แชร์

Bab 512

ผู้เขียน: Jayden Carter
Lapangan latihan militer luasnya sekitar tujuh hingga delapan lapangan sepak bola. Kecuali sebuah podium setinggi setengah meter, sisanya adalah area latihan yang lapang.

Di salah satu sisi podium, berdiri batu besar setinggi empat hingga lima meter, terpahat dua karakter besar "Seribu Kemenangan", menunjukkan sejarah gemilang Pasukan Metal Bangsa.

Sebagai pasukan elite dalam pasukan khusus, setiap tahun seluruh tentara yang berhasil lolos seleksi untuk masuk ke dalamnya tidak lebih dari 50 oran
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (2)
goodnovel comment avatar
Aswibuns Daffa' Wibowo
ayoo update lagi
goodnovel comment avatar
menk888herman
updatenya terlalu dikit..
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 848

    Heidi membelalakkan mata. Paula sebelumnya bilang dia besar di Desa Guting.Paula berjalan ke depan Aidan, mendekat, lalu berbisik sesuatu. Ekspresi Aidan langsung berubah. Dia kemudian menunjuk Arlo. "Anggap kamu lagi beruntung! Kita pergi!"Semua orang terdiam, hendak pergi, tetapi Arlo melangkah maju dan mengadang jalan Aidan."Kalian ini nggak dengar atau nggak paham?" tanya Arlo.Semua orang tertegun. Arlo langsung menampar. Plak! Aidan terjatuh ke tanah.Paula pun tercengang. Orang ini benar-benar tidak takut mati?Sekelompok preman langsung menyerbu Arlo. Namun, hanya dalam beberapa detik, semua preman sudah tergeletak di tanah. Tak seorang pun sempat melihat jelas gerakannya.Heidi menatap pemandangan itu dengan tak percaya, lalu menutup mulutnya. Cara dia memandang Arlo kini bercampur dengan kekaguman.Di mata Paula, kilatan kaget sempat muncul, lalu berubah menjadi senyuman mengejek. Ini wilayah Suku Maia, apa hebatnya cuma bisa berkelahi? Orang luar yang bodoh ini benar-bena

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 847

    Arlo turun dari mobil dengan santai. Sekelompok orang langsung mengepungnya. Namun, ekspresinya tetap tenang. Orang biasa pasti sudah gemetaran menghadapi situasi seperti ini, tetapi dia sama sekali tidak menunjukkan rasa gugup.Orang-orang itu juga bukan preman bodoh. Mereka tidak langsung menyerang, melainkan menatap pemimpin mereka, Aidan.Aidan mengangkat dagu ke arah Arlo. "Kamu ini sebenarnya siapa? Sudah berani menyinggung orangku, masih nggak mau kasih penjelasan?"Arlo tersenyum. "Kamu mau penjelasan seperti apa?""Orangku cuma minta kamu kasih tempat duduk, tapi kamu malah lempar dia dari mobil sampai babak belur. Paling nggak kamu harus minta maaf dan bayar biaya pengobatan, 'kan?" kata Aidan sambil menunjuk Gorou."Oh, biaya pengobatan? Kalian maunya berapa?" tanya Arlo sambil mengelus dagunya.Gorou langsung maju dengan wajah pongah. "Satu miliar! Kamu juga harus berlutut dan bersujud! Kalau nggak, jangan harap kamu bisa keluar dari pegunungan ini!"Arlo mengangguk pelan,

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 846

    Mobil terus melaju untuk beberapa saat.Arlo yang tadinya memejamkan mata untuk beristirahat, tiba-tiba membuka mata. Dia mendengar suara mesin mobil off-road yang semakin mendekat.Detik berikutnya, sebuah jip tiba-tiba memotong dan menghentikan bus, lalu tujuh hingga delapan kendaraan serupa menyusul dari belakang.Dari mobil-mobil itu turun sekelompok pria kekar. Mereka membawa parang, tongkat bisbol, dan senjata lain, mengelilingi bus sambil berteriak-teriak.Di antara mereka, ada Gorou yang sebelumnya ditendang Arlo keluar."Siapa tadi yang nendang aku? Keluar sekarang!" Gorou kembali bertingkah sombong. Dia berdiri di bawah bus sambil memaki.Saat ini, bus sudah memasuki daerah pegunungan. Tidak ada desa, tidak ada toko di sekitar.Suasana di dalam bus langsung kacau. Heidi tampak panik. Dia hanya mahasiswa biasa, ini pertama kalinya dia menghadapi situasi seperti ini.Dia menggenggam lengan Paula sambil berkata, "Paula, gimana ini? Kamu tadi bilang orang Suku Maia itu paling gan

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 845

    Paula sama sekali tidak panik. Dia hanya memelototi Gorou, lalu memalingkan wajahnya ke luar jendela.Gorou bukan hanya tidak marah, malah terlihat semakin bersemangat. Dengan tidak sabar, dia kembali membentak Arlo, "Nggak dengar kata-kataku? Minggir sana!""Maksudmu aku harus berdiri di samping, lalu kamu duduk di tempatku?" tanya Arlo sambil mengerutkan kening."Sudah tahu masih nanya? Sok banget sih! Kalau nggak mau berdiri, ya turun saja, tunggu mobil berikutnya! Aku juga nggak melarang!" maki Gorou dengan arogan.Penumpang lain di sekitar hanya diam, bahkan ada yang memalingkan wajah, tidak berani melihat. Jelas sekali, Gorou sudah terbiasa bertindak semena-mena. Mana ada orang biasa yang berani menantangnya?"Dik, kasih saja tempatmu ke Kak Gorou!" Sopir melirik dari kaca spion dan tak bisa menahan diri untuk membujuknya.Wajah Arlo sempat menunjukkan rasa tidak senang. Kalau tidak ada kursi dan yang datang adalah ibu hamil atau orang tua, tentu dia akan mengalah. Namun, ini cum

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 844

    Saat Isyana masih berbicara, Nirmala sudah melayang pergi.Dia berdiri terpaku di depan pintu, tatapannya kosong. Di matanya terlintas secercah harapan yang bahkan dia sendiri tak bisa menjelaskannya. Benarkah Arlo akan datang? Jika mereka bertemu lagi, apa kalimat pertama yang harus dia ucapkan?....Sebelum meninggalkan Kota Naldern, Arlo sengaja menemui Victor dan berjanji akan lebih dulu pergi ke Kota Maia untuk menemui Isyana.Bagas juga secara khusus menelepon Arlo, memberi tahu tentang sikap aneh Dewa Militer. Arlo tahu, dengan adanya tenggat tiga bulan dari Dewa Militer, tidak ada pihak yang berani secara terang-terangan menyentuh orang-orang di sekitarnya.Karena tidak ada yang berani memprovokasi seorang "pembunuh" yang sudah dipojokkan ke jalan buntu!Tidak ada yang percaya Arlo bisa mengalahkan Dewa Perang Utara. Menurut mereka, Arlo sudah pasti akan dipenjara selama sepuluh tahun.Namun, Arlo sendiri tidak merasa itu adalah jalan buntu. Toh Dewa Perang Utara belum mencapai

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 843

    Wajah Nirmala yang sempat terkejut itu segera berubah menjadi senyuman jahil. "Pria sampah seperti itu memang harus diberi pelajaran!""Begini saja, nanti kalau dia datang, kita tanamkan serangga sejiwa. Setelah itu, dia bakal jadi nurut banget sama kamu.""Atau nggak, kita beri serangga pelahap hati. Setiap hari siksa dia selama dua jam, biar dia rasakan gimana rasanya saat hati dimakan ribuan semut!""Kalau masih belum puas, aku bantu lempar dia ke Lembah Sepuluh Ribu Naga, biar dia ketakutan setengah mati!""Kamu ini 'kan sudah mendapat berkah dari dewa, semua yang kubilang tadi bisa kamu lakukan dengan mudah. Kamu nggak mau coba?"Isyana menatap Nirmala sambil tertawa getir. Hari itu di rumah Keluarga Kardinegara, saat melihat Arlo melangkah maju, Isyana baru sadar betapa bodohnya dirinya di masa lalu. Perasaannya campur aduk, bahkan muncul keinginan untuk menghindar.Dia pergi ke Yubras dengan alasan berwisata, padahal sebenarnya seperti mengasingkan diri dalam keputusasaan.Belak

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 482

    Seorang lelaki tua berusia sekitar 70 tahun, mengenakan setelan tradisional dengan rambut putih disisir ke belakang, melangkah dari belakang Jazuri.Dialah pilar utama Keluarga Artika, ayah Lasya, Andre."Lasya!" Suara Andre mengandung wibawa yang tak terbantahkan.Lasya tidak berani menatap ayahnya

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 477

    Hardika melirik Arlo sekilas, lalu tertawa lepas. "Jadi, mitra Fellis itu kamu ya? Apa yang perlu dirahasiakan?""Kalau kamu juga kenal Dovi, berarti kita semua sudah orang dalam. Aku bicara terus terang saja. Felix, Dovi, dan aku tertarik dengan perusahaan farmasi kalian. Kami ingin masuk sebagai p

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 474

    Fabio tidak mengerti, kenapa Dandy bisa seyakin itu pada Arlo. Sekalipun Arlo adalah grandmaster tenaga transformasi, lalu kenapa? Di militer, grandmaster tenaga transformasi juga tidak sedikit. Bahkan Dewa Militer sudah lama melangkah ke ranah transenden."Arlo, kalau aku keluarkan tekniknya dan ka

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 469

    Wajah Dovi tampak agak muram. Sebagian besar waktunya, dia beraktivitas di ibu kota provinsi dan sama sekali tidak punya hubungan dengan Arlo. Tentu saja, tidak bisa dibilang kenal dengan Arlo. Namun, dia memang tahu identitas Arlo. Sebelum berangkat ke Naldern pagi ini, dia kebetulan melihat berkas

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status