MasukNayla terbangun dengan penuh rasa malu.
Bukan karena sinar matahari yang menampar wajahnya, bukan juga karena tubuhnya yang dingin karena lupa menarik selimut. Namun, karena ingatan semalam menelanjangi dirinya habis-habisan. Kepalanya terus berdenyut. Pahit alkohol masih tertinggal di lidah. Perih juga mengitari perut yang sejak kemarin kosong. Namun, bukan itu yang paling menyakitkan. Yang paling menyakitkan adalah fakta kalau Damian sudah dia biarkan melihat kelemahan yang dia tunjukkan semalam. Terlalu banyak yang Nayla ingin tarik kembali. Namun, semuanya sudah telanjur tumpah. Ratapannya, cerita pahitnya, dan rasa sakit yang selama ini dia sembunyikan di balik senyum buatan. "You're awake," ucap Damian datar. Nayla tidak menjawab. Dia lantas menarik napas, lalu duduk perlahan sambil merapikan rambutnya seadanya. Bahunya berat, sekujur tubuhnya linu, dan kedua kakinya seolah tak bertenaga. Ponsel dengan daya yang hampir habis diraih dari atas nakas. Nayla sempat melirik kalau ini adalah hari Sabtu. Tanggal yang tertera di layar ponsel menunjukkan catatan pekerjaan yang harus dia hadiri malam nanti. Fashion bukan sekadar pekerjaan bagi Nayla. Itu merupakan bahasa, pelarian, dan sekaligus tameng. Sebagai stylist, dia membaca tubuh dan karakter, lalu memadukan potongan dan warna. Kliennya beragam. Ada sederet selebriti ternama, model, bahkan politisi yang ingin tampak lebih manusiawi. Di balik layar, dia bukan sekadar penata gaya. Dia adalah arsitek ilusi yang menciptakan versi terbaik dari seseorang— termasuk dirinya sendiri, saat dunia luar terlalu bising untuk dihadapi tanpa lapisan kain yang dipilih dengan hati-hati. “Ini benar hari Sabtu?” lirih Nayla, lebih kepada berbicara pada dirinya sendiri. “Selain membuatmu mabuk, apakah alkohol juga membuatmu hilang ingatan?” Damian menimpali. Nayla melirik sekilas, lalu memutar bola matanya malas. Sambil menahan lemas, dia mulai berkemas. Tak ada banyak barang yang dia bawa. Nayla hanya menyambar clutch hitam yang tergeletak di atas sofa. “Acaramu malam ini?” Damian bertanya tanpa basa-basi. Nayla menoleh sekilas. Dia tidak kaget. Tentu saja Damian tahu tentang jadwal kerjanya. Entah mengapa, Damian memang seolah maha tahu. “Jam 7 malam?” Damian menebak lagi. Nayla tersenyum sinis. “Kamu sudah tahu jawabannya.” Damian menatapnya lama. Ada sorot yang menyiratkan rasa tak rela jika Nayla pergi begitu saja. Keterdiamannya seolah menimbang sesuatu yang tak benar-benar bisa dia ucapkan. Nayla sudah mengenakan heels berwarna perak yang tergeletak di sudut ruang. Geraknya pasti, percaya diri, meski Damian bisa menangkap kalau tubuhnya sedikit limbung. Kondisi fisik Nayla tidak benar-benar baik-baik saja. “Aku bisa membantumu menghilang kalau kamu mau. Dunia akan terus berputar tanpamu.” “Tapi aku tidak mau,” Nayla menatap lurus ke matanya. “Aku bukan seperti yang kamu pikir, Damian.” Ada jeda selama beberapa saat. Aromanya sunyi dan pekat. Kedua mata Damian menyipit, seperti sedang berpikir cepat. Tak lama kemudian, dia berkata pelan, “Aku akan mengantarmu.” “Kamu? Mengantarku?” Tawa Nayla nyaris meledak. “Ini bukan klub malam, tempat biasanya kamu hidup. Ini fashion week. Media. Kamera. Dan aku tahu kalau kamu bukan seseorang yang suka berbaur dengan itu.” Sejak lulus pendidikan, Damian memang sudah mulai membangun kerajaannya sendiri. Tak hanya di Milan, tapi juga sebuah klub malam eksklusif di jantung kota Bali. Napasnya berembus untuk dunia gelap dan gemerlap yang berpadu jadi candu. Dia bukan hanya pemilik, tapi dia adalah legenda di balik pintu-pintu merah dan musik yang tak pernah berhenti. “Aku tidak butuh berbaur,” jawab Damian datar. “Aku hanya akan menunggumu sampai selesai. Dan tenang saja, karena aku memang tidak berminat muncul di depan kamera.” Tentu saja Damian tidak ingin tampil. Lelaki sepertinya tidak akan memperdulikan hal yang tidak ingin dia pedulikan. Damian hanya ingin memastikan satu hal, yaitu Nayla tetap aman dan tetap miliknya. “Aku tidak butuh siapa pun untuk mengantarku.” “Tapi aku butuh untuk tetap mengantarmu,” pungkas Damian. Nayla menghela napas panjang. “Dan kalau aku menolak?” “Maka aku tetap akan muncul di sana. Bedanya, aku akan masuk lewat pintu depan.” Nada ucapan Damian serupa ancaman lembut yang dibungkus dalam perhatian. Nayla memejamkan mata sejenak. Dia tahu, berdebat dengan Damian adalah permainan sia-sia. Terlebih lagi, energinya hari ini sudah semakin menipis. Setelah dipaksa duduk di balik meja makan panjang, Nayla memegang sendoknya dalam diam. Bukan karena patuh, tapi lebih kepada menuruti kebutuhan tubuh yang sebentar lagi seperti akan pingsan. Suara denting porselen terdengar nyaring di tengah keheningan. Di seberangnya, Damian tampak membaca koran. Matanya memindai setiap huruf seperti sedang mencoba memahami Bahasa Indonesia yang belum sepenuhnya Damian kuasai. Nayla pikir, kebisuan di antara mereka akan kekal. Ternyata, tanpa menurunkan korannya, Damian memulai pembicaraan yang sangat di luar dugaan. “Kamu masih mencintainya?” Tangan Nayla berhenti di udara. Sendok sudah berada di depan mulutnya yang terbuka. Namun, bibirnya dengan cepat mengatup, dan sendok kembali bersatu dengan permukaan piring. Nayla tidak menjawab. Tidak bisa. Selain karena lidahnya yang kelu, pikirannya juga terlalu berantakan untuk memberikan jawaban. Damian lantas melipat koran, lalu menatapnya dengan sorot mata yang nyaris tak bisa dibaca. “Aku hanya perlu tahu. Sebelum aku membawamu ke dunia tempat mereka menilaimu dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Sebelum kamu tersenyum di depan kamera dan menyembunyikan semua luka di balik lipstik merahmu.” Nayla masih tidak memberikan respons. Namun, Damian kiranya sudah tak lagi butuh jawaban. Tatapan Nayla sudah cukup bising dan membuatnya muak. Beberapa saat kemudian, Damian berdiri cepat. Derit kursi terdengar kencang ulah gerak tubuh Damian yang cukup kasar. Ekspresi wajahnya sudah nyaris tak acuh. Sebelum menghilang di balik dinding dapur, Damian berucap, “Gaunmu tergantung di ruang ganti. Sepatunya aku siapkan di bawah. Perhiasannya ada di kotak beludru biru.” Nayla mematung, mencoba memahami situasi yang masih terlalu sulit dipahami. Tanpa menghentikan langkah, Damian sedikit menaikkan volume suara. “Dan ya, aku sudah menyesuaikan baju seperti apa yang bisa kamu pakai. Aku tahu acaranya tentang apa. Jadi, tenang saja dan nikmati makananmu.” Nayla berdecih lirih. Bagaimana bisa Damian mengatur pakaian seorang fashion stylist sepertinya. Namun, ya sudahlah. Nayla tahu, Damian memang selalu selangkah lebih cepat. Ketika cahaya matahari sepenuh tergantikan oleh sorot lampu, Nayla turun dari mobil. Damian masih tak bergeming, duduk di balik kemudi. Sementara Nayla memilih segera masuk ke dalam gedung di jantung kota Denpasar. Lensa kamera berkedip tanpa henti. Suara sepatu hak tinggi berpadu dengan bisik-bisik penuh ekspektasi. Dunia di balik panggung gemerlap itu adalah medan perang yang dibungkus kemewahan. Dan Nayla Moretti berdiri di tengahnya, tampak tak tergoyahkan dalam balutan setelan hitam berpotongan tegas dan rambut yang ditata rapi ke belakang. Dia tahu persis ke mana harus melangkah, siapa yang harus disapa, dan bagaimana menuntun pandangan orang-orang yang menilainya. Namun, di bawah permukaan, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Damian memang tidak menampakkan diri, tapi bahkan di tengah keramaian ini, Nayla bisa merasakan bayangannya yang terasa mengintai, melindungi, dan mungkin juga menguji. “Nayla?” Suara itu memaku langkahnya. Pelan, tapi tegas. Ini terlalu familiar untuk diabaikan. Nathan. Pria berdiri tak jauh darinya. Dia tampak begitu pantas dalam jas navy-nya. Wajahnya bersih dan senyumnya nyaris persuasif. Seolah tidak ada yang berubah. Seolah malam-malam penuh debat dan air mata hanyalah potongan skenario yang tak sempat disiarkan. Sebagai tamu undangan, Nayla tidak duduk di barisan terdepan. Namun, tetap saja, sorotan tetap menemukan jalannya ke arah wanita itu. Terlebih lagi, saat Nathan datang menghampiri dan menarik perhatiannya seolah kamera memang sedang menunggu. “Can I sit here?” Nathan bertanya sambil mencondongkan tubuh, cukup dekat hingga aroma parfumnya menyentuh tepi kesadaran Nayla. Wajah tampannya menyuguhkan senyum terbaiknya. Senyum yang dirancang untuk konsumsi publik. Nayla membalas dengan senyum datar. “It’s a free seat, isn’t it?” Flash kamera kembali menyala saat Nathan meraih tangan Nayla dan menciumnya sejenak. Setiap gerak-geriknya penuh romantika palsu yang terlatih. Gumaman kecil terdengar di sekitar mereka, mengira itu manis. Mengira ini semua berlandaskan cinta. “Aku senang kamu datang,” bisik Nathan, menyelipkan suaranya di sela keramaian yang semakin riuh. “Aku datang bukan karena kamu,” jawab Nayla tenang, bibirnya tetap membentuk senyum saat kamera menyorot. “Aku datang karena pekerjaanku.” Tepuk tangan pecah saat peragaan dimulai. Ada jeda yang cukup bagi mereka untuk duduk berdampingan bagai pasangan ideal. Namun, begitu pertunjukan usai dan sorotan mulai berpindah ke tempat lain, Nayla menoleh. Tatapannya dingin, kaku, dan tajam. “Kita harus bicara.” Nathan menoleh sambil mengangkat kedua alisnya. Dia masih menyimpan senyum kecil, seolah belum membaca nada di balik kalimat yang Nayla ucapkan. “Aku akan mengajukan perceraian,” pungkas Nayla tegas.Nayla masih terjaga menatap langit-langit berhias lampu gantung yang terlalu mewah untuk sebuah persembunyian rahasia. Selain megah, rumah itu punya satu ciri yang selalu diingat Nayla. Jendela-jendela kaca raksasa yang menjulang, seolah dindingnya sengaja dihilangkan supaya cahaya bisa masuk tanpa halangan.Dia ingat betul saat pertama kali berdiri di rumah itu beberapa waktu lalu. Saat itu, Damian sendiri yang membawa Nayla masuk, membuka pintu, dan menuntunnya melewati setiap ruangan. Hanya mereka berdua, dan memang tak boleh ada orang lain selain mereka berdua.Kini, situasinya telah sepenuhnya terbalik. Nayla kembali ada di ruangan yang sama, dikelilingi orang-orang Damian, ditemani kakaknya sendiri, tapi justru tanpa Damian. Justru Nayla tidak diperbolehkan berada di dekat Damian sama sekali.“Kamu belum makan malam,” ucap Adrian, menghancurkan lamunan Nayla.Nayla menoleh sebentar, lalu kembali mengalihkan pandangan. “Sudah.”“Hanya sepotong kentang.”“Aku bukan anak kecil lagi
"Kita pindah sekarang," titah Damian kepada Enzo.Matahari belum sepenuhnya muncul, tapi mereka sudah harus kembali bergerak cepat. Enzo segera menghubungi seseorang yang bertugas mengatur perjalanan selanjutnya. Tak boleh ada waktu yang sia-sia. Sebab Enzo paham betul kalau Damian pasti sudah sangat teliti dalam menghitung berapa menit lagi mereka boleh berdiri di tempat yang sama.Ponsel yang baru saja Damian pakai untuk menelepon Jonathan, dia tinggalkan begitu saja kepada salah seorang anak buah yang dibiarkan tetap berdiam diri di dermaga. Dia didandani menjadi seorang pekerja kapal yang duduk di atas kotak kayu, menyalakan rokok, dan berpura-pura menunggu waktu melaut. Sinyal telepon itu akan tetap menyala di sana selama beberapa jam ke depan, memberi kesan bahwa Damian masih di sekitar Napoli, sementara dia sendiri sudah jauh melangkah ke arah lain.Mereka bergerak ke utara sebelum pagi benar-benar terik. Mobil yang tampak murah dan pasaran dikendarai menembus jalan-jalan sepi
Damian duduk di teras belakang villa yang bertengger di lereng bukit. Matanya menyipit menatap arah laut yang berkilau di kejauhan. Cahaya bulan jatuh di permukaan air, pecah menjadi ribuan serpihan yang muncul lalu hilang, mengikuti napas ombak yang tak pernah berhenti.Ada yang tidak biasa dari caranya melepas tajam pandangan mata. Tentu bukan hanya serta merta menikmati pemandangan yang memanjakan, tapi sebaliknya, kepalanya sedang sibuk dengan deret rencana yang mengerikan. Kiranya, cahaya bulan bukan lagi simbol keindahan, melainkan sekadar penghiburan di tengah peperangan penuh darah.Enzo berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tanpa sedikit pun bicara, dia memilih untuk hanya bersandar pada pilar. Setelah sekian lama tersimpan di saku celana, kini kedua tangannya disilangkan di depan dada. Dari ekspresinya, dia sudah bisa paham kalau Damian sedang merencanakan sesuatu yang tidak main-main.“Enzo, sekarang,” ucap Damian kepada Enzo, tanpa sedikit pun menoleh.Kedua kaki Enzo s
Palermo. Setelah meninggalkan satu jejak di Roma, Damian langsung berpindah ke kota ini. Kota yang bukan tempat kelahiran, pun bukan kampung halaman. Namun, di sini Damian selalu merasa pulang ke rumah.Orang-orang Damian tersebar dalam lapisan-lapisan yang nyaris tak terlihat. Yang paling luar adalah petani-petani sungguhan yang menggarap ladang di sekitar bukit. Sebagian dari mereka memang hanya petani, sebagian lagi adalah mata dan telinga yang dibayar untuk melaporkan siapa pun yang lewat lebih dari sekali dalam seminggu. Lapisan berikutnya adalah orang-orang di kota, di pelabuhan, di kantor notaris, di balai kota, dan sejenisnya. Orang-orang yang tak pernah memegang senjata, tapi tahu persis kapan harus mengeluarkan surat izin atau melenyapkan sebuah dokumen.“Selamat datang kembali,” ucap Enzo, pria yang Damian percaya kedua setelah Andy.“Ciao, Enzo.” Damian memeluknya singkat sambil menatap bangunan yang bertahun lamanya tidak dia pijak.Villa itu berdiri di punggung bukit seb
Beberapa saat sebelum berangkat, dokter sempat memeriksa lukanya dengan cepat. Perban baru sudah diganti tanpa perlu obrolan berlebihan. Begitu pesawat mulai bergerak di taxiway, Damian segera menyandarkan kepala ke kursi dan menutup mata. Obat tidur dosis aman yang dia telan memaksanya untuk terlelap meski yang dia cari bukan sekadar istirahat fisik.Dokter di sampingnya sesekali tetap membangunkan Damian untuk sekadar minum banyak air. Sayangnya, efek obat tidak berdampak lama. Begitu gelap datang, dia justru terjaga.Malam penyerbuan Saeed kembali teringat dengan jelas. Ratusan peperangan serupa memang sudah Damian alami. Namun, kejadian malam tadi adalah hal yang berbeda. Setiap detik seperti mengukir jejak trauma.Dia mendengar lagi bunyi kaca pecah yang tajam, seperti suara yang tidak pernah benar-benar hilang dari telinga. Teriakan Nayla yang terdengar panik dan penuh ketakutan pun ikut muncul juga. Lalu, dentuman pistol yang meledak seperti meningg
Damian memutuskan untuk berjalan melewati lelaki itu, tidak menghindari, tetapi juga tidak mendekat terlalu cepat. Dia berjalan dengan ritme yang tetap, menjaga tangannya tetap santai meski setiap saraf di tubuhnya bersiaga.Saat jaraknya tinggal beberapa meter, lelaki itu tiba-tiba tersenyum."Damian?" panggilnya dengan nada yang akrab.Damian berhenti. Dia menatap lelaki itu lebih jelas sekarang. Wajahnya benar-benar familiar, dan jelas-jelas Damian tidak hanya pernah bertemu dengannya satu atau dua kali saja. Tak sampai dua detik kemudian, ingatannya saling berkesinambungan.Vincent. Dia adalah salah seorang pelanggan VIP di beach club miliknya. Pengusaha properti dari Jakarta yang sering datang ke Bali untuk berlibur dan selalu memesan area VIP di beach club Damian.
Kedua kaki mereka terayun menyusuri lorong villa. Damian menuntun di depan dengan langkah yang sengaja dibuat pelan. Gerakannya sama sekali tidak tampak terburu-buru, seolah sedang menakar detik sembari menenangkan denyut di kepalanya sendiri.Jemari mereka terus bertaut. Bahkan, ketika tiba di dep
“Damian.”Suara Nayla terdengar dari balik pintu. Meski sedikit memekik, tapi nadanya tetap lembut. Beriringan dengan itu, ketukan kecil ikut menyusul dengan ritme yang teratur. Di satu sisi, Nayla tetap ingin menilik Damian yang sejak tadi mengurung diri di dalam, dan di sisi lain, dia juga tak in
Damian menyandarkan tubuh kursi begitu panggilan berhenti. Jarinya tak henti mengetuk perlahan permukaan meja. Sorot matanya menajam, seakan isi kepala sedang menghitung detik, angka, juga merapal beberapa nama.Sunyi menekan ruangan. Hanya ada bunyi detik jam yang terdengar pelan tapi entah mengap
“Mereka sudah sampai di sana?” tanya Andy dari seberang telepon.“Sudah.”“Lawan belum bisa mengendus jejak kalian. Semuanya masih aman,” ucap Andy.“Tapi tetap harus pertebal keamanan. Fokuskan semuanya kepada keselamatan Nayla, sesuai rencana awal.”“Baik.”Damian mengalihkan pandang pada jendela







