로그인Sinar matahari menerpa wajah cantik Evgenia. Wanita itu mengerjapkan matanya, dan terbangun dari tidur nyenyaknya. Dia tersentak saat menyadari hari sudah hampir siang. Namun dia tidak menemukan Lev disana. Bukankah mereka harus pergi ke St. Petersburg hari ini? Tapi Lev tidak mengatakan pukul berapa mereka akan pergi. Perlahan Evgenia menurunkan kakinya ke lantai, dan dia kembali meringis saat merasakan pegal di pangkal pahanya. Terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, dan dia melihat Lev yang sudah segar setelah membersihkan dirinya. "Kau sudah bangun" "Apa aku kesiangan?" "Ya kurasa kita melewatkan waktu sarapan" "Bukan.. maksudku.. pukul berapa kita harus pergi?" "Hmm.. seharusnya lima menit lagi" "Apah?!" Evgenia sontak terkejut "Tidak masalah. Kita bisa pergi kapanpun" Evgenia terdiam, ya memang dia tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, karena mereka pergi dengan pesawat pribadi. "Apa kau butuh bantuan untuk ke kamar mandi?" "Kura
"Kau terlihat sangat cantik malam ini Eve" "Terima kasih. Begitupun denganmu" "Jadi kau mengakui jika suamimu ini tampan?" "Hanya orang buta yang tidak bisa menilai hal itu" Lev menarik sudut bibirnya Keduanya menikmati sajian yang sudah dihidangkan. Evgenia terpesona ketika sampai di tempat yang mereka tuju. Sebuah restoran di tepi laut hitam yang terlihat sangat romantis. Ditambah Lev menyiapkan meja khusus untuk mereka berdua, lengkap dengan lilin dan bunga disana. Sejenak Evgenia menganggap pernikahan mereka akan berhasil, dan mungkin saja akan segera hadir buah cinta mereka. Evgenia sedikit bersemu memikirkannya dan hal itu tertangkap oleh Lev. "Apa yang kau pikirkan?" "Huh? Tidak.. hanya saja aku kagum dengan semua ini" "Benarkah?" Evgenia mengangguk seraya tersenyum kikuk. Setelah makan malam usai, Lev mengajak Evgenia untuk berdansa. Keduanya hanyut dalam lantunan melodi romantis yang mengalun. Tidak ada percakapan apapun, hanya sejenak
Pagi itu Evgenia terbangun, namun tidak menemukan suaminya disana. Evgenia melihat sebuah catatan kecil di nakas dan itu sebuah pesan dari Lev. Pria itu mengatakan ada hal yang perlu dia lakukan dan tidak perlu menunggunya untuk sarapan. Evgenia melihat sudah ada beberapa makanan dan minuman di atas meja. Wanita itu memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dulu. Selang beberapa menit kemudian, saat Evgenia tengah menghabiskan sarapannya, sebuah panggilan masuk dari Lev mengalihkan pandangannya. "Ya?" "Apa kau sudah bangun?" "Hmm" "Datanglah ke pantai setelah kau siap" "Apa yang akan kita lakukan disana?" "Apa kau ingin berenang?" "Mungkin tidak buruk" "Aku akan menunggumu" Panggilan itu terputus. Evgenia segera bersiap dan mencari pakaian yang akan dikenakannya. Satu set bikini high-waisted warna putih menjadi pilihannya dan dipadukan dengan outer rajut untuk bagian luarnya. Evgenia mengenakan kacamata hitam miliknya. Di area pantai, Evgen
Evgenia terbangun dan merasakan pegal di sekujur tubuhnya. Kepalanya masih bersandar nyaman di dada Lev dan pria itu masih memejamkan matanya. Terlihat langit sudah menjadi sore hari dan mereka sudah melewatkan waktu makan siang untuk bergumul di atas ranjang, sekarang dia mulai merasakan lapar. Evgenia merona mengingat apa yang sudah terjadi. Mereka tiba di penginapan menjelang siang hari dan entah berapa lama waktu yang mereka habiskan untuk memadu kasih. Rasanya dia juga belum lama memejamkan matanya. Evgenia perlahan melepaskan pelukan Lev dari tubuhnya, namun saat mencoba turun dari ranjang, dia sedikit mendesis saat merasakan sakit di pangkal pahanya. "Apa kau baik-baik saja?" terdengar suara Lev yang baru saja bangun "Hmm ya hanya sedikit tidak nyaman" Lev turun dari ranjang dan kembali mengenakan celananya, dia mendekati Evgenia masih terduduk di pinggir ranjang. "Tunggulah sebentar. Akan ku siapkan air hangat untukmu" Evgenia hanya mengangguk.
Sochi. Menjadi kota pilihan Lev untuk berbulan madu. Kota yang terkenal dengan pantai yang hangat dan berlatar belakang pegunungan Kaukasus yang hijau subur. Evgenia tidak bisa berkedip saat menginjakkan kakinya di kota itu. "Apa kau menyukainya?" Evgenia mengangguk seraya tersenyum. Lev menarik sudut bibirnya, dia meraih tangan Evgenia dan membawanya menuju hotel tempat mereka menginap. Sebuah presidential suite menjadi kamar mereka selama menginap di hotel itu. Evgenia tidak meragukan pilihan Lev, kamar yang begitu besar dan luas, terlihat sangat nyaman dipadukan dengan objek utama dari jendela besar yang menghadap langsung ke arah pantai pribadi. Evgenia tersenyum melihatnya. Lalu tiba-tiba sepasang tangan memeluknya dari belakang, dan terasa kecupan di pundaknya yang terbuka. Evgenia mengenakan summer dress dengan tali spaghetti, sedikit mengekspos bahunya yang putih. "Apa kau lelah?" "Sedikit" "Bagaimana jika kita beristirahat setelah ini" Lev kemb
Evgenia pergi meninggalkan Lev begitu saja, setelah apa yang terjadi. Feliks berjalan mendekatinya "Apa kau tidak berniat menyusulnya?" "Biarkan saja" Feliks mengerutkan dahinya, apa tidak masalah jika dibiarkan? Bukankah hubungan mereka akan semakin sulit jika Lev bersikap seperti itu kepadanya. Evgenia mengunci pintu kamarnya setelah pesta pernikahan usai. Dia bahkan menolak makanan yang diberikan oleh para pelayan. "Biarkan saja" "Tapi tuan.." ucap Kate tampak khawatir "Pergilah" Kedua pelayan itu saling pandang, namun mereka hanya bisa menuruti perintah, dan kedua pelayan itu pergi dari depan pintu kamar Evgenia. Lev memandang pintu berwarna putih itu sejenak, lalu berbalik dan pergi menuju kamarnya. Evgenia menenggelamkan dirinya dalam air, sejenak dia melihat cincin pernikahan yang melingkar di jari manis tangan kirinya. Seolah itu hanyalah sebuah pajangan yang menghiasi dirinya, namun tidak ada hal khusus yang membuatnya harus bahagia. "Semua ha
Setibanya di lobby kantor milik Avraam "Feliks, apakah ada jadwalku untuk besok?" "Aku hanya mendapat undangan makan malam dari tuan Bogdashha pada pukul tujuh" Lev mengangguk "Kalau begitu, kau bisa pergi sendiri bukan?" "Eh?" "Aku memiliki urusan lain" Peter membukakan pintu untuk Lev
Beberapa hari setelah pertemuan keluarga di kediaman Zhanna, Victoria kerap mengirim pesan dan menghubungi Mark, dengan alasan ngidam yang dialaminya. Mark awalnya acuh dengan permintaan wanita itu, namun Victoria ternyata menghubungi Bella agar Mark mau menuruti keinginannya. Mark yang sangat me
Di luar ballroom tampak Mark yang tampak panik karena tidak berhasil menemukan Jeni setelah pesta usai. "Kau yakin dia sudah meminumnya?" ucap Mark kesal, dia bahkan hampir membentak pelayan yang sudah dibayarnya untuk memberikan wine kepada kekasihnya "Tentu tuan. Nona bahkan menghabiskan minu
Taksi yang ditumpangi Evgenia berhenti di depan sebuah minimarket di pinggiran kota Moskow. Lilia sedang membereskan beberapa barang di rak, sampai matanya tidak sengaja menangkap sosok Evgenia berdiri di depan minimarket, wanita itu melambaikan tangan padanya. Lilia bergegas keluar dan menghampiri







