Share

54

Penulis: Naomiliana
last update Tanggal publikasi: 2026-05-01 23:35:14

"Ah... aduh perutku," ucap Selir Cui dengan memegang perutnya.

Preett...

Segera Selir Cui menahan malu karena dia mengeluarkan suara kentut di aula. Dia segera berlari keluar karena tidak tahan ingin buang air besar. Sesampainya di paviliun ia bolak-balik ke kamar mandi.

"Selir Cui," geram Kaisar Jiazhen karena mempermalukan dia di depan semua orang.

"Jangan biarkan Selir Cui keluar dari paviliunnya!"

"Dan kau, aku akan membebaskanmu dari hukuman karena melihat bukti nyata kau terluka,"

"Ah bai
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   195

    Sementara itu Xiuhuan dan Jianying tanpa perlawanan sedikitpun, keduanya membiarkan diri mereka dituntun. Para pengawal saling berpandangan sebelum membawa mereka menuju sebuah kereta kerajaan yang berada di gerbang istana.Kereta itu dihiasi ukiran bunga teratai putih dan tirai sutra berwarna gading. Kereta itu sebelumnya dipersiapkan untuk membawa Lian Wei pulang. Namun kini, pemiliknya tak pernah lagi akan menaikinya.Saat memasuki kereta, Xiuhuan mengusap perlahan kursi yang berada tepat di hadapannya. Di sanalah seharusnya adik perempuan mereka duduk, tersenyum sambil mengeluh bosan sepanjang perjalanan pulang.Tak ada siapa pun.Hanya ruang kosong yang terasa begitu menyakitkan.Jianying menundukkan kepala, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangis yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah kembali.Kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan Kekaisaran Wu.Tak seorang pun di dalamnya mengucapkan sepatah kata. Yang terdengar hanyalah derit roda kayu dan sesekali suara tangi

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   194

    “Sudah kuduga! Kalian Keluarga Li memang tidak bisa ku ampuni! Temukan dia! Jika tidak, akulah yang akan menghancurkan kalian!”Suara Liu Changhai mengguncang makam istana. Urat-urat di lehernya menegang, sementara tatapannya dipenuhi amarah yang nyaris tak lagi bisa dikendalikan. Para pengawal menundukkan kepala, tak seorang pun berani menyela.Keluarga Li mengepalkan tangan. Wajahnya pucat, tetapi ia tetap berdiri tegak.“Kami juga kehilangan adik kami. Jangan kira hanya kau yang merasakan kehilangan.”“Diam!” bentak Liu Changhai. “Kalian telah menyembunyikan begitu banyak hal dariku. Jika Lian Wei masih hidup, aku akan menyembunyikan dari kalian.”Pedangnya tercabut dari sarungnya.“Keluarga Li mulai hari ini kita bermusuhan dan akan ku pastikan, kalian lenyap dari muka bumi!”Beberapa pengawal Li refleks maju selangkah. Suasana berubah mencekam.“Yang Mulia,” panik mereka yang langsung memasan badan di depan para Pangeran Li.“Liu Changhai, tenanglah,” suara tenang Xu Kai memotong

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   193

    “Baik pangeran,” sahutnya. Segera Wang Xuemin pergi dari sana. Tepat ketika dia datang, para pangeran juga datang tanpa prajurit. Saat Wang Xuemin melihat ke sekelilingnya ia terkejut melihat banyaknya pasukan di bawa. Mereka saling memberi salam satu sama lain.“Selamat datang di Istana Wang, tapi… apa kalian kesini mau mengajak ku berperang?” tanyanya sambil menatap prajurit yang berdiri di luar.“Pangeran Wang, anda bercanda ya?” Xiuhuan sedikit tertawa palsu.Segera ia bersitatap dengan Xu Kai. Untuk mengetahui jawabannya. Sementara yang di tatap hanya mengedikkan bahunya acuh. Wang Xuemin melayangkan tatapan permusuhan padanya. “Ah sahabat baikku, lama tidak berjumpa,” ucapnya segera memeluk Xu Kai erat sampai ia tidak bisa bernafas. Xu Kai menepuk punggung Wang Xuemin kencang.“Untuk apa mereka disini?” ucapnya tertahan karena sambil tersenyum dan sedikit tertawa.“Mereka datang mencari putri,” bisiknya pelan. “Darimana mereka tahu, kau sudah berjanji padanya,” ucapnya gera

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   192

    Belum sempat suasana istana tenang, seekor elang pembawa pesan mendarat di halaman utama. Pesan itu berasal dari perbatasan, Jingmi yang sedang berpatroli menerima pesan itu. “Ini dari perbatasan,” ucapnya lalu membaca nama pengirimnya. Segera ia berlari mencari Kaisar Li. “Yang Mulia,” suara Jingmi yang masuk dengan panik. Ia sedikit menundukkan kepalanya, keringat membasahi pelipisnya. “Ada apa Jenderal?” “Ada surat dari pangeran.” Kaisar Li mengangkat alisnya dan menyuruhnya membacakan isi pesannya. Segera Jingmi membuka pesan dan membacakannya. “Disini tertulis para pangeran telah menerima kabar meninggalnya Putri Lian Wei." Wajah Kaisar semakin pucat. “Namun mereka menolak mempercayai kabar tersebut. Saat ini seluruh pasukan keluarga kerajaan telah menyebar ke seluruh wilayah tempat sang putri terakhir terlihat. Selain itu mereka juga sedang dalam perjalanan menuju Kekaisaran Wu. Mereka akan mencari jasad sang putri. Selama jasad itu belum ditemukan… mereka tidak akan m

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   191

    “Ada perlu apa mencari Nona Xinxin? Siapa kalian? Apa kalian orang suruhan musuh?”“Kau?” ucap panglima itu terhenti setelah melihat tanda orang di hadapannya. Tanda yang hanya dimiliki oleh pasukan Xinxin. “Salam tuan, kami datang mencari nona anda karena ingin menyampaikan pesan ini?”Yi tan menyerahkan gulungan kertas itu dan memberikannya pada pengawal bayangan di sana.Segera diambilnya gulungan kertas tersebut dan dibaca dengan hati-hati. Setelah membacanya, ia melihat sekumpulan orang yang ada di hadapannya. “Apa kalian benar-benar dikirim untuk nona kami?”“Benar tuan, kami sudah lama menantikan hari ini tiba. Panglima besar kami ikut dengan rombongan para pangeran.”“Baiklah, pertama kalian semua harus saya selidiki latar belakangnya sampai terlihat kebenarannya, lalu setelah itu akan saya beri tanda kesetiaan.”“Baiklah tuan.”“Ini makan, sebagai tanda perjanjian sementara,” ucap pengawal itu memberikan pil pada mereka dalam jumlah yang banyak.Yi Tan mengambilnya tanpa ra

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   190

    “Jadi pergilah ke sana, untuk membantu mewujudkan mimpinya.” Itu seperti perintah mutlak dari Xuanzong pada Zei Xen. Kaisar Xu berdiri, jubah emasnya bergoyang tertiup angin malam. “Jadilah bagian dari Tentara Xinxin. Mulai hari ini, kalian bukan lagi bayangan masa lalu. Kalian adalah pedang bagi Lian Wei.” Zei Xen menundukkan kepala dalam-dalam. Mata pria itu telah dipenuhi air mata. Tidak tahu harus bersikap seperti apa, ia senang bisa bergabung dengan Tentara Xinxin yang hebat. Namun juga merasa sedih karena belum sempat melayani Lian Wei. “Bawahan menerima perintah. Meski harus mengorbankan nyawa, kami akan berusaha untuk mewujudkan mimpi sang putri.” Kaisar Xu memandang hujan yang semakin deras. Dalam hati, ia teringat wajah Liu Fang Yin. ‘Fang Yin… entah mengapa aku merasa Lian’er masih hidup. Dan aku telah menemukan orang-orang yang akan menjaganya. Mulai sekarang, ia tidak akan berjalan sendirian lagi.’ Di bawah hujan malam itu, sebuah kesetiaan yang telah tertidur sel

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   57

    Ctarrr…"Dasar sampah! Kau pikir kau ini siapa?!""Ah… ampun ibu…" ringis Lian Wei."Aku bukan ibumu! Dasar jalang sialan!""Kenapa kau tidak mati saja dengan ibumu!"Ctarrr..."Hah… hah…" napas Selir Cui tidak beraturan, ia memberikan cambuk pada pelayan. "Lanjutkan!" perintah Selir Cui. "Baik."

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   56

    "Apa yang terjadi disini?" suara berat menginterupsi."Kakak?" Lien Hua menoleh ke arah sumber suara."Adik? Apa yang terjadi padamu?" Xiuhuan membantu Lien Hua untuk bangun."Kak, aku ingin mengunjungi kakak pertama. Kudengar dia terluka dan belum makan, tapi mereka melarangku.""Ini sudah perinta

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   55

    "Ada yang salah dengan Selir, sepertinya penyakitnya kemarin belum sembuh.""Apa? Kenapa aku baik-baik saja?" heran Lien Hua, "Cepat kesana!" ucapnya lalu segera pergi.Sementara itu di kediaman Selir Cui, ia tampak kelelahan akibat buang air terus menerus. Segera pelayan memberinya obat yang masih

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   52

    Qianfan segera datang berlutut yang entah datang dari mana."Berikan obat pada kakakku yang menyamar itu.""Baik nona."Setelah kepergian Wang Xuemin, Lian Wei meminta Mingmei untuk memanggil Tabib Luo untuk datang. Tak lama kemudian Mingmei dan Tabib Luo datang ke ruang tamu. "Salam putri, anda m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status