LOGIN“Inikan…” ucap Wang Xuemin terjeda.Lian Wei langsung mendekati Wang Xuemin dan melihat benda yang dipegang olehnya.Tap… tap… tap…terdengar suara langkah kaki mendekat, Lian Wei langsung merapikan kembali barang itu ke tempat semula dan mengajak Wang Xuemin keluar dari sana melalui jendela belakang.Kriet…Suara pintu tua itu berderit.“Aku melupakan mantelku.”Dan Rui mengambil mantelnya lalu segera pergi, sebelum pergi ia tidak sengaja menginjak papan kayu itu.“Hum…? Apa tadi belum aku tutup?” ucapnya lalu segera merapikannya kembali.Lian Wei dan Wang Xuemin berdiri di belakang tembok paviliun itu. Setelah aman mereka segera pergi dari sana.Di tempat lain Tao Mo dan yang lainnya memesan tiga kamar sesuai permintaan Lian Wei.Tao mo pergi nyonya pemilik untuk mencari informasi, Bao Yu pergi ke kamar yang pernah dipesan Lian Wei, Lu Lixin di kamar sebelah kamar yang di pesan Selir Cui, Anming dan Wei Heng di kamar yang di pesan Selir Cui.Mereka mulai menjelajahi satu per satu se
Lian Wei tidak langsung bergerak, ia masih mengamati dua orang di bawah sana. Hingga akhirnya salah satu anggota itu menyerahkan kertas kecil pada Dan Rui.Tatapan Lian Wei tetap mengikuti Dan Rui yang memasukkan gulungan surat itu ke dalam lengan hanfunya.“Jangan turun dulu,” bisik Lian Wei pelan.Wang Xuemin mengangguk, “Kita lihat dulu kemana dia pergi.”“Benar yang kubilang bukan, kita keluar akan mendapatkan informasi?” ucap Lian Wei percaya diri.“Itu hanya tebakanmu saja—”“Yang ternyata kebetulan,” potong Lian Wei. Wang Xuemin hampir tertawa lepas, beruntung Lian Wei segera menutup mulutnya.Terlihat Dan Rui berjalan santai, seolah hanya seorang rakyat biasa yang sedang melintas di pasar. Namun justru sikap tenang itulah yang membuatnya sulit dicurigai.Beberapa langkah kemudian, anggota Perguruan Deng itu membungkuk hormat, lalu berbalik pergi ke arah berlawanan.“Mereka sengaja berpisah,” gumam Wang Xuemin. “Kalau salah satu tertangkap, yang lain tidak akan ikut terseret.”
Semua orang pergi, menyisakan Lian Wei dan Wang Xuemin di dalam ruangan.Suasana berubah menjadi hening, Wang Xuemin mencoba membuka suara lebih dulu. Ia ingin tahu apa yang sedang direncanakan selanjutnya oleh gadis di depannya ini.“Lalu kita ke mana?” tanya Wang Xuemin.“Pasar.”“Pasar? Untuk apa?”Lian Wei tersenyum tipis sambil meraih kipas lipatnya dan menyimpannya di dalam laci.“Sudah beberapa hari kita hanya memikirkan rencana dan penyelidikan. Kalau terus seperti ini, orang akan mulai curiga. Sesekali kita juga harus terlihat seperti orang yang benar-benar sedang menikmati hari.”“Apakah tidak apa jika aku keluar di saat semua orang tahu aku sedang berduka?”“Tidak apa, lagipula kau keluar dengan pria bukan wanita.”Wang Xuemin mengangkat sebelah alis. Ia melihat tampilan Lian Wei yang lebih mirip pria dibanding wanita.“Jadi... kita benar-benar hanya berjalan-jalan?”“Setengah berjalan-jalan, setengah mengamati keadaan. Siapa tahu muncul sesuatu yang tidak terduga.”“Kalau
“Itulah sebabnya kita harus menemukan hubungan antara Topeng Perak dan para bawahannya,” sahut Lian Wei.Ia mengambil sebuah kuas lalu memberi lingkaran pada beberapa titik di peta.“Anming, Wei Heng.”“Ya, nona.”“Kau dan Wei Heng menyelidiki semua tempat yang pernah menjadi lokasi kemunculan Topeng Perak. Cari saksi, bekas jejak, atau siapapun yang pernah melihat rombongannya.”“Baik.”“Mingmei.”“Ya, nona.”“Kau menyusup ke pasar. Kadang para pedagang lebih banyak mengetahui rahasia dibanding pejabat. Cari tahu dari mana persediaan senjata, makanan, dan obat-obatan mereka berasal.”Mingmei mengangguk mantap. Bao Yu datang dengan membawa beberapa berkas. Lalu ia ikut bergabung dengan pembicaraan mereka.“Tao Mo.”“Siap.”“Kau bekerja sama dengan Bao Yu. Gunakan jaringan perdagangan kita. Aku ingin mengetahui kemana uang mereka mengalir. Organisasi sebesar itu pasti membutuhkan biaya besar. Selama kita menemukan sumber dananya, kita bisa mengikuti jejaknya.”“Itu akan memakan waktu,
Mata semua orang langsung tertuju pada Tao Mo. Segera Tao Mo keluar barisan dan berdiri di tengah menggantikan Anming.“Lapor nona, malam itu orang yang bersama dengan Selir Cui adalah Pemimpin Perguruan Deng, Dan Rui.”“Dan Rui?” beo Lian Wei.“Tetapi dia bukan pemimpin aslinya, ada orang lain yang lebih berkuasa atasnya,” ucap suara berat dari arah belakang Tao Mo.Wang Xuemin berjalan menghampiri Lian Wei dengan wibawanya sebagai seorang pemimpin pasukan besar.“Apa maksudmu Xuemin?” tanya Lian Wei.“Topeng perak, adalah pemimpin utamanya.”“Topeng Perak yang menyerangku saat di Kekaisaran Xu?”“Benar. Apa bawahanmu tidak menyampaikannya padamu?” ucap Wang Xuemin menyindir Tao Mo.Wang Xuemin menoleh ke belakang dan menatap mata Tao Mo. Lian Wei memperhatikan interaksi keduanya.“Tao Mo ada yang kau sembunyikan dariku?”Bruk!Tao Mo langsung berlutut di tanah dengan kuat sehingga menyebabkan suara yang kencang saat lututnya menyentuh tanah.“Nona! Bukan begitu maksudku.”“Lalu?”“K
Lian Wei menundukkan pandangannya. Jemarinya mengepal pelan di balik lengan bajunya, seolah sedang menahan gejolak yang selama ini ia sembunyikan.“Xuemin...” suaranya begitu lirih hingga nyaris hanyut bersama hembusan angin.“Aku menghargai perasaanmu.”Kalimat sederhana itu membuat mata Wang Xuemin berbinar. Ia tidak menyela, membiarkan Lian Wei mengungkapkan isi hatinya.“Tidak pernah ada yang mengatakan hal seperti itu kepadaku sebelumnya.” Lian Wei tersenyum tipis, tetapi senyum itu menyimpan kepedihan. “Dan tidak pernah ada yang bersedia mempertaruhkan dirinya hanya agar aku tidak lagi memikul semuanya sendirian.”Tatapannya perlahan bertemu dengan mata Wang Xuemin.“Karena itu... aku tidak ingin menganggap perasaanmu sebagai sesuatu yang sepele.”Wang Xuemin merasakan dadanya menghangat.“Tapi kau juga tahu…” Lian Wei menarik nafas panjang. “Aku masih memiliki tujuan yang harus aku selesaikan. Selama semua ini belum berakhir, aku tidak boleh membiarkan diriku terikat oleh apapu
Saat itu Jianying datang ke Paviliun Sakura dengan membawa manisan kastanya. Mendengar keributan di dalam membuatnya berlari masuk kedalam kamarnya."Putri?!""Putri anda kenapa? Tolong buka pintunya putri!""Ada apa?""Pa-pangeran Kedua, putri…"Brakkk…"Lian’er!"Jianying menendang pintu dengan k
Xiuhuan berjalan lebih dulu di susul oleh Jianying, mereka duduk di gazebo milik Lian Wei. Sementara Tabib Luo dan Mingmei masih menunggu di dalam."Ada apa kak?""Menurutmu apakah mungkin Putri Kedua begitu kejam?"'Ah kakakku yang bodoh ini,' batinnya."Aku tidak tahu kak, kita tidak bisa menuduh
"Apa yang terjadi disini?" suara berat menginterupsi."Kakak?" Lien Hua menoleh ke arah sumber suara."Adik? Apa yang terjadi padamu?" Xiuhuan membantu Lien Hua untuk bangun."Kak, aku ingin mengunjungi kakak pertama. Kudengar dia terluka dan belum makan, tapi mereka melarangku.""Ini sudah perinta
Qianfan segera datang berlutut yang entah datang dari mana."Berikan obat pada kakakku yang menyamar itu.""Baik nona."Setelah kepergian Wang Xuemin, Lian Wei meminta Mingmei untuk memanggil Tabib Luo untuk datang. Tak lama kemudian Mingmei dan Tabib Luo datang ke ruang tamu. "Salam putri, anda m







