. Rani langsung jongkok nyentuh gua. Napas gua gak beraturan, keringat dingin ngalir di pelipis. “Dil, kamu kenapa?” katanya panik. Orang yang baca Yasin sempet berhenti, nengok, lalu lanjut lagi. Gua gak bisa jawab. Cuma geleng kepala, berusaha tenangin diri. Rani nengok ke jenazah, buru-buru nutup lagi kain putihnya rapat-rapat. Gua masih ngos-ngosan, nelan ludah. Kepala berat. “gua gak papa kok,” gua bilang pelan. Tapi tubuh gua panas, kepala pusing, dada sesak. Rani sentuh kening gua. “Badan kamu panas! Sakit ya?” Gua jawab gugup, “E—nggak kok.” Dia bujuk lembut, “Udah, keluar aja yuk. Aku buatin teh hangat.” Gua cuma ngangguk pelan, napas masih berat, mata ngikutin dia. Langkah gua lemes, tapi gua ikutin dia kelu