Mag-log in
Benar saja, setelah para jurnalis membawa perwakilan keluarga pasien dan sempat bersitegang sebentar dengan satpam di depan, Daniel keluar dari gedung bersama beberapa orang.Para jurnalis langsung menyambutnya."Pak Daniel, terkait obat terbaru perusahaan Anda untuk kanker paru dan penyakit hati yang menimbulkan efek samping serius setelah dikonsumsi pasien, apa tanggapan Anda?"Daniel memasang ekspresi serius, lalu berkata dengan suara dalam, "Sebentar lagi aku akan mengadakan konferensi pers untuk memberikan penjelasan terkait hal ini. Ini adalah tanggung jawab kami dan kami nggak akan menghindar!""Kapan dan di mana konferensi pers itu akan diadakan?" tanya jurnalis sambil mengangkat mikrofon.Daniel menunjuk ke alun-alun di depan. "Di sana. Kalian sedang siaran langsung, pasti sudah banyak jurnalis dan media yang bergerak setelah mendapat kabar. Kami mulai setengah jam lagi."Setelah berkata demikian, Daniel kembali masuk ke gedung.Para jurnalis langsung berbicara penuh semangat
Di depan gedung tempat perusahaan farmasi milik Daniel berada, ada sebuah alun-alun kecil.Saat ini, ada empat sampai lima jurnalis profesional yang berpura-pura melakukan wawancara terhadap tujuh sampai delapan perwakilan keluarga pasien.Model yang dipakai adalah menaikkan eksposur lewat siaran langsung, seolah-olah para jurnalis membawa keluarga pasien untuk datang ke perusahaan farmasi meminta penjelasan."Apakah kalian semua mengalami reaksi buruk yang serius setelah mengonsumsi obat kanker paru dan kanker hati dari perusahaan farmasi Keluarga Pramono?""Apakah kalian sudah berkomunikasi dengan perusahaan farmasi Keluarga Pramono? Apakah mereka mengakui bahwa ini masalah obat?""Apa bentuk kompensasi yang kalian tuntut?""Kami nggak mau uang. Kami hanya ingin keadilan. Dulu obat mereka diklaim sebagai obat herbal murni, makanya semua orang percaya. Nggak disangka jadi seperti ini!""Mereka menolak berkomunikasi dengan kami! Makanya kami meminta bantuan media!""Baik, jangan khawat
"Menurut rencana, pertama, biarkan keluarga pasien maju menuduh. Setelah mengonsumsi obat kita, akan muncul berbagai efek samping yang menyebabkan gagal hati atau gagal ginjal. Langkah selanjutnya adalah menuntut kompensasi.""Kemudian Pak Daniel tampil untuk mengakui, meminta maaf, dan menyetujui kompensasi. Gunakan alasan bahwa komposisi obat tradisional yang kompleks membuat penelitian terhadap perbedaan efek samping individu belum cukup ketat sebagai penjelasan!""Sisanya akan diatur oleh orang khusus. Ini naskah pidatonya. Silakan dilihat!"Orang-orang Reza sudah lama menunggu di lokasi. Begitu melihat Daniel, mereka langsung menyerahkan naskah pidato yang telah disiapkan.Sebentar lagi pertunjukkannya akan dimulai. Selama berhasil menyelesaikan urusan ini, Daniel akan menjadi orang kepercayaan Reza. Karena mereka akan berbagi sebuah rahasia yang menghancurkan.Daniel melihat opini publik yang panas di internet. Sudah ada beberapa tuduhan dari orang yang menyamar sebagai keluarga
Saat itu, Sheila, Isla, dan Haydan juga keluar dari kamar. Mereka berdiri agak jauh di pintu.Melihat Bimala yang berlutut, mereka semua sangat terkejut. Keluarga Kushanto adalah keluarga elite papan atas, tetapi Bimala bisa langsung berlutut tanpa ragu, bahkan harga diri sebagai tuan muda pun tidak dipedulikan. Seberapa besar sebenarnya rasa takutnya terhadap Arlo?Mengingat kembali sikapnya tadi, satu kata langsung muncul di benak mereka. Garang di luar, tetapi lemah di dalam!Mereka tidak tahu, saat Arlo membunuh Marlan di Hondaria, betapa besar efek gentar yang ditimbulkan pada kalangan elite.Dalam kondisi normal, grandmaster tenaga transformasi biasanya masih memberi sedikit muka pada kaum berkuasa. Namun, Arlo justru kejam dan tanpa ampun.Melihat tatapan aneh dari ketiganya, Bimala semakin merasa malu dan menyesal. Seharusnya dia tidak datang ke sini.Kalau bukan karena Yukta yang meyakinkan bahwa Arlo tidak akan kembali ke Kota Naldern dalam waktu dekat, membuatnya mengira Arl
Begitu kata-kata itu selesai, pintu kamar tidur di dalam terbuka dan Haydan berjalan keluar dengan gemetaran.Saat ini, setengah wajahnya sudah pulih seperti semula, tetapi setengah lainnya membusuk, berdarah, dan bernanah. Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan.Bimala sedikit terkejut dalam hati. Dia juga tidak menyangka racun yang diberikan pihak Miles bisa menghasilkan efek seperti ini. Dengan kondisi separah itu, Arlo pasti tidak akan bisa memulihkan nama baiknya.Bimala langsung memasang ekspresi berlebihan, lalu berkata kepada Haydan, "Haydan, apa yang terjadi? Kamu ini aktor. Modalmu adalah wajahmu. Kenapa sampai jadi begini? Cepat katakan penyebabnya, aku pasti akan membelamu!"Kebencian melintas di mata Haydan. Sebagai seorang aktor, dia sudah lama terbiasa menjadi alat bagi para pemodal.Namun, pertarungan antara Bimala dan Arlo membuatnya menjadi seperti monster. Amarah di hatinya sudah mencapai puncaknya.Untungnya, Arlo sudah berjanji akan mengobatinya. Yang sembuh ba
Arlo menatap Bimala sambil senyuman tipis. "Menurutmu aku seharusnya ada di mana?"Begitu melihat Arlo, jantung Bimala langsung berdebar kencang. Di mana Haydan? Sudah mati atau masih hidup?Dia tahu kemampuan medis Arlo tidak biasa. Sekarang situasinya benar-benar tidak jelas, ditambah lagi dia memang sangat berwaspada terhadap Arlo, rasa cemas di dalam hatinya bisa dibayangkan.Namun, racun yang kali ini diberikan oleh pihak Konsorsium Miles katanya adalah racun sintetis kimia yang tidak ada obatnya.Kalaupun Haydan tidak mati, setidaknya dia pasti sudah cacat. Lagi pula, kontraknya masih ada di tangannya, jadi Haydan tidak akan berani macam-macam!Bimala memaksa dirinya untuk tetap tenang, berusaha menstabilkan pikiran. Orang yang dia bawa, empat di antaranya dari tim kasus berat Biro Keamanan Provinsi Hareast, ditambah tiga semi-grandmaster.Belum lagi Keluarga Sinaga sudah memasang jebakan sebesar itu. Hari ini, mau sehebat apa pun Arlo melawan, dia tetap tidak akan bisa membalikk
Wajah Sambo tampak tegang. Jelas terlihat kilatan panik di matanya. Tanpa menarik perhatian, dia mengeluarkan ponsel dan mengirim sebuah pesan.Artha juga terkejut. Melihat Arlo melangkah masuk setahap demi setahap, dia refleks mundur beberapa langkah. "Kamu ... kamu masuk lewat mana?""Kamu lihat s
Isyana sama sekali tidak tahu keajaiban dan fungsi jimat pelindung itu. Dia mengerutkan kening dan berkata, "Jimat pelindung seperti itu 'kan cuma simbol doa dan harapan baik. Menerima niatnya saja sudah cukup. Kenapa harus dipakai terus?"Isyana memang menyimpan dengan baik liontin kayu polos itu.
Arlo menatap Artha dengan tatapan mengejek, lalu berkata kepada kapten pasukan bersenjata, "Seorang prajurit menjadikan perintah sebagai tugas utama. Kalau begitu, yang kalian lakukan juga nggak sepenuhnya salah!""Sekarang, coba kalian lihat ini!" Arlo mengeluarkan token raja bela diri, lalu melemp
Orang tua itu menyipitkan mata. "Kamu tahu siapa aku?"Arlo melirik ke arah kerumunan di luar, lalu melirik pria paruh baya yang hanya berdiri setengah langkah di belakang orang tua itu. Kepalanya tertunduk, tetapi seluruh tubuhnya memancarkan niat membunuh yang mengerikan.Arlo menyeringai dan berk







