ANMELDENZe werd bedrogen door haar man en beste vriendin. Daarna kreeg haar zevenjarige zoon de diagnose bloedkanker. De enige manier om hem te redden? Nog een kind krijgen met de man die haar kapot heeft gemaakt. Zeg me eens... Welk kind mag ze verliezen? Als je een vrouw bent, een echtgenote of een alleenstaande moeder, een vrouw die ooit sterk heeft moeten zijn toen ze het gevoel had dat ze brak, en je komt deze video tegen, stop dan even met scrollen. Dit is voor jou, ik zie je. Ik zie de nachten dat je wakker lag te piekeren over schoolgeld, ziekenhuisrekeningen, huur, eten, terwijl je overdag deed alsof alles goed was. Ik zie de stille tranen die je wegveegde voordat je kinderen de kamer binnenkwamen. De manier waarop je je pijn inslikte zodat zij het niet zouden proeven. Ik zie hoe moe je bent en hoe je soms even op het toilet zit om adem te halen. Hoe je soms aan jezelf twijfelt en je afvraagt of je wel genoeg doet. Ik wil dat je weet dat je meer dan genoeg bent, want ik ben opgevoed door een moeder die innerlijke stormen met zich meedroeg en ons huis toch een veilige haven wist te maken. Ze worstelde, offerde zich op en doorstond dingen die ik pas later begreep. En vandaag ben ik dankbaar voor haar kracht, want ze heeft me iets heel waardevols geleerd: moederliefde is niet zomaar iets. Ze is fel, koppig, opofferend en onstuitbaar. En dat is waar mijn boek, 'Married to My Best Friend’s Husband', over gaat. Ja, het gaat over verraad en liefdesverdriet, maar in de kern over de worsteling van het moederschap.
Mehr anzeigenHutan ini sangat lebat dan terkenal angker, tapi anak bertubuh kecil kurus dengan pakaian mirip pengemis ini agaknya sudah terbiasa ke sini mencari kayu bakar, yang dikumpulkan lalu di jual ke pasar.
Di usianya yang baru jalan 8 tahunan, dia harus bekerja keras seperti orang dewasa, karena keadaannya yang miskin. Wajahnya sebenarnya tampan, matanya bulat bersih, hidungnya kecil mancung.
Krusaaakk….si anak kecil ini lalu refleks menoleh ke arah suara itu. “Jangan-jangan ular besar,” batinnya mulai waspada, sambil menghunus golok pendeknya yang selalu menemaninya bila ke hutan.
Tiba-tiba hampir copot jantungnya, seolah melihat hantu di siang bolong, di depannya sudah berdiri seorang laki-laki yang tak dikenalnya. Tak sadar goloknya sampai terlepas dari tangan, saking kagetnya.
Pandangan laki-laki itu menusuk mata polosnya, hingga hati si anak kecil ini mengkerek, ketakutan langsung melanda hati. Kok muncul tiba-tiba saja, batinnya.
“Kamu…bawa benda ini, lalu pergii cepat…arghh…aku tak punya banyak waktu!” mata pria ini menatap tajam, tapi tangannya terlihat menekan dada kiri, seperti menahan rasa sakit, mulutnya bahkan terlihat noda darah yang mengalir dari mulutnya.
“Tu-tuan s-siapa??! Si anak kecil dengan suaranya yang terbata bertanya.
Namun, pertanyaan itu tak terjawab, pria asing ini lalu berlari sangat cepat, dalam sekejap sudah hilang dari pandangannya, mulutnya bahkan terlihat tetes darah mengalir.
Si anak kecil ini melongo melihatnya, tapi bungkusan hitam yang diberikan langsung dia simpan di saku celananya.
Tak berselang lama, kembali si anak kecil ini terkaget-kaget, 3 orang berwajah serius sudah berdiri di depannya. Kemunculan ketiga orang ini tak beda jauh dengan pria sebelumnya yang muncul tiba-tiba.
“Hei anak kecil, apakah kamu melihat ada laki-laki berambut panjang, wajah brewok lewat sini,” bentak seorang laki-laki pada si anak kecil ini.
“A-aanu…tadi s-saya lihat lari ke arah sana!” tunjuk si kecil ini dengan suara gagap.
Pria yang bertanya tadi sesaat menatap dengan sangar wajah si anak kecil ini, seolah memastikan tidak dibohongi.
“Hei anak kecil, kamu jangan main-main.”
Japra, nama anak kecil itu, bergetar ketakutan mendapat tekanan demikian.
“I-iya tu-tuan, awalnya dia lari ke Barat, tapi berbalik kayak hantu, l-lari ke arah Timur!” kembali bocah kecil menyahut agak gagap omongan orang-orang kasar ini.
“Hmm…anak kecil jarang berbohong, ayoo kita kejar ke Timur,” kembali si anak kecil ini melotot saking kaget dan kagumnya melihat 3 orang ini, yang melesat pergi.
Tentu saja ketiganya tak tahu, kalau si anak kecil ini memiliki kecerdasan di atas rata-rata anak sebayanya.
Dia menyebutkan arah yang berlawanan dari menghilangnya lelaki yang sebelumnya memberinya sebuah bungkusan.
“Apakah 3 orang itu jahat? Sehingga mengejar orang yang serahkan benda ke aku?” pikirnya sambil jalan lagi, niatnya cari kayu bakar batal, gara-gara bertemu orang-orang asing tersebut.
Sambil berjalan pelan, si anak kecil tak sadar, laki-laki yang tadi serahkan bungkusan padanya secara lihai kembali menghadang di depannya.
“Ha-ha-ha…anak yang tabah dan cerdik, kamu cocok jadi muridku!”
Brasss tubuh si anak kecil ini di gendongnya, lalu dengan cepat berlari ke arah Barat.
Anak kecil ini langsung pejamkan mata, dia merasa sangat pening sekali dan tak tahu akan dibawa kemana. Dia tak sempat bertanya, rasa takut menjalari hatinya.
Sesekali dia mendengar suara ngos-ngosan, tanda orang yang membawanya ini sedang menahan sakit ditubuhnya. Tapi memaksakan diri terus berlari di tengah hutan belantara ini.
Kini mereka sudah sampai di sebuah lembah yang sangat curam, sangat jauh dari tempat tadi.
Orang ini menurunkan si anak kecil tersebut, kemudian bersemedi mengumpulkan kembali kekuatannya. Si anak kecil ini terheran-heran saat melihat asap hitam keluar dari kepala orang itu.
Hoek…hoek…! Orang ini muntah hingga 2X dan mengeluarkan darah hitam kental.
“Bangsat sekali, 3 pendekar Golok Putih bikin aku terluka dalam, pukulan halilintar mereka benar-benar hebat!” gumamnya.
Orang ini tak sadar perbuatannya di tatap si anak kecil, antara takut dan ngeri melihat keadaan orang ini.
Si anak kecil ini menduga-duga, siapakah sesungguhnya pria brewokan ini. Orang ini membuka matanya, saling pandang pun terjadi,
Sedangkan si pria itu menjalari pakaian sederhana bocah ini, yang agaknya anak seorang petani.
Anehnya, mata anak kecil ini bersinar tajam, seolah-olah ada sesuatu yang mujijat tersimpan di mata anak tersebut.
“Siapa namamu anak baik..?” dia bertanya pelan, suaranya parau dan berat.
“A-aku…namaku Japra tu-tuan!”
“Japra…siapa nama orangtuamu, ayahmu terutama?” desaknya lagi.
“Aku anak yatim piatu, aku hanya tinggal dengan orang tua angkat di Kampung Haliling, di kaki bukit Meratus, tapi mereka sering memukuliku, katanya aku pemalas!” sahut Japra polos.
“Emm…sini kamu mendekat!” perintahnya dengan suara keren.
Walaupun Japra menolak, tapi dia kaget bukan main, tubuhnya bak tersedot oleh tangan pria yang belum dikenalnya ini.
“Hebat…tulang pendekar…agaknya mendiang orang tuamu bukan orang sembarangan!” cetusnya kagum, Japra merasa tubuhnya dipegang tangan kasar dan kuat ini.
Japra merasa geli, lalu berubah sakit dan kepanasan, saat tangan pria kasar ini terus memegang tubuh kurusnya.
“Dengar baik-baik Japra, benda yang aku berikan padamu sebelumnya adalah sebuah peta, untuk menemukan sebuah pusaka. Pusaka itu berada di Bukit Meratus, kalau kamu berjodoh menemukannya, kamu akan jadi pendekar tanpa tanding!”
“Pusaka…aku tak paham tu-tuan, eh paman!”
“Kamu masih kecil, tapi tulang-tulang tubuhmu sudah menggambarkan kamu bukan keturunan orang sembarangan. Japra, asal kamu tahu, 3 orang sempat yang berbincang denganmu tadi adalah 3 Pendekar Golok Putih itu, mereka sengaja mengejar aku, setelah mengalahkanku hingga terluka dalam.”
Japra hanya mendengarkan saja, di usianya yang sudah 8 tahun terus berusaha memahami kenapa si pria ini bermusuhan dengan 3 pendekar golok putih itu.
“Japra, namaku Ki Palung, aku terkenal sebagai kepala rampok di kaki bukit meratus, aku merampas peta itu dari seorang pangeran yang jadi pemberontak di Kerajaan Daha. Anak buahnya 3 pendekar golok putih mengejarku, kami bentrok, tapi aku kalah karena di keroyok 3 orang bangsat itu.”
Sambil mendengarkan Japra kini duduk di depan Ki Palung. Japra sempat terkaget-kaget, berarti pria ini orang jahat, karena ngaku perampok..?
“Dengar pesan terakhirku, kamu harus temukan pusaka itu. Kelak kalau sudah menjadi seorang pendekar hebat. Segera cari Padepokan-ku, simpan kalung ini, sebagai tanda kamu adalah pewarisku.”
Ki Palung merengut kalung yang melingkar di lehernya. Lalu meraih tangan Japra. “Cepat simpan benda itu.” perintahnya.
Japra iya-iya saja, berarti saat ini ada 2 benda yang harus dia simpan dari Ki Palung.
“Nah, sekarang kamu bersumpah segera!” lagi-lagi Japra yang tak paham kenapa harus bersumpah mengikuti perintah ini.
Dia juga diminta menghadap ke Barat, ke arah matahari yang mau terbenam.
“Ikuti kata-kataku…Aku bersumpah, akan membalas dendam pada 3 Pendekar Golok Putih, aku juga bersumpah akan menjadi penerus Padepokan Ki Palung, setelah berhasil jadi pendekar hebat kelak. Langit dan bumi jadi saksi sumpahku, aku Japra…akan mati mengerikan kalau tidak melaksanakan sumpah ini!”
Dengan suara pelan Japra mengikuti sumpah itu, tanpa paham apa maknanya, dia terlalu kecil untuk mengerti arti sumpah ini.
Tempat ini sunyi, tak ada lagi suara apapun. Bahkan suara nafas berat Ki Palung pun tak terdengar lagi.
Brukkk…Japra kaget, terdengar suara seperti benda jatuh, Japra yang tadi mengucapkan sumpah ke arah Barat, dan membelakangi Ki Palung kaget bukan main.
Dia pun otomatis berbalik dan terperanjat bukan kepalang, Ki Palung sudah tak bergerak lagi di tempatnya duduk tadi dalam posisi tertelungkup.
*****
BERSAMBUNG
[ALEXANDER'S PERSPECTIEF]Sandra's huis voelt te groot aan, maar ik woon hier al mijn hele leven. Ik ken elke kamer, elke hoek, elke krakende vloerplank.Maar nu voelt het als een hotel. Schoon en leeg. Niet echt van mij.Ik zit in mijn kamer mijn rugzak uit te pakken die ik bij Alessia heb gekocht.De kleren ruiken hier anders. Alessia gebruikt een ander wasmiddel. Iets dat naar lavendel en vanille ruikt.Sandra gebruikt iets duurs. Geen geur. Gewoon schoon.Ik houd een van mijn shirts tegen mijn gezicht en adem diep in. Het doet me denken aan Alessia's keuken, aan Jeffrey die pannenkoeken bakt en aan Davison die me thuis basketbal leert.Dan gooi ik het in de wasmand, want morgen ruikt het weer naar Sandra's huis.Zoals dit huis.Zoals de plek waar ik woon, maar waar ik me niet helemaal meer thuis voel.Sandra doet erg haar best.Dat is wat me deze week het meest opvalt.Ze maakt mijn favoriete gerechten, vraagt naar school en stelt voor om samen films te kijken.Maar het voelt al
[SANDRA'S PERSPECTIEF]De praktijk van Dr. Chen ziet er niet uit als een therapiekamer.Geen bank, geen notitieblok. Alleen twee comfortabele stoelen tegenover elkaar en een raam met uitzicht op een tuin.Ik ga in de ene stoel zitten. Zij in de andere."Bedankt dat je gekomen bent, Sandra.""De rechter zei dat ik moest komen, weet je, vanwege een deel van de voogdijregeling.""Ja. Maar je bent hier en dat is wat telt."Ik antwoord niet. Ik staar alleen maar naar de tuin. Alles is groen, levend en groeit. Alles behalve ik."Hoe voel je je?" vraagt Dr. Chen."Hoe denk je dat ik me voel? Ik ben mijn zoon kwijt. Mijn man is van me gescheiden. Mijn familie vertrouwt me niet. De hele stad denkt dat ik een monster ben. Hoe zou ik me moeten voelen?""Dan voel ik me waardeloos. Ik heb het gevoel dat de wereld beter af zou zijn als ik verdween."Ze reageert niet. Ze kijkt niet geschokt of bezorgd. Ze knikt alleen maar alsof ik iets volkomen normaals heb gezegd."Vertel me eens over Alexander.
[ALESSIA'S PERSPECTIEF]De telefoon gaat om vijf uur 's ochtends.Ik ben al wakker. Ik heb al weken niet goed geslapen. Te veel dromen over Alexander. Te veel 'wat als'-vragen.Ik pak de telefoon zonder te kijken."Hallo?""Alessia, met Margaret." Haar stem trilt. Ze is in paniek. "Sandra heeft Alexander meegenomen. Ze zijn weg."Ik schiet zo snel overeind dat de kamer lijkt te draaien. "Wat bedoel je met weg?""Robert heeft haar gisteravond geconfronteerd. Hij vertelde haar dat hij van het contract afweet. Van alles. En vanochtend zijn we naar haar huis gegaan en ze zijn allebei weg. Koffers. Paspoorten. Alles."Jeffrey doet de lamp naast me aan. "Wat is er aan de hand?"Ik wuif hem weg. "Waar zijn ze naartoe gegaan?""We weten het niet. Maar Roberts mensen volgen haar creditcards. Haar telefoon. Alles wat ze kunnen vinden.""Waarom zou ze vluchten?""Omdat ze weet dat we het contract gaan aanvechten. Alexander terugnemen. Hem aan jou geven."Die woorden zouden me blij moeten maken.
[SANDRA'S PERSPECTIEF]Ik rijd te hard naar huis, mijn hart bonst in mijn oren en ik heb het gevoel dat ik verstik.Robert weet het.Na zeven jaar van perfecte leugens, perfect acteerwerk, perfecte controle, weet hij het.En als hij het weet, weet iedereen het.Edward zal het aan Alessia vertellen. Margaret zal het door de hele familie verspreiden. En uiteindelijk zal Alexander het ook te weten komen.Mijn zoon.Nee. Niet mijn zoon. Dat is wat ze zullen zeggen.Alessia's zoon.Degene die ik heb gestolen en van wie ik deed alsof ik van hem hield. Degene die nooit echt van mij was, behalve dat hij van mij is.Ik heb er zeven jaar over gedaan om dat te bewijzen.Ik ben degene die hem vasthield toen hij huilde. Die hem te eten gaf toen hij honger had. Die hem het alfabet leerde en hoe hij zijn schoenen moest strikken.Alessia heeft hem negen maanden gedragen en is toen weggelopen.Ze kan nu niet meer terugkomen en hem opeisen.Ik laat het niet toe.Als ik thuiskom, is het donker in huis.











