แชร์

106

ผู้เขียน: Naomiliana
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-21 09:00:27

“Dasar jalang! Seharusnya kau mati bersama ibumu!” ucapnya yang ingin menyerang Lian Wei, namun di halangi oleh Wei Heng. Sementara Xiu Juan mengawasi Tabib Xu.

“Selir Zhu!” bentak Xiuhuan.

“Ayah izinkan aku menghukum Selir Zhu atas perbuatannya,” pinta Xiuhuan.

“Tidak! Aku yang akan menghukum Selir Zhu. Karena dia aku kehilangan ibuku, dia juga meminta pembunuh bayaran untuk membunuhku, bahkan dia meracuniku. Jadi aku sendiri yang akan menghukumnya.”

Lian Wei ingin menyerang namun ditahan o
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   164

    Lian Wei yang baru beberapa langkah berjalan langsung menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Perlahan ia menoleh ke belakang. Wang Xuemin masih berdiri di tempat yang sama. Tatapannya tenang, tidak terlihat seperti seseorang yang sedang bercanda. “Apa yang kau katakan?” “Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.” Udara di sekitar mereka seolah membeku. Tangan Lian Wei tanpa sadar mengepal di balik lengan bajunya. “Kalau begitu katakan,” ujarnya dingin, “Siapa aku?” Wang Xuemin tersenyum tipis. “Xinxin.” Mata Lian Wei membelalak. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ekspresinya benar-benar runtuh. “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.” “Kau bisa terus menyangkalnya.” Wang Xuemin melangkah mendekat. “Namun tidak peduli kau adalah Putri Li Lian Wei atau Xinxin... aku tetap mengenalmu sebagai orang yang sama.” Tatapan Lian Wei berubah tajam. “Sejak kapan kau tahu?” “Sejak lama.” “Lalu kenapa kau diam?” “Karena aku menunggumu mengatakannya sendir

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   163

    Setelah pembicaraan itu mereka bertiga keluar dari aula, hanya keheningan yang mengisi perjalanan di lorong itu. Lian Wei diapit oleh kedua pria bertubuh besar ini, ia sadar saat ini mereka berada dalam posisi yang canggung. “Pangeran Xu, apakah kau masih memikirkan kejadian itu?” Pertanyaan itu membuat langkah Xu Kai terhenti. Pergerakannya yang tiba-tiba membuat Lian Wei dan Wang Xuemin juga ikut berhenti. Xu Kai menatap mata Lian Wei lekat, ada kata yang tidak mampu terucap. “Kalian itu tamu disini, tapi kalian malah celaka disini.” “Pangeran Xu, bukankah kita sepakat untuk berteman?” Xu Kai terdiam. “Teman tidak harus merasa bersalah bukan?” “Xu Kai, kau juga temanku. Kau bisa berbagi beban denganku, akan ku pastikan akan menemukan dalang dibalik kejadian ini.” “Kau memang teman terbaikku,” ucap Xu Kai menepuk pundak Wang Xuemin. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan kembali. “Hei Wang Xuemin, tidak bisakah kalian tidak pamer kemesraan di depanku?” ucap Xu Kai yang mel

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   162

    Menjelang siang, keramaian di kediaman Lian Wei akhirnya mereda. Namun jejak kedatangan Wang Xuemin masih terlihat jelas dari tumpukan peti yang memenuhi beberapa sudut ruangan.Lian Wei berdiri di depan jendela kamarnya, memandangi para pengawal yang berjaga di luar halaman.Ekspresinya tenang.Tetapi pikirannya jauh dari kata tenang.Semakin Wang Xuemin menunjukkan perhatian, semakin ia merasa harus menarik diri. Ia tidak boleh lupa tujuan sebenarnya.Suara ketukan pelan terdengar dari luar.“Putri.”“Masuk.”Mingmei membuka pintu dan membungkuk hormat.“Yang Mulia Kaisar memanggil putri ke aula utama. Katanya ada urusan penting yang harus segera dibahas.”Tatapan Lian Wei berubah serius.“Ada apa?”“Sepertinya mengenai penyerangan kemarin malam.”Lian Wei mengangguk.“Aku akan segera ke sana.”Sementara itu di aula pertemuan Istana Xu dipenuhi suasana tegang.Di kursi utama, Kaisar Xu duduk dengan wajah serius. Tidak ada lagi senyum ramah yang biasa ia tunjukkan.Di sisi kanan berd

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   161

    “Kau membuatku takut hari ini.”Jantung Lian Wei berdegup keras. Bukan karena nada suara itu, melainkan karena ketulusan di baliknya.Wang Xuemin jarang mengungkapkan perasaannya secara langsung.Karena itu, kalimat sederhana tersebut terasa jauh lebih kuat daripada seribu kata manis.Lian Wei menunduk pelan.Berusaha menenangkan hatinya yang mulai goyah.Namun semakin ia mencoba kembali pada logika dan misinya, semakin sulit mengabaikan satu kenyataan.Bahwa perlahan, tanpa ia sadari, hatinya mulai luluh pada pria yang selalu datang tepat waktu untuk melindunginya.“Kau istirahatlah dulu.”Wang Xuemin membantu Lian Wei merebahkan tubuhnya. Kemudian ia mematikan semua lilin sebelum keluar.Pagi itu, kediaman Lian Wei yang biasanya tenang mendadak ramai.Derap langkah kaki memenuhi halaman depan. Para pelayan yang sedang menyapu berhenti bekerja dan saling bertukar pandang. Bahkan Mingmei yang baru saja membawa baskom berisi air hampir menjatuhkannya karena terkejut.“Apa yang terjadi?

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   160

    “Lalu siapa menurutmu?” “Lien Hua.” “Putri Kedua, tebakanmu sepertinya benar.” “Maksudmu kau tahu sesuatu?” “Pengawal bayangan yang ku kirimkan untuk menjaga orang-orang yang pernah menyakitimu, mengikuti Lien Hua menemui pemimpin kelompok ini. Tetapi aku tidak tahu siapa pemimpinnya.” “Kenapa bisa bersamaan dengan waktu Kekaisaran Song ingin menyatakan perang? Apakah ini ada hubungannya?” “Kau terlalu berpikir lebihan.” Wang Xuemin menaikan Lian ke kudanya dengan perlahan, kemudian dia duduk di belakang. Wang Xuemin menarik tali kudanya dan mereka segera kembali ke istana. “Posisi ini sangat tidak nyaman.” “Diamlah jika kau tidak ingin jatuh.” Lian Wei hanya bisa menuruti perkataannya. Begitu rombongan memasuki Istana Xu, para pelayan yang menunggu di depan kediaman Lian Wei langsung berhamburan keluar. “Putri!” “Cepat panggil tabib!” “Siapkan air hangat!” Suasana mendadak kacau. Namun yang membuat semua orang terdiam adalah sosok Wang Xuemin yang turun dari kudanya s

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   159

    Para pembunuh saling berpandangan. Mereka telah menerima informasi bahwa Lian Wei hanya dikawal beberapa orang. Namun tidak ada yang memberitahu mereka bahwa Wang Xuemin akan muncul di sini. Terlebih lagi, tidak ada yang memberitahu bahwa Lian Wei adalah Putri Wang. Pemimpin kelompok itu menggertakkan gigi. “Bunuh mereka semua!” Belasan pembunuh langsung menyerbu bersamaan. Namun Wang Xuemin tidak bergerak dari tempatnya. Ia hanya mengangkat pedang perlahan. Lian Wei dan Wang Xuemin saling pandang, lalu mereka mengangguk cepat. Detik berikutnya— Srettt… Bayangannya menghilang. Jeritan langsung terdengar. “Aaaagh!” Seorang pembunuh terjatuh sambil memegangi lehernya yang mengucurkan darah. Belum sempat yang lain bereaksi, Wang Xuemin sudah muncul di belakang lawan berikutnya. Satu tebasan. Satu nyawa melayang. Gerakannya begitu cepat hingga sulit diikuti mata. Lian Wei juga membunuh satu orang yang tidak jauh darinya, hingga kepala dan lehernya terpisah. “Pedangmu sangat

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status