Share

Bab 19

Author: Jayden Carter
Rayanza segera menghampiri. Melihat pemandangan itu, dia benar-benar tercengang. Dia tahu betul apa yang terjadi. Jika mania pada gangguan bipolar meledak, bisa membuat emosi benar-benar tak terkendali dan menjadi sangat agresif.

"Profesor George?" panggil Sienna, lalu menoleh ke George.

George melambaikan tangan seolah-olah meremehkan. "Ini cuma hipomania. Emosi melambung, energi berlebih, mudah tersinggung, pikiran kacau, perilaku sembrono. Hanya gejala, nggak apa-apa ...."

"Pak Rayanza, tenang dulu. Aku ...." Sebelum ucapannya selesai, Fellis malah semakin marah dan mulai meraih barang-barang di sekitar, lalu melemparkannya tepat di kaki George.

Rayanza teringat ucapan Arlo tadi. Dengan ragu, dia bertanya, "Sebenarnya Fellis diberi obat penenang atau nggak? Atau seperti yang dia bilang, setelah mencabut jarum, Fellis akan bangun?"

Sienna terdiam sejenak. Kejadian ini memang sesuai dengan apa yang Arlo bilang.

George tetap bersikap angkuh. "Tenang saja, tunggu sampai gelombang emosi ini lewat ...."

Fellis menunjuk ke pintu, napasnya berat. "Kalian semua keluar!"

Wajah George memerah. Dia sama sekali tidak menduga kondisi Fellis akan meledak sedemikian rupa. Penanganan standar memang menunggu sampai pasien tenang dulu. Jadi, dia pun mundur menuju pintu.

Sienna masih mencoba menenangkan. "Fellis, Profesor George ...."

"Keluar!" Fellis mengamuk. Tubuhnya gemetar, seperti binatang yang terluka.

"Aku ibumu, kenapa kamu bicara padaku seperti itu?"

Fellis tampak murung. "Dari kecil sampai sekarang, kamu selalu paksa aku menuruti kehendakmu. Kamu kontrol aku, paksa aku lakukan hal yang nggak kusukai. Sekarang pun kamu mau pilihkan dokter untukku."

"Kalau aku mati, kau puas, 'kan?" Fellis berlinang air mata.

Sienna hendak menanggapi, tetapi Rayanza sudah membentak, "Cukup!"

Rayanza maju untuk memeluk Fellis, menepuk punggungnya untuk menenangkan. "Jadi, kamu ingin Arlo yang mengobatimu?"

Fellis terus menangis. Rayanza merasa tidak tega. Sambil menghibur putrinya, dia berkata kepada Sienna. "Karena kamu yang usir Arlo, sekarang juga minta dia kembali. Anggap saja ini permintaan maafmu pada Fellis. Kalau nggak, jangan harap bisa ketemu anakmu lagi."

....

Sienna mengentakkan kaki dengan marah, lalu melangkah ke luar. Di ambang pintu, dia menoleh pada George. "Profesor George, carikan solusi. Apa benar kita harus panggil Arlo kembali?"

George agak canggung, tetapi akhirnya mengangguk. "Menuruti keinginan pasien memang bisa membantu menenangkan."

Sienna akhirnya menyetujui dengan enggan. Dia memanggil sejumlah pengawal. Jika Arlo menolak, dia akan menangkapnya secara paksa.

....

Arlo keluar dari kompleks dengan santai, berniat mencari taksi. Tiba-tiba, beberapa mobil memelesat dan menghalangi jalannya.

Pintu mobil terbuka dan Sienna turun dengan tergesa-gesa. Dengan ekspresi dingin, dia berjalan ke arah Arlo. "Arlo, sekarang kesempatanmu untuk membuktikan kemampuanmu. Ikut aku kembali, bantu sembuhkan putriku."

Nada Sienna arogan, seolah-olah memaksa Arlo kembali adalah semacam berkah besar baginya.

Arlo menyipitkan mata, semakin muak. Dengan dingin, dia menjawab, "Kuingatkan sekali lagi, kalau kamu datang memohon, keputusan untuk menolong atau nggak, itu tergantung suasana hatiku. Sekarang suasana hatiku lagi buruk. Aku nggak mau bantu!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Anis Rianto
cerita yg menguras energi, mantap .. lanjutkan
goodnovel comment avatar
Yanto Sriloka
kesombongan dibalas kesombongan... bukan maen....
goodnovel comment avatar
Wahyoe Illahi
baguss sekali ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 564

    Hutan lebat di gunung itu tidak ada jalan besar sama sekali. Hanya di bagian luar sekitar 50 kilometer lebih, para pemburu sering keluar masuk sehingga terbentuk jalan tanah kecil. Mobil masih bisa lewat dengan terguncang-guncang.Namun semakin masuk ke dalam, tidak ada jalan lagi sama sekali. Mereka hanya bisa berjalan kaki.Risty dan rombongannya sengaja menjaga jarak dari Arlo.Mohit mengernyit dan mengingatkan Arlo dengan hati-hati, "Mereka bawa pemburu itu sebagai penunjuk jalan karena nggak percaya sama kita!""Mereka juga sengaja menjaga jarak. Entah rencana apa yang sedang mereka susun. Pak Arlo harus berhati-hati!"Arlo tersenyum tipis."Aku punya dendam sama Risty. Siapa pun yang mendapatkan kulit ular putih, mereka nggak berniat membiarkanku pergi hidup-hidup. Mengundang pemburu tua sebagai penunjuk jalan hanya karena mereka takut tersesat waktu keluar gunung nanti!"Jivano menundukkan kepala dan tidak berkata apa-apa. Arlo terlihat muda, tetapi ternyata sangat penuh perhitu

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 563

    "Jangan-jangan, kalian berdua ini sedang bercanda?"Melihat Wahid mencibir, Jivano merasa tidak senang dan dia berkata dengan marah, "Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, mana mungkin palsu?"Wahid berkata dengan tidak acuh, "Maksudmu, kejadian waktu kamu mencuri dan menjual jimat tempurung itu?""Kamu bahkan tahu soal itu?" tanya Jivano dengan ekspresi yang sedikit berubah."Aku nggak pernah bertarung tanpa persiapan!" Wahid tersenyum puas. Anies juga seorang praktisi tingkat kegelapan. Karena dia pulang dengan kekalahan, tentu Wahid harus melakukan persiapan menyeluruh."Kejadian hari itu sudah kutanyakan secara rinci sama Tuan Muda Keluarga Sarkuta. Arlo itu cuma mengeluarkan pusaka dan melepaskan petir! Sekarang, pusaka seperti itu kemungkinan besar sudah barang sisa. Kekuatannya juga melemah setiap kali dipakai!""Lucu sekali kalian berdua ini. Keturunan Gunung Naga Harimau malah ditakuti sama sebuah pusaka. Bahkan dipermainkan oleh anak muda yang nggak punya asal-usul!"H

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 562

    Rafi langsung murka. Ini benar-benar tidak menghormatinya sama sekali.Hanya karena punya hubungan dengan Keluarga Artika dan datang bersama Risty, lalu Arlo malah menganggap rendah Rafi yang merupakan seorang camat?Waktu di meja makan tadi, Risty jelas mengatakan bahwa Arlo hanya penunjuk jalan. Cuma penunjuk jalan saja berani bersikap sesombong ini?Senyum Rafi membeku di wajahnya. Dia pergi dari jamuan dengan marah. Dia bersiap menelepon Lasya dengan alasan menanyakan latar belakang Arlo, sekaligus menceritakan sedikit kisah sedihnya kepada Lasya.Begitu Rafi pergi, semua orang memandang Arlo sambil menggelengkan kepala. Meski hanya camat, jabatan itu termasuk cukup besar hingga sulit ditemui oleh orang awam.Jangankan orang awam, bahkan para tuan muda kaya pun biasanya tetap menghargai camat yang sedang menjabat. Tidak ada yang mempermalukannya terang-terangan. Terlebih lagi orang seperti Rafi yang punya latar belakang tersembunyi.Siapa tahu suatu hari dia mendapat perhatian Kelu

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 561

    Wahid menggeleng."Aku hanya tahu tentang Kolam Dingin Miles, tapi nggak tahu lokasi pastinya. Di pegunungan itu, hutan lebat menjulang tinggi dan ada banyak semak belukar. Drone nggak bisa terbang rendah, jadi sulit menemukan lokasi dengan cepat. Citra satelit pun belum tentu bisa memastikan. Kalau bolak-balik mencarinya, mudah saja mereka merebut kesempatan lebih dulu. Lebih baik biarkan mereka yang memimpin jalan. Setelah masuk gunung, masih banyak kesempatan untuk membereskan mereka!"Penjelasan Wahid itu akhirnya membuat Risty sedikit lebih tenang.Setelah menunggu beberapa saat, barulah Arlo dan rombongannya datang dengan santai.Sheila dan Isla serta Malik ditinggalkan di Kota Tenawa. Arlo hanya membawa Mohit dan Jivano.Perlengkapan yang dibawa pun hanya satu telepon satelit dan beberapa makanan yang disiapkan Sheila. Arlo langsung memasukkan semuanya ke dalam cincin penyimpanan.Melihat mereka bertiga datang dengan tangan kosong, lalu langsung duduk di kursi belakang dengan ga

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 560

    Wahid tersenyum, Mohit ini ternyata orang yang lugas."Nggak penting gimana aku bisa tahu. Aku harap kamu bisa membawa kami pergi bersama!" Wahid mengangkat dagunya dan terlihat cukup angkuh.Wajah Mohit langsung tampak muram dan dia mencibir, "Gurumu adalah orang nomor satu di Hondaria. Kalau dia yang bilang itu, masih bisa dimaklumi. Tapi, gimana kamu bisa dibandingkan sama gurumu? Berani sekali kamu ngomong begitu?"Risty yang berdiri tidak jauh dari sana terlihat sedikit canggung saat mendengar perkataan itu.Setelah Anies kalah di tangan Arlo, dia langsung meminta keluarganya untuk mengundang Vikram. Sebagai maha guru nomor satu di Hondaria, Keluarga Hadju tentu tidak bisa seenaknya memanggil Vikram.Saat diundang kali ini, Vikram mengutus muridnya, Wahid.Menurut Vikram, Wahid sudah punya kemampuan untuk menangani urusan tersebut. Wahid sebenarnya hendak memanfaatkan nama Vikram untuk menekan lawan.Namun, ekspresi Wahid tiba-tiba menjadi dingin. Dia melangkah maju satu langkah,

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 559

    Pil pembersih sumsum dan pil energi adalah barang yang sangat berguna. Nilai setengah obat spiritual itu tidak kalah dari cairan spiritual. Namun, Husein bahkan meliriknya sedikit pun. Terlihat jelas betapa keras dan teguh pendiriannya.Pada saat itu, Arlo benar-benar terlintas pikiran untuk menggunakan cara paksa.Menurut prinsipnya, dia memang tidak suka melakukan hal seperti itu. Akan tetapi, nyawa Isyana harus diselamatkan.Saat Arlo masih ragu apakah harus menggunakan kekuatan, Mohit yang sedari tadi diam memberinya isyarat dengan tatapan."Setujui saja.""Kenapa?" Arlo memang membawa Mohit masuk karena tahu dia memiliki Gunung Naga Harimau sebagai pendukung dan berwawasan luas. Tak disangka, kali ini benar-benar berguna.Mohit tidak banyak bicara. Arlo menangkupkan tangan ke arah Husein. "Baik. Kita tukar barang dengan barang. Tapi, ada satu syarat. Kalau aku belum kembali dalam tiga hari, barulah Master Husein boleh menyerahkan bahan obat itu kepada orang lain."Risty langsung m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status