Compartilhar

11. Kepanikan

Autor: Murlox
last update Data de publicação: 2026-09-17 15:01:19

Feng Sui menelan ludah, keringatnya mulai bercucuran meski udara terasa dingin. Peringatan Xin Nian waktu itu kembali mengusik pikirannya.

Ia mengetahui bahwa keputusan untuk menangkap Wan Xuan mungkin adalah kesalahan terbesar dalam karirnya sebagai Wakil Komandan. Namun, kebanggaan dan arogansi tidak membiarkannya mundur.

"Apa yang kalian tunggu! tangkap dia!" perintah Feng Sui, suaranya sedikit goyah namun tetap berusaha mempertahankan wibawa.

Puluhan penjaga bergerak serentak, melangkah maju dengan pedang yang telah ditarik dari sarungnya. Mereka membentuk lingkaran yang semakin menyempit di sekitar Wan Xuan, mencoba untuk menutup setiap kemungkinan jalan keluar. Namun, mereka tidak menyadari bahwa mereka justru sedang menjebak diri sendiri.

Wan Xuan menutup matanya sebentar. Napasnya dalam dan tenang, seolah ia sedang bermeditasi di tengah badai perang. Ketika ia membuka matanya kembali, sorot matanya telah berubah—tidak lagi hangat, melainkan tajam seperti pedang yang baru diasah. Aura gelap yang memancar darinya semakin kuat, membuat udara di sekitarnya terasa sesak dan berat.

Feng Sui menggigit giginya. Ia bisa merasakan perbedaan kekuatan yang teramat jauh. Namun, mundur sekarang akan berarti kehilangan muka di depan seluruh penjaga kota. Tidak ada pilihan lagi.

"Serang!" teriak Feng Sui dengan suara yang penuh keputusan buta.

Para penjaga itu meluncur maju bersamaan, pedang-pedang mereka berkilau di bawah cahaya bulan yang pucat. Suara desiringan udara dari ratusan gerakan serangan terdengar seperti melodi kematian. Namun, Wan Xuan tidak bergerak. Ia tetap berdiri diam, matanya mengikuti setiap gerakan, hingga niat untuk menyerang.

Saat pedang-pedang itu hampir menyentuh tubuhnya, Wan Xuan akhirnya bergerak. Gerakan yang tampak sederhana namun mengandung kekuatan yang luar biasa. Ia mengangkat tangan, dan sebuah kekuatan tak terlihat meledak ke segala arah.

Semua penjaga yang berada dalam radius lima meter dari Wan Xuan seketika terlempar ke belakang, jatuh bertubi-tubi ke tanah seperti boneka-boneka yang dibuang. Beberapa darinya mengerang kesakitan, ada yang kehilangan kesadaran seketika. Debu dan asap mengisap udara, membuat visibilitas menjadi sangat buruk.

Feng Sui sendiri terlempar cukup jauh, kebelakang. Punggungnya menyentuh dinding gang yang keras, dan napasnya terputus-putus. Ia menatap Wan Xuan dengan mata membulat ketakutan. Kini ia benar-benar memahami bahwa apa yang dihadapinya bukanlah manusia biasa.

"Apa… kau monster?" teriak Feng Sui, suara yang penuh kepanikan dan keputusasaan.

Wan Xuan melangkah maju perlahan, setiap langkahnya terdengar seperti genderang takdir. "Wakil Komandan Feng. "

Beberapa penjaga yang masih sadar mencoba bangkit kembali, namun mereka tahu bahwa melanjutkan pertarungan hanya akan berakhir pada kematian. Mereka saling pandang, dan dalam pandangan itu, ada keputusan bersama untuk tidak mencoba lagi.

Namun, Feng Sui masih belum menyerah. Meski takut, ia menarik pedangnya dengan tangan yang bergetar. "Aku… aku tidak akan menyerah. Jika aku berhasil menangkapmu hari ini, tak akan ada lagi yang mati oleh kekejamanmu!"

Wan Xuan berhenti beberapa langkah di hadapan Feng Sui. Ia menggeleng perlahan, seperti orang yang melihat anak kecil yang keras kepala. "Aku Minta maaf."

Sebelum Feng Sui bisa bergerak, Wan Xuan menyentuh titik tertentu di tubuh pria itu. Feng Sui terkejut seakan ada aliran listrik menyengat pembuluhnya untuk beberapa saat. Ia melihat jarum setipis bulu menusuk titik di bahu kirinya, namun jarum itu tiba-tiba mengikis dan menghilang seakan larut ke dalam tubuhnya.

"Apa… apa yang kau lakukan padaku?" Feng Sui berteriak panik. Matanya terbuka lebar menatap Wan Xuan.

"Aku tak akan membunuh siapa pun. Namun tak menjamin keselamatanmu jika terus melawan." kata Wan Xuan datar

Keheningan menggantung di udara. Para penjaga yang tersisa tak berani berbuat apa pun. Mereka hanya menatap Wan Xuan dengan campuran takut dan hormat.

Seorang yang awalnya mereka pikir sebagai pembunuh, kini telah menunjukkan bahwa ia adalah sesuatu yang jauh lebih menakutkan—seorang master sejati dengan kekuatan yang melampaui imajinasi.

"Jangan bodoh, pembunuh sepertimu tak mungkin tak punya niat tersembunyi."

Wan Xuan hanya menatapnya tanpa berkedip, ia sebenarnya heran dengan Feng Sui, kenapa ia begitu kukuh mengiranya sebagai pembunuh. Namun ekspresi datarnya membuatnya tampak terlihat tak peduli.

Wan Xuan menjentikkan tangannya sekali sampai bunyi klik tipis terdengar.

Di mata Feng Sui tindakan itu terlihat aneh, namun begitu ia mendengar suara jentikan itu menggema memasuki telinganya, mendadak ia merasakan dadanya bergetar oleh sengatan tak kasat mata yang menyakitkan.

"Ugh!"

Sensasi menyengat dan sakit menusuk datang dari jantungnya, membuat tubuh Feng Sui terhuyung jatuh lagi.

"Kenapa dengan tubuhku?" pikir Feng Sui.

Matanya menatap Wan Xuan penuh curiga. Ia teringat pria itu baru saja melakukan sesuatu pada tubuhnya, sesuatu yang tak ia mengerti. Feng Sui merasakan ketidakberdayaan yang mendalam, seolah semua kekuatan dan keberaniannya sirna seketika.

“Ka-kau apa kan tubuhku sialan?”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Turun Gunung Memikul Takdir   17. Bergerak dalam gelap

    Di tengah malam yang sunyi, cahaya bulan memancar redup, tak cukup kuat untuk melawan pekatnya kegelapan malam.Wan Xuan berdiri tegak di atas atap salah satu bangunan di pusat markas penjaga kota.Ia telah mengganti pakaiannya dengan seragam serba hitam. Wajahnya tertutup topeng kayu berukir yang menyerupai seekor musang.Setelah memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia tiba-tiba menghilang, seolah ditelan oleh kegelapan malam itu sendiri.Sementara itu, di tempat semula Wan Xuan tinggal sebagai tahanan rumahan, Sun Liang masih berbaring di pojok ruangan yang gelap—cukup gelap untuk menyembunyikan bentuk tubuh dan auranya.Tak lama kemudian, matanya terbuka dalam satu gerakan cepat. Ia menoleh ke arah tempat Wan Xuan biasa berbaring, namun tak menemukan siapa pun di sana.“Eh? Ke mana bajingan itu pergi?” tanya Sun Liang pada dirinya sendiri.Ekspresi wajahnya mulai menegang, bercampur antara kesal dan sedikit kepanikan.Ia segera mengerahkan indra spiritualnya, menya

  • Turun Gunung Memikul Takdir   16. Peringatan & Keluhan

    Sesaat kemudian, langkah ringan terdengar. Dari balik bayang-bayang di pojok ruangan, sosok Sun Liang muncul dengan senyum lebar terpasang di wajahnya.“Hmm-hmm... sudah kuduga. Tiba-tiba menyerahkan diri untuk ditahan—ternyata kau memang mengincar Komandan Xin.”Sun Liang menutup separuh mulutnya saat berbicara, sementara matanya melengkung seolah menahan tawa geli.Wan Xuan tak repot-repot menggubrisnya. Ia hanya ingin menanyakan satu hal.“Kau sendiri senang mengintip seorang pria. Sejak awal aku sudah curiga seleramu agak... menjijikkan.”Ucapan itu datar namun menohok, apalagi kata terakhir yang sengaja ia tekankan. Sun Liang tak menyangka pria sedingin Wan Xuan bisa melontarkan kalimat semacam itu.“Ka-kau—jangan sembarangan menilaiku begitu, sialan!” gerutu Sun Liang, wajahnya memerah menahan malu.“Kalau begitu, apa yang kau lakukan di sini?”Sun Liang berdeham pelan, memperbaiki posturnya hingga kembali tegap. Ia berlagak seolah-olah dirinya seorang petapa bijak yang penuh wi

  • Turun Gunung Memikul Takdir   15. Selamat Malam

    “Ba-bagaimana bisa...” Feng Sui menggeretakkan giginya, wajahnya bergantian antara merah dan pucat. “Kau benar-benar hanya menipuku selama ini?”“Anggap saja sebagai pelajaran,” jawab Wan Xuan datar. “Lain kali, pikirkan dulu sebelum menyerang orang yang tak kau kenal.”Feng Sui hendak membalas, namun Xin Nian buru-buru menahan bahunya.“Sudah cukup, Wakil Komandan Feng. Kembalilah beristirahat. Urusan ini biar aku yang tangani.”Feng Sui masih menatap tajam ke arah Wan Xuan, namun akhirnya ia mendecih dan berbalik pergi dengan langkah kaku, menyisakan tawa kecil dari beberapa penjaga yang menyaksikan dari kejauhan.Xin Nian menghela napas, lalu menoleh pada Wan Xuan.“Kau sengaja membuatnya panik seperti itu?”“Dia menyerangku duluan,” jawab Wan Xuan singkat. “Aku hanya membalas secukupnya.”Xin Nian tak membalas, hanya menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan sulit diartikan—campuran antara curiga dan sesuatu yang lain yang belum ia pahami sendiri....Malam itu, langit Kota Li

  • Turun Gunung Memikul Takdir   14. Tertipu

    “Sial, bawa pria itu keluar. Dia masih punya urusan denganku.”Feng Sui berusaha melanggar perintah bahwa tidak seorang pun boleh mengganggu proses interogasi.Wajahnya masih tampak pucat, bukan karena racun dalam tubuhnya, melainkan lebih karena ia merasa panik.Wan Xuan sebelumnya berkata telah menanamkan racun, namun racun itu bukan sejenis ramuan berbahaya, melainkan seutas Qi yang disisipkan ke dalam jantung layaknya parasit—sesuatu yang dapat dikendalikan, atau bahkan bisa meledak kapan saja.“Jangan menghalangiku,” hardik Feng Sui pada para penjaga yang menghalangi pintu masuk.“Ta-tapi Komandan melarang siapa pun masuk,” jawab salah seorang penjaga.Feng Sui mendecih kesal, kepanikan dalam dirinya semakin menjadi-jadi.“Orang itu sungguh keji. Bisa-bisanya dia mengancamku dengan racun. Nyeri menusuk di dadaku masih terasa, walaupun tak sesakit waktu itu. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan penawarnya,” batin Feng Sui gelisah.Kegelisahan dalam dadanya hampir saja mendo

  • Turun Gunung Memikul Takdir   13. Introgasi

    Kedua tangan Wan Xuan segera diikat menggunakan tali khusus yang telah diperkuat Qi. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak menunjukkan perlawanan.Beberapa penjaga mengelilinginya dari segala arah. Mereka masih menyimpan rasa takut setelah menyaksikan sendiri kekuatan pemuda itu, tetapi perintah Xin Nian membuat mereka tidak punya pilihan lain selain patuh.Feng Sui berjalan paling belakang sambil sesekali memegangi dadanya.Setiap kali rasa sakit itu kembali muncul, wajahnya berubah semakin muram.“Komandan Xin,” bisik salah seorang penjaga, “apa kita benar-benar akan membawa orang ini ke markas pusat?”Xin Nian melirik Wan Xuan sekilas.“Ya.”“Tapi... dia sangat kuat.”“Aku tahu.”Jawaban singkat itu membuat penjaga tersebut terdiam, tidak berani bertanya lebih jauh.Xin Nian sendiri masih merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sebelumnya, Wan Xuan mampu mengalahkan seluruh pasukan tanpa membunuh seorang pun. Jika benar-benar ingin melarikan diri, tidak ada alasan baginya untuk membia

  • Turun Gunung Memikul Takdir   12. Berubah Pikiran

    Feng Sui menatap Wan Xuan dengan wajah pucat. Tangannya mencengkeram dada, sementara napasnya menjadi semakin berat.“Ka-kau apakan tubuhku, sialan?”Wan Xuan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Feng Sui beberapa saat, kemudian berjalan mendekat.“Aku hanya menanam sedikit racun.”“Apa?!”Wajah Feng Sui berubah semakin buruk.Beberapa penjaga yang masih mampu berdiri langsung mengangkat pedang mereka. Namun, tak satu pun berani mendekat. Mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana mudahnya Wan Xuan menjatuhkan puluhan orang sekaligus.“Jangan panik,” ucap Wan Xuan datar. “Racun itu tidak akan membunuhmu.”“Tidak membunuhku?” Feng Sui hampir tertawa karena marah. “Kau memasukkan racun ke dalam tubuhku, lalu menyuruhku tidak panik?”“Jika kau tidak menggangguku, aku akan mengeluarkannya.”Feng Sui terdiam.Kalimat sederhana itu justru membuatnya semakin kesal. Namun, rasa sakit yang menjalar dari dadanya perlahan membuat kesombongannya runtuh.Di luar ia memang tampak baik-aik saja

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status